Perselingkuhanku Di Atas Permainan

Perselingkuhanku Di Atas Permainan
49.Memutus Urat Malu?


__ADS_3

Rasa sesal dan juga rasa takut kini mulai menyelimuti setiap gerak-gerik dari Embun, karena wajah Arsen saat ini memang terlihat marah sekali.


Embun tidak menyangka jika Arsen tahu keberadaan dirinya saat itu, padahal belum lama dia berada diruangan Bagas.


"Apa kamu masih sangat mencintainya?" Arsen mulai berkacak pinggang untuk menginterogasi istrinya.


Lebay dikit nggak papalah ya, biar dia nggak marah?


"Tidak Mas, saat ini cintaku sepenuhnya hanya untuk kamu." Walau ini bukan kebiasaan dari Embun, namun demi suaminya dia rela melakukannya.


"Cih.. lalu ngapain kamu ke ruangannya?" Arsen langsung tersenyum miring sambil melirik wajah Embun untuk terus mengawasinya.


"Aku hanya ingin memastikan dia dioperasi saja tadi." Jawab Embun yang awalnya memang punya niatan seperti itu.


"Apa kamu Dokternya?" Tanya Arsen dengan nada yang sudah mulai sengak terasa.


"Bukan Mas." Embun langsung menggelengkan kepalanya berusaha mencari pembelaan.


"Baru aku tinggal beberapa menit saja, kamu sudah menggatal pergi ke ruangan Mantan, asal kamu tahu ya, orang boleh menoleh kebelakang tapi hanya untuk melihat sebagai pembelajaran hidup yang pahit, bukan untuk kembali, paham kamu." Tegas Arsen kembali, walau sejujurnya dia hanya takut saja jika harus kehilangan Embun.


"Aku tidak ingin kembali dengan Bagas Mas, sungguh!" Embun mencoba meyakinkan suaminya, bahwa hatinya itu memang sudah sepenuhnya milik Arsen seorang.


"Lalu apa yang kamu lakukan tadi, bahkan aku lihat kamu menciumnya?" Andai itu bukan ruang rumah sakit, mungkin Arsen sudah teriak-teriak tadi karena ulah mereka.


"Aku cuma nggak tega Mas, dia sendirian disana!" Dia tahu dia salah, namun entah mengapa dia tetap melakukannya.


"Tapi kenapa harus menciumnya Embun, dosa tau nggak!" Andai yang dicium istrinya itu bukan mantan, mungkin dia tidak akan semarah itu.


"Dia cuma minta sedikit kekuatan Mas, karena dia sendirian bahkan ketakutan dan aku pun menyesal, aku janji tidak akan melakukannya lagi." Ucap Embun yang mencoba menenangkan hati suaminya.


"Woah... Baik hati sekali kamu, lalu kalau dia meminta yang lebih, apa kamu juga akan mengabulkannya tadi?" Tapi Arsen tidak mudah luluh begitu saja, dia tetap tidak terima karenanya.


"Tentu saja tidak Mas, karena dia hanya minta di kening, makanya aku mau dan itu yang terakhir kalinya, karena kita akan segera pulang, bahkan pindah rumah dan mungkin tidak akan berjumpa lagi dengannya." Embun hanya bisa menarik ujung bajunya dengan nyali menciut, dia tidak menyangka jika endingnya akan seperti ini.


"Dan kamu sedih meninggalkannya, begitu?" Bukannya semakin tenang, Arsen bahkan malah semakin meradang saat ini.


Sedikit.


"Emm... enggak sih, aku lebih sedih kalau jauh dari Mas." Embun langsung memeluk lengan suaminya dengan manja.

__ADS_1


"Heleh.. bohong saja kamu, baru ditinggal sebentar aja sudah mencari mantan kamu ini." Namun dia kembali tidak mudah lunak begitu saja, karena menurutnya Bagas adalah saingan terberatnya.


"Maaf Mas, aku hanya kasihan saja dengannya, dia berjuang di ruang operasi itu sendirian Mas." Embun kembali merengek, bahkan memasang tampang memelasnya.


"Ada Dokter dan juga banyak suster disana, nggak usah lebay kamu!" Arsen bahkan melepas paksa tangan Embun agar tidak mudah terkena bujuk rayu.


"Maksud aku itu hanya---" Dia mulai kehabisan alasan, karena semua akan salah dimata suaminya jika itu tentang mantan.


"Entah apa hukuman yang harus aku berikan kepadamu?" Arsen mulai menaikkan satu sudut bibirnya sambil memikirkan hukuman apa yang tepat untuk istrinya.


"Mas marah beneran ini?" Saat mendengar kata hukuman, Embun sedikit merasa ngeri-ngeri sedap.


"Kamu pikir aku bercanda, hah?" Untung saja tidak ada orang lain selain mereka disana, karena memang ruang VIP terpisah lumayan jauh dengan ruang rawat biasa.


"Maafin aku mas, jadi bagaimana aku harus menebus kesalahanku?" Tanya Embun yang tidak ingin masalah ini semakin berlarut-larut.


"Tunjukkan siapa aku didepan mantanmu itu?" Ucap Arsen dengan tegas.


"Maksudnya?" Embun masih belum bisa paham akan maksud suaminya.


"Kalau kamu masih tidak paham jangan harap kamu mendapatkan kata maaf dariku, bisa-bisanya kamu sosor mantan kamu itu tanpa seizinku!"Dia kembali mengulanginya, seolah punya dendam tersendiri dengan Bagas.


"Embun!" Teriak Arsen yang semakin naik darah dibuatnya.


"Hehe... baiklah, aku tahu maksud Mas, kalau begitu kita tunggu Bagas selesai operasi dan akan aku tunjukkan siapa Mas didepan dia, okey?" Akhirnya dia kembali mengingat sifat dari suaminya yang sebenarnya mungkin hanya jaim saja.


"Good!"


Embun tahu, suaminya itu pasti hanya cemburu saja, jadi kalau hanya gantian mencium suaminya didepan Bagas itu tidak masalah pikirnya.


Setelah beberapa jam berlalu, akhirnya Bagas sudah dipindahkan diruang rawat inap, operasinya pun, berjalan dengan lancar, tangan dan kakinya sudah dipasang platina agar tulangnya bisa kembali tersambung.


"Bagas, kamu sudah bangun?" Embun melongokkan kepalanya terlebih dahulu, sebenarnya dia tidak mau menggangu istirahatnya, namun kemauan suaminya tidak bisa terbantahkan lagi.


"Hei sayang kemarilah, aku takut sekali tadi!" Jawab Bagas dengan wajah yang kelihatan excited sekali, padahal dia fikir tadi adalah pertemuan terakhirnya dengan Embun.


"Siapa yang kamu panggil sayang, hah!" Tiba-tiba Arsen muncul dan seolah memberikan ultimatum kepada Bagas.


"Yaelah... ngapain kamu ikut kesini, aku masih belum bertenaga untuk berdebat denganmu!" Umpat Bagas yang langsung memalingkan wajahnya.

__ADS_1


"Siapa juga yang mau berdebat dengan orang sakit, aku kesini mau pamer, ayo sayang tunjukkan padanya!" Ucap Arsen dengan sombongnya, menurutnya sombong didepan Bagas adalah hal yang wajib agar dia tidak merendahkan dirinya


"Mas?" Embun sebenarnya tidak tega, namun dia pun tidak mau suaminya terus marah dengannya.


"Kenapa? kamu jadi berubah pikiran?" Arsen memilih melotot duluan.


"Tidak kok, aku hanya---"


"Sudahlah, lebih baik kalian pulang saja daripada harus berdebat didepanku!" Dan Bagas langsung punya firasat yang kurang sedap, jadi menyuruh mereka pergi adalah pilihan yang tepat menurutnya.


"Bagas, maaf ya, suamiku marah saat kamu menyuruhku menciummu tadi." Embun sedikit berbisik kearah mantannya.


"Lalu?" Jawab Bagas sambil tersenyum miring, entah mengapa dia malah senang mendengarnya.


"Setelah ini anggap saja kamu lagi nonton sinetron nyata ya, kalau kamu rasa gayanya kurang bagus, pejamkan saja matamu, okey?" Embun seolah sedang berdiskusi terlebih dahulu dengan Bagas.


"EMBUN!" Dan hal itu membuat api cemburu pada diri Arsen semakin berkobar.


"Iya sayang, sini duduk sini!" Embun hanya bisa melebarkan senyuman saja, walau suaminya terliat kekanak-kanakan tapi ya sudahlah, karena cemburu memang tak mengenal usia.


Cup


Embun menarik lengan suaminya untuk duduk dikursi tunggu disamping ranjang Bagas dan langsung mendaratkan kecupan dikening Arsen.


"Cukup?" Tanya Embun sambil memegangi wajah suaminya.


"Maksud kedatangan kalian itu sebenarnya apa sih, nggak jelas banget?" Bagas langsung tersenyum kecut saat melihat adegan itu.


"Apa posisiku sama dengan dia? kenapa cuma dikening saja?" Arsen mulai protes kepada Embun tanpa perduli dengan perktaan dari Bagas.


Cup


Embun berganti meninggalkan kecupan dikedua pipi suaminya bahkan menambahkan bonus kecupan di hidung mancungnya agar adegan mereka cepat selesai.


"Kamu pikir aku anak SD yang sedang ingin berpamitan saat berangkat sekolah begitu?"


Dan apa yang dilakukan oleh Embun saat ini seolah belum cukup bagi Arsen, karena Arsen terus saja meminta hal lebih dengan istrinya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2