
Embun saat ini sudah dipindahkan ke ruang rawat inap dan Arsen meminta istrinya dipindahkan keruangan kelas satu, agar tidak terganggu dengan pasien lain dan tentu saja ruangan itu lebih luas, seperti kamar hotel dengan fasilitas nomor satu.
"Makan yang banyak yank, biar kamu cepet sembuh." Arsen menyuapi istrinya makan, sambil ngedumel nggak ada habisnya.
"Aku udah kenyang Mas." Jawab Embun yang memang masih belum berselera makan.
"Baru berapa suap aja yank, gimana mau kuat kalau makanmu hanya sedikit?" Arsen benar-benar khawatir istrinya terluka seperti ini, apalagi karena menyelamatkan dirinya.
"Aku juga baru lepas infus kan Mas, jadi belum begitu lapar." Ucap Embun dengan perlahan, sebenarnya dia paham maksud suaminya, namun memang perutnya belum bisa menerima makanan banyak.
"Pokoknya setelah kamu keluar dari rumah sakit, aku akan melaporkan Bagas ke pihak yang berwajib." Umpat Arsen yang benar-benar kesal sekali saat mengingat kejadian yang mungkin tidak akan terlupakan seumur hidup.
"Nggak usah lah Mas." Embun langsung melarangnya, apalagi saat mengingat keadaan Bagas saat ini.
"Kenapa, kamu mau bela dia? Bagas sudah menghancurkan resepsi pernikahan kita sayang, gara-gara dia keluarga kita harus menanggung malu, apa kelakuannya yang seperti itu bisa kamu maafkan begitu saja?" Arsen benar-benar tidak sependapat dengan ucapan istrinya kali ini.
"Bagas juga terluka Mas, bahkan lebih parah, tangan dan kakinya patah dan itu sudah cukup untuk memberikan palajaran baginya." Ucap Embun yang sebenarnya tidak tega, karena itulah kelemahan Embun, selalu tidak tegaan orangnya.
"Itu belum cukup sayang, bahkan tangan kamu sampai seperti ini, kamu jadi nggak bisa apa-apa kan, seharusnya kita itu bulan madu, bukan menginap dirumah sakit seperti ini?" Umpat Arsen yang sebenarnya penasaran juga, mereka sudah mengadakan pesta diluar kota, bahkan di sebuah pedesaan, tapi kenapa Bagas bisa menemukan mereka, pikirnya.
"Sebenarnya Mas itu marah karena ulah Bagas atau karena aku nggak bisa diapa-apain malam ini, hayow?" Ledek Embun yang sebenarnya ingin mencairkan suasana agar Arsen tidak terus diliputi rasa emosi.
"Heh?" Arsen langsung memandang ke arah wajah istrinya.
"Yang penting kan kita udah sah Mas, kalau cuma resepsi aja gampanglah kita bisa buat lagi dikota dan aku yang terluka hanya tanganku saja, yang lain masih okey, apalagi intinya ada dibawah bukan?" Embun kembali memberanikan diri untuk terus menggoda suaminya, apalagi saat raut wajah suaminya langsung berubah, antara grogi dan juga malu.
"Inti apa hayow?" Tiba-tiba terdengar suara Mama Mertua yang mengagetkan dirinya, ternyata dia datang bersama Mamanya.
"Uhuk.. Uhuk! maksud Embun itu inti permasalahan Bagas Ma." Sontak Embun lansung terbatuk karena terkejut, dia tidak menyangka jika mereka mendengarnya.
"Pffftth.. sepertinya bukan itu deh tadi?" Dan Arsen seolah bergantian meledek istrinya.
__ADS_1
"Apa sih Mas!" Embun langsung melotot kearahnya, dia yang hanya bermaksud bercanda untuk meredakan amarah suaminya malah ketahuan oleh Mama dan Mama mertuanya.
"Wah... sepertinya malam ini kita pulang ke rumah Oma saja Jeng, mereka sepertinya mau proyek besar ini." Ucap Mama Arsen kepada Mama Embun.
"Ahahaha... Apa itu?" Ledek Mama Embun yang pura-pura polos.
"Tidak Ma, bukan begitu maksud Embun tadi." Embun mencoba membela diri, namun mereka lebih berpengalaman dan tidak mudah tertipu begitu saja.
"Mama paham, orang Mama juga pernah muda kok? wajarlah namanya juga pengantin baru ya kan?" Mama Arsen seolah membumbui pembahasan mereka agar lebih gurih terasa.
"Asal hati-hati, jangan ganas-ganas, kamu kan belum begitu sehat dan sepertinya posisi women on t o p lebih aman, agar tanganmu yang retak tidak terusik." Mama Embun malah menjelaskannya dengan mendetail bahkan dengan gayanya sekalian.
Duar!
"Woah.. Mama luar biasa sekali." Arsen langsung bersorak mantap karenanya.
"Astaga Mama! Ingat umur Ma!" Embun sendiri yang malah malu jadinya saat mendengar ucapan Mamanya.
"Kenapa? bahkan kata Besan kalian sudah pernah tidur bersama, makanya beliau segera menyuruh kalian bertunangan setelah hari itu?" Tidak ada yang mereka sembunyikan saat ini, itu mengapa Mama Embun langsung mengiyakan saja saat dimintai restu, takut jika hubungan putrinya kelewat batas dan merugikan pihak Embun sendiri.
"Aku sudah sempet en---"
"Mas, jangan komentar!" Embun langsung menyela ucapan suaminya dan melotot kearahnya, bahkan biji matanya seolah ingin melompat dari wadahnya.
"Salah kamu sendiri, walaupun sebenarnya dosa juga khilaf itu terkadang uenak!" Celetuk Mama Embun yang membuat semua orang disana malah menahan tawa.
"Nyebut Ma, astaga Papa tolong kondisikan Mama itu loh!" Embun langsung memanggil Papanya saat ucapan Mamanya semakin menjadi.
"Sudah.. sudah! hari sudah mulai malam ini, mari kita semua pulang, ada Arsen yang akan menjaga Embun sekarang, okey?" Papa Embun langsung mengajak mereka semua untuk keluar ruangan.
"Tentu saja kita harus pulang, mana mau Mama jadi kambing congek disini!" Jawab Mama Embun sambil melenggang pergi setelah mengedipkan satu matanya kearah putrinya.
__ADS_1
"Bahahaha!"
Akhirnya mereka semua tertawa sambil meninggalkan Embun dan Arsen yang tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena menahan rasa malu, dan mereka hanya mampu cengar-cengir sendiri setelahnya, sambil perang cubitan diantaranya.
"Ini gara-gara Mas sih." Embun kembali menyalahkan suaminya.
"Kok jadi aku? yang bahas soal Inti tadi siapa coba?"Jawab Arsen yang langsung membaringkan tubuhnya disamping istrinya.
"Itu karena Mas pake acara mau ngelaporin Bagas juga sih, sudahlah.. Dia pasti hanya kecewa saja dengan keputusan kita, aku rasa Nevika kalau tahu juga lebih gila daripada dia, walau hal ini bukan sepenuhnya salah kita, tapi kita juga salah Mas, jadi cukuplah sampai disini, karena balas dendam tidak akan menyelesaikan masalah, karena pasti akan ada dendam-dendam yang lainnya." Embun mencoba bicara dari hati ke hati, agar tidak ada kesalah pahaman diantara mereka.
"Ckk.. tapi aku nggak rela kalau dia mengusikmu lagi." Arsen memiringkan tubuhnya dan menghadap ke arah Embun.
"Tangan dan kakinya patah Mas, penyembuhannya juga tidak sebentar, dia tidak akan bisa apa-apa dengan kondisinya yang seperti itu, lagian aku juga nggak papa kok?" Embun langsung menempelkan kepalanya didada bidang suaminya.
"Beneran kamu nggak papa? coba sini sun dikit." Goda Arsen dengan gemasnya.
"Dih.. itu sih mau Mas." Sangkal Embun, namun dia mendekatkan pipinya juga ke bibir suaminya.
"Mas takut banget tadi melihat kamu pingsan tak sadarkan diri, Mas takut kamu terluka sayang." Arsen langsung memainkan hidungnya dipipi Embun.
"Sudahlah, anggap saja ini sebagai musibah, kata dokter juga tanganku retaknya tidak begitu parah, jadi tidak harus dioperasi, hanya belum boleh bergerak bebas aja kan?" Embun mengusap lebut pipi suaminya yang baru sah pagi tadi itu.
"Setelah ini kamu resign kerja saja ya, biar Mas yang nyari uang untuk keluarga kita, okey?" Dia memang sudah memikirkan hal ini sebelum menikah.
"Kenapa? Mas nggak mau aku bantu cari uang?" Tanya Embun yang ingin tahu alasannya.
"Mas nggak mau kamu ketemu dengan Bagas lagi, dan aku rasa gajiku lebih dari cukup untuk memenuhi semua kebutuhan keluarga kita."
Aku tahu, Arsen pasti hanya tidak menginginkan aku bertemu Bagas lagi di Kantor, padahal jika aku bisa bicara baik-baik dengan Bagas, mungkin tidak akan ada lagi dendam setelah ini, tapi ya sudahlah...
Embun menggangukkan kepalanya saja, apapun keputusan suaminya dia akan mengikutinya saja, tanpa harus berdebat karena memang tidak ada gunanya.
__ADS_1
To Be Continue....
Nungguin ya?