Perselingkuhanku Di Atas Permainan

Perselingkuhanku Di Atas Permainan
27.Merajuk?


__ADS_3

Seorang Arsenio Hernandes benar-benar marah kali ini, bahkan rasa kecewanya sulit diungkapkan dengan kata-kata, wanita yang hampir selama satu bulan ini dia percaya, bahkan sudah mulai dia sayangi sepenuh hati, ternyata mengingkari janjinya dan tega-teganya bersenda gurau dengan pria lain sedangkan dia sudah menunggu di Kafe itu selama berjam-jam, bahkan sampai Kafe itu hampir tutup.


Embun pun menyadari kesalahannya, sepanjang perjalanan menuju ke Apartement milik Arsen, dia merutuki kebodohannya sendiri. Bisa-bisanya dia melupakan janjinya dengan Arsen dan meninggalkan ponselnya didalam mobil, sehingga dia tidak tahu kalau Arsen sudah puluhan kali menelpon dirinya.


Pertemuannya dengan Mirza memang dipenuhi dengan gelak tawa, ada saja yang mereka obrolkan berdua dengan serunya, hingga saat mereka berdua memutuskan untuk berpisah, namun Ban mobil Mirza bocor karena tertusuk paku dijalan.


Karena hari sudah mulai gelap bengkel mobil pun sudah banyak yang tutup, hingga akhirnya mereka menemukan bengkel mobil rumahan yang masih buka dan itu jaraknya dekat dengan rumah Embun, jadi mereka memutuskan untuk menunggu dirumah Embun selagi mobil Mirza diderek dan diperbaiki.


"Fuhh... dia mau bukain pintu nggak ya?"


Dengan jantung yang sudah deg-degan, Embun menatap pintu Apartement milik Arsen, dia sudah diberikan alamat itu lama, namun baru kali ini dia pergi kesana, itupun dalam kondisi hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja, karena kalau dilihat dari cara dia keluar dari halaman rumahnya tadi, bisa dipastikan kalau Arsen benar-benar marah.


Ning


Nong


Hampir puluhan kali Embun menekan bel pintu itu, namun belum juga terbuka, Embun tetap bersikeras menunggu Arsen walau harus menunggu didepan pintu itu sampai pagi.


"Aish... dia pasti marah besar ini, kenapa otakku jadi lemah begini, bisa-bisa aku melupakannya." Umpat Embun sambil duduk jongkok didepan pintu dan menyembunyikan kepalanya diantara kedua kakinya dengan lemas.


Ceklek!


Tiba-tiba Embun mendengar suara pintu terbuka.


"Arsen?"


Namun ternyata Arsen tidak menyambutnya, setelah membukakan pintu dia langsung melenggang masuk kembali kedalam rumah tanpa sepatah katapun.


Aku harus merayunya, sampai dia memberikan kata maaf untukku, entah apapun itu caranya.


"Arsen, apa aku mengganggumu?" Tanya Embun sambil berjalan mendekat kearah Arsen yang sudah memasang wajah tanpa ekspresi, bahkan seolah tidak menggangap ada orang lain disana.


"Arsen, aku tahu aku salah, tolong maafkan aku."


Arsen masih terus diam saja, bahkan dia menghidupkan Televisi miliknya dan menontonnya dengan serius tanpa mau menoleh kearah Embun sama sekali.


"Apa kamu sudah menunggu lama di Kafe itu?" Embun mencoba memegang pergelangan tangan Arsen, namun langsung dihempaskan begitu saja.


Woah.. kenapa ngeri sekali kalau dia lagi marah, aduh... gimana ini, mau ngerayu tapi lihat wajahnya sudah kayak Drakula, aku takut Mama!


"Arsen, kamu boleh menghukumku apa saja, tapi jangan diam saja dong, aku bingung harus apa kalau kamu diam saja seperti ini." Embun bahkan terus memberanikan diri untuk menatap wajah Arsen yang acuh itu.


Mungkin harus sedikit ekstrim kali yak, fuhh... Nawaitu Nekad, Bismilah!


Embun dengan gilanya langsung melompat dan duduk dipangkuan Arsen dan menghadap wajahnya, agar kedua matanya tidak bisa fokus kemana-mana dan hanya menatap dirinya saja.


"Turun!" Ucap Arsen dengan tatapan tajam menusuk.


"Arsen kamu tadi udah makan belum?" Embun kembali berbasa-basi, pokoknya misinya harus berhasil malam ini, dia tidak mau kesalah pahaman ini berlarut-larut.


"Jangan banyak tanya, aku sedang malas bicara denganmu, paham!" Baru beberapa kalimat saja nadanya sudah terdengar menyakitkan, dan memang seperti itulah sifat yang biasa terlihat di Kantor, dingin dan menyeramkan.


"Trus kalau nggak mau bicara gimana aku mau minta maaf, aku menyesal melupakan ponselku tadi." Ucap Embun tetap menggunakan nada pelan.


"Kamu tidak ada bedanya dengan Nevika." Celetuk Arsen yang membuat Embun langsung tidak terima, karena dia tidak merasa, bahkan dia begitu kesal dengan wanita itu, apalagi harus disamakan sifatnya, Embun sungguh merasa tidak sudi.


"Nggak! aku tidak seperti dia, aku tadi tidak sengaja, aku benar-benar lupa." Jawab Embun yang langsung cemberut.


"Siapa pria tadi?" Tanya Arsen dengan tatapan menyelidik.


"Dia sahabatku saat kami masih dibangku SMA dulu, dan ternyata dialah rekan bisnis yang menangani projek perusahaan kita kali ini." Jelas Embun dengan sejujurnya, karena memang pembahasan dia dengan Mirza tadi bukan soal perasaan dan memang Embun sama sekali tidak punya rasa suka kepada Mirza.


"Cih... dasar Pembohong!" Arsen belum bisa percaya begitu saja.


"Sumpah Arsen, aku berani bersumpah demi apapun, dia cuma rekan bisnis saja, tadi mobilnya diperbaiki didekat Rumahku, karena hanya itu saja Bengkel yang masih buka, jadi kami mampir pulang sambil menunggu mobilnya jadi." Embun bahkan meletakkan kepalanya dibahu Arsen agar pria itu luluh.


"Aku tidak pentingkan bagimu?" Tanya Arsen yang sebenarnya juga tidak ingin bertengkar, dia sudah terlalu nyaman dengan Embun.


"Penting, aku tidak bermaksud mengabaikanmu, aku benar-benar lupa Arsen, maafkan aku." Berulang kali dia menyisipkan kata maaf kepada Arsen karena dia benar-benar menyesal melakukan hal itu.


"Kalau memang aku penting, seharusnya akulah yang menjadi prioritasmu, bukan pekerjaan ataupun pria lain, mengerti kamu!" Dia mulai posesif, entah mengapa hatinya begitu sakit saat wanita satu bulannya itu bersenda gurau dengan pria lain, apalagi wajah Embun terlihat begitu cantik dimata Arsen kalau sedang tersenyum, dan hal itu membuatnya iri.


"Tapi aku tidak bermaksud begitu tadi, percayalah denganku Arsen." Jelas Embun dengan wajah yang terlihat meyakinkan.


"Turun kamu!" Paksa Arsen karena hawa didalam tubuhnya sudah terasa memanas.


"Nggak mau, sebelum kamu mau memaafkan aku." Ucap Embun yang malah memeluk tubuh Arsen dengan erat.


"Aku tidak mau memaafkanmu!"Celetuk Arsen dengan sengaja, padahal dia hanya senang saat Embun bertingkah manja dengannya.


"Kalau begitu aku akan duduk begini sampai pagi." Embun tidak perduli lagi soal jaim, dia hanya tidak ingin bermusuhan dengan Arsen karena salah paham semata.

__ADS_1


"EMBUN!" Teriak Arsen karena merasakan sesuatu yang ingin meledak.


"Iya Arsen sayang." Namun Embun malah menjawabnya dengan wajah sok imut.


"Cih... kalau begini saja kamu mau panggil aku sayang, pokoknya turun, aku mau pergi ke kamar mandi."


"Nggak boleh, aaaa... Arsen maafkan aku!" Rengek Embun sambil memaju mundurkan tubuhnya dengan lasak.


"Jangan begini,cepat turun kamu!" Dan wajah Arsen langsung terlihat memerah.


"Enggak! aku tetap akan begini sampai kamu memaafkan aku!" Teriak Embun yang kembali mengalungkan kedua tangannya dileher Arsen.


"Turunlah, sebelum kamu menyesal!" Teriak Arsen yang seolah sudah tidak tahan.


Mama, maafkan putrimu, tapi aku tidak mau Arsen membenciku, jadi aku akan melakukan hal gila.


"Arsen, boleh aku menciummu?" Setelah meminta maaf dengan Mamanya dalam hati, Embun semakin memggila.


"Nggak!" Tolak Arsen bersikeras.


"Biasanya kan kita cuma nempel aja, kalau aku memperdalam ciuman itu, kamu tidak keberatan kan?" Bisa-bisanya Embun bertanya soal hal itu.


Apa-apaan dia, kenapa frontal sekali?


"Jangan, ayo turunlah!" Arsen tetap menolaknya tapi bukan karena tidak mau memaafkan Embun, melainkan karena alasan lain.


"Maaf Arsen, tapi aku ingin!" Ucap Embun yang langsung memiringkan kepalanya untuk menyerang.


"Hah!" Bahkan kepalanya sampai terdorong kebahu sofa karena Embun terlihat begitu ganas melakukannya.


Cup!


Taktakdundangdes!


Embun benar-benar mengeluarkan skill yang tak pernah dia lakukan dengan Bagas sekalipun, dia terus saja menerjang bibir Arsen dengan ganas, serong kanan, serong kiri, melilit, menarik, menjepit lidahnya sesuka hati, hingga dia merasakan sesuatu yang sudah menonjol keras dibawah sana.


Apa ini?


"Eheem.. sepertinya sudah cukup!" Karena meras ada hawa-hawa merinding, Embun ingin menyudahi tingkah gilanya.


Grep!


"Lanjutkan!" Namun Arsen melarangnya, dia bahkan memeluk tubuh Embun yang ingin turun.


"Kamu tahu batasannya dan saat ini aku masih marah!" Tegas Arsen yang seolah mengancam.


"Maksudnya gimana?" Embun pun sebenarnya ingin tetap disana, tapi dia takut akan terjadi hal-hal yang diinginkan tapi belum ada label halalnya.


"Teruskan, sampai aku memaafkanmu!" Perintah Arsen kembali, karena lama kelamaan dia mulai menikmati permainan lidah Embun yang terasa 'wow' sekali.


Mati gue!


"Tapi kamu sudah keringetan, aku jadi nggak enak ini." Embun mencoba mencari alasan untuk menolaknya.


"Jangan banyak alasan!"


Dengan satu kali tarikan saja Arsen bisa membuka kaos miliknya dan melemparnya ke sembarang arah.


"Kata Mama nggak boleh sampai bawah kalau masih pacaran Arsen." Embun menggunakan Mamanya sebagai senjata.


"Itu kan kata Mamamu, kalau kata Mamaku boleh aja, asal tidak membuangnya sembarangan!"


"Nggak mau!"Teriak Embun sambil berontak.


Bruk!


Arsen langsung membalikkan tubuh Embun dikursi Sofa itu dan berpindah posisi berada diatas tubuh Embun.


"Kamu yang ngeyel duluan tadi, andai kamu menuruti perintahku, aku tidak akan seperti ini sekarang." Senyum licik Arsen mulai terlihat disana.


"Maaf, aku hanya ingin merayumu saja tadi agar kamu memafkan aku, tolong jangan Arsen." Embun malah jadi ketar-ketir sendiri.


"Aku tahu batasanku!"


Dengan rasa yang sudah menggebu, Arsen langsung menghujani kecupan disetiap lekuk wajah Embun, hingga akhirnya dia mulai turun dan mencari apa yang belum pernah dia cari selama ini.


"Emh... Arsen, jangan!" Walau terasa geli-geli sedap namun Embun mencoba menahan diri.


"Aku hanya mencicipinya sedikit saja, boleh ya?" Rayu seorang pria dalam posisi sudah on.


"Tapi?"

__ADS_1


"Hanya sampai disini, okey?" Arsen menunjuk dua bukit barisan yang menggoda iman dan iminnya itu.


"Arsen?" Embun takut tidak bisa menahannya.


"Aku akan memaafkanmu!" Ucap Arsen yang malah bergantian merayu.


"Tapi ini emh--?" Embun sebenarnya tidak mau seperti ini, namun perlakuan Arsen benar-benar membuat kepalanya sampai tengadah kearah langit-langit karena merasakan sensasi yang luar biasa.


"Arsen cukup!" Saat kepala Arsen sudah beberapa saat menempel didadanya, Embun langsung mendorong kepala Arsen agar menjauh.


"Emm... Belum!" Arsen kembali mengulanginya.


"Arsen, hubungan kita tinggal satu minggu lagi!"


Degh!


Sontak Arsen langsung bangkit dari tubuh Embun, dia baru tersadar bahwa hubungan mereka hanya selama satu bulan, bahkan tinggal seminggu lagi hubungan mereka akan selesai.


"Rapikan bajumu, aku ke kamar mandi sebentar!"


Arsen langsung berlari menuju kearah kamar mandi untuk menuntaskan sesuatu yang sudah dia tahan sedari tadi.


"Astaga, kenapa aku segila ini, tapi kok enak!" Embun merapikan kancing bajunya yang sudah terlepas semua, untung saja bagian bawah tidak sama sekali diusik oleh Arsen.


Embun kembali merutuki dirinya, untung saja otaknya masih bisa dia pakai untuk mengingat bahwa hubungan mereka hanya sebatas permainan pertukaran pasangan, kalau mereka terlena, mereka berdua akan melewati batas dan melakukan kesalahan besar.


Setelah hampir setengah jam menunggu, Arsen keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sudah terlihat segar, bahkan rambutnya masih sedikit basah karena sepertinya dia mencuci rambutnya juga.


"Mau aku masakkan sesuatu untukmu?" Embun langsung menyambut Arsen saat dia duduk disebelah tubuhnya."


"Tidak perlu, makanan dari Kafe tadi masih utuh diatas tempat meja makan." Dia menunjuk beberapa bungkus makanan didapur mininya.


"Astaga, maafkan aku Arsen, kamu boleh menghukumku, apa saja, asal jangan meneruskan yang tadi." Embun merasa kembali tidak enak hati.


"Sungguh?" Tanya Arsen sambil menaikkan kedua alisnya untuk mengatur strategi.


"Hmm.. katakan saja." Jawab Embun dnegan menggangukkan kepalanya, dia siap melayani keperluan Arsen karena dulu dia sudah terbiasa melayani keperluan Bagas.


"Menginaplah di Rumahku malam ini."


"Tapi aku takut." Jawab Embun dengan cepat.


"Aku janji, tidak akan mengambil sesuatu yang bukan menjadi hakku, aku hanya ingin menghabiskan waktu malamku bersamamu, karena kamu tadi sudah melupakan aku seharian penuh dan kamu harus menggantinya, mengerti!" Ucap Arsen dengan kata-kata penegasan disana.


"Okey deh, tapi janji ya nggak nuntut lebih?" Embun terpaksa menginap dirumah orang.


"Janji, tapi tidur sambil pelukan boleh dong?"Pinta Arsen dengan santainya.


"Nggak!" Tolak Embun dengan wajah yang merona malu.


"Bodo amat, aku ingin tidur sambil memeluk kamu seperti guling sampai pagi!" Ucap Arsen yang langsung mengangkat tubuh Embun dan membawanya masuk kedalam kamar.


"Aaaaaa... Arsen!" Embun ingin menolak tapi tidak bisa.


"Ini balasan dariku, maka terimalah!"


Sesampainya didalam kamarnya Arsen langsung membanting tubuh Embun dan langsung memeluknya dengan erat, dengan penuh kasih sayang, tapi tanpa nafsu.


Hingga akhirnya sampai pagi menjelang mereka masih tidur berpelukan dibawah selimut tebal yang hangat sekali.


Nit


Nit


Nit


Terdengar samar-samar bunyi seseorang menekan tombol sandi pintu Apartement Arsen dari luar.


"Sayang, kamu delivery sesuatu?" Tanya Arsen dengan kedua mata yang masih terpejam, pikirannya pun belum sepenuhnya sadar.


"Tidak, aku masih ngantuk." Begitu juga dengan Embun yang seolah masih malas untuk membuka mata, karena terlalu nyaman tidur dalam pelukan Arsen.


"Ya sudah, kita tidur sebentar lagi."


Arsen kembali mengeratkan pelukan hangatnya, dan Embun pun ingin kembali meneruskan mimpi indahnya.


Ceklek!


Tiba-tiba pintu kamar Arsen terbuka lebar dan muncullah sesosok wanita yang sudah berdiri ditengah-tengah pintu sambil berkacak pinggang.


"ARSENIO HERNANDES BIN PUTRA WIJAYA KUSUMA HADININGRAT, APA YANG KALIAN LAKUKAN!"

__ADS_1


Duar!


Arsen dan Embun seketika meloncat dari tempat tidur itu dan memundurkan tubuh mereka untuk bersandar di dinding kamar, karena terkejut dengan suara seorang wanita yang melengking keras dan juga menggema diseluruh ruangan kamar itu.


__ADS_2