Perselingkuhanku Di Atas Permainan

Perselingkuhanku Di Atas Permainan
47.Tuman


__ADS_3

Betapa bahagianya hati Arsen pagi ini, karena mendapatkan kabar bahwa istrinya sudah diizinkan untuk pulang dan bisa melakukan rawat jalan saja, tapi dari semua kabar baik itu, yang lebih membuatnya riang gembira adalah karena dia bisa melanjutkan malam-malam syahdu bersama istrinya tanpa ada pihak pengganggu, atau pembatasan waktu yang membuat dirinya harus beraksi dengan cepat.


"Sayang kita langsung balik ke kota saja, aku sudah meminta izin dengan keluarga kita semuanya, dan merekapun sudah mengizinkannya." Ucap Arsen yang sedari tadi asyik tiduran dipangkuan Embun dengan manjanya.


Bawaan pengantin baru yang memang sudah melakukan ritual malam pertama memang begini, rasa-rasanya mau nempel terus, tidak mau terpisahkan walau hanya sejengkal saja.


"Tapi bukannya aku masih harus rawat jalan Mas?" Tanya Embun yang sedaritadi terus mengusap kepala suaminya, padahal dirinyalah yang menjadi pasien, namun malah Arsen yang selalu meminta perhatian.


"Aku sudah berbincang dengan Doktermu juga, dan beliau sudah merekomendasikan rumah sakit terbaik dikota, semua sudah beres pokoknya, aku sudah mengatur segalanya." Tidak ada hal yang tidak bisa dia selesaikan dengan cepat, lagipula dia tidak ingin istrinya terus berada dalam satu lingkup dengan mantan kekasih yang meresahkan itu.


"Trus kita mau tinggal dimana nanti? rumah keluargaku atau keluargamu?" Tanya Embun yang memang belum pernah membahas soal ini sebelumnya.


"Tidak dua-duanya." Jawab Arsen dengan cepat.


"Kalau begitu tinggal dirumahku saja ya, biar kecil tapi nyaman kok?" Pinta Embun yang memang sayang jika harus meninggalkan rumah yang sudah dia tempati selama bertahun-tahun dari hasil keringatnya sendiri itu.


"Rumah itu bisa kamu jual saja, atau kalau kamu masih sayang karena rumah itu hasil kerja kerasmu, nanti bisa kamu kontrakkan saja." Jawab Arsen, bukannya dia tidak mau tinggal disana, hanya saja dia tidak ingin istrinya mengingat kenangan bersama mantan kekasihnya yang pasti sudah banyak sekali terukir di rumah itu.


"Karena kecil ya mas?" Ucap Embun yang malah berprasangka lain.


"Bukan masalah kecil atau besarnya, tapi kenangan kamu dulu didalamnya." Celetuk Arsen dengan jujur, bahkan baju Bagas saja masih ada yang tersimpan disana sampai sekarang pikirnya.


"Kenangan apa?" Tanya Embun yang malah tidak berpikir kearah sana sebenarnya, karena dia menggangap semua sudah berlalu begitu saja.


"Kenangan kamu dengan mantanlah, pokoknya setelah kita menikah, kita harus melupakan mantan dan semua tentangnya, aku pun sudah menjual Apartement lama dan langsung sudah dapat Apartement baru, jadi kita bisa membuka lembaran baru disana, hanya kita berdua sayang." Arsen langsung memeluk perut istrinya dan menyembunyikan wajahnya disana.


Ini kabar yang bagus, tapi aku masih kepikiran dengan keadaan Bagas sekarang, apa dia baik-baik saja?


"Okey, aku tidak masalah mau tinggal dimana saja, kalau begitu Mas sudah menyelesaikan administrasi rumah sakit?" Entah mengapa saat dia dilarang, Embun malah semakin ingin melihat kondisi Bagas, apalagi hari ini jadwalnya dia operasi.


"Belum, aku bantuin kamu beres-beres dulu ya?" Arsen langsung bangkit ingin beres-beres, tadi pagi dia sudah melarang orang tua mereka yang akan kembali ke rumah sakit, karena mereka sudah akan pulang hari ini.

__ADS_1


"Nggak usah, biar aku saja." Ucap Embun yang memang ingin segera melakukan sesuatu.


"Kamu sudah fit sayang?" Arsen mengusap wajah Embun yang memang sudah lebih berseri.


"Sudahlah, kan cuma tanganku saja yang sakit."


"Pinggangmu okey?" Ledek Arsen sambil mengedipkan satu matanya.


"Sedikit pegel sih, tapi nggak papa?" Jawab Embun dengan rona wajah malu-malu.


"Maaf ya, mungkin aku terlalu semangat, tapi nanti boleh minta lagi kan?" Arsen langsung menoel dagu istrinya, semakin Embun terlihat malu maka semakin terlihat menggemanskan dimata suaminya.


"MAS?" Embun langsung mencubit perut suaminya yang semakin tua malah semakin nakal.


"Nanti aku bantu pijat, okey?" Orang yang paling bahagia di Bangsal rumah sakit itu mungkin hanya Arsen, karena apapun kondisi istrinya ritual pertama tetap dia dapatkan walau dengan cara yang sedikit gila.


"Tidak usah, palingan juga cuma pencitraan doang, endingnya juga aku dibuat pegal lagi, TUMAN!" Celetuk Embun yang sudah bisa menduganya.


"Bohong, kenyataannya kemarin juga sedikit maksa." Umpat Embun sambil tersenyum kecut, dia masih ingat betul bagaimana tingkah gilanya Arsen saat sudah dibutakan oleh hasrat yang menggebu.


"Orang kamu bilang enak kok, ya lanjutlah!" Ledek Arsen kembali.


"Apa sih Mas, udah deh sana urus administrasiku, biar kita bisa cepet pulang."


"Widih... yang udah nggak sabaran mau tidur berduaan?" Arsen malah semakin gencar menggodanya.


"Kalau begitu kita tinggal di rumah Mama aja."


"No way! kemasi barangmu, aku akan pergi ke ruang administrasi sekarang." Arsen langsung bergegas menuju ke ruang pembayaran, sebelum istrinya memaksa dirinya untuk tinggal dirumah orang tuanya.


"Cih... dasar pria mesum, dimana-mana pria itu pikirannya menuju ke arah sono aja, eh... Bagas kan operasi sekarang, apa aku harus melihatnya sebentar? tapi... ckk.. lihat ajalah sebentar, lagian besok kami tidak akan bertemu lagi."

__ADS_1


Setelah melihat kanan kiri sepi, tak ada tanda-tanda pergerakan dari suaminya, dia langsung menuju ruang IGD kembali untuk melihat Bagas walau hanya sebentar saja pikirnya.


Karena ruang administrasi rumah sakit itu berada cukup jauh dari ruangannya, jadi Embun merasa suaminya tidak akan tahu jika dirinya melihat keadaan Bagas saat ini.


"Suster, apa pasien yang bernama Bagas sudah di ruang operasi?" Tanya Embun saat Bagas tidak ada ditempat yang kemarin dia dirawat.


"Kamu pasti mantanya ya?" Tanya Suster itu sambil tersenyum.


"Owh.. enggak, anu, itu.." Embun bingung sendiri mau menjawab apa.


"Aku tahu, karena pasien sempat sedikit bercerita kemarin." Ucapnya yang seolah menjawab kebingungan Embun.


Bagas memang gila!


"Apa? tentangku?" Tanya Embun sambil mengepalkan satu tangannya.


"Iya, dia terlihat begitu menyayangi anda bahkan sangat disayangkan jika harus putus saat itu dan mungkin memang kamu harus melihatnya sebelum dia dibawa masuk keruang operasi, karena dia sendirian, tidak ada keluarga yang menemaninya." Ucap Suster itu yang wajahnya tiba-tiba terlihat prihatin.


"Astaga, baiklah, lalu Bagas ada diruangan mana sekarang?" Tanya Embun yang langsung merasa iba.


"Diruang transit sementara sambil menunggu Dokter bedah masuk ke ruang operasi, mari saya antar, tapi anda tidak boleh berada didalam sana lama-lama karena itu ruangan khusus pasien yang akan melakukan operasi."


Suster itu pernah ada di posisi Bagas saat ini dan dia merasa tidak tega saat secara tidak langsung mendengar curhatan dari Bagas saat itu, apalagi dia tadi melihat Bagas seperti murung sendirian saat dia pindahkan.


"Kasihan Bagas, apa dia sengaja tidak memberitahu orang tuanya?"


Benar saja, Embun bisa melihat dan merasakan kesedihan Bagas walau dari kejauhan, pikirannya seperti kosong bahkan dia termenung sambil memainkan jarinya seorang diri, seperti orang yang sedang kalut dalam rasa ketakutan yang teramat sangat.


To Be Continue...


Kalau langsung lulus, kalau tidak tunggu besok pagi😁

__ADS_1


__ADS_2