pesona istri kontrak

pesona istri kontrak
sidak dadakan


__ADS_3

"s**t, sialan kau nath! kau mengagetkanku bodoh." kesal Bima yang terkejut dengan kedatangan Nathan.


"kau yang sedang apa di sini?" sambung Bima.


"ini rumah sakit milikku, suka-suka ku lah mau kapan saja aku ke sini. kau sedang apa di sini? Rayan sedang sibuk, lebih baik kau pulang saja." timpal Nathan.


"aku? aku tadinya ingin menemani Rayan mengerjakan laporan, aku bosan di rumah." jawab Bima asal.


"kalau bosan ya cari hiburan bodoh, dengan kau datang ke rumah sakit kau malah semakin bosan hidup karena melihat orang sakit. atau kau mau aku bantu kau mati?" tanya Nathan.


"weh weh, jangan gitu dong nath. hanya bosan di rumah, bukan bosan hidup. kalau hidup tentu saja aku masih semangat, apa lagi kalau ada my lop ayang lunlun di sampingku." sahut Bima dengan mata yang berbinar.


"ck, sudah kau pergi saja sana." usir Nathan yang kesal mendengar panggilan Bima pada Aluna, ingin rasanya Nathan menyumpal mulut Bima dengan brankar rumah sakit.


"yah, jangan gitu dong nath. kau tahu kan, aku sedang dalam misi untuk mendapatkan dokter aluna. aku juga tidak menganggu di sini, aku hanya ingin memandang dia saja. ya setidaknya sampai aku dapat nomor ponselnya, hehe." kekeh Bima.


"ck, Bima ini rumah sakit, bukan tempat untuk kau mencari kekasih. kalau kau sudah tidak kuat, tenang saja nanti aku akan Carikan untukmu. sudah, sekarang ayo kita pergi." ajak Nathan dengan menarik lengan Bima.


"tidak mau! selera kau dan aku itu beda, selera kau itu yang seperti ondel-ondel. tidak seperti seleraku yang cantik natural, seperti my lop lunlun. plis ya nath, biarkan aku di sini. aku janji tidak akan mengganggu." kekeh Bima dengan menunjukkan puppy eyes, berharap agar Nathan iba.


"ck, kau sudah seperti anak ayam sekarang, ayo pulang sekarang." ketus Nathan.


"ck, kau ini mengganggu saja. lebih baik kau cari jesica mu yang seperti ondel-ondel itu sana, aku mau memandang masa depanku yang cerah." kekeh Bima tidak mau pergi


"apa kau bilang! Jesica itu bu..."


"ck, sudah kau diamlah. aku akan membeli makanan ke depan dulu." potong Bima seraya meninggalkan Nathan sendirian di depan ruang UGD.


Nathan menghela napas kasar melihat Bima yang tidak main-main dengan niatnya itu, dalam hatinya kecilnya berkata tidak rela jika Aluna harus di dekati sahabat nya. tapi pikirannya selalu menyangkal, dia selalu menyangkalnya dengan sosok jesica.


Nathan kemudian duduk di kursi yang ada di depan ruang UGD, dirinya merasa harus mengawasi Rayan dan Bima. terlebih pada bima, dia harus ektra dalam mengawasinya, pasalnya Bima begitu ngotot ingin mendapatkan Aluna.

__ADS_1


satu persatu perawat yang berlalu lalang melihat keberadaan Nathan, mereka menunduk sopan untuk menyapa nathan, membuat pria itu menjadi risih. jika di pikir, untuk apa juga dia di sana? terlebih dia menggunakan pakaian santai, ini juga sudah malam, dan dia berada di sana seorang diri, karena Bima belum kembali.


manik mata nathan nampak melirik ke dalam ruang ugd, terlihat di sana Aluna tengah berbicara dengan Rayan. pria itu mengerutkan keningnya merasa curiga, pasalnya Rayan senyum-senyum saat mereka berbicara.


"dokter rayan, terima kasih sudah membantu kami untuk membereskan pasien hari ini. berkat bantuan anda, ini jadi cepat terselesaikan dan aman terkendali." ujar aluna sopan pada Rayan, sembari melepas sarung tangan medisnya.


"sama-sama dok, ini juga sudah tugas saya, jadi jangan sungkan." sahut Rayan dengan tersenyum manis, berhiaskan lesung pipi.


Aluna juga membalas senyuman rayan dengan lembut, dia kemudian duduk di kursi di susul dengan Rayan yang duduk di depannya.


"ngomong-ngomong kenapa dokter masih di sini? seharusnya dokter sudah selesai dinas dari sore kan?" tanya Aluna ramah.


"ah iya dok, saya tadi sedang memeriksa laporan. karena harus segera di selesaikan." jawab Rayan yang jantungnya merasa berdebar karena senyuman Aluna tadi.


"wah anda sibuk sekali ternyata, maaf ya dok tadi jadi merepotkan dokter."


Aluna meminta maaf, karena merasa bersalah menganggu pekerjaan Rayan yang sedang memeriksa laporan rumah sakit. padahal itu bukan salah Aluna, itu juga sudah kewajiban Rayan yang juga sebagai dokter di sana.


"anda tidak lelah dok?" tanya Aluna.


"ya lumayan sih. saya masih muda jadi saya harus menikmati masa ini, karena nanti jika sudah berkeluarga akan susah seperti ini. karena sudah pasti saya akan lebih lama menikmati waktu dengan keluarga, itulah yang utama." ujar rayan dengan tersenyum membayangkan masa depannya dengan Aluna nanti, tanpa sadar bahwa dirinya nyaman berbincang dengan Aluna.


"tapi dokter juga harus menjaga kesehatan, jangan terlalu memforsir tubuh untuk bekerja terus. nanti kalau anda sakit kan kasihan istri dan anak anda, hehe."


nasehat Aluna dengan di bubuhi kekehan kecil, yang memperlihatkan gigi rapinya. dan hal itu, terlihat sangat menggemaskan di mata Rayan. jantung Rayan kembali memompa dengan begitu cepat, dia jadi panas dingin hanya dengan melihat senyuman Aluna.


deg!


'duh sial, hatiku jadi tidak tahu diri, dia langsung saja berbunga-bunga. memang benar apa yang orang-orang katakan, dokter aluna memang sangat mempesona.' batin Rayan dengan segala kekagumannya.


tiba-tiba pintu ruangan dokter UGD terbuka, dan ternyata Nathan lah yang masuk.

__ADS_1


"selamat malam." sapa nathan.


suara Nathan seketika membuat semua yang ada di ruangan itu terkejut, terlebih lagi Aluna dan Rayan yang sedang asik mengobrol berdua. mereka sudah seperti menjalani sidak dadakan saja, membuat suasana menjadi tegang.


"ah, tuan nathan selamat malam."


Rayan dan aluna berdiri dari duduknya lalu membungkuk hormat, Kemudian mempersilahkan Nathan untuk untuk. jika sedang di rumah sakit Rayan memang selalu hormat pada Nathan, dia harus profesional layaknya atasan dan bawahan.


"terima kasih dokter rayan, sepertinya kondisi UGD sudah aman terkendali ya. saya dengar tadi ada pasien kecelakaan Bus." ujar Nathan.


"benar, pasien sudah di tangani. saya juga turut membantu di sini, karena kebetulan saya masih di rumah sakit." jelas Rayan.


"benar tuan." timpal Aluna membenarkan ucapan Rayan tadi.


"baiklah, jika seperti itu berarti dokter rayan sudah bisa saya ajak pergi kan? Rayan bisa kita ke ruangan mu?" tanya Nathan, yang sebenarnya itu cocok di sebut memerintah.


Nathan tidak suka jika Rayan lama berduaan dengan Aluna, dia takut jika Aluna akan keceplosan tentang pernikahan mereka. lagi-lagi pikiran buruk yang memenuhi otaknya.


"ah, tentu saja tuan, mari." jawab Rayan seraya berdiri dari duduknya.


"dokter Aluna, saya permisi kembali ke ruangan saya, jika ada sesuatu anda bisa katakan pada saya." pamit Rayan dengan tersenyum lembut.


Aluna hanya mengangguk canggung, pasalnya sebelum Nathan melangkah keluar tadi, pria itu sempat menatapnya dengan tajam. entah apa yang membuat si arogan itu datang malam-malam ke rumah sakit, membuat orang tidak nyaman saja


.


.


Selamat pekan akhir tahun semuanya, selamat menikmati liburan akhir tahun ya.🥳🥳


author akan kembali lagi di tgl 2 Januari nanti😍

__ADS_1


__ADS_2