
Diwaktu yang sama, Bagas sudah berada dipelataran rumah Embun, dia sejenak merenung mengingat moment-moment manis yang terjadi dirumah itu, bahkan membuat senyuman manis Bagas terukir dikedua sudut bibirnya.
Embun yang selalu membuatkan macam-macam cemilan setiap kali dia datang, Embun yang selalu mencoba berbagai resep makanan baru dan menyuruh Bagas untuk mencicipinya dan Embun yang selalu memijit tubuh kekarnya itu saat ngobrol santai di Teras rumah sambil tertawa bahagia, seolah semua itu kembali gentayangan dipikirannya dan membuat dirinya semakin tidak rela jika Embun lebih memilih Arsen daripada dirinya.
"Apapun caranya, aku harus bisa mendapatkan hati Embun kembali, karena dia milikku, hanya milikku!" Seketika Bagas memantapkam diri untuk masuk kedalam rumah Embun.
Tok
Tok
Tok
"Sayang, aku datang!" Teriak Bagas sambil mengetuk pintu rumah itu.
Ceklek
Dengan wajah yang masih polos tanpa make up, Embun membukakan pintu rumah itu.
"Bagas? ada apa?" Tanya Embun yang saat ini seolah sudah merasa asing dengannya, perpisahan satu bulan dengan Bagas itu sungguh mampu membuat hubungan mereka terasa hambar dan tidak istimewa lagi bagi Embun.
Grep!
"Kangen." Ucap Bagas yang langsung memeluk tubuh Embun dengan erat sekali, dia memang mengutarakan isi hati yang sesungguhnya, bahwa dia sangat merindukan segala tentang Embun yang tidak dia dapatkan saat berhubungan dengan Nevika.
"Bagas, jangan begini!" Embun mencoba melepas pelukan Bagas namun terasa sulit karena tubuh Bagas begitu keras dan kokoh, tubuh Embun seolah tidak mampu melawannya.
Cup
Cup
Cup
Semakin Embun mencoba menghindar, Bagas semakin nekad, bahkan langsung menghujani kecupan diwajah Embun sesuka hatinya.
"Bagas Stop it!" Teriak Embun yang mulai risih, dia sudah terbiasa diperlakukan lembut oleh Arsen, bahkan saat mencium dirinya, dan kini saat Bagas melakukannya dia merasa gerah sendiri.
"Kenapa sih sayang, hari ini permainan pertukaran pasangannya kan sudah berakhir dan aku akan kembali menjadi kekasihmu, apa kamu lupa?" Jelas Bagas sambil merangkul leher Embun agar tatapan kedua mata mereka bisa saling bertemu.
"Fuuh...!" Embun hanya bisa menghela nafas dengan kasar, semua tidak semudah yang dibayangkan dan Embun merasa semua tak lagi sama.
"Sayang, hari ini aku ingin manja-manjaan berdua saja denganmu, kamu buat sarapan apa pagi ini?" Saat wajah Embun terlihat lain dan tidak seperti biasanya, Bagas langsung mengalihkan pembicaraan, karena dulu saat dia datang pagi-pagi ke rumah Embun pasti disambut dengan sarapan yang istimewa setiap harinya.
__ADS_1
"Tidak ada sarapan untukmu!" Ucap Embun dengan cepat, karena hari ini hari libur, dia bahkan sengaja bangun siang.
"Okey, kalau begitu sarapanku kamu aja, gimana?" Bagas langsung mengangkat tubuh Embun dan membawanya keatas Sofa.
"Bagas, apa-apaan ini?" Teriak Embun yang langsung memukuli dada bidang Bagas karena merasa kaget sendiri.
"Kamu kenapa sih yank, apa nggak kangen sama aku?" Umpat Bagas yang langsung menindih tubuh Embun karena dia terus saja menolak dirinya.
"Awas dulu, aku nggak bisa nafas!" Teriak Embun sambil berusaha mendorong tubuh Bagas yang masih menindihnya.
"Tapi aku kangen kamu sayang." Rengek Bagas sambil mengungselkan wajahnya diceruk leher Embun dengan manja.
"Pergi saja temui Nevika sana, kamu sudah terbiasa dengan dia kan?"Jawab Embun yang seolah sudah tidak perduli lagi, apalagi saat ini sudah ada Arsen yang selalu ada untuknya, mau di Kantor ataupun diluar, karena memang perkerjaan mereka sama.
"Sayang, semua sudah berakhir okey, sekarang kamu milikku dan akan terus begitu sampai kita menikah." Ucap Bagas dengan mantap.
"Menikah?"
Embun langsung menatapnya dengan tatapan heran, dulu saja Bagas sama sekali tidak ingin jika dirinya membahas soal pernikahan, selalu ada alasan, belum siaplah, apalah, tapi kenapa sekarang tiba-tiba membahas soal menikah pikirnya.
"Hmm... kapan aku bisa melamarmu?" Tanya Bagas, karena dia sudah tidak punya cara lain agar Embun bisa kembali percaya dengan dirinya.
"Bulan depan? atau minggu depan pun aku sudah siap, tinggal ngomong saja sama keluarga besar kita, okey?" Bujuk Bagas kembali tanpa henti, pedoman dalah hidupnya adalah dia harus mendapatkan sesuatu yang dia impikan, apapun itu.
"Bagas maafkan aku!" Ucap Embun dengan lirih, dia pun tidak tega sebenarnya tapi hati itu memang tidak bisa dibohongi.
"Aku tidak mau dengar!" Teriak Bagas yang seolah sudah tahu apa yang ingin Embun katakan setelah ini.
"Aku sudah bertunangan dengan Arsen!" Namun Embun tetap memilih jujur saja.
"Aku tidak mau tahu, karena didalam perjanjian kita nggak ada acara tunang-tunangan segala, begitu permainan berakhir hubungan kamu pun sudah berakhir, mau itu tunangan atau apa, tapi setelah waktu permainan selesai, hubungan kalian pun selesai sampai disitu saja, paham kamu!"
Bagas pun tahu kalau Embun sudah bertunangan dengan Arsen, dan itu mengapa dia merasa tertantang dan semakin tidak rela jika Embun dimiliki oleh Arsen, bukan dirinya.
"Bagas, tapi aku merasa hubungan kita sudah tak lagi sama." Ucap Embun yang mencoba memberikan pengertian, karena bahkan dia sudah tidak secemburu dulu lagi ketika melihat Bagas dengan Nevika bermesraan berdua.
"Tak lagi sama bagaimana? kita berpacaran sudah tahunan sayang, apa iya bisa tergantikan dengan sandiwara hanya dalam kurun waktu satu bulan saja, jangan ngaco kamu Embun!" Umpat Bagas yang seolah tidak percaya.
"Tapi itu kenyataannya Bagas, kamu dan Nevika juga sangat cocok kan, bahkan dalam satu bulan ini kalian begitu mesra, bermanjaan berdua dimana saja, apa itu tidak cukup?" Sindir Embun yang awalnya merasa jengah, setiap kali melihat mereka mojok tak tahu tempat.
"Tidak, dia hanya pacar sementara, dan kamu adalah pendamping hidupku selamanya Embun!" Celetuk Bagas tidak mau kalah.
__ADS_1
"Tapi sepertinya aku sudah tidak bisa Bagas." Apalagi tadi malam dia baru saja bertunangan dengan Arsen, dan menurutnya itu bukan sandiwara, karena susah melibatkam kedua keluarga besar.
"Aku tidak mau tahu, kita menikah minggu depan!" Teriak Bagas yang seolah sudah prustasi.
"Bagas, setelah apa yang kita alami, apa kita masih bisa meneruskan hubungan kita seperti dulu lagi? bahkan saat melihatmu saja aku langsung teringat dengan Nevika, bagaimana kalian berpelukan, bagaimana kalian berciuman, bahkan ditempat umum dan hal itu masih terngiang-ngiang dipikiranku sampai saat ini." Jelas Embun dengan panjang lebar.
"Kenapa? apa kamu cemburu? aku bahkan bisa memperlakukan kamu lebih daripada itu, kamu mau sekarang?"
Cemburu? maaf-maaf ni ya, tapi kenyataannya tidak sama sekali.
"STOP! aku sudah tidak nyaman lagi denganmu Bagas, lebih baik kita sudahi saja hubungan kita, kita mulai lembaran baru, kamu boleh tetap bersama dengan Nevika, aku akan merelakan kamu dan aku akan merestui hubungan kamu dengan Nevika." Walau secara kalem, namun Embun seolah sudah memutuskam hubungan diantara mereka berdua.
Duar!
"Apa kamu ingin melihat aku mati saja?" Teriak Bagas yang mulai berulah.
"Bagas, aku sedang tidak berminat untuk bercanda." Ucap Embun yang merasa jengah karennya.
"Kamu pikir aku main-main?" Tantang Bagas yang malah tersenyum licik karenanya.
"Apa sih Bagas?" Embun sebenarnya pun tidak sampai hati, karena tidak bisa dipungkiri, bahwa pria ini juga pernah membahagiakan dirinya dulu.
"Kalau kamu memutuskan aku sekarang, kamu sama saja menginginkan aku mati, karena kamu tahu aku tidak bisa hidup tanpa kamu, paham kamu!" Bahkan Bagas mengeluarkan sedikit ancaman untuk menakut-nakuti Embun.
"Cih... Tidak bisa hidup tanpamu, tapi kenapa kamu begitu mesra dengan Nevika?"Ledek Embun dengan tawa sinisnya, walaupun hal itu sudah tidak lagi membuatnya cemburu, karena Arsen selalu ada untuk menghiburnya.
"Itu hanya permainan sayang, bukannya tulus dari hati dan aku maunya kamu yang jadi pendamping hidupku, selamanya." Bagas seolah membuat pernyataan bahkan penekanan, agar embun memaafkan dirinya.
"Aku sudah lelah Bagas, lelah sekali." Embun menyandarkan kepalanya dibahu kursi sambil meluruskan kedua kaki jenjangnya.
"Maafkan aku sayang, aku tidak akan memintamu untuk melakukan hal gila itu lagi, aku janji sayang, kembalilah padaku Embun." Pinta Bagas dengan tatapan terus terarah di wajah cantik Embun, walau tanpa make up sekalipun.
"Jangan dengarkan dia Embun, pergilah bersamaku!"
Tiba-tiba seorang pria tampan bertubuh kekar muncul dari pintu dan langsung ikut menggengam satu tangan Embun dengan erat.
"Hei, jangan sentuh wanitaku!"
Bagas seketika murka saat Arsenio Hernandes tiba-tiba masuk tanpa permisi dan langsung menggandeng tangan Embun dengan erat tanpa memperdulikan dirinya.
Sedangkan Embun tidak bisa berkata-kata lagi, dia sungguh tidak menyangka, jika kedua pria tampan itu bisa datang secara bersamaan dan bahkan sama-sama menggengam satu tangannya masing-masing.
__ADS_1