
Embun pun terkejut, kenapa dia sama sekali tidak kepikiran jika Bagas bisa menelpon kedua orang tuanya, seharusnya dia lebih dulu menelpon kedua orang tuanya pikirnya, agar tidak terjadi kesalah pahaman seperti ini.
"Pa.. gimana kalau kita makan dulu, bahas soal itunya nanti saja, kasian Arsen sampai tersedak begini?" Ucap Embun yang merasa tidak enak hati sebenarnya.
"Tidak apa-apa sayang, mungkin aku terlalu semangat mencicipi kuahnya tadi." Jawab Arsen yang mencoba bersikap untuk tetap tenang.
"Apa benar, kamu tadi memukul Bagas sampai dia terkapar diLantai, dan kalian tinggalkan begitu saja?" Tanya Papa Embun yang kembali membuat Arsen merasa sungkan.
"Papa?" Embun ingin menghentikan ucapan Papanya, namun tidak tahu bagaimana caranya.
"Jawab pertanyaan Papa." Beliau sedikit meninggikan suaranya.
"Maafkan Arsen Om, mungkin tadi Arsen terlalu terbawa emosi." Arsen langsung menundukkan kepalanya, dia tidak berpikir kalau Bagas bisa sampai mengadu seperti ini.
"Apapun alasanmu, Om tetap tidak mendukung yang namanya kekerasan, jika kamu selalu menangani semua masalah dengan kekerasan, bagaimana jika kamu bertengkar dengan Embun nantinya, apa kamu akan melakukan tindakan KDRT juga?" Cecar Papa Embun dengan tatapan yang seolah tajam menusuk.
"Tentu saja tidak Om, saya sangat menyayangi Embun, sungguh Om." Jawab Arsen dengan sungguh-sungguh.
"Apa jaminannya, dulu aku lihat Embun juga sangat menyayangi Bagas, mereka bahkan terlihat seolah tidak terpisahkan, namun sekarang kenyataannya bagaimana, kamu tahu sendiri kan?" Tanya Papa Embun dengan santainya, bahkan dia sambil menyeruput kuah Empal Gentong itu dengan nikmatnya.
"Papa, jangan terus menyalahkan Arsen, disini aku juga salah, apalagi Bagas, dia penyebab utamanya." Umpat Embun yang langsung membela Arsen.
"Aku tahu kalian berdua memang salah, jadi nggak usah kalian banggakan kesalahan kalian itu." Celetuk Papa Embun kembali.
"Papa, aku dan Bagas sudah tidak sejalan lagi dan hal itu terjadi karena ulah Bagas sendiri yang sengaja ingin main-main dengan hubungan kami dan jika aku bertahan dengan Bagas pasti hanya akan tersiksa batin saja, apa Papa mau aku terus hidup dan makan hati setiap harinya, apa Papa tega?" Embun seolah menceritakan segalanya, karena lambat laun dia memang harus mengatakan yang sebenarnya.
__ADS_1
"Sayang, jangan begitu ngomongnya, pelan-pelan saja." Arsen mencoba menenangkan Embun agar tidak melawan Papanya.
"Sudahlah Pa, jangan bahas soal itu dulu, kita makan dulu saja." Mama Embun kasian juga melihatnya, padahal Embun belum sempat menikmati makanan kesukaannya.
"Aku sudah tidak berselera." Umpat Embun yang langsung meletakkan sendoknya.
"Lalu mau kamu apa?" Tanya Papa Embun yang malah seolah menantangnya.
"Aku ingin menikah dengan Arsen, secepatnya." Ucap Embun dengan tegas bahkan Arsen sampai melongo karenanya.
"Papa tidak setuju jika---"
"Embun tidak perduli, Papa setuju atau tidak, tapi Embun akan tetap menikah dengan Arsen, asal Papa tahu saja, Bagas yang awalnya memaksa Embun dan Arsen untuk bertukar pasangan, walaupun kami tidak setuju tapi dia terus memaksanya, dan lebih gilanya lagi, Bagas dan Nevika bermesraan terang-terangan didepan Umum, bahkan kelakuannya seperti orang yang tidak punya malu, lalu apa pria seperti itu yang Papa harapkan menjadi menantu Papa? kalau aku sih ogah!" Ucap Embun yang langsung mengoceh panjang lebar tentang masalah yang dia alami.
"Embun Papamu belum selesai bicara nak?" Ucap Mama Embun yang ikut menyela.
"Sayang, jangan begini, dengarkan dulu alasan Papa kamu okey, jangan terbawa emosi, dia orang tua kamu loh." Arsen langsung menggengam jemari Embun yang sudah memanas dan berkeringat karena terlalu emosi.
"Ckk.. aku kesal, kenapa mereka malah membela Bagas, sudah jelas-jelas pria itu menyakiti anaknya, masih aja diharapkan jadi anak mantu!" Celetuk Embun yang memilih menghadap kearah Arsen, tanpa mau meligat ekspresi Papanya yang sudah melotot dengannya.
"Dasar anak NAKAL! Papa itu tidak setuju jika kalian menikah disini, lebih baik kalian menikah di kampung Oma saja, agar mereka tidak bisa menggangu hubungan kalian berdua!" Ucap Papa Embun yang membuat Embun langsung menoleh seketika.
"Heh?"
"Hah, heh, hah, heh? makanya dengerin dulu kalau Orang tua belum selesai bicara, udah kebelet atau gimana kalian ini?" Umpat Papa Embun sambil mengunyah emping melinjo itu dengan kasarnya, untung saja giginya itu masih ori, kalau gigi palsu sudah pasti jatuh ke mangkok miliknya, karena terlalu kesal dengan putrinya.
__ADS_1
"Hehe... Maafkan aku Pa, jadi Papa dan Mama setuju kalau aku menikah dengan Arsen?" Embun langsung terkekeh sendiri karena menahan malu.
"Siapapun yang kamu pilih, Papa percaya dengan pilihanmu, Papa juga pernah muda, paham jika perasaan itu memang tidak bisa dipaksakan begitu saja, jadi lakukanlah apa yang terbaik untuk kalian, Papa dan Mama akan merestui apapun yang terbaik untuk kalian berdua."
Sejak dulu Papa Embun tidak pernah memberikan kriteria untuk calon mantunya, mau seperti apapun orangnya asalkan bisa membahagiakan anaknya itu sudah lebih dari cukup pikirnya.
"Hiks.. Terima kasih Pa, terima kasih juga Mama!"
Embun langsung bangkit dan berlari kearah tempat duduk Papanya dan menghambur didalam pelukan hangat seorang pria yang bahkan sampai saat ini masih menggangap putrinya itu anak kecil.
"Astaga, kamu sudah besar sekarang nak, semoga kamu bahagia dengan priamu, karena Papa juga sudah tua,sudah saatnya ada yang menggantikan Papa untuk menjagamu nak." Papa Embun pun langsung membalas pelukan putri satu-satunya itu, apapun aduan Bagas, dia lebih percaya dengan putrinya sendiri, karena selama ini Embun memang tidak pernah berbohong dengan dirinya.
"Tolong doakan untuk kebahagiaan kami ya Om dan Tante." Arsen pun ikut bangkit dari tempat duduknya, untuk meminta doa restu dari mereka, karena memang tujuan dia kemari adalah untuk hal itu.
"Kamu jangan ikutan meluk istriku, nggak boleh!" Teriak Papa Embun saat Arsen mendekat kearah Mamanya Embun.
"Tidak Om, Arsen hanya ingin bersalaman saja dengan Tante, sebagai ungkapan rasa terima kasih saja, sungguh.. Arsen hanya mau memeluk Embun saja."
Sontak Arsen langsung mengangkat kedua tangannya ke udara, seolah dia sedang ketangkap basah saat itu.
"Itu sih maumu!" Umpat Papa Embun sambil melotot kearah Arsen yang hanya bisa tersenyum malu.
"Ahahaha!"
Akhirnya mereka semua tertawa bahagia, walau saat Bagas tadi menelpon Papa Embun dan menjelek-jelekkan Arsen disana, namun Papa Embun memilih diam saja, dia pun pernah muda, pernah merasakan apa itu balada kisah anak muda, mungkin Bagas hanya belum bisa terima saja pikirnya, tapi semua keputusan dia serahkan kepada Embun, karena dia sudah dewasa, tahu mana yang baik dan yang tidak untuk masa depannya.
__ADS_1
Jadi apapun pilihan dan apapun keputusan putrinya dia akan selalu mendukung dibelakangnya.
Jangan karena kamu kesepian membuatmu berhubungan kembali dengan orang-orang toxic. Karena kamu tidak seharusnya minum RACUN hanya karena merasa kehausan.