pesona istri kontrak

pesona istri kontrak
lagi?


__ADS_3

Malam telah berganti dengan pagi hari yang sangat cerah, pukul 7 pagi Aluna kini telah sampai di depan pintu apartemen. Dia menekan tombol password apartemen kemudian membuka pintunya, setelah masuk di lihatnya Nathan dan Jo sedang duduk di sofa ruang tamu. sepertinya mereka tengah membicarakan pekerjaan mereka.


Aluna melangkahkan kakinya hendak langsung memasuki kamarnya, bersamaan dengan itu, Jo juga melangkahkan kakinya hendak keluar.


"pagi nyonya Aluna." sapa Jo dengan sedikit membungkukkan badannya sopan, saat mereka berdua berpapasan.


"pagi juga tuan Jo." jawab aluna dengan ramah.


"saya permisi dulu nyonya." pamit Jo dengan menapakan kakinya keluar apartemen.


Aluna hanya mengangguk, kemudian dia berniat melanjutkan langkah kakinya menuju kamarnya, namun Nathan menyapa dirinya.


"Aluna, kau sudah pulang?" tanya Nathan pada Aluna.


'kenapa aku bertanya seperti ini sih? kan sudah jelas Aluna sudah ada di sini, tentu saja dia sudah pulang.' rutuk Nathan dalam hatinya.


"iya mas, saya baru saja pulang." jawab aluna sekenanya.


"di jemput sopir, kan?" tanya Nathan lagi.


Aluna menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, dia rasa tidak perlu menjawab lagi, kan? sudah pasti di jemput supir, kan itu perintah darinya.


"kau sudah sarapan atau belum?"


"sudah, tadi sebelum pulang saya makan di kantin dengan yang lain." jawab aluna.


"ya sudah, kalau begitu kau duduklah dulu di sini."


Nathan menyuruh Aluna untuk duduk di sofa ruang tamu, kemudian pria itu segera berjalan menuju dapur.


Aluna mengernyitkan keningnya merasa bingung, ada yang aneh dengan pria arogan itu. entah rencana buruk apa yang sedang pria itu jalankan. tidak berapa lama, Nathan datang dengan segelas susu coklat hangat di tangannya.

__ADS_1


"ini susu untuk mu, minumlah selagi hangat. kau baru saja dinas malam kan, jadi kau harus menjaga kesehatan mu." ujar Nathan seraya menyerahkan segelas susu itu.


dengan canggung Aluna menerima segelas susu hangat itu dari tangan Nathan, Aluna segera meminum susu itu. dia menghabiskannya dengan cepat, walaupun merasa canggung karena Nathan yang duduk di sebelahnya.


"terima kasih untuk susunya, saya akan meletakkan gelas ini ke dapur dulu." ujar Aluna setelah gelas itu kosong.


"Aluna, tunggu." cegah Nathan saat melihat Aluna akan bangkit dari duduknya.


"ada apa?" tanya Aluna.


Nathan mengeluarkan dua buah black card dari dalam dompetnya, "ini terimalah, satu untuk belanja bulanan. dan yang satunya, terserah mau kau gunakan untuk apa, pokoknya untuk keperluan dirimu. kau bebas menggunakannya."


Aluna melotot karena terkejut, dia tidak menyangka jika akan di berikan black card oleh Nathan, bahkan dirinya juga tidak pernah berharap.


"mas, saya terima yang untuk belanja bulanan saja. kalau untuk keperluan pribadi, saya ada kok. uang tabungan saya juga cukup kalau untuk keperluan saya sendiri." ujar Aluna dengan mengambil satu kartu.


"aku tidak menyuruh mu untuk menolak, terimalah. ini adalah bentuk nafkah yang aku berikan untuk mu, kau mengerti kan?" paksa Nathan agar Aluna mau menerimanya.


"tadi malam Bima dan Rayan tidak menganggu mu, kan?" tanya Nathan.


"eh? tidak kok. tuan Bima adalah pasien saya beberapa hari yang lalu, dan tadi malam hanya menyapa saja. kalau dokter rayan, dia membantu saya menangani pasien UGD, dia tidak menganggu saya kok." jawab aluna.


"lain kali, tidak usah hiraukan mereka. anggap saja mereka angin lalu." perintah Nathan dengan wajah datarnya.


"kalau untuk dokter rayan, sepertinya kami akan banyak berinteraksi. mengingat dia adalah atasan saya di rumah sakit, jadi akan sering membahas tentang pasien." sahut Aluna.


"selain urusan pekerjaan, jangan hiraukan dia." sanggah Nathan cepat.


"memangnya kenapa? bukankah mereka teman-teman anda?"


"maka dari itu, aku tidak suka kau mendekati teman-temanku." ketus nathan.

__ADS_1


"apa!? sejak kapan saya mendekati teman anda? sedangkan kami hanya bertegur sapa biasa saja." kesal aluna tak kalah ketusnya.


"tapi kau senyum-senyum saat berbicara dengan mereka, kau pasti mau menggoda mereka kan?" tuduh Nathan yang tak sejalur dengan hatinya. padahal dia takut jika, salah satu dari mereka bisa merebut hati Aluna.


Aluna yang mendengar tuduhan Nathan pun, tersulut emosi. lagi? kenapa pria itu tidak bisa sekali saja, berpikir positif tentang dirinya. apa Aluna terlihat sebegitu buruknya di mata suami kontraknya itu?


Aluna segera beranjak dari duduknya, dia meletakkan dua kartu yang tadi di berikan Nathan di atas meja. dia marah, dia juga kesal, tapi dia tidak tahu bagaimana cara melampiaskan kemarahannya.


"saya malas mendengar ocehan orang yang selalu berburuk sangka, saya sudah cukup lelah hanya untuk sekedar mendengarnya." ketus aluna dengan berjalan cepat menuju kamarnya.


Aluna sudah terlalu lelah karena baru pulang dari Dinas, dan setelah sampai di apartemen dirinya malah di buat emosi.


"Aluna, tunggu." cegah Nathan dengan mencekal lengan aluna.


"apa lagi sih!" ketus aluna dengan menghempaskan tangan Nathan yang memegang lengannya.


"aku belum selesai bicara."


Nathan langsung berdiri tepat di depan pintu kamar Aluna, mencegah agar wanita itu tidak masuk ke kamarnya.


"apa lagi? hinaan apa lagi yang akan anda lontarkan pada saya? tidak cukup kah kemarin-kemarin anda menuduh saya, dan sekarang anda menuduh lagi? sebenarnya isi kepala anda itu terbuat dari apa, kenapa hanya bersarang pikiran buruk saja?"


mata Aluna sudah berkaca-kaca saat mengatakan itu, tuduhan Nathan. benar-benar telah melukai bagian terdalam hatinya.


"a-aku hanya takut..." ucapan Nathan terputus


"takut kalau saya mengatakan tentang status pernikahan ini! iya, kan? anda tenang saja, saya adalah orang yang paling bisa menjaga rahasia ini. saya juga tidak ingin jika ada orang yang mengetahui status pernikahan ini, karena apa? karena di sini saya lah yang paling di rugikan! apa anda mengerti? jadi berhentilah bersikap seolah anda yang di rugikan di sini! saya sudah cukup diam selama ini menanggapi segala tuduhan yang anda tudingkan pada saya, tapi kenapa anda malah semakin menjatuhkan harga diri saya?" teriak Aluna yang tidak bisa lagi menahan segala kekesalan yang bersarang di hatinya.


Nathan bungkam mendengar perkataan Aluna, dia sendiri juga tidak tahu kenapa dia selalu mengucapkan kalimat tuduhan pada Aluna. padahal dalam hati kecilnya dia khawatir jika Aluna akan di ambil oleh orang lain, terlebih itu sahabatnya sendiri, dia sangat tidak rela jika hal itu sampai terjadi.


"kenapa kita tidak bekerja sama dengan baik saja? kita melakukan ini demi ibu. saya juga tahu anda terpaksa menikah dengan saya, tapi perlu anda ketahui saya juga sangat terpaksa menerima ini. saya tidak pernah minta apapun pada anda, saya hanya ingin anda menghargai saya layaknya manusia, itu saja. dan setelah enam bulan nanti, saya akan pergi menjauh dari kehidupan anda, jauh sejauh-jauhnya!" sambung Aluna lagi.

__ADS_1


__ADS_2