
Embun pun ikut termenung sesaat, dia melihat sosok lain dari Bagas selama ini yang tidak pernah ditunjukkan kepadanya.
"Bagas?" Embun belum berani mendekat tanpa persetujuan, dia takut jika nanti Bagas mengamuk karena tahu dirinya sudah menikah.
"Hah, Embun? kemarilah?" Wajah Bagas langsung terlihat lega sekali, sedari tadi dia sebenarnya takut disana sendirian, apalagi dia baru pertama kalinya melakukan operasi, bahkan di dua bagian tubuhnya sekaligus.
"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Embun sambil berjalan perlahan mendekat kearahnya.
"Sejujurnya aku takut Embun? aku seperti sesak nafas berada ditempat ini, berasa horor gitu." Bagas melihat keadaan disekelilingnya yang sepi sekali.
Kasihan sekali dia? kenapa aku jadi tidak tega, tapi..?
"Kamu ini, gaya aja sok preman masak mau operasi saja takut?" Ledek Embun agar Bagas tidak terlalu tegang.
"Lebih baik aku menghadapi ratusan preman daripada begini?" Celetuk Bagas sambil memejamkan kedua matamya.
"Semua akan baik-baik saja, kenapa kamu tidak menghubungi Mama?" Tanya Embun yang merasa heran sendiri.
"Nggak usah, Mama bisa syock kalau tahu kamu sudah menikah disini, padahal dia berfikir kamu adalah calon menantu terbaiknya."
Astaga, kenapa aku ingin menangis saat mengingatnya.
"Maafkan aku Bagas." Sifat tidak tegaan Embun langsung muncul begitu mengingat wanita paruh baya yang sudah menganggap dia anaknya sendiri itu, mungkin memang benar apa yang diucapkan Bagas.
"Embun, kalau aku tiada, tolong jagain Mama ya? karena sepertinya dia lebih sayang kamu daripada anaknya sendiri." Ucap Bagas yang membuat Embun langsung mendelik kearahnya.
"Kamu jangan ngomong begitu, lukamu memang cukup parah, tapi hanya patah tulang bukan penyakit yang mungkin bisa merenggut nyawamu." Umpat Embun yang baru melihat sosok lain saat Bagas sakit begini.
"Siapa tahu nanti mereka salah suntik, atau salah motong apa gitu, trus tiba-tiba aku koma dan tak sadarkan diri selamanya, siapa yang tahu kan?" Karena tidak ada teman dia ngobrol, jadi dia berandai-andai sendirian.
"Astaga Bagas, berpikirlah positif, Dokter di Rumah sakit ini sudah ahli, sudah punya izin khusus, jadi tidak mungkin salah suntik,salah obat atau apapun itu, mereka pasti sesuai dengan prosedur." Sebenarnya dia pun ingin tertawa, tapi tidak tega, entah kemana jiwa premannya yang katanya tidak takut dengan apapun itu.
"Bukannya nasip seseorang tiada yang tahu?"
"Aku percaya kamu pasti akan baik-baik saja, berdoa saja, semua pasti lancar." Embun mencoba menenangkan mental Bagas, walau mungkin saat dia berada diposisi Bagas pun bisa berpikiran sama.
"Embun, kenapa kamu harus menikah dengan orang lain? Kamu tahu kan, sebenarnya aku tidak bisa tanpamu, bahkan disaat-saat seperti ini,hanya kamu yang bisa mengerti aku." Lagi-lagi Bagas menunjukkan sosok sendunya.
"Sudahlah Bagas, jangan bahas soal itu, jodoh itu kan takdir Tuhan, jika kita sudah tidak bisa bersatu, tak ada yang bisa melawan dan tak ada yang bisa mengubah." Karena Bagas berbicara lembut, Embun pun menanggapinya dengan lembut tanpa harus berdebat.
"Embun, kalau semuanya sudah tidak mungkin diubah, bagaimana kalau aku jadi suami keduamu saja?" Dan ide gila itupun muncul.
Wing!
"Ckk... kamu ini sembarangan saja kalau ngomong, mana ada wanita punya suami dua?" Embun langsung mencubit pinggang Bagas karena merasa kesal sendiri,ada-ada saja yang nyangkut dipikirannya itu.
__ADS_1
"Kalau kamu mau kenapa tidak? Kita bisa menikah di luar negri sana." Celetuk Bagas kembali.
"Aku tidak mau, jangan gila kamu!" Tolak Embun mentah-mentah.
"Aku memang sudah gila karenamu!" Jawab Bagas dengan entengnya.
"Fuh... Bagas, tolong maafkan aku, hubungan kita mungkin hanya bisa sebatas teman saja, itupun kalau kamu mau?"
"Aku ingin lebih dari itu, karena aku lebih dulu mendapatkanmu." Tegas Bagas kembali.
"Tuhan pasti punya rencana lain untukmu, yang penting kamu sembuh dulu, pasti nanti Tuhan akan mengirimkan seorang gadis yang jauh lebih baik dari aku." Hanya itu yang dia bisa ucapkan, agar Bagas tidak lagi mengharapkan dirinya.
"Apa masih ada? sedangkan hanya kamu wanita yang bisa mengerti aku, dan mau menemuiku walau aku sudah jahat denganmu?" Bagas pun semakin kesini semakin sadar, bahwa Embun adalah wanita terbaik yang pernah dia temui.
"Aku tidak akan menyalahkanmu, asalkan kamu tidak mengulangi kesalahan seperti ini lagi, karena nantinya kamu sendiri yang akan rugi, seperti sekarang bukan?"
"Maaf, kamu juga ikut sakit karena ulahku?" Bagas melihat satu tangan Embun yang digendong.
"Aku tidak apa-apa, yang lalu biarlah berlalu, kita buka lembaran baru ya, siapa tahu Suster yang tadi bisa menjadi penggantiku?" Celetuk Embun sambil menggangkat kedua alisnya.
"Heh, Suster yang mana?" Tanya Bagas yang langsung melirik kanan kiri sambil tersenyum memamerkan barisan gigi putihnya.
"Yang kamu ajak curhat kalau aku mantanmu itu?" Umpat Embun yang memilih melengos, padahal dia pun tersenyum saat melihat Bags tersenyum.
Akhirnya dia bisa tersenyum dan wajahnya lebih tenang, semoga operasinya lancar.
"Dia cukup cantik dan baik lagi, perhatian juga siapa tahu jodoh kan? mau aku mintakan nomor ponselnya, biar ada yang menemani kamu selama disini?" Ucap Embun yang malah mendapatkan ide baru.
"Wah... Ide yang bagus itu?" Jawab Bagas dengan gilanya.
"Permisi Mbak, Dokternya akan segera datang, silahkan keluar." Tiba-tiba orang yang mereka bicarakan muncul dari belakang.
"Pucuk dicinta ulampun tiba, yang semangat ya Bagas, nanti aku cari tahu banyak tentang dia dan akan kukirimkan ke nomormu." Ucap Embun yang seolah memberikan semangat.
"Embun?" Panggil Bagas dengan perlahan, seolah dia tidak rela ditinggalkan Embun sendirian ditempat itu.
"Tidak apa-apa, operasinya pasti lancar, bukan hanya satu Dokter yang mengoperasimu, kamu pasti bisa cepet sembuh, okey?"Embun sebenarnya paham dengan apa yang dia rasakan, tapi dia pun hanya bisa memberikan sebatas semangat saja.
"Terima kasih karena masih sudi melihatku." Ucap Bagas yang merasa salut dengan kelapangan hati Embun.
"It's okey, kamu tidak sendiri, aku pasti akan mendoakan yang terbaik untukmu, walau aku tidak bisa berada disampingmu."
"Boleh aku minta satu hal kepadamu?" Pinta Bagas kembali.
"Katakan, soalnya aku harus cepat pergi dari sini." Jawab Embun yang kembali mendekat kearahnya.
__ADS_1
"Cium aku."
"Bagas!" Embun langsung menaikkan intonasi suaranya.
"Dikening pun tak apa, aku sudah tidak punya kekuatan lagi sekarang." Rayu Bagas kembali.
"Aku sudah menikah Bagas!" Embun langsung menekankan hal itu, agar Bagas sadar.
"Aku tahu, nggak usah pamer kamu!"
Cup
Saat Bagas masih ingin mengoceh panjang lebar, Embun langsung mendaratkan kecupan dikening mantan kekasihnya itu, bahkan cukup lama bibirnya menempel disana dan juga diberi bonus usapan diubun-ubun kepalanya dengan lembut.
Bukan maksud masih cinta, namun dia hanya merasa kasihan saja saat melihat Bagas harus berjuang seorang diri tanpa keluarga disampingnya.
"Kamu pasti kuat, kamu pasti bisa sembuh, bismilah saja, okey?"
"Hmm... i love you." Celetuk Bagas sambil menggangukkan kepalanya dengan lemah.
"Nggak boleh bilang begitu sama istri orang Bagas!" Umpat Embun sambil mencubit pinggang Bagas dan mendelik kearahnya.
"Aaa... sakit Embun, kenapa kamu cubit?" Rengek Bagas yang seolah jiwa premannya hilang.
"Kalau mau aku gampar, kamu harus segera pulih, aku harus pergi, okey." Embun langsung memundurkan langkahnya.
"Thanks, karena sudah pernah mengizinkan aku singgah dihatimu, semoga kamu bahagia dan tidak bisa melupakan kenangan manis kita, amin."
"Astaga, kenapa doa yang terakhir mengerikan sekali." Walau masih kesal namun Embun sedikit lega, karena bisa bicara langsung dengan Bagas.
"Hehe.. Jangan bilang sama Mama kalau aku merusak pernikahanmu ya, walau mungkin sulit, cobalah berteman denganku, kalau suamimu melarang, cobalah untuk diam-diam agar dia tidak tahu!" Tingkah gilanya tetap saja tidak berubah, dan mungkin sulit diubah.
"Kurang-kurangilah tingkah gilamu itu, aku pergi ya, nanti masalah pedekate dengan Suster itu biar aku yang urus, semoga kalian berjodoh, bye!"
Embun langsung berlari keluar dari ruangan itu, sebenarnya dia sudah menahan rasa sesak sedari tadi, dia bahkan semakin tidak tega saat mengingat alasan Bagas tidak memberitahu keadaannya kepada kedua orang tuanya, namun mau bagaimana lagi, karena memang Bagas bukanlah jodoh untuknya.
"Sudah puas kamu bermesraan dengan mantan kekasihmu itu, bahkan mulutku saja masih basah saat kita membahas untuk jangan lagi berhubungan dengan mantan!"
Duar!
Saat Embun ingin kembali kedalam ruangannya, Arsen tiba-tiba menghalangi langkahnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Itu tadi tidak seperti yang Mas kira, aku hanya---"
"Kamu akan menerima hukuman berat untuk itu, mengerti kamu!" Ucap Arsen dengan suara tegasnya, bahkan dengan nafas yang memburu.
__ADS_1
Tamatlah Riwayatku, apa dia juga melihat saat aku mencium kening Bagas, aaa.. Matilah aku!
Embun hanya bisa mengacak rambutnya sendiri, sambil menyesali perbuatannya yang memang tidak sepantasnya, dia pun heran entah mengapa dia bisa selemah itu untuk menuruti kemauan Bagas.