Perselingkuhanku Di Atas Permainan

Perselingkuhanku Di Atas Permainan
46.Sembelit


__ADS_3

Saat ini Arsen masih terpaku dengan posisi berdiri setengah badan, diatas perut Embun yang memilih memejamkan kedua matanya, karena menahan rasa malu yang teramat sangat.


"Mas, geser dulu! itu susternya mau periksa." Umpat Embun sambil berbisik, walau sebenarnya dia juga baru saja menemukan kenikmatan tiada tara dibawah sana, setelah tadi seperti ada seekor lebah ganas yang menyengat dirinya.


"Eherm... sebentar aja kok mas." Suster itu pura-pura tidak melihat, padahal siapapun pasti curiga saat melihat Arsen berada dalam posisi seperti itu.


Kalau aku bangkit sekarang tetap saja malu, karena celanaku entah kemana perginya? gimana ini?


"Tapi--" Arsen masih menimbang-nimbang, mencari cara agar suster itu tidak melihat benda berharga miliknya.


"Cepat Mas?" Embun berulang kali mencubit pinggang Arsen, hingga Arsen akhirnya bergerak.


"Hegh."


Namun pergerakan Arsen, malah semakin membuat Embun menjerit keenakan, karena Arsen sengaja menghentakkan pedang pusaka miliknya maju dengan asoynya.


"Aw.. urm wenak Mas, eh opsh!" Tanpa sadar Embun mengeluarkan komentar gilanya.


"Nah...itu tahu!" Umpat Arsen sambil tersenyum simpul melihat reaksi dadakan dari istrinya.


"Suster, bisa tolong keluar sebentar, kami sedang anu, emm.. itu." Embun tidak mungkin membiarkan ada orang lain melihat mereka sedang menuju ke puncak surga dunia.


Ya ampun, apa mereka sedang melakukan hubungan suami istri ditempat ini? Gendeng!


"Owh iya, baiklah." Dan akhirnya Suster itu malu sendiri, saat dia kembali memperhatikan gerak gerik mereka, dia pikir tadi Arsen hanya memijat atau apa, namun ternyata ini kawasan dewasa.


"Lima belas menit boleh Suster?" Pinta Arsen yang membuat Suster itu sedikit terkesima.


Gila, bukannya menyudahi malah minta waktu tambah? mana aku harus segera membuat laporan lagi, apa mereka nggak tahu kalau gue jomblo, aish.. kenapa hal ini terjadi di shiftku?


Suster itu terdiam sejenak dengan lamunan panjangnya, bahkan dia mulai menyalahkan nasip apesnya, karena berada dalam situasi yang seperti ini.


"Mas?" Embun kembali mendelik kesal, kenapa suaminya itu tidak peka sedari tadi pikirnya.


"Nanggung yank!" Jawabnya dengan enteng, lagipun Arsen berpikir bahwa dia tidak mengenali suster itu diluar, jadi setelah hari ini berakhir mereka juga pasti tidak akan bertemu lagi, apalagi sudah kepalang basah seperti ini, jadi lanjut saja.


"Apa kalian suami istri?"


Kedua tangan suster itu sebenarnya sudah berkeringat, namun dia mencoba memasukkannya kedalam saku, agar tidak terlihat jika gemetaran, dia hanya ingin memastikan saja.


"Iya, kami baru aja menikah kemarin." Jawab Arsen dengan jujur, kalau nanti dirinya digosipkan satu rumah sakitpun tidak masalah, karena dia sudah mengatakan hubungan mereka yang sebenarnya pikirnya.


"Owalah, pantesan! kalau begitu silahkan dilanjut, tapi pelan-pelan ya, tangan Mbaknya tidak boleh kena usik ya Mas?" Ucap Suster itu yang langsung sadar diri.


"Enggak kok Sus, aku cuma mengusik bagian bawah saja." Lagi-lagi celetukan dari Arsen membuat rasa malu pada diri Embun semakin bertambah bahkan menggunung.


"Astaga mas Arsen!" Jerit Embun kembali.


"Kalau begitu saya permisi, lima belas menit lagi kelar ya mas, soalnya saya mau ganti shift ini." Suster itu langsung buru-buru ingin segera keluar dari sana.


"Siap Sus!" Jawab Arsen dengan mantap.


Kenikmatan dunia yang satu ini memang mampu membutakan siapa saja, bahkan mampu merubah kebiasaan diri, walau hanya untuk mencapai kata ahh saja.

__ADS_1


"Mas Arsen, turun nggak!" Dia mendelik kesal kearah suaminya yang seolah tidak perduli dengan apapun.


"Enggak mau!" Tolak Arsen yang tetap bertahan pada posisinya.


"ARSENIO HERNANDES!" Teriak Embun, dia berada dalam posisi antara pengen tapi takut juga untuk meneruskannya.


"Permisi, maaf ganggu lagi." Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka kembali.


"Hah, kenapa lagi Sus, ini belum ada satu menit loh tadi?" Arsen dan Embun kembali tersentak dan sama-sama menoleh kearah Suster itu lagi.


Wing!


Suster itu seketika melempar handuk kecil ke arah AC yang ada diruangan tersebut, karena kamera CCTV di ruangan tersebut ditempel diatas sana, untuk mengantisipasi jika ada sesuatu yang tidak diinginkan, karena ruangan VIP dirumah sakit itu memang selalu dipantau khusus.


Walaupun ruangan itu kelas VIP, memang pihak rumah sakit sengaja tidak memasang kunci pintu, karena memang tempat itu digunakan untuk pasien yang harus dipantau oleh banyak dokter spesialis, bukan untuk ruangan privasi suami istri.


"Saya bantu tutup kamera cctv nya ya Mas, nanti kalau sudah selesai handuknya bisa diambil lagi, soalnya cctv ini terarah ke ruang jaga dan yang lebih penting lagi, perawatnya jomblo semua, takutnya mereka tidak sengaja melihatnya, hehe." Jelasnya dengan senyum yang agak dipaksakan.


Duar!


"ASTAGA, ADA CCTV?" Teriak mereka berdua secara bersamaan.


"Iya dan itu maaf, sepertinya ada celana yang nyangkut dibawah kolong meja, siapa tahu Masnya nanti nyariin, atau itu pakaian kotor, mau pakai jasa loundry saja?" Ucap Suster itu yang semakin membuat sepasang suami istri ini kembali kehilangan muka.


"Jangan Suster, nanti biar saya ambil sendiri saja." Arsen langsung melambaikan kedua tangannya dengan cepat.


"Baiklah kalau begitu, saya keluar dulu." Akhirnya Suster itu segera kembali berlalu.


"Ya Salam, semoga aku tidak bertemu lagi dengan suster itu, rasa-rasanya aku ingin pindah ke planet pluto aja Mas!"


"Bodo amat, hegh!" Karena sudah terlanjur malu, jadi lebih baik pantang belok, sebelum maju mundur.


"Astaga Mas?" Embun hanya bisa menatap pasrah saja.


"Kenapa? ini sudah diujung banget Yank, tinggal satu kali genjotan doang loh." Rengek Arsen yang membuat Embun merasa tidak tega.


"LANJUTKAN!" Tanda disangka, Embun malah seolah mengobarkan semangat kepada suaminya.


"Muehehe.."


Dengan tanpa perlawanan Arsen malah meneruskan menggenjotkan senjata miliknya, bahkan dia tidak perduli dengan suara ranjang besi yang seolah memberikan irama disela-selama penanaman benih miliknya.


"Mas, cukup, aku-aku urm.." Embun sudah merem melek menahan segala tendangan dari sepakan kanan dan kiri menuju gawang lawan.


"Sebentar lagi sayang, tahan!" Sebagai penyerang dia belum puas sebelum bisa menjebol gawang dengan tuntas sampai keringat terakhir.


"Tahan gimana, buruan Mas, waktu kita tinggal lima menit lagi." Embun melihat jam dinding yang seolah cepat sekali berlalu.


"Tapi masih asyik ini, atau kita pindah ke kamar mandi aja ya, skalian nanti kita bersih-bersih?" Entah Arsen dapat ide darimana, yang pasti dia akan melakukannya.


"Nanti kalau susternya marah gimana?" Tanya Embun kembali.


"Mana boleh suster marahin pasien VIP, sini aku gendong saja!"

__ADS_1


Tanpa melepas pedang naga panjangnya Arsen nekad membawa istrinya pergi ke kamar mandi dan melanjutkan aksinya sambil duduk santai diatas WC duduk.


Ini gila, tapi kok wuenak rek!


Embun hanya bisa kembali komat-kamit sambil menikmati proses pencangkulan sawah miliknya walau dengan suasana sempit dan berbau kapur barus khas kamar mandi.


"Pasien Embun, apa anda didalam kamar mandi?" Lima menit waktu yang tersiksa pun telah berlalu, dan Suster itu kembali masuk kedalam ruangan.


"Urmh... Iya Sus?" Sahut Embun dari dalam kamar mandi.


"Apa anda baik-baik saja, mau saya bantu?" Dia mendengar suara-suara aneh, tapi yang jelas bukan suara makhlus halus.


"Huh-hah, emm..nggak usah Sus, sudah ada suami saya." Jawab Embun dengan suara tersengal.


"Apa kalian sedang---?" Dia menggantungkan pertanyaannya.


"Istri saya sembelit Sus, mungkin masih lama keluarnya." Tiba-tiba Arsen ikut menyahut obrolan mereka.


"Apa sih Mas?" Bisik Embun sambil mengerutkan keningnya.


Cup


Arsen langsung saja membungkam bibir istrinya agar tidak protes, selain itu juga agar dia cepat mencapai pelepasan.


"Hah, apa perlu saya panggilkan Dokter saja?" Teriak Suster itu yang sebenarnya merasa heran.


"Tidak perlu Sus, saya bisa membantunya, jadi lebih baik Suster datang besok pagi saja."


"Tapi saya harus buat laporan Pak?" Ucap Suster itu sambil memukul kepalanya sendiri karena merasa gemas-gemas tapi kesal.


"Keadaan istri saya baik-baik saja, besok pagi saja periksanya."


"Atau saya tunggu saja Pak, sampai kalian selesai, bagaimana?"


"Kalau ditungguin malah nggak keluar-keluar Sus, mau apa melihat kami sampai pagi didalam Toilet?"


Pasangan suami istri ini benar-benar luar biasa, aku rasa mereka menipuku, mana ada sehabis ditusuk langsung sembelit? apa sebaiknya aku resepkan obat pencuci perut saja, agar mereka tidak lagi berkata bohong. Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian berbohong, dosa tahu nggak!


"Baiklah kalau begitu, nanti saya resepkan obat sembelit saja, jangan lupa nanti diminum ya?" Setelah mengumpat didalam hati Suster itu langsung tersenyum kecut sendiri karenanya.


"Iya Sus!" Jerit Arsen yang semakin terdengar semangat.


"Mas aku emh--?" Embun sudah melayang, bahkan kedua kakinya seolah terasa ingin mengejang.


"Sebentar lagi Yank, peluk saja aku dengan erat." Pinta Arsen yang semakin bekerja keras memaju mundurkan tubuh mungil istrinya.


"Nggak nyangka loh mas, kamu bisa segila ini arrr.. urrm!"


"Hegh! I coming sayang.. wuahnekjerupancentonjotenansri."


Aish... akhirnya selesai juga, awas saja nanti kalau dikasih obat sembelit, aku suruh dia meminumnya, mau moncor sampai pagi juga bodo amat!


Akhirnya setelah perjuangan panjang, Arsen berhasil melepaskan kecebong-kecebong berharga miliknya dan sudah mampu membuat Embun terkulai lesu diatas pangkuannya, karena sudah kehabisan tenaga.

__ADS_1


Weslah sayah aku..😄


__ADS_2