pesona istri kontrak

pesona istri kontrak
sayang?


__ADS_3

Nathan tersentak mendengar penuturan aluna, kenapa wanita ini bisa menebak tepat sasaran? apa dia seorang cenayang? tapi untuk masalah tadi malam, dia kan tidak sengaja karena dia benar-benar lupa.


"tadi malam aku lupa Aluna, aku tidak sejahat itu hingga berniat mengerjaimu. karena aku sedang berkumpul dengan teman-temanku, dia baru kembali dari London, kapan lagi janji bisa berkumpul bersama lagi." jelas Nathan.


'eh? kenapa juga aku menjelaskan perihal tadi malam pada wanita ini? bukankah akan bagus jika wanita ini kesal? ck, sial! dia pasti merasa besar kepala mendengar penjelasanku, karena dia menganggap aku mengakuinya. dasar Nathan bodoh.' gerutu Nathan dalam hati.


"oh." sahut aluna cuek.


'jadi tadi malam dia menghabiskan waktu bersama temannya.' sambung Aluna dalam hati.


Nathan melotot tidak percaya mendengar tanggapan Aluna, yang benar saja dia ini. dia sudah lelah menjelaskan panjang lebar seperti itu, dan hanya di tanggapi oh saja?


"kau gila ya! apa hanya seperti itu tanggapan mu? aku sudah lelah menjelaskannya padamu, dan kau hanya mengatakan oh saja?" sentak Nathan.


"kenapa anda marah tuan? saya kan tidak meminta anda menjelaskannya, tuan sendiri yang dengan suka rela mengatakan itu." sanggah Aluna tidak mau di salahkan.


"tapi seharusnya kau-, hah sudahlah." Nathan kehabisan kata-kata melawan wanita itu.


'Argh, sial! aku tidak mempersiapkan kata-kata untuk menekan si udik ini.' geram Nathan dalam hati.


"kau pasti tadi malam menungguku pulang kan? kau berharap aku akan pulang tepat waktu, lalu makan romantis berdua denganmu, iya kan?" tuduh Nathan percaya diri.


"eh, tidak! untuk apa juga saya menunggu anda, tugas saya hanya memasak makanan untuk anda. kalau untuk makan, saya tidak butuh menunggu anda, sendiri pun saya bisa." elak Aluna.


dia tidak ingin pria di hadapannya ini tahu bahwa semalam dirinya memang sempat menunggu kepulangan Nathan. Aluna gengsi mengakuinya, lebih tepatnya dia tidak boleh peduli pada Nathan.


Nathan yang tadinya sempat percaya diri, kini dia langsung down seketika. dia kesal karena wanita ini ternyata tidak memperdulikannya.


mereka pun akhirnya memulai acara sarapan, mereka menikmati sarapan dengan tenang. tidak terdengar ada yang membuka suara, hanya ada suara dentingan sendok yang mereka pakai saja.


"kau bisa tidak, tidak usah memanggilku tuan?" tanya Nathan membuka suara.


"kenapa? bukankah sejak awal saya memanggil anda seperti itu?" sahut Aluna yang masih menikmati sarapan paginya.


"ck, kalau kau memanggilku seperti itu terus, maka ibu akan curiga."


"tapi kan di sini tidak ada ibu."

__ADS_1


"kalau ibu tiba-tiba datang, dan mendengar kau memanggilku seperti itu, ibu pasti akan kecewa."


"kalau begitu, jika sedang ada ibu saya tidak akan memanggil anda." enteng Aluna.


"ck, membantah saja terus kau. bisa tidak kau dengarkan apa kata suamimu? kau mau jadi istri durhaka, hah?" kesal Nathan, entah kenapa jika berbicara dengan Aluna, dirinya selalu di liputi kekesalan.


'huh, dia mulai lagi.' Aluna memutar bola matanya Malas.


"kau mendengarkan aku tidak?" sentak Nathan.


"ya tuan, saya mendengarnya." sahut Aluna cuek.


"lalu?"


"lalu apa? memangnya saya harus memanggil anda bagaimana?" tanya Aluna yang sudah malas berdebat.


"kau bertanya padaku? ya kau pikirkan lah. kau kan seorang istri, seharusnya kau tahu bagaimana istri memanggil suaminya. begitu saja kau tidak tahu, aku jadi meragukan gelar doktermu itu." ketus Nathan.


"ya mana saya tahu, saya kan tidak pernah punya suami sebelumnya." sahut Aluna tak kalah ketusnya.


Nathan benar-benar berada di ambang batas kesabarannya saat ini. mungkin jika di gambarkan, kepalanya sudah mengeluarkan tanduk merah, dan juga telinganya yang mengepulkan asap seakan mau meledak saat itu juga. kesabarannya benar-benar di uji oleh wanita di depannya ini.


"kau bisa tidak sih, serius sedikit? aku sedang tidak bercanda, kau pikir ini lelucon yang bisa kau tanggapi seenteng itu?"


"aku mengatakan ini juga agar tidak membuat ibu curiga, aku ingin ibu menganggap kita sudah saling mencintai. kau seharusnya paham maksudku." tegas nathan.


"hahhhh." Aluna menghembuskan napas kasar, dia meletakkan sendok yang ada di tangannya.


Aluna berpikir dia kan juga tidak bercanda, memang benar kok sebelumnya dia belum pernah memiliki suami. ya kalau dia tidak tahu, bukankah itu wajar?


"ya saya harus bagaimana tuan, saya memang benar-benar tidak tahu." Aluna mulai melunak pada akhirnya.


"ya kau pikirlah, kau gunakan otakmu yang katanya cerdas itu." sungut Nathan.


"ya sudah, bagaimana kalau saya panggil anda pak Nathan saja?" usul Aluna.


"kau pikir aku bapakmu? ganti!" bantah Nathan.

__ADS_1


"ya sudah, kalau nathan saja bagaimana?" usul Aluna lagi, dia sudah sangat malas jika harus mendebatkan hal tidak penting seperti ini.


"kau mau durhaka, hah? berani sekali kau memanggil suami seperti itu? tidak sopan." sanggah Nathan lagi.


Aluna benar-benar sudah sangat kesal sekarang, dalam hatinya sudah mengutuk dan memaki habis-habisan suami tidak jelasnya itu. lalu tiba-tiba ide jahil muncul di otaknya.


"sayang? bagaimana?" goda Aluna dengan menaik turunkan alisnya


deg! wajah Nathan sudah memerah sekarang ini, jantungnya seakan ingin melompat keluar sekarang juga. benar-benar mendebarkan, seolah ada ribuan kupu-kupu yang bersarang di jantungnya. kenapa panggilan itu terdengar sangat seksi di pendengarannya, padahal jesica juga dulu sering memanggilnya begitu, tapi dia biasa saja. nah giliran aluna yang memanggil, dia jadi tremor sendiri.


"k-kau mau memanggilku begitu?" tanya Nathan gugup.


"tidak, panggilan itu tidak cocok untuk kita yang penuh sandiwara." sahut Aluna.


Nathan yang tadinya sudah berdebar-debar pun menjadi kecewa, dia menyendok kembali makanannya.


"saya panggil mas saja, itu lebih umum dan lebih cocok." sambung Aluna.


"ya sudah itu juga tidak apa-apa." sahut nathan.


"em mas, siang ini saya akan mulai dinas kembali, saya pulang malam. tidak apa-apa, kan?" tanya Aluna.


"itu bukan urusanku, kau tidak perlu meminta izin dariku. lakukan saja sesukamu."


"ah, benar juga. saya lupa jika kita tidak boleh saling mencampuri urusan. baiklah kalau begitu saya tidak perlu izin dari anda." ujar aluna yang mengingat kembali isi perjanjian itu.


"hemm." dehem nathan.


setelah acara makan selesai, Nathan segera melangkahkan kakinya ke kamarnya, untuk siap-siap ke kantor. Aluna pun membereskan meja makan, baru setelah itu dia akan bersiap untuk pergi ke rumah sakit.


...****...


Aluna melangkahkan kakinya memasuki area rumah sakit, dia sudah mengambil cuti dadakan sekama dua hari. maka kini dia mulai masuk kembali, dia bertugas sebagai dokter jaga di UGD.


"selamat siang semuanya." sapa Aluna saat sudah membuka pintu ruangan jaga di UGD.


suasana ugd siang ini sangat kondusif, tampaknya para petugas yang berjaga baru selesai makan siang. di lihat ada yang baru menutup kotak bekal mereka, ada juga yang tengah memperbaiki penampilan.

__ADS_1


"wah, dokter luna sudah masuk lagi ya. selamat siang juga dokter." jawab mereka dengan ramah.


Aluna langsung berjalan menuju ke loker tempat menaruh tas, dia meletakkan tasnya di sana. dia ikut duduk bergabung dengan mereka yang tengah istirahat, sebelum kembali mulai bertugas.


__ADS_2