Perselingkuhanku Di Atas Permainan

Perselingkuhanku Di Atas Permainan
50.Si Marjuki.


__ADS_3

Saat ini Arsen tidak perduli dengan apapun, dia meminta Embun untuk melakukan apa yang dia mau.


"Mas, jadi maunya dimana?" Embun hanya bisa melembutkan suaranya, padahal dia sudah gemas sedari tadi melihat kemauan suaminya yang absurd itu.


"Bisa nggak kalian berdua keluar saja dari ruanganku, sakit kepalaku melihat tingkah gila kalian!" Ucap Bagas kembali, lain cerita jika hanya Embun saja yang datang, pasti dia akan menahannya berlama-lama.


"Apa mau aku panggilkan Dokter atau perawat kemari?" Embun malah mengkhawatirkan kesehatan Bagas karena memag dia baru saja keluar dari ruang operasi pikirnya.


"Nggak usah, ini sakit lain." Bagas langsung melengos kearah jendela ruangan.


"Tapi kami berdua ingin menemanimu, bukannya kamu sendirian sekarang?" Arsen kembali mendekat kearah Bagas.


"Tidak perlu!" Tolak Bagas seketika, karena dia tahu niatan Arsen yang sesungguhnya dengan dirinya.


"Tapi kami tetap mau juga, sini dulu istriku sayang!"


Grep!


Dengan senyum liciknya Arsen menarik tubuh Embun dan membawanya kedalam pangkuan dirinya dengan penuh mesra.


"Mas mau ngapain?" Tanya Embun yang mulai was-was.


Sebenarnya aku malu, tapi didepan Bagas aku mampu memutus urat maluku, agar dia tahu kedudukanku disisi Embun!


"Sudah aku bilang, tunjukkan siapa aku didepannya, kalau kamu tidak bisa biar aku saja yang memulainya!" Arsen bahkan memegang pinggang istrinya dengan erat sekali


"Tapi, hmpth.."


Sebelum Embun berbicara panjang lebar, Arsen langsung menyambar bibir istrinya dan mulai mengeksplore rongga-rongga mulutnya dengan penuh penghayatan.


"Woah... kalian benar-benar sinting, keluar sana kalian kalau mau romance, aku tidak sudi menjadi penonton disini." Teriak Bagas yang mulai merinding ketika menjadi penonton, lain halnya jika prakterk sendiri.


"Cukup Mas?" Bisik Embun yang ingin mencegah tangan suaminya yang berubah menjadi nakal.


Krak!


Bahkan dengan senyumnya yang semakin melebar Arsen membuka paksa baju pasien yang masih Embun pakai dan mulai nyot-nyot disana.

__ADS_1


"Hei... bahkan dulu aku belum pernah mencicipinya tau nggak! Keluar kalian berdua sekarang juga!" Bagas semakin kesal karenanya, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa, karena untuk bergerak pun dia masih dibatasi, bahkan dibagian tubuhnya masih tertancap selang infus.


"Masak? satu kosong dong kalau begitu, bahkan sebelum aku resmi menikahinya aku sudah mencicipinya!" Arsen menyatakan hal itu dengan bangganya, karena ternyata Arsen satu langkah lebih kaju daripadanya.


"Dasar pria mesum!" Umpat Bagas yang mulai ikut memanas.


"Mas, sudah dong, jangan begini emh--"


Semakin Embun berontak, maka Arsen akan semakin berulah, bahkan urat malunya sudah hilang entah kemana dan tak berdida saat didepan Bagas.


"Aku mau melakukannya disini, sepertinya tempat ini lumayan nyaman untuk meracik anak, ya kan?" Ucap Arsen yang kembali pamer dengan Embun.


"Mas, jangan bercanda!" Embun langsung mencubit pingang suaminya.


"Aku tidak becanda sayang!" Arsen bahkan langsung melepas ikat pinggangnya dan sengaja membuangnya dibawah ranjang Bagas.


"Hei, cepat keluar atau aku teriak sekarang juga!" Kesabaran Bagas mulai diuji disini.


"Aku tidak perduli, dia istri sahku, aku bebas melakukan apapun dengannya." Jawab Arsen dengan entengnya, dia tetap saja melanjutkan apapun yang dia suka.


"Tapi jangan didepanku juga dong! Kalian ini menganggap aku ini sebagai apa coba?" Andai dia tidak sedang sakit, mungkin Bagas sudah melayangkan tinjuannya ke arah Arsen saat ini.


"Emh.. Mas jangan!" Embun semakin belingsatan saat Arsen sengaja menelusupkan jemarinya dibawah sana.


"Kamu suka kan? kemarin malam kamu hebat juga loh, bisa main beberapa ronde, padahal tanganmu masih sakit, nanti malam kamu mau berapa ronde?" Tanya Arsen dengan sengaja, karena niatnya memang ingin membuat Bagas galau karenanya.


"Keluar kalian!" Teriak Bagas sambil menatap jengah kearah keduanya.


"Cukup Mas, malu sama Bagas!" Embun bahkan mengusap lengan suaminya agar dia menyudahi kelakuannya ini.


"Kenapa harus malu, dia saja tidak punya malu, aku masuk sekarang ya!" Ledek Arsen yang tidak perduli.


"TOLONG.. DOKTER.. SUSTER.. TOLONG KEMARI SEKARANG!"


Karena sudah tidak sanggup melihat Embun dan Arsen yang semakin tak karuan, akhirnya Bagas memilih berteriak sekencang-kencangnya saja, agar pertugas medis disana segera datang keruangannya, karena saat ini bukan hanya mata Bagas yang terluka tapi hatinya juga masih terasa sakit, walau sebenarnya Bagas sudah berusaha untuk merelakan Embun saat ini.


"Astaga Mas!" Embun langsung membenahi kancing bajunya dengan gelagapan.

__ADS_1


"Ahahaha... Berdiri nggak tuh si Marjuki, makanya jangan berani-berani ambil kesempatan dengan Embun, karena dia sudah menjadi milikku sekarang." Namun Arsen malah tertawa cekikikan saat melihat sesuatu yang menonjol tiba-tiba muncul dari dasar bumi.


"Apa sih, Gila kau ya!" Teriak Bagas yang langsung memiringkan wajahnya.


"Kita lanjut dikamar mandi rumah sakit lagi mau?" Pinta Arsen kembali dengan sengaja.


"Nggak!" Tolak Embun seketika.


Cup


"Kalau begitu kita pulang saja, lanjutkan buat anak sampai jadi!" Arsen lansung merangkul bahu istrinya.


"KELUAR KALIAN BERDUA!" Teriak Bagas kembali dengan wajah putus asanya.


"Permisi? Ada apa ini?" Benar saja perawat Bagas langsung sigap mendatangi ruangan itu.


"Itu katanya si Bagas suka sama Suster, dia mau nembak Suster, katanya dia tergila-gila banget sama Suster!" Arsen seolah menjadi juru bicara Bagas, padahal dia hanya ingin membuat Arsen malu saja.


"Hah?" Embun sedikit terkesima.


"Apa sih kalian berdua ini!" Jerit Bagas kembali yang malah jadi salah tingkah sendiri.


"Kalau begitu saya permisi Sus, hati-hati pria itu nepsongnya tinggi, jangan terlalu dekat nanti bisa nyetrum!"Ledek Arsen sambil menjulurkan lidah kearah Bagas, seolah mengatakan 'akulah pemenangnya.


"Hei, jaga mulutmu ya, awas kamu Arsen!" Bagas benar-benar kalah telak hari ini.


"Bye!" Dengan senyum lebarnya Arsen melambaikan tangan dan mengandeng Embun yang hanya bisa pasrah saja melihat kegilaan suaminya.


"Kurang ajar sekali dia, sembarangan saja kalau ngomong!" Umpat Bagas sambil melirik kearah Suster yang pernah dia ajak menikah hari itu.


"Sudah Mas, jangan terlalu banyak bergerak, karena Masnya baru pasca operasi." Suster itu berjalan mendekat kearahnya unyuk memeriksa selang infusnya.


"Jangan biarkan pria itu masuk keruanganku lagi Sus, bikin emosi aja bisanya memfitnah orang sembarangan." Ucap Bagas kembali.


"Benarkah? lalu itu apa yang berdiri? kenapa ada yang menonjol disana?" Celetuk Suster itu yang membuat Bagas terkejut karena tidak menyadarinya.


"Aaaaaaaaaa.. kenapa Suster melihatnya!"

__ADS_1


Bagas langsung menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya karena ternyata si Marjuki memang sudah hidup dibawah sana, saat itu Bagas memang tidak menggunakan pakaian dalam pasca operasi, jadi saat si Marjuki menunjukkan kegagahannya, ia benar-benar terlihat jelas disana.


Sebagai pria normal, Bagas tidak bisa menahan pedang pusakanya untuk tidak berdiri, apalagi Arsen benar-benar sengaja pamer keromantisannya sebagai pasangan suami istri didepan kedua matanya, bahkan berhasil membuat Embun mengeluarkan suara de sahan beberapa kali.


__ADS_2