
Aluna berjalan mendekati Nathan di meja makan, wanita cantik itu meletakkan secangkir kopi di hadapan Nathan dengan wajah masam. bayangkan saja, sepagi ini dia sudah mendapatkan kekesalan. moodnya tiba-tiba hancur seketika.
Aluna juga mengambilkan sarapan untuk Nathan, ya walaupun kesal dia tidak boleh mengabaikan kewajibannya, bukan? Nathan yang melihat wajah masam aluna, hanya terkekeh kecil.
"kau nanti masuk jam berapa?" tanya nathan membuka suara setelah keheningan melanda.
"malam." sahut Aluna ketus.
"apa seperti itu caramu berbicara dengan suami mu?" tanya nathan.
"ya."
"kau ini kenapa?" heran Nathan.
"pikir saja sendiri."
"ya mana saya tahu, saya kan bukan cenayang yang bisa membaca pikiranmu" sahut Nathan.
"mas itu kenapa sih selalu menuduhku yang tidak-tidak? menuduhku mengincar hartamu, menggodamu, lalu ini, itu. kenapa sih!" pekik aluna yang tidak bisa mengendalikan kekesalannya.
nathan hanya terdiam mematung mendengar luapan kekesalan Aluna, dia juga tidak mengerti dengan dirinya sendiri, entah kenapa dirinya selalu berpikiran negatif pada istri kontraknya itu.
"lagi pula ya, coba anda perhatikan baik-baik pakaian saya." Aluna memutar tubuhnya di depan Nathan.
"sudah lihat, kan? pakaian saya tertutup loh mas, celanaku juga tidak terlalu pendek. matamu rabun ya." sambung Aluna dengan nada ketus.
Nathan mengangkat sebelah alisnya, "kau lupa malam itu? kau keluar dari kamar dengan pakaian seksi, jadi apa lagi jika bukan mau menggodaku."
"astaga! jadi anda menganggap saya menggoda anda? saya tidak berminat ya, itu salah anda sendiri kenapa anda tiba-tiba pulang." geram Aluna.
"ini apartemen ku, kalau aku tidak pulang, kau pikir aku akan tidur di mana hah."
Aluna terdiam, ya benar juga sih ini kan memang apartemennya jadi wajar saja jika si arogan ini pulang ke sini.
"kau mengaku saja, tidak usah mengelak lagi." tuduh Nathan.
Aluna ingin membuka suara untuk menyangkal tuduhan Nathan, tapi sudah lebih dulu di potong oleh Nathan.
__ADS_1
"sudah, tidak usah beralasan kau." ujar Nathan lagi yang semakin membuat Aluna sepeti kebakaran jenggot.
"terserah! lagi pula mau saya pakai baju seksi, atau tidak pakai baju sekalian juga tidak masalah toh. saya rasa anda juga tidak akan tergoda, jadi anda tidak usah sewot." sahut Aluna.
Nathan di buat melongo dengan ucapan aluna, bisa-bisanya wanita ini mengatakan hal seperti itu.
"memang benar yang kau katakan, aku tidak akan tergoda olehmu, saya juga tidak akan tertarik." kesal Nathan.
'ya kita lihat saja nanti, jangan sampai kau menjilat ludahmu sendiri tuan arogan, huh.' batin Aluna.
suasana kembali Hening, mereka memulai sarapan pagi dengan tenang.
"kau nanti berangkat ke rumah sakit di antar oleh supir." perintah Nathan membuka suara di sela-sela acara makannya, dia berbicara dengan nada lembut.
'heh, apa lagi ini? tadi saja dia menyebalkan, lah sekarang? ck dasar bunglon, suka sekali berubah-ubah tidak jelas.' batin Aluna.
"kau dengar tidak?" tanya Nathan.
"apa?" aluna malah bertanya balik.
'nah kan, mulai lagi dia. memang cocok sekali dia jika berteman dengan bunglon, atau bisa jadi dia memang bersaudara dengan bunglon.' gerutu aluna dalam hati.
"kenapa kau diam saja Aluna? kau benar-benar tuli ya." kesal Nathan karena tidak mendapat sahutan dari Aluna.
"apa sih mas, kenapa anda suka sekali menghina saya sih!?" sahut Aluna tak kalah kesalnya.
"aku bilang kau nanti ke rumah sakit di antar supir! apa kau dengar sekarang?" ujar Nathan dengan suara yang dia kuatkan.
"tidak perlu, saya akan naik ojek seperti biasanya." sahut Aluna.
"malam-malam memang kau pikir masih ada ojek, hah?"
"saya masih bisa naik taksi."
"itu berbahaya bodoh, pokoknya aku tidak menerima penolakan apapun darimu. mulai sekarang jika kau pergi ke manapun harus di antar jemput supir yang sudah aku siapkan." tegas nathan.
"mas, mengertilah. coba anda pikirkan, jika saya pergi ke rumah sakit dengan di antar menggunakan mobil, bagaimana tanggapan orang-orang? mereka pasti akan curiga, dan saya berusaha menghindari hal itu terjadi." sahut Aluna memberi pengertian.
__ADS_1
Nathan terdiam, otaknya tengah mencerna ucapan aluna, ada benarnya juga yang aluna ucapkan itu. otaknya kembali berputar mengingat ucapan Bram kemarin, sepetinya memang benar jika istri tidak jelasnya itu tidak menginginkan hartanya. jika memang Aluna mengincar hartanya, tentu saja dia tidak akan menolak jika di berikan fasilitas mobil. dia mulai berpikir, mungkin Aluna memang benar-benar menikah dengannya demi ibunya.
"tapi untuk yang satu ini saya tidak menerima bantahan, kau itu perempuan tidak baik pulang pergi naik taksi di malam hari, itu sangat berbahaya. walau bagaimana pun, kau sekarang masih istriku, jadi kau masih tanggung jawabku. coba pikirkan saja, jika kau kenapa-napa dan ibu mengetahui itu, entah akan semarah apa dia padaku." ujar Nathan.
"terserah." Aluna hanya bisa pasrah jika sudah menyangkut ibu mertuanya.
"bagus, kau harus jadi istri yang penurut." Nathan tersenyum lembut.
deg!
'ini adalah pertama kalinya aku melihat dia tersenyum.'
perasaan Aluna sedikit menghangat melihat senyum Nathan, tapi dia sebisa mungkin mengingatkan hatinya agar jangan sampai jatuh dalam pesona pria arogan di hadapannya itu.
setelah acara makan selesai, Nathan langsung pergi ke kantornya. sedangkan aluna, wanita cantik itu tengah beres-beres apartemen, karena hari ini dirinya masuk malam.
...***...
malam telah tiba, hari sudah menunjukkan pukul tujuh malam, inilah saatnya aluna menjalankan tugasnya sebagai dokter. wanita cantik itu baru keluar dari mobil yang di persiapkan Nathan, dia meminta pada supir untuk menghentikan mobilnya agak jauh dari area rumah sakit, sengaja dia lakukan karena dia tidak ingin ada yang melihat.
"terima kasih ya pak, saya lanjut jalan dulu." ujar Aluna berpamitan dengan sopan pada supir yang mengantarnya itu.
"apa tidak apa-apa saya antar sampai sini, non?" tanya supir itu khawatir sekaligus takut, pasalnya tuannya itu menyuruhnya mengantarkan Aluna sampai tepat di depan rumah sakit.
"tidak apa-apa pak, bapak tenang saja, ini juga sudah dekat kok. lebih baik bapak segera pulang." sahut Aluna.
"baik nona, hati-hati." ujar pak supir.
aluna mengangguk seraya tersenyum, kemudian wanita cantik itu mulai melangkahkan kakinya untuk menuju ke rumah sakit.
setelah beberapa menit dia berjalan, aluna sudah menapaki kakinya memasuki pelataran rumah sakit.
"hai, dokter Aluna." sapa seseorang secara tiba-tiba dari arah samping Aluna.
aluna sedikit tersentak, lalu dia menolehkan kepalanya ke arah sumber suara.
"e-eh? A-anda?" Aluna mengerutkan keningnya dengan jari yang menunjuk ke arah orang itu.
__ADS_1