
setelah kepergian Nathan dan Rayan dari ruang ugd, semua orang yang ada di ruang ugd menghembuskan napas lega. pasalnya berada satu ruangan dengan anak pemilik rumah sakit, membuat mereka takut bercampur gugup.
"haduh, dokter Aluna serasa senam jantung saya, hehe. menurut grup rumah sakit, tuan Nathan sedang melakukan sidak dadakan." ujar salah seorang perawat yang bernama nina menghampiri Aluna.
"sidak dadakan? memang sering begini ya sus?" tanya Aluna.
"ya lumayan sering dok, tapi biasanya bukan tuan Nathan langsung, palingan orang kepercayaan gitu." jelas Nina.
Aluna hanya mengangguk-angguk paham.
"eh dok, tadi dokter rayan juga perhatian gitu sama dokter luna. sepertinya dokter rayan suka deh sama dokter, nyaman gitu." ujar Nina.
"iya dok, tidak apa-apa dokter sama dokter rayan. dia masih single juga kok, cocok sama dokter luna. lumayanlah, sudah tampan, berduit, pintar juga." sahut Mira menimpali.
Aluna hanya menggeleng heran mendengar ucapan mereka, kenapa mereka bisa menyimpulkan hal seperti itu sih.
"haduh mbak, jangan bicara seperti itu ya. itu bukan perhatian, tapi motivasi sebagai sesama dokter. kemarin juga sewaktu ada pasien yang tampan kalian bilang dia suka sama saya, kalian ini ada-ada saja mbak." ujar Aluna.
"tapi kami berbicara sesuai kenyataan loh dok, iya kan Ra?" tanya Nina pada Mira.
"benar itu dok, kami berbicara sesuai fakta dari penglihatan kita sendiri." timpal Mira.
"Aaa Mbak, sudah dong. saya jadi tidak nyaman ini." rengek Aluna yang membuat mereka semua terkekeh.
sementara di ruangan Rayan, dia tengah berbincang dengan nathan dan Bima yang sudah kembali dengan membawa minuman untuk teman-temannya.
"nath, tadi kau bilang kau ada di tempat biasa. kenapa sekarang malah ada di sini?" tanya Rayan yang sudah duduk di sofa samping Nathan.
__ADS_1
"aku mau menjemput cecunguk itu." jawab Nathan santai, sambil menunjuk Bima dengan dagunya.
"kau berniat menjemput ku? kau pikir aku anak kecil yang harus kau jemput ketika pulang malam?" ketus Bima sambil membuka cemilan yang tadi dia beli.
"pokoknya aku tidak mau tahu, sebentar lagi kalian harus segera pulang. ini sudah malam, lagi pula rumah sakit tidak baik untuk kalian berlama-lama di sini. banyak orang sakit, dan tentunya itu akan menjadi sarang virus." tegas nathan.
"ya tidak bisa begitu dong nath, kalian kalau mau pulang ya pulanglah. aku di sini dokter, dan aku sedang bekerja, bukan bermain seperti kalian." sahut Rayan.
"kau juga yan, kau jangan terlalu memforsir tenaga mu untuk bekerja. pekerjaan tidak akan ada habisnya, kau juga harus menjaga kesehatanmu." peringat Nathan.
"ah nath, kata-katamu sama persis dengan ucapan dokter Aluna tadi." ujar rayan yang kembali mengingat ucapan aluna.
"memang apa yang kau katakan padanya, sampai-sampai dia bisa perhatian begitu pada mu? kau pasti caper kan tadi?" tuduh Bima dengan wajah sinisnya.
"hah? apa itu bisa di katakan sebagai sebuah perhatian? jika iya, maka aku sangat beruntung karena di perhatikan oleh dokter Aluna." ujar rayan dengan mata yang berbinar-binar.
Arya yang melihat tingkah Rayan pun semakin kesal, dia tidak percaya pada dua sahabatnya itu yang menyukai wanita yang sama. belum selesai dengan urusan Bima, malah sekarang Rayan juga menyukai Aluna, benar-benar menjengkelkan bagi Nathan. Nathan seakan ingin mengamuk sekarang ini, tapi dia menahan diri agar mereka tidak curiga padanya.
"bim, mau siapapun yang duluan suka sama dia, selagi dia belum memiliki pasangan, ya masih bebas dong aku mendekati dia. Bagaimana kalau kita berdua bersaing untuk mendapatkan dokter aluna secara sehat? untuk ke depannya siapa yang akan dia pilih, kita harus lapang dada. bagaimana?" usul Rayan.
"ck, tidak akan! kalau kita bersaing seperti itu, jelas saja peluang kau jauh lebih besar. secara kan kau dokter di sini, kau bisa mendekatinya setiap saat. sementara aku, aku mau bertemu dia saja harus beralasan menemani kau dulu." kesal Bima.
"justru dengan kita bersaing bisa menentukan, siapa yang akan di pilih oleh dokter Aluna. kau takut ya, bersaing dengan ku? kau takut kalah?" ujar rayan dengan tersenyum mengejek pada Bima.
"oke, siapa takut. kita lihat saja nanti, siapa yang akan memenangkan hati seorang dokter Aluna." jawab Bima menerima tantangan Rayan.
'ck, lagi-lagi mereka meributkan hal tidak bermutu seperti ini!' dongkol nathan dalam hati.
__ADS_1
Nathan yang sudah geram mendengar perdebatan tidak bermutu mereka berdua, pun segera bangkit untuk melerai keduanya. apa tadi katanya? tidak bermutu? hah, padahal bagi Rayan dan Bima ini sangat penting, karena menyangkut keberlangsungan hidup mereka di masa depan nanti.
"ck, sudahlah kalian berdua! sekarang kita semua pulang, kau juga Rayan. kau bisa melanjutkan pekerjaan mu besok lagi, ini perintah!" tegas nathan tidak ingin di bantah.
"nanti dulu kenapa nath, aku bahkan baru saja memakan sedikit cemilan ini. kalau harus di buang kan, sayang." sahut Bima beralasan.
"kau bisa memakannya di mobil, jadi tidak perlu beralasan lagi. pulang sekarang!" tegas nathan dengan suara lantang.
dengan sangat terpaksa, mereka mengikuti langkah Nathan keluar dari ruangan Rayan. saat mereka melewati ruang ugd, Rayan melihat Aluna tengah membantu perawat mendorong brankar pasien. Rayan segera menghampiri aluna, sedangkan Nathan dan Bima hanya terdiam membeku di tempatnya.
"dok, ini mau di bawa ke mana?" tanya Rayan.
"oh ini mau di antar ke ruang operasi dok, cidera di kakinya lumayan parah, jadi harus segera di operasi." jelas Aluna.
"loh, bukannya tadi semuanya luka ringan saja?" tanya Rayan lagi.
"iya dok, ini pasien baru datang." jawab aluna sekenanya.
"oh begitu, kalau begitu semoga operasinya berjalan lancar ya dok." ujar rayan dengan tersenyum.
"terimakasih dok, semoga tidak ada kendala nantinya." timpal Aluna dengan tersenyum juga.
"ya sudah, kalau begitu saya pamit pulang dulu. kalau ada apa-apa, jangan sungkan untuk menghubungi saya." pamit Rayan pada Aluna.
padahal Rayan tidak perlu pamit pada Aluna, kan? mau dia pulang atau menginap di rumah sakit ya itu bukan urusan aluna, haha.
Aluna tersenyum membalas ucapan Rayan, dan tanpa sengaja pandangannya bertubrukan dengan Nathan. tubuh Aluna seakan menegang seketika, bagaimana tidak? Nathan menatapnya dengan begitu tajam, seakan ingin menelannya hidup-hidup. Aluna jadi berpikir, apa dirinya membuat kesalahan sehingga membuat Nathan seperti itu? ah entahlah, Aluna malas memikirkannya.
__ADS_1
kemudian tiga sekawan itu kembali melanjutkan langkah kaki mereka yang sempat terhenti. sedangkan aluna segera masuk kembali ke ruang ugd, dia hanya membantu memgantar pasien saja tadi.
"apa aku membuat kesalahan? kenapa di arogan itu menatapku seperti itu?" gumam Aluna merasa bingung.