pesona istri kontrak

pesona istri kontrak
perdebatan di pagi hari


__ADS_3

kesadaran Nathan segera merasukinya kembali, dia langsung bersikap setenang mungkin untuk menetralkan gejolak dalam dirinya.


"sedang apa kau di situ?" tanya Nathan dengan dingin.


"oh, saya tadi haus dan sekarang hanya ingin sedikit cemilan saja." ujar Aluna kembali mengambil apel yang baru.


"kalau begitu, saya ke kamar dulu tuan." pamit Aluna.


wanita cantik itu segera berlalu dari hadapan Nathan, dia melangkahkan kakinya memasuki kamarnya kembali.


aroma tubuh Aluna, masih tercium di Indra penciuman Nathan. hal itu membuat Nathan semakin frustasi saja, dia tidak mungkin mengagumi istrinya itu kan? tidak! itu tidak akan mungkin, karena dalam hatinya hanya Jesica yang paling istimewa. dia mencoba berpikir positif. mungkin ini efek dirinya terlalu banyak minum, ya begitulah.


"sadarlah Nathan, kau tidak boleh tergoda pada wanita itu, kau hanya boleh tergoda pada Jesica saja. argh, sial tapi aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diriku. aku bahkan tidak pernah seperti ini sebelumnya, kenapa aku begitu berhasrat?"


Nathan memukul kepalanya beberapa kali, guna mengembalikan pikiran positifnya. dia kemudian mulai melangkahkan kakinya, berniat masuk kamar. tapi saat melewati meja makan, manik matanya melihat ada makanan di atas meja. dia membuka tudung saji Karena penasaran, dan terlihat banyak sekali makanan yang tersaji, sangat menggugah selera.


"dia benar-benar memasak? apa dia juga tadi menungguku?" gumam Nathan.


Nathan segera duduk di kursi, dia jadi merasa lapar saat melihat masakan Aluna yang menggugah selera. di balikkannya piring yang sudah tersedia di sana, kemudian mulai menyendok nasi lalu di susul lauk pauknya.


"hemm, enak juga." gumam Nathan saat sudah menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


Nathan terus menikmati makanan itu, hingga makanan yang ada di piringnya kosong. dia bahkan sempat nambah juga. setelah di rasa kenyang, pria itu melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


...***...


pagi hari yang cerah, Aluna kini tengah memasak untuk sarapan. wanita itu mengenakan kaos kebesaran, dan celana pendek selutut. rambut panjangnya, dia ikat asal agar tidak menganggu aktivitas memasaknya.


'ternyata si arogan itu memakan makanan yang aku masak, padahal kan sudah dingin. tapi ya sudahlah biarkan saja.'


dan entah sejak kapan Nathan sudah duduk di kursi meja makan, dia memperhatikan aluna yang cekatan saat memasak. nampaknya wanita itu tengah membuat nasi goreng sosis.

__ADS_1


"ekhem." dehem Nathan.


"astaga!" Aluna hampir saja melempar spatula di tangannya, karena terkejut. dia memegangi dadanya yang berdebar kencang.


aluna menoleh, "Ah, tuan Nathan. anda sudah bangun ya? tunggu sebentar tuan."


Aluna segera menyelesaikan acara memasaknya, setelah selesai dia menyajikannya di meja makan, tepat di depan Nathan.


"tuan, silahkan sarapannya." ujar Aluna mempersilahkan.


Aluna kemudian beranjak membuatkan kopi untuk Nathan.


"kenapa tidak membangunkan ku? aku jadi telat ke kantor gara-gara kau." ketus Nathan menyalahkan.


"saya sudah membangunkan Anda tadi, saya bahkan sudah mengetuk pintu kamar anda berulang kali. tapi anda tidak menyahut, jadi itu bukan salah saya dong." sahut Aluna tidak terima. wanita cantik itu meletakan secangkir kopi hitam pahit di depan Nathan dengan malas.


'apa sih maksud si arogan ini, main menyalahkan saja. ya salah dia sendiri kenapa tidak langsung bangun saat aku ketuk pintu tadi, huh menyebalkan sekali.' kesal aluna dalam hati.


Aluna mengerutkan keningnya bingung, matanya sedikit memicing mendengarnya.


"dan seharusnya kau itu menyiapkan air mandi untukku, juga baju kantorku. kau ini bagaimana sih? begitu saja kau tidak tahu, tidak becus sekali jadi istri." sambung Nathan lagi.


Aluna semakin memicingkan matanya saat mendengar semprotan dari Nathan, lagi? what! pagi-pagi begini dia sudah mendapat semprotan sepanjang ini dari suami tidak jelasnya itu? hah, hari yang tadinya begitu cerah berubah mendung seketika, membuat mood Aluna hancur saja.


"hah? apa saya tidak salah dengar tuan? saya ingat dengan jelas loh, kemarin tuan Jo memberi tahu saya, bahwa saya di larang memasuki kamar anda. bagaimana sih, tidak jelas sekali." ketus Aluna sebal.


Nathan terdiam, benar juga yang Aluna ucapkan. dia memang melarang siapapun masuk ke dalam kamarnya, bahkan dulu saat masih ada pelayan, pelayan itu masuk ke kamarnya hanya untuk bersih-bersih dan mengambil pakaian kotor, setelah itu harus segera keluar.


"benar juga, ya sudah kalau begitu aku ijinkan kau masuk ke kamarku. bangunkan aku setiap pagi, siapkan air mandi untukku dan baju kerjaku. kau juga harus merapikan kamarku tanpa menyentuh semua barang-barang." putus nathan.


Aluna mengangkat alisnya sebelah, dia sedang mencerna perkataan Nathan barusan.

__ADS_1


'hah, apa katanya tadi? merapikan tanpa menyentuh? apa lagi ini tuhan, ini sebenarnya aku yang bodoh atau bagaimana sih?' gerutu Aluna dalam hati.


"apa maksud ucapan anda tuan?"


"kau tidak mengerti juga!" ketus Nathan.


"tuan Nathan yang terhormat, bagaimana saya bisa merapikannya jika saya di larang menyentuhnya?" tanya aluna dengan nada yang pelan, dia tengah menahan kekesalannya sekarang ini.


"hah? memangnya aku bilang begitu?" tanya Nathan bodoh.


"ya tuan Nathan, anda baru saja mengatakannya." sahut Aluna malas.


"ya sudah, pandai-pandailah otak mu berpikir."


"what!" pekik Aluna tidak percaya.


'selain arogan dia ternyata juga gila dan bodoh.' maki Aluna dalam hati.


"kau sudah paham kan? seharusnya sudah. mulai besok pagi kau sudah harus mulai melaksanakan tugas itu." enteng Nathan.


"tapi tuan-"


"sudah, tidak usah membantah. kau hanya harus melaksanakannya, aku tidak mengijinkan mu untuk menolak." sanggah Nathan cepat.


Nathan kemudian mengambil secangkir kopi yang sudah di siapkan Aluna tadi, dia tidak ingin Aluna membantah perintahnya. dia memang sengaja membuat wanita itu kesal, tujuannya agar wanita itu menyesal karena telah menikah dengannya.


Nathan menyeruput kopi itu sambil otaknya menyusun ide-ide jahat untuk Aluna, dia akan memberikan Aluna banyak pekerjaan rumah, lalu dia akan membuat gadis itu kesal di setiap harinya. hah, membayangkannya saja sudah membuat Nathan senang sendiri. tanpa sadar, senyum jahat terbit dari bibir pria itu.


Aluna yang sudah duduk di depan Nathan dan bersiap untuk sarapan pun, menyadari senyuman Nathan. di otaknya terlintas, apa pria ini sedang merencanakan hal buruk untuknya? hingga membuat si arogan ini tersenyum mengerikan seperti itu?


"tuan, kenapa anda tersenyum seperti itu? jangan bilang, tuan sedang merencanakan ide jahat untuk saya ya? anda ingin mengerjai saya seperti tadi malam lagi?" tuduh Aluna, dan sialnya tuduhan itu tepat sasaran.

__ADS_1


__ADS_2