Perselingkuhanku Di Atas Permainan

Perselingkuhanku Di Atas Permainan
51.Seribu Kata Sesal.


__ADS_3

Kita sering melihat sesuatu itu lebih berharga, saat kita mengetahui ia sudah hilang dan dimiliki oleh orang lain dan seribu kata sesal pun sudah tidak ada gunanya lagi.


Sore ini Nevika berjalan menelusuri lorong perusahaan menuju tempat parkir mobilnya dengan pandangan kosong, sudah hampir dua minggu sejak dia sakit, dia belum berpapasan dengan Arsen lagi.


Namun yang membuat pikirannya kembali berserabut, dia mendengar kabar bahwa Bagas terkena musibah, bahkan kaki dan tangannya patah, sehingga mengharuskan dia resign dari perusahaan, karena masa pemulihannya belum pasti, apalagi patah tulang yang mungkin membutuhkan waktu yang lama.


"Aish... ngapain juga aku kerumah Bagas?" Bahkan tanpa sadar Nevika melajukan mobilnya menuju rumah Bagas.


Tin


Tin


Tin


Saat Nevika ingin berbalik arah, ternyata mobilnya menghalangi sebuah mobil yang ingin masuk kehalaman rumah Bagas.


"Kamu siapa? kok Tante kayak pernah lihat kamu ya, tapi dimana gitu?"


Dan ternyata mobil itu adalah milik Ayah Bagas, kedua orang tua baru saja datang dari belanja keperluan untuk Bagas, karena saat ini Bagas tidak bisa kemana-mana sendiri, bahkan dia menggunakan kursi roda dalam aktifitas kesehariannya.


Gimana ini? mau langsung balik kanan juga nggak mungkin?


"Saya rekan Kantor Bagas Tante." Jawab Nevika yang segan kalau tiba-tiba harus pergi dari sana.


"Owh... pasti kamu ingin menjenguk Bagas ya? kalau begitu ayo masuk, kasihan dia nggak ada temennya sekarang, punya pacar juga nggak pernah datang, atau---?" Ucapan Mama Bagas menggantung sambil mengamati wajah Nevika dari segala sisi.


"Kenapa Tante?" Tanya Nevika yang sudah ketar-ketir sendiri.


"Atau jangan-jangan dia sudah putus dengan Embun karena ada kamu?"


Duar


Mati gue!


"Owh... sa-saya tidak tahu Tante, saya kemari hanya ingin melihat keadaan Bagas saja karena katanya dia resign karena sakit." Ucap Nevika dengan tangan yang sudah bergetar, kenapa firasatnya benar sekali pikirnya.


"Maaf ya, Tante hanya sedikit heran saja, tidak biasanya Embun seperti ini, biasanya dia orang yang paling perhatian dengan Bagas, bahkan melebihi Tante sendiri, tapi akhir-akhir ini dia tidak pernah datang kerumah lagi."


Ternyata Embun pun sudah mencuri perhatian Mamanya Bagas, bukan hanya mencuri kekasihku saja.


"Begitu ya Tante." Jawab Nevika dengan suara lemahnya.


"Ayo Tante antar ke kamar Bagas, dia pasti sudah bangun." Tanpa berpikir panjang, Mama Bagas langsung menantarkan Nevika menuju ruangan Bagas.


"Siapa Ma?" Ternyata Bagas sudah duduk diatas kursi roda sambil melihat jendela.


"Ini ada rekan kantor kamu mau menjengukmu."


"NEVIKA?" Bagas sempat terkejut melihat kedatangan Nevika dirumahnya.


"Hmm.. bagaimana keadaan kamu Bagas?" Tanya Nevika sekedar basa-basi, padahal dia tidak sepenuhnya punya keinginan untuk menjenguknya, hanya saja hatinya menggerakkan seluruh anggota badannya untuk kesana.


"Fuuh.. ya beginilah." Jawab Bagas sambil melihat betapa terpuruk keadaan dirinya.


Dia sudah dibawa pulang oleh kedua orang tuanya beberapa hari lalu, walau Bagas tidak mengatakan semua kejadian yang dia alami secara langsung.


"Kalau begitu Tante tinggal kebelakang dulu ya, kalian ngobrol aja dulu."


"Terima kasih Tante." Jawab Nevika sambil duduk disebelah Bagas setelah Mama Bagas keluar dari kamar putranya.


"Kamu baik-baik saja?" Sapa Bagas kembali.


"Harusnya aku yang menanyakan hal itu denganmu bukan?" Tanya Nevika balik.


"Aku kira kamu sudah melupakan aku."


"Aku tidak sekejam kamu, yang hanya bisa memikirkan ego sendiri." Umpat Nevika sambil tersenyum kecut saat mengingat pertemuan mereka yang terakhir kalinya dulu.


"Kamu menyindirku?" Celetuk Bagas sambil melirik kearah Nevika.


"Iya, kamu kan memang tipe orang yang seperti itu, habis manis sepah dibuang, dan mungkin kamu jadi seperti ini karena karmamu!" Umpat Nevika yang tak kau kalah jika berdebat.


"Bukan hanya karmaku, tapi ini karma kita." Balas Bagas yang malah tersenyum sumbang mengingat nasip mereka berdua.


"Maksudnya?"


"Wanitaku dengan priamu sudah menikah!"


Duar


"Ahaha.. Menikah? apa kamu sedang melawak sekarang?" Nevika masih belum percaya, karena dia tidak mendengar kabar apapun, dia hanya berfikir Arsen mengambil cuti untuk istirahat saja.

__ADS_1


"Kamu tidak melihat kondisiku, tangan dan kakiku patah ini karena aku sengaja ingin merusak acara pernikahan mereka." Ucap Bagas yang mulai bercerita.


"Tapi aku tidak mendengar apapun?'


"Mereka menikah dikampung Omanya Embun."


"Argh.. Sialan!" Nevika langsung terlihat lemas, namun dia masih belum bisa menerima.


"Jangan mengumpat dirumahku, nanti Mamaku bisa memarahimu!" Celetuk Bagas sambil mengamati pintu kamarnya.


"Hiks.. hiks.. Kamu bercanda kan Bagas? mereka tidak mungkin menikah, Arsen itu sayang banget sama aku." Akhirnya air kata itu menetes juga, karena memang wajah Bagas tidak kelihatan bercanda.


"Itu dulu, sebelum dia mengenal wanitaku!" Jawabnya dengan wajah tak kalah lesu.


"Semua ini gara-gara kamu, andai kamu tidak mengusulkan permainan gila ini, pasti aku yang menikah dengan Arsen!" Karena kesal Nevika memukul dada bidang Bagas walau tidak terlalu keras.


"Aw.. aw.. apa kamu ingin mematahkan semua tulang-tulangku?" Umpat Bagas yang langsung merintih.


"Aku tidak perduli, aku benci kamu Bagas!" Teriak Nevika dengan deraian air matanya.


Grep!


Dengan satu tangannya yang tidak sakit, Bagas akhirnya merengkuh tubuh Nevika dan memeluknya dengan erat, dia sadar bahwa semua ini memang berawal dari kesalahannya.


"Aku pun menyesal sekarang, maafkan aku karena aku tidak berpikir panjang saat itu."


"Lalu apa yang harus kita lakukan Bagas, aku masih sangat menyayangi Arsen, aku tidak mau kehilangan dia, hiks.. hiks.."


"Aku pun sama Nevika, sampai detik ini pun aku masih sangat mencintai Embun, aku pun belum rela melepasnya, tapi apa mau dikata, mereka berdua sudah sah menjadi suami istri, tidak akan ada harapan lagi untuk kita berdua." Tanpa sadar Bagas mengusap rambut Nevika dengan perlahan.


"Lalu bagaimana hidupku jika tanpa Arsen, aku ingin selalu bersda disisinya Bagas."Rengek Nevika.


"Kita harus tetap hidup, karena sakit itu rasanya tidak enak, lihatlah aku jadi tidak bisa kemana-mana."


"Makanya gunakan juga otakmu itu, kalau nggak bisa naik motor naik sepeda aja, kalau nggak sewa becak dekalian, jadi tidak beresiko!" Umpat Nevika yang sebenarnya kasihan juga melihat perban ada dimana-mana.


"Aish.. mana keren merusak pernikahan orang pakai Becak!" Celoteh Bagas sambil melengos kesal.


"Kamu benar-benar gila!"


"Aku bisa bersembunyi dari kesalahanku, tapi tidak dari penyesalanku. Dan mungkin aku dapat bermain dengan dramaku, tetapi tidak dengan karmaku, bahkan bukan hanya aku, kamu pun sama." Ucap Bagas sambil menatap jendela kamarnya dengan tatapan kosong.


"Harusnya Tuhan menciptakan waktu berjalan dua arah supaya aku bisa kembali ke masa lalu untuk menghapus semua penyesalan dan kesalahanku."


"Apa aku lebih baik mati saja?" Celetuk Nevika tanpa berpikir panjang.


"Hush.. sudah aku bilang, patah tulang saja sakit, apalagi sampai mati, memangnya amalmu sudah banyak?"


"Tapi aku tak tahu bagaimana hidupku tanpa Arsen." Nevika tanpa sadar mengeratkan pelukannya di pinggang Bagas dan menumpahkan air matanya kembali.


"Mereka saja bisa hidup bahagia, kenapa kita tidak?"


"Maksudnya kita?"


"Kita dengan takdir kita masing-masing, kamu dengan hidupmu dan aku dengan hidupku, kamu berpikir apa tadi, jangan Ge eR kamu!" Bagas kembali menjunjung harga dirinya yang tidak seberapa itu.


"Dih.. siapa juga yang Ge eR, aku sama sekali tidak berminat denganmu!" Nevika pun tak mau kalah saing.


"Apalagi gue, nggak banget punya pasangan yang manja, nggak bisa masak, sukanya shoping, menghabiskan uangku saja." Bagas seolah tidak terima saat Nevika seolah menolaknya.


"Memangnya aku berminat punya pasangan sepertimu, gaji pas-pasan, kerjaannya nongkrong, dan sekarang kamu pengganguran, ye kan?" Ledek Nevika yang semakin kesal karenanya.


"Kamu berani menghinaku?"


"Kamu yang mulai duluan tadi bukan?"


Akhirnya mereka berdua malah berdebat sendiri, dan merasa tidak mau direndahkan dua-duanya.


"Diam kalian berdua!" Tiba-tiba Mama Arsen muncul diantara mereka berdua.


"Hah? maaf Tante, saya hanya bercanda saja dengan Bagas tadi, hehe." Nevika langsung membenahi cara duduknya.


"Ini ada sesuatu buat kalian."


Mama Bagas menyodorkan satu kotak kepada Bagas dan Nevika.


"Apa ini Ma?" Tanya Bagas dengan tatapan heran.


"Itu untuk kalian berdua, kalau mau tau buka saja sendiri."


"Dari siapa sih Ma?" Tanya Bagas kembali.

__ADS_1


"Dari orang-orang yang pernah kalian berdua sakiti, Mama kecewa sekali dengan sikap kalian berdua, tapi ya sudahlah, itu pilihan kalian berdua, sekarang nikmatilah hasil dari perbuatan kalian, sebagai pembelajaran hidup agar nanti kalian lebih berhati-hati dalam berbuat, jangan hanya mementingkan ego dan nafsu, karena penyesalan itu letaknya dibelakang dan tidak ada gunanya." Nasehat panjang lebar langsung keluar dari mulut wanita paruh baya itu.


"Mereka sekarang dimana Ma?" Tanya Bagas sambil melongokkan kepalanya kearah pintu.


"Setelah mereka menceritakan inti dari permainan gila kalian, mereka berdua langsung pulang, sudahlah.. jangan ganggu hidup mereka lagi, karena mereka juga berhak bahagia, jika kalian berdua ingin hidup tentram dan damai, lupakan mereka, sadari kesalahan kalian masing-masing dan tatalah kehidupan kalian menjadi lebih baik lagi." Ucap Mama Bagas seolah memberikan peringatan kepada mereka berdua.


"Baik Tante."


Bagas dan Nevika hanya bisa menundukkan kepala mereka masing-masing, kalau didengar dari semua perkataan Mama Bagas, sudah pasti itu adalah kotak pemberian dari Embun dan Arsen. Dan akhirnya mereka berdua sama-sama membuka kotak itu dengan wajah yang terkejut.




*To: Bagas dan Nevika*.



*Sebenarnya kami berdua ingin sekali meminta maaf dengan kalian berdua secara langsung, tapi kami tidak ingin menggangu pertemuan kalian tadi, jadi aku menitipkan surat ini kepada Mama kamu, walau awal mulanya hal ini terjadi atas kegilaan kalian berdua, namun pada akhirnya kami malah mengucapkan ribuan terima kasih yang teramat sangat untuk kalian berdua, karena tanpa kalian, kami mungkin tidak akan bisa bersatu*.



*Satu yang perlu kalian ingat, ribuan kata sesal sudah tidak ada gunanya lagi, menuruti emosi dan hawa nafsu hanya akan merugikan dan penyesalan adalah hadiah yang pasti akan diterima*.



*Tapi saling menyalahkan pun tidak ada gunanya, ambil saja hikmahnya, mungkin ini sudah menjadi jalan terbaik untuk kita berempat*.



*Dan ini, kami berikan bunga kantil saat pernikahan kita, walau sudah tidak segar tapi kata orang jika kalian memilikinya bisa segera menikah*.



*Siapa tahu kalian berdua juga berjodoh, karena biasanya pertengkaran adalah awal dari berseminya rasa cinta, jika kalian sudah legowo, mari kita saling bertemu dengan membawa senyuman, agar tidak ada lagi dendam diantara kita*.



*Sekali lagi terima kasih kami ucapkan untuk kalian berdua, dalam hal ini kami pun mengaku salah, tapi perselingkuhanku terjadi diatas permainan yang kalian buat, tapi percayalah bahwa jodoh, rezeki dan maut sudah digariskan*.



*Dan doa kami, semoga kalian berdua kembali bertemu diatas pelaminan, amin*.



^^^*Dari masa lalu kalian*:^^^



^^^*Arsen dan Embun*^^^



Mereka berdua akhirnya hanya bisa diam dalam lamunan masing-masing sambil memandangi kotak berisi selembar surat dan Bunga Kantil hiasan kepala saat ijab qobul Embun kala itu, walau sudah tidak segar, namun masih terlihat bagus, karena memang Embun sengaja menyimpannya ditempat yang sejuk.



Hargai apa yang kamu miliki saat ini. Ingat, kebahagian tak akan pernah datang kepada mereka yang tidak menghargai apa yang telah dimiliki.



Hakikat penyesalan adalah kesadaran atas kesalahan yang pernah diperbuat. Di balik itu semua, penyesalan menjadi satu di antara kunci dari kehidupan seseorang yang bisa membuat kita menjadi lebih baik dari sebelumnya.



...~~SELESAI~~...



Akhirnya Novel "PERSELINGKUHANKU DIATAS PERMAINAN" sudah selesai ya man teman, walau tidak seberapa setidaknya bisa menghibur diwaktu senggang.



Dan seperti biasa, Author sudah menyiapkan novel baru, sudah tayang ya, bisa langsung cek dengan klik profil Author.



Sampai jumpa di buku baru, big hug buat kalian pembaca setiaku😘


__ADS_1


![](contribute/fiction/7033231/markdown/11629019/1688092487076.jpg)


__ADS_2