pesona istri kontrak

pesona istri kontrak
perhatian


__ADS_3

Nathan menghidupkan lampu ruang tengah, dia berjalan mendekati sofa di mana Aluna tengah memejamkan matanya di sana.


"Aluna." panggil Nathan untuk pertama kalinya menyebut nama Aluna, Nathan menepuk pundak Aluna pelan.


"hah?" Aluna tersentak kaget, dia membuka matanya lebar-lebar dan ternyata sudah ada Nathan duduk di sampingnya.


"e-eh, mas maaf saya ketiduran." ujar Aluna saat sudah sadar sepenuhnya.


"kenapa jam segini baru pulang? kau pasti lelah sekali ya, sampai ketiduran di sini?" Nathan bertanya dengan lembut, dia menatap lekat wajah Aluna yang nampak lelah.


Aluna heran, tumben sekali pria di sampingnya itu berbicara dengan lembut padanya, sangat aneh sekali.


"iya mas, saya pulang terlambat karena pasien lumayan banyak, jadi saya tidak mungkin meninggalkannya begitu saja." sahut Aluna.


"kamu jangan terlalu lelah, jangan terlalu memaksakan diri, nanti kau malah sakit." ujar Nathan perhatian.


'aneh sekali, apa dia salam meminum obat?' batin Aluna.


bagaimana tidak aneh, jika biasanya saja pria itu selalu berbicara ketus dan selalu menghinanya, dan sekarang kenapa berbanding terbalik. pria itu sangat perhatian, seolah sedang mengkhawatirkan dirinya saja.


"oh ya, kamu pulang naik apa tadi?" tanya Nathan.


"naik taksi, mas." jawab aluna sekenanya.


"oh, ya sudah. kau lebih baik istirahat sekarang." perintah Nathan.


"ah, iya mas. saya pamit ke kamar dulu."


Aluna segera melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya, dalam hati dia berpikir, apa yang membuat si arogan itu tiba-tiba baik padanya. namun dia harus tetap berhati-hati, Karena bisa saja pria itu tengah merencanakan hal yang buruk untuknya.


sedangkan Nathan, menatap punggung Aluna dengan tatapan yang sulit di artikan.


di dalam kamar Aluna, wanita cantik itu duduk di pinggiran ranjangnya.


"aneh." pikir Aluna.


"aku tidak boleh kegeeran, aku sangat yakin kalau si arogan itu pasti sedang merencanakan sesuatu untukku." gumam Aluna.

__ADS_1


setelah itu Aluna masuk ke dalam kamar mandi, untuk membersihkan diri. setelah beberapa menit, dia sudah selesai dengan acara bersih-bersih ya, dia segera masuk ke dalam selimut untuk tidur. dia sangat lelah, dan besok juga harus kembali bekerja.


...*...


...*...


pagi hari, hari sudah menunjukkan pukul enam pagi, Aluna sudah bangun dan bersiap untuk membuat sarapan. tapi sebelum itu Aluna harus menjalankan tugasnya lebih dulu, yaitu membangunkan Nathan.


tok tok tok!


hening, tidak ada sahutan dari dalam, Aluna berpikir Nathan memang belum bangun.


"mas, saya masuk ya." ucap aluna sebelum memasuki kamar Nathan.


Aluna mulai memutar handle pintu kamar Nathan, dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam, dan terlihat Nathan masih asik bergelung dengan selimut tebalnya.


Aluna melangkahkan kakinya memasuki kamar mandi, untuk menyiapkan air mandi untuk Nathan terlebih dahulu. setelah selesai, Aluna menuju ke walk ini closed untuk menyiapkan baju Nathan, di letakkannya baju itu di dekat sofa kamar. aluna kembali melangkahkan kakinya mendekati ranjang Nathan.


"mas bangun, ini sudah jam enam." panggil Aluna dari sisi ranjang Nathan.


"mas, bangun." panggil Aluna lagi.


masih tidak ada respon juga dari sang empunya.


"mas." Aluna mencoba memberanikan diri menggoyangkan tubuh nathan, tapi pria itu seperti kerbau mati, tetap tidak ada respon yang di tunjukan pria itu.


kesal sudah Aluna rasanya, ingin sekali Aluna melempar vas bunga yang ada di nakas itu ke kepala nathan agar si arogan itu segera mati saja.


dengan segala kekesalan yang sudah terkumpul di pagi hari, Aluna mendekatkan bibirnya ke telinga Nathan.


"MAS, BANGUN!" teriak Aluna sekuat tenaga, dengan tangan yang mengguncang tubuh Nathan secara brutal.


Nathan langsung membuka matanya karena terkejut mendengar teriakan Aluna, dan saat membuka mata ternyata wajahnya dan Aluna begitu sangat dekat. bahkan hembusan nafas aluna, hangat menerpa wajah Nathan.


deg! jantung Nathan seketika berpacu sangat cepat, dia jadi merasa panas dingin sendiri. bahkan saat ini wajahnya sudah memerah, dia yang tadinya ingin marah, malah melupakannya.


"hah, syukurlah anda sudah bangun." Aluna menjauhkan tubuhnya dari Nathan.

__ADS_1


"mas, wajah anda memerah. apa anda sakit?" tanya aluna dengan tangan terulur, untuk menyentuh dahi Nathan, namun segera di tahan oleh Nathan.


"ck, kau ini apa-apaan, pagi-pagi begini sudah berteriak begitu? kau pikir ini hutan, hah?" ketus Nathan berusaha mengalihkan perhatian Aluna.


"ah, maaf. saya hanya mencoba membangunkan anda saja, karena anda tidak bangun-bangun sejak tadi." sahut Aluna.


"kalau begitu saya keluar dulu, Air mandi dan baju kantor anda juga sudah saya siapkan."


aluna melangkahkan kakinya keluar dari kamar Nathan, dia harus segera membuat sarapan untuk mereka.


sedangkan Nathan, pria itu masih diam terpaku di tempatnya. jantungnya masih merasa deg-degan, aroma hembusan nafas hangat aluna juga masih terasa lembut di Indra penciuman Nathan.


sekitar dua puluh menit, Nathan telah menyelesaikan ritual mandinya. dia masuk ke walk in closed untuk mengganti baju, dan terlihat bajunya sudah di siapkan oleh Aluna di sana. tanpa sadar Nathan tersenyum, dia merasa seperti benar-benar memiliki istri sungguhan.


setelah selesai berpakaian, pria itu segera kekuar kamar menuju keja makan untuk sarapan. dari arah dapur tercium aroma masakan yang sangat menggugah selera.


Nathan duduk di kursi meja makan, dia memperhatikan aluna yang tengah asik memasak. matanya meneliti penampilan Aluna pagi ini, wanita itu seperti biasa mengenakan kaos kebesaran dan celana pendek selutut. rambutnya dia ikat secara asal, memperlihatkan leher jenjangnya.


glup! 'ah, sial! ada apa dengan diriku.' Nathan kesal dengan dirinya sendiri, yang gampang sekali tidak terkendali hanya karena Aluna.


Nathan melangkahkan kakinya mendekati Aluna, dia tiba-tiba menarik pengikat rambut Aluna, hingga rambut wanita cantik itu tergerai indah begitu saja.


"astaga!" Aluna langsung membalikkan tubuhnya karena terkejut, terlihat Nathan tenaga berdiri dekat dengannya dengan memegang pengikat rambut Aluna. untung saja tadi aluna tidak melempar Nathan dengan spatulanya.


"mas, apa-apaan sih." ketus aluna kesal.


"kau sengaja mau menggodaku ya." tuduh Nathan.


"hah?"


Aluna mengernyitkan keningnya bingung, menggoda apanya? dia kan memakai baju tertutup, celananya juga tidak terlalu pendek kok, lalu kenapa dia di tuduh menggoda?


"sudah, biarkan rambutmu seperti itu saja." ujar Nathan seraya kembali berjalan menuju meja makan.


'ck, gila ya itu orang. pagi-pagi sudah membuat emosiku menumpuk sampai ke ubun-ubun.' gerutu Aluna dalam hati.


dia jadi tidak mood untuk memasak, tapi tetap di lanjutkannya saja karena nanggung. bibirnya mengerucut tanda dia benar-benar kesal saat ini.

__ADS_1


__ADS_2