
"Kamu mau ya nak, tolong penuhi keinginan ibu sayang." Pinta Ibu Lita dengan mata yang berkaca-kaca, sembari menggenggam jemari tangan Aluna.
Aluna hanya terdiam terpaku mendengarnya, dia masih belum mengerti maksud dari ucapan Bu Lita.
"Maksud i-ibu, apa? Luna me-menikah dengan anak ibu?" Tanyanya dengan gugup sekaligus bingung.
"Iya sayang, kamu mau ya menikah dengan Putra Ibu. Ibu mohon sama kamu." Mohon ibu Lita kembali.
"Tapi Bu, bagaimana bisa? Luna tidak mengenal putra ibu begitu juga sebaliknya. Bagaimana kami bisa menikah? dan kenapa harus Luna, Bu?"
"Luna, ibu hanya ingin kamu jadi menantu Ibu. Nathan juga sudah setuju dengan permintaan Ibu, sekarang Ibu hanya butuh persetujuan kamu saja. Ibu mohon sama kamu, kamu mau ya, sayang."
"Dengan kondisi jantung Ibu yang tidak stabil, Ibu tidak tahu sampai kapan Ibu bisa bertahan, bisa saja besok Ibu sudah pergi. Dan sebelum Ibu pergi untuk selamanya, Ibu hanya ingin Putra Ibu menikah dengan wanita yang tepat, yaitu kamu Luna." Ibu Lita menangis sambil menatap Luna dengan sendu.
"Bu, jangan bicara yang tidak-tidak seperti itu. Luna yakin Ibu pasti akan bisa sehat kembali, seperti kata dokter, Ibu bisa kembali sehat dengan pergi berobat ke Negara Cina. Ibu mau ya." Ujar Luna mencoba membujuk Bu Lita, dia berharap Bu Lita akan setuju.
__ADS_1
"Sayang, Ibu akan setuju untuk pergi berobat ke Negara Cina. asal- " Ujar Bu Lita sembari memikirkan sebuah ide agar Luna mau menerima permintaannya itu.
"Asalkan apa Bu?"
"Tentu saja, asalkan kamu mau memenuhi keinginan ibu. Menikahlah dengan putra ibu ya, maka ibu akan segera pergi berobat ke Negara Cina."
Aluna kembali tertegun mendengarnya. Dia kembali berpikir, bagaimana bisa dia menikah dengan pria yang sama sekali tidak di kenalnya. Tapi menurutnya permintaan Bu Lita adalah tuntutan baginya, dia sangat menyayangi Bu Lita seperti ibunya sendiri. Aluna juga khawatir jika Bu Lita tidak segera pergi berobat ke Negara Cina, maka kondisi jantungnya akan semakin memburuk dan itu akan sangat membahayakan nyawanya. dan dia tidak ingin jika hal itu terjadi.
"Luna, kamu keberatan dengan permintaan Ibu? Ya sudah lah tidak apa-apa, Ibu juga tidak bisa memaksa kamu, ini adalah jalan hidup mu. Ibu juga tidak akan pergi berobat ke Negara Cina, tidak ada gunanya juga ibu pergi berobat jauh-jauh, tapi setelah sembuh hidup ibu terasa hampa, karena putra Ibu tidak bisa menikah dengan wanita yang Ibu inginkan. Ibu tidak bisa membayangkan, jika nanti Ibu sudah pergi dan Nathan menikah dengan wanita yang salah, bagaimana jika... hiks.. hiks.."
'Ya Tuhan, bagaimana ini? Aku tidak ingin menikah dengan pria yang tidak aku cintai apa lagi aku tidak mengenalnya sama sekali, tapi aku juga tidak bisa jika harus menolak permintaan Bu Lita. Apa yang harus aku lakukan? Ibu sangat sulit untuk di bujuk, apa aku penuhi saja permintaannya? Hah ya, aku penuhi saja, kesehatan ibu jauh lebih penting. Urusan kedepannya biarlah aku pikirkan nanti.' Aluna menatap sendu punggung Bu Lita.
Aluna menghela nafas panjang, dia tidak bisa terus-terusan melihat kondisi Bu Lita seperti ini. Dia juga ingin melihat wanita paruh baya yang sudah di anggapnya seperti ibu sendiri itu kembali sehat, rasa sayangnya yang begitu besar pada wanita paruh baya itu. Apa lagi Bu Lita juga pernah menyelamatkan nyawanya dari kecelakaan dua tahun lalu.
Pada saat itu Luna yang notabenya adalah seorang Dokter muda, dia dan beberapa Dokter muda lainnya, menjadi Dokter relawan di daerah pelosok yang sedang tertimpa musibah Gempa Bumi. dan Bu Lita adalah Dokter senior yang aktif dalam kegiatan sosial pun, ikut serta menjadi Dokter relawan saat itu. dan di mulai dari sana lah Bu Lita dan Aluna menjadi dekat, bahkan hingga saat ini. Aluna bisa merasakan kembali kasih sayang seorang Ibu dari Bu Lita.
__ADS_1
Pada saat itu, kembali terjadi gempa susulan membuat semua orang panik. Aluna ikut membantu warga untuk mencari tempat berlindung yang aman, tapi pada saat dia ingin membawa lari seorang anak kecil yang terpisah dari orang tuanya, ada sebuah balok kayu besar menggelinding menuju ke arahnya. Dia mendekap tubuh Anak kecil itu untuk melindunginya, hingga tubuhnya lah yang tertimpa oleh balok kayu itu. Kondisi Aluna kritis karena kehilangan banyak darah, karena sulitnya mencari darah yang cocok membuat nyawa Aluna hampir melayang. Beruntung saat itu ada Bu Lita, dan ternyata golongan darahnya cocok dengan Aluna. Dan Bu Lita pun dengan suka rela mendonorkan darahnya untuk Aluna. Sejak saat itulah Aluna merasa berhutang nyawa pada Bu Lita.
"Bu." Panggil Aluna membuka suara setelah sekian lama berpikir.
"Jika seandainya aku memenuhi permintaan Ibu untuk menikah dengan putra Ibu, apakah Ibu berjanji, mau pergi berobat ke Negara Cina?" Tanya Aluna dengan sedikit ragu, tapi juga dia tidak memiliki pilihan lain.
Bu Lita yang mendengar hal itu langsung membalikkan badan, matanya terlihat berbinar-binar menatap Aluna.
"Benarkah Luna? Kamu mau menuruti keinginan Ibu? Kamu mau menikah dengan putra Ibu? Ah syukurlah sayang, Ibu senang sekali mendengarnya." ujar Bu Lita langsung duduk, kemudian memeluk Aluna dengan perasaan bahagia.
"Ibu janji sayang, setelah kalian berdua menikah nanti Ibu akan langsung pergi ke Negara Cina untuk berobat. Agar Ibu bisa cepat kembali sehat, karena Ibu ingin mengendong dan bermain dengan cucu-cucu ibu nanti." Sambung Bu Lita dengan senyum yang secerah mentari. Wanita paruh baya itu kembali semangat untuk sembuh dari penyakitnya.
Aluna kembali menghembuskan nafasnya saat mendengar ucapan Bu Lita, ada rasa lega bercampur gelisah. Dia lega jika akhirnya Bu Lita sudah setuju pergi berobat ke Negara Cina, dan kembali semangat berjuang melawan penyakitnya agar sehat kembali. Tapi dia gelisah memikirkan ucapan Bu Lita tentang cucu, cucu? Hah, dia tidak yakin bisa memberikan cucu untuk Bu Lita. Dia saja tidak tahu bagaimana nasib pernikahannya nanti, lalu bagaimana bisa memikirkan tentang hal itu. Hah itu terlihat konyol di dalam pikirannya.
Tapi ya sudahlah, yang terpenting saat ini Bu Lita sudah setuju pergi berobat, dan itu sudah cukup bagi Aluna. Anggap saja ini adalah Balas Budi karena Bu Lita pernah menyelamatkan nyawanya dulu. Untuk masalah ke depannya, dia akan pikirkan nanti saja. Biarkan saja mengalir apa adanya, mungkin ini memang jalan hidup yang harus dia lalui, begitu pikirnya.
__ADS_1