
POV Bagas...
Seumur-umur aku baru merasakan apa itu yang disebut sesal tiada ujung, Mamaku dulu selalu mengajarkan aku untuk tidak 'sembrono' dalam melakukan hal apapun, namun tak pernah aku dengarkan dan tidka pernah aku hiraukan, karena prinsipku semua keinginanku harus aku dapatkan, karena hanya itu caraku untuk menggapai kebahagiaan yang aku inginkan.
Tapi ternyata semua itu salah dan baru aku rasakan saat ini, sejak awal mula aku mengenal Embun aku sudah mulai tertarik dengannya, wajahnya yang cantik, pintar apalagi selalu perhatian dengan rekan-rekannya, dan saat mendapatkan Embun pun dulu tidak terlalu sulit, karena dia pun ternyata tertarik denganku.
Tak kusangka, dia pun begitu mudahnya untuk melepasku walau hanya dengan permainan satu bulan saja, entah apa hebatnya Arsen, sehingga dia mampu mengalahkan aku yang sudah bertahta sebagai kekasihnya selama beberapa tahun ini.
Itu mengapa aku semakin penasaran dan seolah tidak rela melepas Embun dengannya, bahkan saat aku melihat ada janur kuning melengkung dirumah Oma Embun yang juga baru saja aku tahu dari salah warga disana, aku langsung ingin menabraknya begitu saja.
Sasaran utamaku adalah Arsen, jadi jika dia nanti mati ditempat walau aku dipenjara juga tidak masalah, agar kami berdua tidak ada satupun yang bisa memiliki Embun.Tapi ternyata Takdir berkata lain, karena yang terluka oleh perbuatanku justru adalah Embun.
Saat dia datang mendekat diranjang pasien yang aku tempati, aku sebenarnya sudah sepenuhnya sadar, tapi aku sengaja diam saja, ingin tahu apa yang ingin dia katakan kepadaku.
Kalau dia ingin memakiku, marah-marah denganku, itu hal yang wajar, karena aku pasti sudah mengacaukan pesta pernikahannya, dan mungkin akan menjadi aib keluarga kedepannya.
Tapi inilah Embun, wanita yang benar-benar membuat aku menyesal karena telah menyia-nyiakan dia didalam hidupku.
Dia justru datang untuk meminta maaf denganku, padahal jelas-jelas aku yang salah dari awal sampai akhir, dia bahkan meminta restu dariku, walau sudah pasti aku akan menolaknya.
Dan yang membuat sesalku kembali tiada akhir, dia menangis dihadapanku, tak henti-hentinya meminta maaf denganku, bahkan masih sudi mendoakan aku demi kelancaran operasiku besok dan kesembuhanku nantinya.
Mungkin ini memang hukuman Tuhan untukku, agar aku tidak ceroboh dan hanya mementingkan egoku sendiri, sebenarnya aku ingin sekali menyapanya, ingin berbicara sepatah atau dua patah kata untuk meminta maaf dengannya, namun aku takut dia malah kabur saat itu, jadi aku coba tahan saja.
Dan saat dia mengecup jemariku yang berdosa ini, disaat itulah hatiku seolah begitu tertusuk sembilu tajam yang rasanya sungguh membuatku lemah tak berdaya.
Ingin sekali aku memeluknya dan menciumnya untuk meminta kekuatan darinya, ingin sekali aku memohon kepadanya agar menemaniku disaat aku terkapar seperti ini, pasti dia akan menjagaku dua puluh empat jam tanpa henti, jangan kan aku sakit sampai parah begini, dulu hanya demam saja dia duduk menemaniku sampai pagi, apalagi sekarang ini, namun sepertinya tidak mungkin, karena suaminya pasti akan melarang keras hal itu apalagi dia juga sakit karena ulahku, jadi aku pun tidak tega.
"Embun.."
__ADS_1
Disaat Embun sudah pergi dengan segala kenangannya tentangku, tangisku sudah tidak lagi bisa tertahankan, dia mengalir begitu saja meratapi kesendirianku di rumah sakit ini, mana jauh dari keluargaku juga, aku benar-benar merasa sendiri saat ini.
"Maafkan aku Embun."
Ingin sekali aku ucapkan hal itu tadi secara langsung, tapi aku masih ingin berada didekatnya, karena sejujurnya aku sangat merindukannya.
"Aku masih sangat menyayangimu Embun, aaaaa!" Tanpa sadar aku berteriak disana, karena aku begitu menyesal telah membuat dia pergi meninggalkan aku dan biasanya berteriak adalah cara pelampiasanku.
"Mas, kenapa? ada yang sakit?"
Tentu saja teriakanku itu membuat salah satu perawat disana berlari mendekatiku, karena mungkin takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, atau mungkin dia mengira aku kesurupan karena tiba-tiba menjerit.
"Iya Sus." Jawabku sambil menutup wajahku dengan bantal, karena aku tidak ingin terlihat lemah didepan wanita.
"Mana yang sakit?" Suster itu langsung mengecek bagian tubuhku yang terluka.
"Sakitnya tuh disini." Aku menunjuk dadaku sendiri.
"Didasar hatiku Sus." Jawabku kembali yang membuat raut wajahnya langsung berganti reaksi.
"Astaga? Mas mau nyanyi?" Tanya Suster itu dengan tatapan herannya.
"Enggak kok, oh ya.. wanita cantik yang tangannya digendong tadi sudah pergi Sus?" Aku menanyakan Embun kepadanya, siapa tahu dia masih menungguku diluar ruangan, walau mungkin hal itu tidak akan pernah terjadi lagi.
"Owh... sudah kami pindahkan dia ke ruang rawat inap." Jawab Suster itu yang langsung tersenyum, seolah dia tahu sesuatu.
"Dia mantanku Sus, dia ninggalin aku dan memilih pergi dengan pria lain."
Entah mengapa aku ingin sekali curhat dengan suster itu, setidaknya unek-unek dihatiku tercurahkan walau mungkin Suster itu sudah menahan tawa saat melihat keadaanku, tapi tetap saja aku ceritakan.
__ADS_1
"Owh ya? sayang sekali, pantesan Nona itu tadi menangis saat keluar dari sini." Ucapnya sambil membenahi selimutku.
"Aku tahu." Jawabku yang memang mendengar semuanya dari awal sampai akhir.
"Mas mendengarnya?" Dia sedikit merasa iba sepertinya, wajar sih.. mungkin saat ini aku terlihat mengenaskan, sudah terluka ditambah patah hati pula itu, lengkap sudah penderitaanku.
"Aku mendengar semuanya, tapi aku sengaja pura-pura tidur, agar dia tetap disampingku, kalau aku bangun mungkin dia akan langsung pergi dariku." Ceritaku kembali yang membuatnya menggangukkan kepalanya, bahkan dia memilih duduk didekatku untuk mendengarkan kisah pahitku.
"Mas masih mencintainya?" Tanya kembali,entah dia prihatin atau dia hanya kepo saja, terserah.. yang penting aku punya teman disini.
"Banget Sus." Jawabku dengan mantap.
"Kalau begitu yang semangat ya Mas, setelah operasi besok jangan lupa makan-makanan yang baik untuk tulang, rajin terapi dan berdoa agar Mas bisa segera sembuh dan bisa mengejar cinta Mas kembali, okey?" Dia begitu manis, bahkan tidak pelit senyuman.
"Sudah terlambat Sus, dia sudah menikah tadi." Jawabku yang membuat dia menghela nafasnya perlahan.
"Ya ampun, kalau begitu tetaplah semangat untuk sembuh Mas, biar bisa mendapatkan wanita yang terbaik yang sudah Tuhan takdirkan untuk Mas, karena jodoh itu sudah digariskan dan tidak akan tertukar, jika memang wanita tadi bukan jodoh Mas, sekuat apapun Mas mengejarnya tidak akan mampu memilikinya, apalagi kaki Mas nanti diberi platina, nggak boleh lari kenceng-kenceng, jadi belok kanan saja terus maju jalan, okey Mas Ganteng, istirahat yang cukup ya, jaga kondisi dan emosi, besok Mas harus operasi." Suster itu langsung bangkit berdiri setelah memberikan nasehat panjang lebar, karena mungkin masih banyak tugasnya.
"Sus?" Panggilku kembali saat dia ingin pergi dari ruanganku.
"Iya Mas, ada hal lain yang bisa saya bantu?" Dia kembali berjalan mendekat kearahku.
"Suster mau nggak Nikah sama aku?"
"HAH?" Dia bahkan sampai melongo menatapku dan seketika langsung saja aku tunjukkan kedua jariku dengan membentuk tanda love kepadanya.
Aku begitu salut dengan pemikiran dan cara Suster itu memberikan saran dan nasehat kepadaku, jadi walau mungkin mustahil, aku ajak saja dia menikah, siapa tahu dia khilaf dan mau aku nikahi ya kan?
POV Bagas End...
__ADS_1
Untuk part selanjutnya, yang masih suci sebening embun, harap skip sajahh😅