
Aluna mendorong kasar dada Nathan, dia sudah menangis sejadi-jadinya. dia tidak peduli lagi jika Nathan akan menganggapnya lemah, atau cengeng atau apalah itu. yang ingin Aluna lakukan sekarang ini adalah meluapkan sesak di dadanya, agar dirinya merasa sedikit lega.
"Aluna aku minta maaf, aku salah. maafkan aku, yang sudah salah sangka pada mu."
Aluna tidak menjawab permintaan maaf dari Nathan, wanita itu hanya membuang muka karena tidak ingin bersitatap dengan si arogan yang berdiri di depannya itu.
Nathan segera membawa aluna ke dalam dekapannya, hatinya seakan sakit melihat Aluna menangis seperti ini. ada rasa tidak rela hinggap di hatinya saat Aluna mengatakan, akan menjauh dari hidupnya saat sudah berpisah nanti. aneh! dia membenci Aluna, tapi dia juga merasa hatinya mulai terpikat pada istrinya itu.
Aluna mematung untuk beberapa saat, setelah kesadarannya kembali, dia berusaha melepaskan pelukan Nathan, namun pria itu malah semakin mengeratkan pelukan mereka. seakan tidak ingin kehilangan.
"aku minta maaf luna, kamu benar seharusnya kita bekerja sama untuk kesembuhan ibu. maafkan aku yang sudah menyakitimu dengan menuduh mu yang tidak-tidak, mulai sekarang kita akan menjadi partner yang baik. kamu mau kan, memaafkan ku?" ujar Nathan seraya melepaskan pelukannya, dan hal itu membuat Aluna segera menjauh dari pria itu.
"anda berjanji kan, tidak akan menuduh saya yang tidak-tidak lagi?" tanya Aluna memastikan.
"aku janji, aku akan memperlakukan kau dengan baik setelah ini. kau bisa pegang kata-kata ku." jawab nathan dengan pasti.
"ya sudah, janji dulu." pinta Aluna.
"saya kan sudah berjanji Aluna." Nathan mengernyitkan keningnya bingung.
"kelingkingnya mana?"
Nathan menaikkan sebelah alisnya, ada-ada saja kelakuan Aluna ini. janji kenapa harus pakai kelingking segala sih? sudah seperti bocah saja.
"ck, kau ini." decak Nathan, tapi tetap mengulurkan kelingkingnya, dia merasa aneh dengan dirinya sendiri kenapa dengan mudahnya menuruti perkataan Aluna.
"mulai sekarang sampai enam bulan ke depan, kita adalah partner." ujar Aluna dengan menautkan kelingking mereka.
"oke kita sudah deal." sahut Nathan dengan mengacak-acak rambut Aluna gemas.
"eh, kenapa anda belum berangkat ke kantor mas? tadi tuan Jo sudah pergi duluan, kenapa tidak pergi bersama?" tanya Aluna.
"aku ada meeting dengan klien di tempat lain, sedangkan Jo langsung ke kantor." jawab Nathan.
__ADS_1
"oh begitu."
'oh saja lah, aku bingung harus mengatakan apa lagi. dan lagi pula itu bukan urusanku, ya kan?' batin Aluna.
"em, mas saya ke kamar dulu ya. soalnya saya mau istirahat, saya juga ngantuk." ujar Aluna.
"ah, iya. kau istirahat lah, aku juga akan segera berangkat."
Aluna mengangguk mengiyakan, dia segera memutar handle pintu kamarnya, saat dia akan masuk nathan kembali mencegahnya.
"Aluna."
"ya, ada apa ya?" tanya Aluna dengan dada yang berdegup kencang.
"kalau kau lelah tugas di UGD, aku bisa menyuruh orangku untuk memindahkan mu ke ruang perawatan saja, agar tidak terlalu lelah. ruang rawat VVIP misalnya, di sana kan tidak terlalu menguras tenaga." tawar Nathan.
"eh, tidak perlu mas. saya di UGD saja, kalau pun mau pindah tugas itu saya ingin bertahap. jadi agar saya punya pengalaman juga di bidang yang lain." tolak Aluna.
"saya yakin mas, di UGD juga enak kok, saya nyaman. orangnya juga baik-baik semua, jadi tidak perlu di permasalahkan." jelas Aluna.
"ya sudah kalau itu keputusan mu, kalau seandainya nanti kau berubah pikiran. kau bisa mengatakannya padaku, kau mengerti?"
"baik mas, saya mengerti. kalau begitu saya permisi masuk ke kamar dulu."
Aluna segera masuk dan menutup pintunya kembali, debaran jantung semakin tak beraturan. jantungnya ini kenapa tidak bisa diam sih? masa hanya berhadapan dengan Nathan saja dia jadi tidak tahu diri seperti itu.
Aluna meletakan tas nya di meja samping tempat tidur, dia mendudukkan dirinya di tepi ranjang. debaran jantungnya masih belum normal, dia berusaha mengendalikan dirinya sendiri.
"ada apa sih dengan jantungku ini? apa aku terlalu lelah, sampai jantungku seperti ini? ah iya, sepertinya ini efek aku terlalu lelah. hah sudahlah, lebih baik aku segera istirahat. semoga nanti setelah bangun sudah baik-baik saja." gumam Aluna kemudian membaringkan tubuhnya di ranjang, dia sudah cukup lelah hanya untuk mencuci muka.
ini adalah pertama kalinya dia merasakan hal seperti ini, karena sebelumnya dia tidak pernah menjalin hubungan dengan pria manapun, jadi dia tidak tahu pertanda apa ini.
...***...
__ADS_1
Aluna mulai mengerjapkan matanya, perutnya terasa keroncongan. dia sadar ini pasti sudah siang, karena dirinya merasa sudah tidur lumayan lama.
"hoaam, sudah siang ternyata." lirih Aluna saat melirik jam di atas nakas, sudah menunjukkan pukul satu siang.
Aluna duduk sembari meregangkan otot-ototnya, yang terasa kaku.
"ah aku sudah tidak berdebar-debar lagi, benar kan, aku hanya kelelahan." pikir Aluna.
kryuk!
"ah aku lapar." gumam Aluna dengan memegangi perutnya.
Aluna segera bangkit dari ranjangnya, kemudian dia langsung merapikan sprei agar rapi kembali. setelah selesai, dia langsung melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi, untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
dia puluh menit kemudian, Aluna sudah selesai dengan acara mandinya dan sudah lengkap dengan pakaiannya. dia melangkahkan kakinya keluar kamar menuju dapur untuk memasak makan siang dirinya, dia benar-benar sudah sangat lapar saat ini.
Namaun saat melewati meja makan, wanita itu melihat bungkusan plastik di sana.
"eh, apa itu?"
Aluna beranjak mendekati bungkusan itu, di bukanya dan ternyata isinya adalah makanan. terlihat di dekatnya ada secarik kertas dan dua buah black card, yang tadi pagi Nathan berikan untuknya.
ini makan siang untukmu, jangan lupa di habiskan ya. dan kartunya juga simpanlah. begitu isi dari secarik kertas itu, sepertinya Nathan sendiri yang menulisnya.
"woah kebetulan sekali aku sedang lapar, dia tau saja deh."
girang Aluna yang langsung membuka satu-persatu isi dari makanan itu, dia mengeluarkannya kemudian mulai memakannya.
"eh, ternyata dia baik juga ya, perhatian lagi. aku kira dia hanya bisa menyebalkan saja, ternyata masih punya sisi baik juga toh." pikir Aluna di sela-sela kegiatan makannya.
'eh tapi jangan terlalu baik, nanti kalau aku malah jatuh cinta sama dia bagaimana? hiks malang sekali nasib ku, pokoknya aku harus memperkuat benteng pertahananku agar jangan sampai jatuh ke dalam pesonanya.' batin Aluna mengingatkan dirinya sendiri.
"oke, baiklah Aluna semangat untuk dirimu sendiri. kau harus bisa mengendalikan dirimu, agar nanti saat sudah berpisah dengannya kau tak sakit hati. ini semua demi ibu, ya hanya demi ibu." Aluna kembali menyemangati dirinya.
__ADS_1