
hari sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, namun Nathan tak kunjung datang ke rumah. Aluna kini tengah menunggu kepulangan si pria arogan itu di meja makan, di atas meja sudah tersaji begitu banyak macam makanan yang Aluna masak tadi.
"ck, si manusia arogan itu sudah mengerjai aku sepertinya."
Aluna kesal karena merasa di permainkan oleh suami tidak jelasnya itu, dia sudah lelah menyiapkan masakan dan ternyata si pria arogan itu tidak pulang. sungguh, sangat menjengkelkan sekali bukan? tapi sebenarnya jika di pikir kembali, untuk apa juga Aluna mengunggu kepulangan pria itu? sudah seperti istri sungguhan, yang sedang menunggu suami tercintanya pulang saja. padahal kan dia hanya istri yang di kontrak selama enam bulan saja, Aluna merasa bodoh sendiri di buatnya.
"ck, manusia tidak punya hati itu benar-benar mengerjai aku sepertinya, aku sudah lelah memasak dan ternyata hanya dia permainkan! apa dia pikir ini lucu?"
"untung saja aku sudah makan, coba saja jika tadi aku tidak langsung makan dan menunggu si arogan itu, sudah pasti aku akan mati kelaparan sekarang ini." gerutu Aluna terus menerus.
"eh? kenapa juga aku kesal ya? mau dia pulang atau tidak kan itu bukan urusan ku. kalau pun dia tidak pulang ya bagus dong, aku jadi tidak perlu melihat wajah menyebalkan nya itu. aaargh tapi aku tetap saja kesal!" gerutu Aluna tidak jelas, dia tidak mengerti dengan isi pikirannya sendiri.
"huft! baiklah Aluna tenangkan diri mu, dari pada kau menunggu si Arogan itu lebih baik kau tidur saja sekarang."
Aluna mencoba menetralkan kekesalannya, dia kemudian berjalan meninggalkan meja makan menuju ke kamarnya. sesampainya dia di kamarnya, dia langsung merebahkan tubuhnya. dia hanya ingin segera istirahat karena tubuhnya sangat lelah, sebab seharian ini dia membereskan apartemen Nathan yang luas.
...***...
di lain tempat, tepatnya di salah satu klub terkenal di Jakarta. di sana lah tempat Nathan dan para sahabatnya berkumpul.
"jadi, kau akan menetap di Indonesia atau hanya liburan saja?" tanya Rayan.
"aku di sini Mungkin hanya satu mingguan, aku ke sini hanya untuk bernostalgia di negara kelahiran ku. dan terutama untuk melepas rindu dengan kalian, aku juga merindukan makanan Indonesia." sahut Bima.
"kau tidak rindu berkencan dengan wanita Indonesia?" goda Bram.
"tapi sepertinya tidak ya, karena wanita-wanita di London kan lebih seksi dari pada wanita Indonesia. bagaimana rasanya? sudah pasti kau puas kan, haha." sambung Bram dengan tertawa.
"haha, tentu saja aku suka bro. hanya saja tetap cewek lokal yang paling terdepan, apa lagi kalau untuk di jadikan istri, sudah pasti aku akan mencari cewek lokal." sahut Bima.
"ya kalau itu sih, sudah pasti. lagi pula kita masih muda, tidak perlu memikirkan istri dulu. kita nikmati saja dulu masa muda sepuasnya." timpal Bram.
"halah, kau mana ada puasnya. lihat yang montok sedikit saja, matamu langsung melotot." ejek Rayan.
__ADS_1
pasalnya di antara empat bersahabat itu, Bram lah yang paling ganas jika di bandingkan yang lainnya.
"wah kalau itu tentu saja harus, itu kebutuhan yang harus tercukupi. kalau tidak tercukupi, takutnya nanti bisa-bisa impoten, haha." sanggah Bram tidak mau kalah.
"ngeles terus saja kau, sudah seperti bajaj saja." cibir rayan.
"eh, kemana Nathan tadi?" sambung rayan lagi menanyakan keberadaan Nathan, tadi Nathan pamit pergi ke toilet, tapi sampai saat ini tidak kunjung kembali juga.
"entahlah." sahut Bima.
"bro aku ke toilet dulu, sekalian cari Nathan." pamit Rayan.
sementara di sisi lain, Nathan baru saja keluar dari toilet, dia langsung di kejutkan oleh kehadiran Jo di sana.
"tuan." panggil Jo.
"Jo? ada apa? sejak kapan kau di sini?" tanya Nathan yang sedikit terkejut karena kemunculan Jo.
"ya tuan, saya sudah sejak lima menit yang lalu di sini."
"apa? astaga Jo aku melupakan itu, jam berapa sekarang?"
"sudah hampir pukul sebelas, tuan." sahut Jo.
'sudah larut ternyata, apa benar wanita itu menungguku? huh, aku rasa tidak mungkin. lagi pula jika aku pulang juga sudah telat dari jam makan malam, percuma saja.'
"ya sudah Jo, biarkan saja. lagi pula ini sudah sangat terlambat, aku akan menghabiskan waktu di sini malam ini. kapan lagi bisa berkumpul dengan anggota yang lengkap." ujar Nathan santai.
"tapi tuan, apa anda tidak kasihan pada istri anda? saya rasa nyonya sudah memasak makanan untuk anda, di apartemen." timpal Jo.
"istri? di apartemen?" tanya seseorang yang baru saja datang.
sontak saja, hal itu membuat Nathan dan jo menolehkan kepalanya ke arah sumber suara.
__ADS_1
"what! jadi maksudnya kau sudah menikah? kapan? kenapa tidak memberi tahu?" pekik Rayan dengan pertanyaan beruntun.
"i-itu, em anu." Nathan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia Bingung harus menjawab apa.
sementara Jo, dia sudah meneguk Salivanya dengan susah payah. sudah dapat di pastikan dia akan mendapat hukuman dari Nathan setelah ini, tapi kan siapa juga yang tahu jika ternyata akan muncul Rayan di tengah-tengah perbincangan mereka.
"kau harus menjelaskan semua ini pada kami, ayo cepat!"
Rayan segera menarik tangan Nathan, untuk membawanya ke tempat di mana mereka berkumpul.
dan kini, Nathan sudah berada di tengah-tengah ke-tiga sahabatnya itu. pandangan ke-tiganya sangat mengintimidasi, seperti sedang mengintai musuh. Nathan yang di tatap seperti itu hanya bisa menghela napas berat, dia sudah seperti seorang pelaku tindak kriminal, yang tengah di sidang eksekusi. tapi Nathan berusaha bersikap setenang mungkin.
"jadi, kau sudah menikah?" tanya Rayan membuka suara.
"kapan?" sambung Bima.
"kenapa tidak mengundang?" sahut Bram ikut menimpali.
*)beruntun kayak kereta api ya🤭
"hei sejak kapan kalian menyiapkan semua pertanyaan itu?" tanya nathan berusaha mengalihkan perhatian, tetapi justru malah mendapat pelototan tajam menghunus dari sahabatnya.
"kemarin." jawab Nathan Nathan pada akhirnya.
"jadi, kemarin kau menikah? kenapa tidak mengundang kami? kenapa tidak ada media yang memberitakan pernikahanmu? apa kau menghamili anak gadis orang?" tanya Rayan beruntun, karena sejak mendengar itu tadi, banyak sekali pertanyaan yang beterbangan di otaknya.
"tentu saja tidak." sahut Nathan.
"ck, jawab yang benar!" ketus Bram tidak sabar.
Nathan menghela napas panjang sebelum menjelaskan semuanya, dia tidak menyangka jika pernikahannya ini akan terbongkar di depan sahabatnya secepat ini.
"ceritanya sangat panjang, yang jelas ini bukan pernikahan yang aku inginkan." ujar Nathan.
__ADS_1
"jelaskan." ucap ke-tiga sahabatnya itu dengan kompaknya.