
Embun sebenarnya tidak punya niatan untuk menggantung perasaan untuk siapapun, namun dia hanya tidak ingin terlalu menyakiti perasaan Bagas saat ini, walaupun pria itu bergaya preman, sering menyuruhnya ini itu seperti seorang pembantu, namun Embun pernah menyayanginya begitu dalam.
Mereka menjalin hubungan bukan hanya sebulan dua bulan, segala kekurangan dan kelebihan diantaranya setidaknya sudah mereka ketahui, dan dibalik semua keburukan Bagas pasti ada kelebihannya, itu kenapa Embun bisa bertahan sampai saat ini.
Namun kedatangan Arsen dalam hidupnya memang menyadarkan dirinya, walau memang singkat tapi mengena dihati, bahwa wanita itu juga berhak diperlakukan secara istimewa oleh pasangan dalam hubungannya, saling menghibur bukan hanya menjadi penghibur, saling membantu bukan hanya menjadi pembantu.
Dan kesedihan demi kesedihan, beserta keterpurukan selama satu bulan yang dia alami bersama Arsen, membuat timbangan Embun lebih berat untuk memilih Arsen.
Grep!
"Aku kira kamu benar-benar mau mengusirku tadi." Ucap Arsen sambil memeluk tubuh Embun dari belakang dan menyandarkan dagunya dikepala Embun.
"Memang aku mengusirmu kok, aku sungguh-sungguh loh tadi."Ucap Embun sambil mendongakkan kepalanya ke arah Arsen.
"Sayang!" Dan Pria dingin Arsen tiba-tiba berubah menjadi manja setelah berada dihadapan wanita kesayangannya.
"Aku hanya tidak ingin kalian membuat keributan dirumahku, nggak enak sama tetangga, mereka pikir nanti aku perempuan model apaan?" Jelas Embun yang memang tidak pernah menyangka kenapa hal ini bisa terjadi.
"Maaf, aku terpancing emosi oleh mantanmu itu." Celetuk Arsen sambil membalikkan tubuh Embun agar menghadap kearahnya.
"Dia belum jadi mantanku." Jawab Embun dengan wajah sok serius.
"Jadi kamu menduakan aku sekarang? padahal aku sudah memutuskan Nevika sayang, kamu ini tega sekali." Dan hal itu membuat Arsen seolah naik darah, karena dia sudah melepas wanita masa lalunya hanya untuk setia dengan satu wanita pikirnya.
"Aku sudah memintanya, tapi dia terus menolaknya." Embun memang mengatakan yang sejujurnya, namun itu mampu membuat dada Arsen terasa sedikit sesak karenanya.
"Lalu mau sampai kapan kamu akan seperti ini, kamu mau dua-duanya begitu?" Arsen begitu terkejut karenanya, dia pikir kisah sedih selama satau bulan ini sudah cukup untuk dijadikan alasan putus dengan Bagas.
"Bukan begitu juga, hanya saja aku tidak ingin melukai Bagas begitu dalam, karena setidaknya dia pernah menjadi bintang dimalam-malam gelapku." Embun sengaja ingin melihat wajah kesal Arsen yang menurutnya terlihat imut.
"Cih... kenapa benci sekali aku mendengarnya." Arsen langsung melengos dan berdecak kesal setelahnya.
"Arsen, jika tadi kamu belum datang, aku pasti akan menyelesaikannya saat ini juga, tapi kamu tiba-tiba muncul dan berantem dengan dia." Embun langsung mengacak rambut Arsen yang tadinya dia tata rapi dengan pomade itu.
"Dia yang cari gara-gara duluan denganku, kamu lihat sendiri tadi kan?" Arsen merasa tidak terima disalahkan begitu saja, karena jika Bagas tidak nyolot, dia pun tidak akan melawannya.
"Sudahlah, dia memang seperti itu." Embun pun paham bagaimana kesehariannya Bagas yang memang seperti preman.
"Itu kamu tahu, pria tampang preman aja dipertahankan, memangnya kamu hidup dijaman peperangan apa, harus membutuhkan preman segala!" Arsen seolah puas mengaakannya.
"Arsen, aku cuma tidak mau dia menaruh dendam denganmu jika tadi aku terang-terangan memilihmu didepan dia, dan walau bagaimanapun juga seorang pria pasti menjaga harga dirinya bukan? dan seburuk apapun kelakuan Bagas akhir-akhir ini, dia juga pernah baik denganku, apalagi aku sangat mengenal baik dengan Mamanya, intinya aku hanya ingin berpisah dengan cara baik-baik tanpa harus menyakiti Bagas terlalu dalam."
Dia mencoba memberikan pengertian, karena tidak selamanya membalas dendam itu memuaskan hati, terkadang yang ada malah menjadi penyesalan diri.
__ADS_1
"Tapi kamu tetap memilih aku kan?" Tanya Arsen yang memang sangat berharap, dia hanya ingin hidup bahagia tanpa harus bersandiwara.
"Tergantung?" Jawab Embun sambil tersenyum miring.
"Tergantung apanya?" Tanya Arsen dengan kedua matanya yang terus menelisik.
"Kamu mudah terbujuk dengan masa lalumu atau tidak?" Karena momok terbesar dalam suatu hubungan itu adalah masa lalu, apalagi jika itu pernah memberikan kesan indah, walau tidak ingin kembali, namun setidaknya kita akan menoleh kebelakang disaat jalanan dihadapan terlihat terjal.
"Maksud kamu Nevika?" Tanya Arsen dengan senyuman yang sulit diartikan, entah mengapa dia mulai suka dicemburui seperti ini.
"Apa ada yang lain lagi?" Embun langsung menaikkan kedua alisnya, karena dia memang tidak tahu bagaimana kisah masa lalu sebelum dengan Nevika.
"Tentu saja tidak, aku bukan seorang pemain wanita, mungkin jika mereka tidak melakukan permainan ini juga aku masih dengan Nevika sekarang." Karena sedari dulu Arsen memang tidak terlalu dekat dengan wanita selain urusan pekerjaan.
"Jadi kamu terpaksa memilihku?" Embun langsung melepas kedua tangan Bagas dengan kesal.
"Tentu saja tidak sayang, aku sadar bahwa mengenal orang baru itu tidak ada salahnya, kita bisa tahu bahwa diluar sana ternyata ada orang sebaik kamu juga."
Arsen selalu berpikir bahwa mungkin masalah yang menimpa hubungannya itu ternyata membawa hikmah tersendiri baginya.
"Jadi nanti kalau ada wanita lain lagi kamu akan berpindah ke lain hati lagi, begitu?" Bukan wanita kalau tidak bisa membuat banyak pria mati kutu jika sudah membahas soal orang ketiga.
"Loh... kok jadi aku terus yang dipojokkan? aku juga tidak tahu kalau aku akan berada dalam situasi yang seperti ini?" Arsen pun bingung harus menjawab apa.
"Hehe... serius amat wajahnya, aku hanya bercanda tadi." Embun langsung menoel hidung mancung milik Arsen.
"Ceileh... marah nih? pokoknya terima kasih banyak Arsen, karena kamu telah memilih aku didalam hidupmu?" Embun kembali merapatkan tubuhnya dengan Arsen, seolah dia merasa ketagihan dengan pelukan hangat dari pria ini.
Ingin sekali Arsen bersorak gembira, karena ternyata perasaannya tidak terbuang sia-sia, atau mungkin ini adalah jawaban dari doa-doa yang mereka berdua panjatkan disaat hati mereka tersakiti oleh pasangan asli mereka dulu.
"Maaf, jika aku tidak bisa melepasmu sayang, karena kamu begitu berharga untukku Embun."
Pelukan mereka semakin erat, bahkan siang itu angin dikawasan rumah Embun tiba-tiba menjadi sepoi-sepoi, seolah menambah suasana syahdu bagi sepasang muda-mudi yang sedang kasmaran.
Ketika kedua mata mereka saling menatap, seolah menyalurkan rasa yang ada dihatinya masing-masing, seketika tubuh mereka seolah melakukan aksinya walau tanpa perintah.
Mereka saling memiringkan kepala masing-masing dan mulai mengikis jarak diantaranya, bahkan kini kedua mata mereka mulai terpejam dan bibir mereka mulai menempel.
Tulilut
Tulilut
Tulilut
__ADS_1
Disaat mereka ingin menikmati setiap sentuhannya, ponsel milik Embun membuat kegiatan mereka terjeda.
"Aish.. siapa sih yang menelponmu, abaikan saja kalau tidak penting!" Umpat Arsen yang merasa 'Kagol' karenanya.
"Eh.. Mama kamu Arsen." Embun langsung memicingkan kedua matanya, seolah tidak percaya kalau Mama Arsen yang menghubunginya duluan.
"Hah, ngapain Mama nelpon kamu, coba kamu angkat, siapa tahu ada yang penting." Ucap Arsen yang jadi penasaran.
"Hallo Tante?" Sapa Embun dengan nada lembutnya.
"Nak Embun, apa Arsen sedang bersamamu? daritadi Mama telpon dia nggak diangkat-angkat!" Ucap Mama Arsen dengan suara yang terdengar bersahutan dengan suara hiruk pikuk kendaraan dijalanan.
"Owh.. Iya Tante, Arsen ada disini, ada apa Tante? kenapa suara Tante sepanik itu?" Tanya Embun yang merasa ada yang aneh.
"Suruh dia cepat pulang sekarang ya nak!" Ucap Mama Arsen yang sebenarnya tidak mau mengatakan hal ini dengan Embun.
"Hallo Ma, memangnya ada apa? aku baru saja sampai dirumah Embun ini?" Dan Arsen langsung mengambil alih ponsel Embun.
"Cepat pulang kau! mati pulak nanti anak orang kamu buat!" Umpat Mama Arsen dengan suara kesalnya.
"Loh... anak siapa emangnya Ma?" Tanya Arsen dengan heran.
"Nevika datang lagi kerumah, tapi tiba-tiba dia pingsan setelah teriak-teriak manggil kamu!"
"APA? Okey, aku pulang sekarang juga, Mama tolong bawa dia kerumah sakit sekarang ya Ma!" Arsen langsung meraih kunci mobilnya.
"Ini dalam perjalanan, cepat kamu datang ya, nanti Mama share lokasi rumah sakitnya." Ucapnya kembali.
"Baik Ma." Arsen langsung menutup panggilan itu dan memberikan ponselnya kepada Embun dengan wajah yang berubah menjadi panik.
"Ada apa Arsen?" Tanya Embun yang takut jika terjadi hal yang buruk dengan keluarga Arsen.
"Nevika pingsan, sekarang dia dibawa ke ruamh sakit, aku harus segera menemuinya."
Kok Nevika?
"Aku ikut!" Embun memilih ikut saja, daripada rasa penasarannya menggunung nantinya.
"Baiklah, ayo cepat!" Arsen langaung ingin menarik lengan Embun agar segera bergegas masuk kedalam mobilnya.
"Aku ganti baju sebentar ya, soalnya aku cuma pakai baju rumahan." Pinta Embun, karena dia hanya menggunakan celana pendek dan kaos oblong saja.
"Tidak usah, nanti kelamaan, kunci saja pintu rumahmu, kita harus cepat!" Jawab Arsen dengan pikiran yang terlihat sudah tidak fokus lagi.
__ADS_1
Sebegitu khawatirnya dia dengan Nevika? kenapa dia sepanik itu? apa sesungguhnya dia masih ada rasa dengan Nevika?
Banyak kata tanya yang masih bersarang dibenak Embun, namun untuk sementara dia memilih diam terlebih dahulu, dan berjalan mengikuti Arsen yang terlihat terburu-buru, untuk segera pergi ke rumah sakit.