
Tidak ada kata mewah dalam acara pernikahan Embun dan juga Arsen, karena Arsen memang tidak ingin menunda Ijab Qobulnya dengan Embun, dia tidak ingin kepemilikannya diambil oleh orang lain kembali, masalah yang lainnya pikir belakangan saja, yang penting halal dulu.
"Arsen, kamu ini anak pertama Mama, dari dulu tuh Mama pengen banget ngadain pesta pernikahan yang mewah loh sebenarnya." Umpat Mama Arsen yang sempat menolak kemarin saat dimintain izin menikah dadakan, namun karena kegigihan Arsen dalam merayu wanita yang sudah melahirkan dia ke dunia itu, akhirnya Mama Arsen luluh juga.
"Bahagia dan tidaknya sebuah pernikahan itu bukan karena mewah dan tidaknya sebuah pesta pernikahan Ma." Mereka berdua mengobrol sejenak dari hati kehati, sambil menunggu saat Ijab Qobul tiba.
"Iya, tapi kan Mama juga pengen kayak teman-teman Mama gitu." Umpat Mama Arsen yang memang sudah ngedumel sejak kemarin tentang hal ini.
"Maaf ya Ma, keadaannya tidak memungkinkan, Mama tahu sendiri kan?" Ucap Arsen yang langsung mengusap lembut punggung Mamanya, dia tahu perasaan Mamanya, tapi Arsen tidak mau ambil resiko untuk tetap menikah di kota.
"Lalu bagaimana kalau Nevika nekad lagi, bunuh diri lagi, atau apa gitu, apa kamu nggak takut nak?" Sebenarnya Mama Arsen pun masih risau tentang hal itu, tapi berulang kali Arsen meyakinkan Mamanya, bahwa tidak akan terjadi masalah apapun karena mereka menikah diKampung Oma Embun.
"Aku sudah meminta putus baik-baik saat itu, tapi dia dan Papanya malah terus menyudutkan Arsen dalam segala sisi, Arsen hanya manusia biasa Ma, aku juga bisa lelah dengan tingkah mereka." Arsen yang selama ini selalu memendam masalahnya sendiri kini tanpa sadar menceritakan semuanya kepada Mamanya.
"Tapi dia tahu betul alamat rumah kita di kota, kalau nanti mereka ngamuk dirumah kita gimana?" Tanya Mama Arsen yang malah jadi kembali resah.
"Kalau misalnya tidak mungkin untuk menghindarinya ya.. hadapi sajalah Ma, lagian aku cuma pacaran dengan Nevika, tidak ada undang-undang dan peraturan khusus aku harus bertanggung jawab dan menafkahi dia kan? kalau dia mau protes juga tidak masalah, itu hak dia, kalau mau lapor juga terserah saja, nggak akan laku juga laporannya dalam hukum bukan?" Arsen sudah memikirkan matang-matang tentang hal ini, jadi segala resiko yang akan terjadi sudah dia pikirkan juga sebelumnya.
"Iya juga sih?" Ucap Mamanya yang tidak punya saran lain juga.
"Jadi tenangkan pikiran Mama, pasrahkan saja semuanya dengan yang DiAtas, jika ini memang yang terbaik untuk Arsen dan juga Embun, pasti akan ada jalannya, okey Ma?" Sebagai anak dia juga harus saling menguatkan, apalagi anak pria, tanggung jawabnya besar kepada ibu dan istrinya kelak.
"Mas Arsen, semua sudah siap, apa Ijab Qobulnya bisa kita mulai sekarang?" Tanya salah satu panitia pernikahan disana.
"Tentu saja Pak." Jawab Arsen yang terlihat bersemangat, karena memang inilah moment yang dia tunggu-tunggu.
Walau hanya berbalut baju kebaya serba putih dan riasan adat Jawa asli, namun wajah Embun begitu cantik, seolah memancarkan aura pengantin yang sangat kuat sekali.
Seorang Arsenio Hernandes yang dulunya jarang tersenyum, kini setiap saat dia mengumbar senyumannya, dia begitu mengagumi sosok Embun, bukan hanya karena wajahnya saja, tapi juga hatinya yang sesejuk embun dipagi hari.
"Bagaimana para Saksi, Sah?" Ucap Penghulu setelah Arsen melafadzkan Ijab Qobulnya dengan lancar bahkan dengan satu kali tarikan nafasnya.
"SAH!"
__ADS_1
Hingga akhirnya kata Sah terdengar dari para saksi pernikahan dan para sanak saudara terdekatnya disana, saat itu juga Embun akhirnya resmi menjadi istri sah dari Arsenio Hernandes, tanpa drama dan tanpa gangguan dari para mantan.
"Silahkan berjabat tangan atau mencium tangan suami, kalian sudah Sah sebagai pasangan suami istri sekarang." Ucap Penghulu itu yang ikut tersenyum bahagia.
"Alhamdulilah... cantiknya istriku hari ini."Puji Arsen setelah Embun meraih jemarinya dan mengecupnya dengan sangat lembut, bahkan menggetarkan hatinya.
"Jangan ngomong gitu Mas, aku kan jadi malu?" Bisik Embun saat yang lain bersorak saat ikut menjadi saksi sakralnya pernikahan mereka.
"Heh.. kamu manggil aku Mas?" Karena biasanya Embun memanggilnya dengan sebutan nama, jiwa kelakiannya seolah sedikit tersentuh, karena merasa lebih dihormati.
"Jadi?" Embun menatapnya heran, dia hanya mengikuti sapaan istri kepada suami pada umumnya saja pikirnya.
"Terima kasih sayang, karena kamu sudah percaya denganku untuk menjadikan aku sebagai Imammu, jadilah perisai yang kuat di masa-masa sulit nanti dan jadilah matahari yang tetap tersenyum dalam kisah perjalanan kita." Dan akhirnya hanya pelukanlah yang bisa menggambarkan betapa bahagianya dan betapa bersyukurnya dia bisa memiliki Embun pada akhirnya.
"Akan selalu aku panjatkan do’a, agar aku selalu bisa mendampingi kamu sampai Tuhan menghentikan kehidupan kita Mas, aku sayang kamu." Walau dia sedikit malu, namun Embun memang sengaja ingin Arsen tahu akan isi hantinya yang terdalam.
"Mas lebih sayang kamu, bahkan berkali-kali lipat darimu." Jawab Arsen yang tidak mau kalah.
"Pasti sayang, kita harus sama-sama berjuang, semoga Tuhan selalu melindungi dan menguatkan kita, sesulit apa pun kondisi yang kita hadapi ke depannya." Dia mengusap kepala Embun sambil terus mengucap syukur dati hati, bahwa tidak mudah mereka sampai dititik ini.
"Amin."
Walau tidak megah, namun acara resepsi pernikahan Embun dan Arsen di Kampung Omanya cukup meriah, dengan dihadiri tetangga satu kampung.
"Pegang tanganku sayang, jangan pernah terlepas, okey?" Ucap Arsen dengan wajah seriusnya.
"Kita cuma mau naik panggung kayu yang tingginya nggak ada satu meter Mas, jangan lebay deh." Umpat Embun saat mereka akhirnya mengikuti rangkaian acara resepsi setelah prosesi Ijab Qobul.
"Hehe... biar Romantis yank!" Ucap Arsen yang langsung mencolek hidung mancung istrinya.
"Mbelgedes Mas." Umpat Embun sambil tersenyum miring melihat kelakuan Arsen yang tidak biasa.
Pada akhirnya kesedihanku kala itu, kini yang mempertemukan aku pada sesuatu yang lebih baik dari apa yang aku mau. Dan pada kenyataannya memang Tuhan yang selalu lebih tahu.
__ADS_1
Kini aku bersyukur pernah ada di fase jatuh dan terpuruk bahkan hancur lebur, namun ternyata tujuan akhirnya untuk Tumbuh.
Semua yang aku pinta kepada-NYA, ada pada suamiku saat ini, bahkan jauh lebih indah dari sekadar doa-doa yang aku panjatkan selama ini, matur suwun Gusti, pun maringi sing gemati.
Embun benar-benar bahagia hari ini, dia terus tersenyum sambil menatap wajah tampan suaminya, dan berdoa didalam hati tanpa perduli dengan keramaian para tetangga yang menikmati acara resepsi pernikahan mereka, dibawah kursi pengantin yang saat ini mereka tempati.
"Kenapa kamu terus memandang wajahku yank, apa ada kotoran diwajahku? atau gigiku?" Tanya Arsen yang malah berpikiran tentang hal lain, dia takut terlihat jelek didepan para tamu disana.
"Owh... tidak kok Mas." Embun langsung memalingkan wajahnya karena menahan malu, dia sudah ketahuan memandang yang memang sudah halal untuknya.
"Apa kamu sedang mengagumi wajah tampan suamimu ini, atau kamu sudah tidak sabar untuk menikmatiku, apa sebaiknya kita kabur saja dari sini?" Ledek Arsen yang semakin membuat Embun merasa tersipu-sipu.
"Apaan sih Mas, pikirannya itu loh, kenapa sampai kemana-mana?" Jawab Embun yang langsung merasakan hawa panas disekitar wajahnya saja.
"Nggak usah malu, aku sudah resmi menjadi milikmu saat ini, bahkan untuk selamanya." Semakin Embun malu, maka Arsen semakin semangat melancarkan aksinya.
"Woi... Woi... Awas!"
Ngeeeeeeeeenggg!
Saat Arsen masih gencar-gencarnya menggoda Embun, terdengar suara teriakan para tetangga dari luar sana dan tak selang beberapa detik ada motor yang menerabas tenda pernikahan mereka dengan kecepatan tinggi dan terarah ke kursi pengantin.
"AWAS MAS!" Embun yang melihatnya sontak mendorong Arsen agar menjauh, namun sialnya tangan Embun sempat tersenggol bahkan membuatnya terjatuh dan terpelanting kebawah panggung.
Braaaaaaaaaaaaak!
"ASTAGA EMBUN, TOLONG CEPAT PANGGIL AMBULANCE!" Teriak Arsen yang langsung berlari dan berteriak kearah embun yang sudah tergeletak pingsan seketika.
Panggung yang hanya terbuat dari susunan kayu itu langsung porak poranda, karena diterjang pria bermotor tadi dengan kencangnya.
Bukan hanya Embun yang terluka, tapi pria berpakaian serba hitam itu pun terkapar karena tertimpa motor miliknya sendiri, bahkan terkena runtuhan panggung pengantin
"Jangan pernah berasumsi bahwa lantang itu kuat dan diam itu lemah. Karena Badai yang paling ganas itu muncul dari laut yang paling tenang."
__ADS_1