
Dua Minggu kemudian...
Di dalam sebuah kamar di hotel, Aluna tengah menatap pantulan dirinya di depan cermin. Dia baru saja selesai di rias oleh mua. ya, hari ini adalah hari pernikahannya dengan putranya Bu Lita. Pernikahan itu memang sengaja di percepat, karena mengingat kondisi kesehatan Bu Lita yang semakin menurun. Maka dari itu pernikahan itu di langsungkan secepat mungkin, agar Bu Lita juga segera berangkat ke negara cina untuk menjalani pengobatan.
Hari ini dia mengenakan kebaya berwarna putih polos, kebaya itu melekat dengan sempurna di tubuh indahnya yang langsing. Rambutnya yang panjang pun di sanggul, dengan di hiasi beberapa jepitan mutiara. Terlihat sangat sederhana, namun tetap terkesan anggun dan elegan. menggambarkan kepribadian Aluna yang feminim dan penuh kelembutan.
"wah nona, anda benar-benar sangat cantik." Ujar salah seorang mua yang tadi membantu memoles make up ke wajah Aluna, wanita itu memandang Aluna penuh kekaguman.
Bagaimana tidak? Aluna hanya memakai make up tipis dan tidak terlalu menor, tapi itu saja sudah membuat Aluna terlihat sangat cantik. Ya, Aluna memang tidak pernah memakai riasan wajah yang berlebihan. Saat pergi bekerja pun dia hanya merias wajahnya dengan tipis, tapi hanya dengan memakai seperti itu saja sudah memunculkan aura tersendiri di diri Aluna. Maka sebab itulah Aluna hanya ingin di rias tipis-tipis saja.
Aluna tersenyum tipis menanggapi ucapan mua itu, "Terima kasih, ini juga berkat kalian."
"wajah anda memang sudah cantik sebelum kami rias nona, jadi saya hanya sedikit membantu saja." Ujar mua itu dengan tersenyum.
Aluna yang mendengarnya hanya tersenyum, entah harus bahagia atau sedih dia saat ini, dia juga tidak tahu. Hari yang seharusnya menjadi hari bahagia untuknya, tapi dia tidak merasakan itu. Nasib pernikahannya berbeda dengan kebanyakan wanita di luaran sana, yang Akan sangat bahagia menyambut hari pernikahannya dengan sang pujaan hati. Tapi lain lagi dengan Aluna, dia yang menikah dengan orang yang bahkan tidak dia kenali.
Dia merasa aneh dan janggal, karena sebentar lagi dia akan melangsungkan akad tapi dirinya sama sekali tidak pernah bertemu ataupun melihat foto anak dari Bu Lina. Haha, aneh bukan? Itu di karenakan putra dari Bu Lina yang sedang ada perjalanan bisnis di luar negeri.
__ADS_1
Tapi tidak apa-apa, dia akan mencoba ikhlas menerima ini semua. Anggap saja ini adalah cara Tuhan untuk membuatnya balas Budi pada Bu Lina, dan memang mungkin inilah takdir yang harus dia jalani. Bagi Aluna, Bu Lina adalah sosok yang sangat baik, lembut dan penuh kasih. Sudah pasti anaknya juga akan sama baiknya dengan ibunya, begitu pikir Aluna.
Selama beberapa hari ini, dirinya di sibukkan dengan rutinitas yang sebagai dokter muda di salah satu rumah sakit terbesar yang ada di Jakarta. Dia baru beberapa bulan praktik sebagai dokter jaga di rumah sakit itu, tentu saja dia merasa sangat beruntung bisa bekerja di rumah sakit yang bertaraf internasional itu. Maka dari itu dia selalu menjalankan tugasnya dengan sangat serius.
Bu Lina masuk ke dalam kamar di mana Aluna berada, dia ingin menjemput Aluna untuk di bawa ke ruangan yang akan di jadikan tempat berlangsungnya akad nikah nanti.
"Sayang, kamu sudah siap?" Tanya ibu Lina saat sudah berjalan mendekati Aluna.
"Ya ampun sayang, kamu cantik sekali nak." Ibu kagum melihat kecantikan Aluna yang natural. Hanya dengan polesan make up tipis saja, Aluna sudah bisa membuat orang yang menatapnya terpana karena kagum.
Ya, Aluna memang memiliki paras yang cantik. Kulit yang putih bersih, hidung yang bangir, bibirnya yang tipis dan dagu yang sedikit terbelah. Di tambah lagi bola mata yang jernih dan teduh, pasti akan membuat siapapun yang menatap manik mata itu akan terhipnotis di buatnya. Hah, sudah seperti boneka Barbie saja dia jika di ibaratkan dengan sebuah boneka.
"Bu, aku sudah siap." Ujar Aluna untuk menghentikan godaan dari calon ibu mertuanya itu.
"Ayo sayang ikut ibu, kita harus segera ke ruang akad." Ajak ibu Lina sembari menuntun Aluna untuk segera menuju ke ruangan, yang akan menjadi tempat berlangsungnya akad nikah.
Sementara di dalam ruang akad sudah ada Nathan di sana. Tidak banyak yang hadir dalam acara pernikahan ini. Hanya ada dua calon mempelai, Bu Lina sebagai orang tua dari Nathan, penghulu yang di tunjuk sebagai waki untuk menikahkan Aluna, karena Aluna sudah tidak memiliki orang tua. Dan ada dua orang lagi sebagai saksi.
__ADS_1
"Jo, pastikan tidak ada satu orang pun yang tahu, dan jangan sampai ada media yang meliput. Kau tidak lupa kan, apa yang aku perintahkan kemarin?" Arya berbisik pada orang yang akan menjadi saksi di pernikahannya ini. Orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Jo, sang asisten pribadinya.
"Tidak perlu khawatir tuan, saya telah memastikan jika tidak akan ada satupun media yang tau tentang pernikahan ada ini. Dan untuk perintah yang anda berikan kemarin, sudah saya siapkan tuan." Jawab Jo dengan suara pelan.
"Bagus."
Beberapa saat kemudian, calon mempelai wanita memasuki ruangan beserta Bu Lina. Semua orang yang ada di ruangan itu memandang penuh kekaguman, tak terkecuali Nathan. Benar-benar seperti titisan bidadari, sangat cantik dan bersinar, ya begitulah kira-kira yang ada di benak orang yang ada di sana.
Saat Aluna sudah sampai, Bu Lina mendudukkan Aluna tepat di samping Nathan. Dan hal itu membuat kesadaran Nathan kembali, pria itu langsung mengalihkan pandangannya lurus ke depan. Dia merutuki kebodohannya karena bisa-bisanya dia terpesona pada wanita itu, dia segera memperbaiki posisi duduknya agar menjadi lebih tenang dan cool.
Aluna sejak tadi tidak berani melirik ke arah calon suaminya, karena segala macam pikiran memenuhi otaknya. Bagaimana jika pria itu sudah tua? Atau bagaimana jika pria itu tidak menyukainya? Apa yg harus dia lakukan? Begitu banyak pikiran-pikiran negatif bermunculan di otaknya. Aluna menghembuskan nafasnya pelan, tidak ada yang bisa dia lakukan saat ini selain berpasrah pada sang kuasa. Pasrah? Hah entahlah Aluna tidak tahu.
Akad pun berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan sedikitpun. Ketika para saksi menyebutkan kata sah, dan pada saat itulah Aluna dan Nathan telah menjadi sepasang suami istri yang sah di mata negara dan agama.
Saat setelah penghulu selesai membacakan doa, penghulu meminta untuk Aluna mencium punggung tangan suaminya, dan Nathan mencium kening istrinya.
Ketika mereka telah saling berhadapan, sontak saja manik mata Aluna membulat sempurna di buatnya. Dia sangat terkejut saat melihat siapa pria yang telah menjadi suaminya itu.
__ADS_1
"A-anda..?!"