
"a-anda?" tanya Aluna dengan mengerutkan keningnya, berusaha mengingat siapa pria yang ada di hadapannya itu.
"Bima, dok. saya yang berobat dokter lusa." jelas Bima.
"ah, iya tuan Bima. bagaimana keadaan anda sekarang? apa masih sakit?" tanya aluna dengan ramah, sambil melanjutkan langkahnya memasuki rumah sakit.
"tidak dok, saya sudah sembuh kok." sahut bima dengan mengikuti langkah Aluna.
"lalu tuan sedang apa malam-malam begini di sini? apa mau periksa?" tanya aluna.
"ah, tidak dok. saya ada janji dengan seseorang di sini." sahut Bima.
"ya sudah, kalau begitu saya permisi ya tuan." ujar Aluna dengan memasuki ruang ugd.
bima tersenyum dan mengangguk, melihat kepergian aluna yang di telan ruang ugd itu. Bima melangkahkan kakinya menuju ke ruangan yang tidak jauh dari sana, ruangan Rayan.
tok tok tok
"masuk!" suara sahutan dari dalam mempersilahkan masuk.
Bima segera memutar handle pintu ruangan Rayan, dan masuk ke dalam.
"kau sibuk, yan?" tanya bima setelah sampai di depan Rayan.
Rayan mendongak mengalihkan pandangannya dari layar komputernya, dia mengerutkan keningnya melihat Bima lah yang masuk ke ruangannya itu.
"sedang apa kau di sini?" tanya Rayan heran.
"tentu saja mau menemani sahabatku ini bertugas." jawab Bima dengan menaik turunkan alisnya.
"menemaniku? halah bilang saja kau mau modus mendekati dokter Aluna, kan? pantas saja kau tadi sok-sokan meneleponku, menanyakan keberadaan ku, ternyata mau memulai rencana mau toh." Rayan menajamkan matanya menatap manik mata Bima yang salah tingkah.
"hehe, kau ini pintar juga ternyata, tidak salah Nathan memberimu jabatan ini." sahut Bima dengan menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal.
"kau kok tumben sudah malam masih di sini yan?" tanya Bima, karena biasanya Rayan sore hari sudah pulang.
__ADS_1
"aku sedang memeriksa laporan, riwayat pasien UGD. ini akhir bulan, jadi ini harus segera aku selesaikan semua." jelas Rayan dengan mata yang kembali fokus pada layar komputernya.
"oh begitu, berarti kau masih lama ya selesainya? aku temani kau di sini deh." ujar bima.
Bima melangkahkan kakinya menuju sofa yang ada di ruangan Rayan, pria itu membaringkan tubuhnya di sana.
"kalau ada maunya saja kau baik, dasar modus kau. bilang saja kalau kau mau melihat dokter aluna kan, begitu saja pakai alasan mau menemaniku." sanggah Rayan.
"hehe, aku sudah sangat bahagia hanya dengan menatapnya dari kejauhan yan. kau juga ingat, bantu aku untuk mendekati dokter Aluna."
"aku sibuk, kau dekati saja sendiri." cuek Rayan tanpa mengalihkan pandanganya.
"kau yakin mau menungguku di sini? aku tidak tahu loh sampai jam berapa aku selesainya." tanya Rayan.
"tidak apa-apa yan, aku dengan senang hati akan menunggumu di sini. nanti kalau aku bosan, aku akan keluar untuk melihat my lop ayang lunlun, hehe." sahut bima dengan terkekeh kecil sambil memainkan ponselnya.
Rayan hanya berdecak sebal mendengar jawaban Bima, kenapa pria itu niat sekali sih mendekati Aluna? bahkan sampai seperti ini.
suasana kembali hening, Rayan kembali fokus mengerjakan laporannya. sedangkan Bima, pria itu tengah asik bermain ponsel, entah apa yang dia lihat.
suara dering ponsel Rayan, memecah keheningan yang melanda di antara mereka berdua. di lihatnya, ternyata si pemanggil adalah Nathan.
"ya nath." sapa Rayan setelah menjawab panggilan itu.
"kau di mana? aku dan Bram, sudah di tempat biasa." tanya Nathan dari seberang telepon.
"hmm, aku di rumah sakit. ada Bima juga di sini, dia maksa katanya mau menemani aku dan sekalian mendekati dokter Aluna." jawab Rayan dengan melirik Bima yang masih asik dengan ponselnya.
"ngapain dia di sana, kurang kerjaan sekali dia itu. suruh ke sini saja kita cari hiburan, dia malah cari penyakit kalau mainnya ke rumah sakit." ketus Nathan yang tidak suka jika bima mendekati Aluna.
"Bima kau di tunggu anak-anak di tempat biasa, sana pergi." ujar rayan memberi tahu Bima.
"big no! aku mau di sini saja, malas ke sana." sahut bima santai.
"dia tidak mau katanya, kalian bersenang-senang lah berdua. ya sudah aku tutup dulu, masih banyak kerjaan." ujar Rayan kemudian mematikan sambungan telepon.
__ADS_1
Nathan yang mendengar jawaban Rayan tentang bima pun menggeram kesal, dia merasa tidak rela jika bima mendekati aluna.
"ck, sialan si Bima. kenapa dia niat sekali sih mendekati Aluna." gerutu nathan kemudian beranjak dari duduknya.
"eh eh, mau kemana kau? kita baru saja sampai, kenapa sudah mau pergi lagi?" tanya Bram dengan menarik lengan baju Nathan.
"aku ada urusan mendadak, kau bersenang-senanglah sendiri."
Nathan menepuk bahu Bram pelan kemudian dia melangkahkan kakinya pergi meninggalkan tempat itu.
Bram tidak mau ambil pusing dengan urusan mendadak apa yang Nathan hadapi, dia kembali duduk dan meminum.
di ruang ugd, Aluna tengah di sibukkan dengan banyaknya pasien korban kecelakaan bus. ada lumayan korban mengalami luka, jadi di ruang ugd tengah di sibukkan dengan padatnya pasien.
Bima dan Rayan keluar dari ruangan, mereka berdua berniat keluar untuk makan malam. namun Rayan tak sengaja melirik ke arah UGD, dan ternyata sedang ada banyak pasien saat ini. jadi dia urungkan niatnya untuk makan malam.
"bim, kau pergilah makan malam sendiri. aku akan membantu membereskan pasien UGD dulu." ujar rayan pada Bima.
"aku boleh ikut bantu, yan?" tanya Bima berniat menjadikan ini kesempatan untuk dekat dengan dokter Aluna.
"yang tidak berkepentingan tidak boleh masuk, karena hanya akan menganggu aktivitas di sana. sudah sana, lebih baik kau segera pergi saja, hus hus sana." ejek Rayan dengan wajah menyebalkan.
Rayan segera membuka pintu ruangan UGD dan masuk ke dalam, di lihatnya di dalam memang sangat banyak pasien. Bima hanya berdecak sebal dengan sahabatnya itu, apa salahnya sih dia di ajak masuk, toh dia juga tidak akan mengganggu.
Bima celingukan mencari keberadaan Aluna, ternyata Aluna tengah serius mengobati luka pasien dengan di dampingi perawat di sampingnya.
"cantik." gumam Bima.
tiba-tiba bola mata Bima melotot seketika saat melihat pasien yang sedang di obati oleh aluna. seorang pria muda, dengan wajah yang bisa di bilang lumayan lah. pasien itu tengah menatap Aluna dengan lekat, seperti sedang mengagumi kecantikan Aluna.
"ck, sialan! berani-beraninya dia menatap ayang lunlun ku seperti itu, sepertinya mau aku congkel itu biji matanya." gerutu Bima.
"ck, berhenti menatap ayang lunlun ku, dia itu calon ibu dari anak-anak ku, dasar pria sialan." sambung Bima lagi dengan menggerutu tidak jelas, untung saja tidak ada yang memperhatikannya, jika ada maka Bima pasti sudah di sangka gila.
"sedang apa kau?"
__ADS_1
suara itu tiba-tiba mengagetkan Bima, yang sedang asik menggerutu tidak jelas.