
"benar nyonya, semuanya anda yang akan mengurus." ujar Jo.
"apakah termasuk memasak juga?" tanya Aluna, karena dia berpikir sepertinya tidak mungkin Nathan mau memakan hasil masakannya.
"tentu saja termasuk itu juga, nyonya." sahut Jo sopan.
"tuan Jo, sebenarnya aku tidak keberatan jika harus mengurus seluruh apartemen ini. tapi yang jadi pertanyaanku adalah, apa kah tuanmu itu Sudi untuk memakan hasil masakan ku? secara dia terlihat sangat jijik padaku, dan lagi pula aku juga tidak tahu selera makanan tuan Nathan seperti apa."
"itu bukan masalah nyonya, karena tuan bukan tipe orang yang pemilih makanan, asalkan itu higenis. dan saya rasa anda bisa membuatnya, karena anda adalah seorang dokter." ujar Jo.
Aluna pun mengangguk mengerti, ya dia akan memasak untuk si arogan itu. urusan akan di makan atau tidak yang penting dia sudah melaksanakan tugasnya.
"baiklah tuan Jo, aku mengerti."
"kalau begitu, saya pamit undur diri nyonya. nanti malam tuan akan makan malam di rumah nyonya." ujar Jo memberi tahu.
"apa! kenapa dia pulang?" cibir Aluna, dia kembali teringat akan kejadian tadi malam saat di hotel. lelaki itu pergi tanpa pamit, dan tidak juga kembali setelahnya.
"maksud nyonya?" tanya Jo sedikit mengerutkan keningnya bingung.
"ah, haha tidak ada. aku hanya bertanya saja, lagi pula mau dia pulang atau tidak juga bukan urusan saya." ujar Aluna pada Jo.
"baik nyonya, kalau begitu saya pergi dulu." pamit Jo lagi.
Jo segera bergegas pergi dari apartemen Nathan, sejujurnya Jo merasa sangat kasihan pada Aluna. tuannya itu memanfaatkan aluna, sebenarnya Nathan itu pribadi yang baik. hanya saja banyak prasangka buruk yang bersarang di pikirannya tentang Aluna, dia terlalu di buta kan oleh rasa cintanya pada Jesica, yaitu sang mantan kekasih.
aluna berjalan masuk ke dalam apartemen, dia kemudian memasuki kamarnya. dan benar saja, barang-barangnya sudah tersusun rapi di dalam lemari. entah sejak kapan itu sudah berada di sana, dia juga tidak tahu.
"baiklah Luna, kau harus bisa bertahan. lagi pula ini hanya enam bulan. ya, hanya enam bulan saja. dan setelah itu aku akan bebas dari perjanjian tidak jelas itu. huft" gumam Aluna menyemangati dirinya sendiri.
Aluna sebenarnya tidak yakin akan bisa bertahan selama itu, namun dia akan coba menguatkan dirinya. setelah enam bulan dan dia sudah resmi bercerai nanti, dia akan langsung terbebas dari yang namanya rasa balas Budi, dia tidak perlu di hantui oleh bayang-bayang itu lagi, begitulah yang ada di pikiran Aluna.
"hah, sudahlah terima saja nasibmu Aluna." Aluna tersenyum miris meratapi nasibnya.
__ADS_1
Aluna berjalan keluar kamar, dia berniat ke dapur. dia merasa lapar, dan lagi pula hari sudah mulai sore jadi sekalian saja dia memasak untuk makan malam nanti.
"woah, kulkas ini isinya sangat lengkap."
Aluna yang tadi sempat bingung ingin memasak apa, pun matanya langsung berbinar seketika saat melihat isi kulkas. dia hanya tinggal mengolah bahan yang ada saja, tidak perlu capek-capek berpikir karena di sana sudah lengkap.
...***...
di kantor, Nathan tengah menanyakan tentang aluna pada Jo yang baru saja masuk ke ruangannya.
"bagaimana Jo? apa kau sudah menjelaskan padanya tentang apa saja tugasnya?" tanya Nathan.
"sudah tuan, saya sudah menjelaskannya pada nyonya. saya juga mengatakan jika malam ini anda akan makan malam di apartemen." jelas Jo.
"lalu, bagaimana reaksinya? apa dia sangat senang saat mendengar aku akan pulang?" tanya Nathan yang penasaran.
"nyonya hanya menunjukkan reaksi biasa saja tuan. " sahut Jo.
"apa, benarkah? bagaimana bisa?" tanya Nathan tidak percaya, bisa-bisanya reaksinya hanya biasa saja, seharusnya wanita itu bahagia kan? begitu pikir Nathan.
"ck, ya sudah kau keluarlah." usir Nathan kesal.
"baik tuan, saya permisi." pamit Jo dengan sedikit membungkukkan badannya, kemudian mulai melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Nathan.
'kurang ajar sekali dia, sok jual mahal. biar aku lihat, seberapa bisa kau menolak pesona seorang Nathan Richard.'
Nathan merasa sangat kesal dengan apa yang tadi dia dengar dari Jo, wanita itu kenapa cuek sekali. biasanya dia tidak pernah peduli akan seorang wanita, tapi dengan Aluna kenapa dia terlihat sangat kesal saat di cueki seperti itu? mungkin karena biasanya wanita-wanita akan mengejarnya, tidak seperti Aluna yang malah acuh saja.
kenapa dia harus kesal? bukankah itu yang dia inginkan? dia ingin menjalani kehidupan masing-masing dan tidak saling mencampuri, lalu ada apa dengannya sekarang ini? haha, aneh bukan?
saat sedang asik bergelut dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba pintu ruangan Nathan ada yang mengetuk, membuatnya sadar dari lamunannya.
tok tok tok
__ADS_1
"masuk!" sahut Nathan yang mulai kembali mengambil berkas yang ada di mejanya.
"hei bro." panggil seseorang saat pintu sudah terbuka, seseorang itu berjalan mendekati Nathan.
Nathan mendongak saat mendengar panggilan dari orang yang begitu dia kenali, "bima?"
Nathan kemudian bangkit untuk menyambut sahabat karibnya itu, dia memberikan pelukan ala pria.
"kapan kau tiba?" tanya Nathan.
Bima selama ini mengurus anak perusahaannya yang ada di London,oleh sebab itu mereka sudah lama tidak bertemu.
"kemarin. bagaimana kabarmu? aku lihat kau semakin tampan dan semakin sukses saja." sahut Bima dengan sedikit kekehan.
"kenapa tidak mengabari ku? ya seperti yang kau lihat aku baik-baik saja." ujar nathan Nathan.
"tentu saja agar jadi surprise." timpal Bima.
"kau melupakan sahabatmu ini semenjak kau pergi ke London."
"tentu saja tidak, bahkan kau orang pertama yang aku temui saat aku sampai di Indonesia."
"benarkah?" tanya Nathan terkekeh kecil.
"bagaimana jika nanti malam kita rayakan kepulangan mu, ajak sekalian teman-teman yang lain." usul Nathan sembari berjalan menuju rak minuman yang ada di ujung ruangannya, dia mengambil sebotol wine dari sana.
di ruangan Nathan memang selalu ada wine yang tersimpan di sana, karena jika Nathan sedang stres karena banyaknya pekerjaan yang menumpuk, Nathan pasti akan menenangkan pikirannya dengan meminum wine. Nathan kembali berjalan menuju sofa, dia menuangkan wine ke gelas lalu di berikannya pada sahabatnya itu.
"ide yang bagus." sahut Bima sembari mengangguk menyetujui usulan Nathan.
Bima menerima segelas wine yang di berikan Nathan tadi, mereka berdua sedikit minum sembari berbincang tentang bisnis masing-masing. dan kadang pula di bubuhi kekehan saat bernostalgia tentang masa lalu mereka.
.
__ADS_1
.
jika ada typo, bisa berikan ulasannya agar author bisa memperbaiki. terima kasih sudah mampir yah🙏