Perselingkuhanku Di Atas Permainan

Perselingkuhanku Di Atas Permainan
45.Ganjel To...


__ADS_3

Arsen sudah membuat keputusan tentang resign Embun ini jauh hari, apalagi akhir-akhir ini Bagas sering nekad, dan juga karena memang gaji Arsen sudah cukup besar di Kantornya, apalagi dia juga dipromosikan untuk naik jabatan bulan ini.


Dan alasan yang lebih utamanya memang karena Bagas, entah bagaimanapun caranya, Arsen tidak akan membiarkan Bagas bertemu dengan Embun lagi, karena menurutnya Bagas adalah orang yang nekad dan bisa menghalalkan segala cara demi kepuasan diri.


"Ya sudah, aku ikut apa maunya Mas aja." Sebagai istri yang baik dia akan menuruti kemauan suaminya, lagipula tanggung jawabnya sekarang adalah mengurus keluarga, yang bertugas mencari nafkah adalah suaminya, nanti dia bisa buka usaha dirumah saja, kalau sudah bosan menggangur pikirnya.


"Gitu dong, jadi istri harus menurut, kan Mas jadi tambah sayang sama kamu?" Betapa bahagianya Arsen saat ucapannya tidak dibantah seperti saat dengan Nevika dulu.


"Mulai deh, ternyata Mas sudah banyak kemajuan ya, tidak sedingin Es lagi sekarang?" Ledek Embun tahu betul bagaimana sikap Arsen dulu.


"Sayang.. kamu mau coba gaya yang disarankan oleh Mama tadi nggak?" Deru nafas Arsen terlihat memburu, apalagi jarak diantara mereka memang dekat.


Degh!


Apa-apaan ini, apa dia meminta jatahnya sekarang? aku belum siap ini, bahkan aku belum mandi, belum persiapan juga, masak udah mau dibelah aja?


"Apaan sih Mas?" Embun langsung melengos, karena menahan malu, dan takut jika detak jantungnya yang berdebar dengan kencang itu terdengar oleh suaminya.


Aduh... apa ini waktu yang tepat? tapi kenapa aku begitu menginginkannya, apalagi aku pernah mencicipi sumber airnya yang kenyal itu dulu, dan aku ingin mengulangnya, aish.. bodo amat, ini hakku bukan?


"Nggak afdol kalau kita nggak ngapa-ngapain Yank, ini malam pertama kita loh?" Suhu tubuh Arsen pun sudah mulai memanas, apalagi hanya ada mereka berdua disana, bahkan hubungan mereka lagi anget-angetnya.


"Tapi kita masih dirumah sakit sekarang Mas." Embun pikirannya sudah melayang entah kemana-mana.


"Itu mengapa Mas sengaja pesan kamar VIP, agar kita berasa dihotel dan yang pasti tidak akan ada yang menggangu kita." Bisik Arsen disamping telinga Embun, yang malah semakin membuat jantung Embun berdesir begitu hebatnya.


Saat itu malam sudah mulai larut, dan dia fikir pasti Perawat disana tidak akan datang ke ruangan itu, apalagi selang infus milik Embun sudah dilepas, karena mungkin besok pagi juga Embun sudah diperbolehkan untuk pulang.


"Mas tapi emh---" Embun langsung melenguh saat Arsen mengungselkan wajahnya dileher jenjangnya, apalagi terkena senggolan dari kumis tipis milik Arsen, membuat kulit Embun sedikit meremang.


"Sebentar saja yank, Mas cuma penasaran aja kok gimana rasanya, fullnya bisa kita lanjut besok, okey."

__ADS_1


Arsen langsung menyambar bibir istrinya, sambil memeluk pinggangnya perlahan dan mengatur posisi terwenak tanpa harus mengusik tangan Embun yang masih diperban.


Apalagi ranjang pasien VIP itu cukup luas, sehingga Arsen bisa bergerak lebih leluasa disana, tanpa takut akan jatuh karena asyik menikmati apa yang sudah menjadi miliknya.


Kalau cuma ngemil-ngemil sedikit bagi Embun itu tidak masalah pikirnya, tapi deru nafas suaminya saat ini sudah terdengar menggebu, itu tandanya dia tidak akan meminta untuk sekedar pemanasan saja, pasti akan minta yang lebih.


"Mas, jangan sekarang, besok aja ya kalau sudah pulang?" Pinta Embun yang sedari tadi melirik kearah pintu kamar itu,takut jika tiba-tiba ada orang yang muncul dari sana.


"Aku rindu tidur denganmu yank." Arsen langsung ikut masuk kedalam selimut Embun dan menutupi setengah badannya.


"Iya, tapi?" Embun ingin mencegah, namun hasrat suaminya seolah sudah tidak tertahankan lagi, dia jadi tidak enak sendiri kalau terus saja menolaknya.


"Sedikit saja sayang, please." Rengek Arsen sambil dengan cekatan melepas celana miliknya dan melemparnya kesembarang tempat, karena rudalnya sudah siap lepas landas.


"Astaga, ternyata semua pria yang sudah menikah itu pikirannya sama saja, hanya itu-itu saja yang dia inginkan, tapi ya sudahlah, halal ini kok."


Akhirnya Embun membiarkan saja tangan suaminya membuka kancing baju pasien yang ia kenakan satu persatu, hingga terlepas sempurna.


Cup


Arsen mulai menghujani kecupan dari ujung kepala Embun dan bergeser sedikit demi sedikit turun kebawah dan tak lupa mampir ke arah gumpalan kanan dan kiri untuk menikmati kudapan istimewa yang tiada duanya.


"Mas, emh.. denger suara orang jalan nggak?" saat Arsen mulai merangkak diatas tubuh istrinya, Embun seolah mendengar suara langkah kaki walau memang tidak begitu jelas.


"Emm... nggak!" Jawab Arsen yang memang sudah menggila, dia terus mengeluarkan kreatifitas otodidaknya dibawah selimut sana, yang membuat Embun semakin belingsatan tak karuan.


"Mas, kamu beneran mau sampai ke intinya sekarang?" Tanya Embun yang sebenarnya kurang nyaman jika harus jebol gawang diranjang pasien.


"Emang nggak boleh?" Tanya Arsen dengan suara sedihnya.


"Bukan nggak boleh, tapi--"

__ADS_1


"Aku tetap mau juga, sebentar saja okey sayang, hegh!"


Percobaan pertama masih gagal, namanya juga masih perawan, jadi belum ada jalan lurus disana, namun dia tak gentar dan ingin mencobanya kembali.


"Mas, tapi...?" Embun semakin ketakutan,walau tubuhnya seolah menyambut kelakuan nakal suaminya.


"Apa sih?" Arsen seolah kesal karena Embun terus menggangu konsentrasinya.


"Emh.. To Ganjel To Ganjel huh.."


Slep!


"Ngapain mesti diganjel, aku tidak akan menindih tanganmu!" Karena ladangnya sudah mulai berair, dengan dua kali hentakan yang cukup keras, peluru tumpul itu langsung menusuk tepat pada sasaran.


"Aww.. sakit Mas." Embun langsung menjambak sprei disana dengan satu tangannya karena menahan rasa perih diarea intinya.


"Permisi, ehh...?"


Tanpa menggunakan aba-aba, seorang Suster langsung membuka pintu itu sambil melotot kearah mereka, karena saat ini Arsen sedang berdiri setengah badan diatas tubuh Embun.


"Hah?" Arsen langsung membenahi selimut pasien yang dia gunakan sebagai penutup.


"Apa gue bilang Mas, Ganjel dulu tadi!" Bisik Embun yang langsung memiringkan tubuhnya kesamping, untung saja hanya kancing bajunya yang terlepas, jadi dia bisa membenahi dengan segera.


"Apanya yang diganjel?" Ucap Arsen yang malah ikutan berbisik.


"Pintunya, jadi kalau ada orang masuk setidaknya kita bisa siap-siap dulu, nggak seperti sekarang ini!"


"Sudah terlambat sayang, aku akan tarik perlahan, sebagian tubuhku ada didalam selimut, jadi aman!" Ucap Arsen yang pura-pura santai, padahal malunya sudah tidak tertahankan saat ini.


"Maaf menggangu, saya hanya mengantarkan obat dan akan melakukan pengecekan sebelum pasien tidur, apa bapak bisa turun dari ranjang sebentar?" Setelah memalingkan wajahnya beberapa saat dan mengambil nafas dalam-dalam, Suster itu kembali bersuara.

__ADS_1


Mampus gue, celanaku tadi pergi kemana?


Arsen mulai panik, saat tangannya bergerak mencari celana miliknya, namun tidak dia temukan disekeliling tubuhnya, mungkin karena tadi hasratnya sudah diubun-ubun, dia jadi lupa mencampakkan entah kemana celananya saat melepasnya tadi.


__ADS_2