
sore hari, cuaca sedang mendung. bahkan rintik-rintik hujan mulai turun membasahi bumi, jika di lihat dari mendungnya, sepertinya hujan itu akan awet sampai malam nanti. kondisi rumah sudah rapi, karena setelah makan siang tadi Aluna langsung bersih-bersih apartemen mereka.
Aluna berdiri di depan jendela kamar apartemen, dia memandangi rintikan hujan itu. dia menulis nama di kaca jendela yang mengembun, pikirannya kembali melayang ke kehidupannya enam bulan ke depan. akankah pernikahan ini berjalan seperti ini terus, atau akan berjalan selayaknya rumah tangga pada umumnya? ah, jika memikirkan itu, Aluna ingin menangis saat ini juga. dia merasa ini tidak adik untuk hidupnya, kenapa tuhan membuatnya sebatang kara, dan sekarang malah semakin sengsara. tapi dia berpikir kembali, ya inilah takdir. semua sudah tuhan tuliskan di garis takdir, kita sebagai manusia bisa apa selain pasrah dan bersyukur? iya, kan?
"Bu, Luna minta maaf jika suatu saat nanti membuat ibu kecewa karena perpisahan kami. tapi kau bagaimana lagi, cinta tidak bisa di paksakan. putra ibu mencintai wanita lain, dia juga terpaksa menjalani pernikahan ini. setelah ibu sembuh nanti, Luna akan langsung mengajukan perpisahan. ibu tidak bisa memaksa putra ibu untuk terus hidup bersama Luna, dia memiliki kebahagiaanya sendiri, Luna harap ibu akan mengerti." lirih Aluna, yang tanpa sadar setetes air mata lolos begitu saja.
sebenarnya setelah memutuskan untuk memenuhi permintaan ibu Lita, Aluna akan berusaha menerima pria yang akan menjadi suaminya itu. tapi ternyata setelah pernikahan Nathan malah mengajukan kontrak, dan itu membuat Aluna mengurungkan niatnya untuk menerima Nathan. dia juga sadar, dirinya memang tidak ada apa-apanya dengan Jesica, kekasih nathan. mantan kekasih lebih tepatnya.
Aluna mengusap air matanya, kemudian memejamkan mata dan menghela nafas pelan, 'kau harus kuat Aluna, hanya sebentar lagi.'
aluna melangkahkan kakinya keluar kamar, dia harus segera ke dapur untuk memasak makan malam. tanpa sengaja manik matanya menangkap sesuatu, dia melihat gorden jendela ruang tamu terlepas sebelah kaitannya. dia harus memperbaikinya, tetapi terlalu tinggi untuk di jangkau. wanita itu mengambil kursi untuk di jadikan pijakan.
"ah, sedikit lagi." Aluna sampai harus berjinjit untuk menggapai bagian atas gorden itu.
"ah, akhirnya sudah selesai."
saat Aluna akan turun, kursi itu sedikit bergoyang, membuat Aluna kehilangan keseimbangan. dan hal itu membuat Aluna,
"Aaaaa." teriak Aluna dengan mata yang terpejam, tapi kenapa seperti ada yang menyangga nya dari belakang.
Aluna perlahan membuka matanya, dia terkejut saat wajah Nathan begitu dekat dengan wajahnya. hembusan napas nathan terasa hangat menerpa bagian wajahnya, dan jangan lupakan, tangan Nathan yang ternyata bertengger di b*kongnya untuk menyangganya.
"Aaaa lepaskan!" teriak Aluna histeris.
dengan patuhnya Nathan malah melepaskan Aluna begitu saja, dan jadilah tubuh Aluna jatuh ke lantai karena tidak ada lagi yang menopangnya.
__ADS_1
bruk!
"aaaws, sakit." rintih Aluna dengan memegang pinggang dan b*kongnya yang terasa nyeri akibat mencium lantai.
"aluna, maafkan aku. aku tidak sengaja melepaskan mu tadi, aku hanya terkejut karena kau berteriak di dekat telingaku." ujar Nathan merasa bersalah, lelaki itu kemudian mengulurkan tangannya untuk membantu Aluna berdiri.
"tidak mau!" ketus aluna yang kesal bercampur malu dengan kejadian yang menimpa mereka barusan.
dengan perlahan dia bangkit sendiri, tangannya masih tetap memegang pinggangnya yang terasa seperti encok itu.
"apa sakit? yang mana yang sakit?" tanya Nathan dengan manik mata yang memindai tubuh Aluna.
Aluna tidak menjawab, wanita itu benar-benar kesal karena Nathan yang seenaknya melepaskan topangan tangannya, membuat dia terjatuh sampai di cium lantai. eh? tapi kan Nathan hanya menuruti perkataannya saja kan? ah entahlah, pokoknya Aluna benar-benar kesal sekaligus malu saat ini.
"pinggangnya sakit ya?" tanya Nathan lagi dengan tangan terulur untuk memegang pinggang Aluna, namun segera di tepis oleh wanita itu.
Nathan kembali mengulurkan tangannya hendak mengusap b*kong aluna, membuat wanita itu mendelik sebal.
"hey stob it! jangan sentuh saya." semprot Aluna dengan wajah berangnya.
memang dasar laki-laki, entah benar-benar merasa kasihan atau ada unsur mesum di dalamnya, keduanya nampak tidak bisa di bedakan.
"ah, hehe. maaf Aluna kelepasan." Nathan menggaruk tengkuknya saat menyadari kebodohan dirinya.
"sorry Aluna, aku tidak bermaksud apa-apa. itu benar-benar murni kecelakaan, aku tidak sengaja menyentuhnya." jelas Nathan.
__ADS_1
"ck, sudahlah tidak usah di bahas lagi. saya malu tahu." ujar Aluna dengan wajah yang memerah karena malu.
Aluna melangkahkan kakinya, meninggalkan Nathan.
"eh Aluna tunggu, kau mau ke mana?" tanya Nathan sembari mengikuti langkah kaki Aluna, dan ternyata wanita itu memasuki kamar Nathan.
"eh, kau kok masuk ke kamarku? kau mau mengajak aku ngapain di sini?" goda Nathan dengan segala pikiran mesum nya.
"ck, tidak usah berpikir aneh-aneh. saya hanya akan menyiapkan air mandi untuk anda, agar anda bisa mandi sekaligus memandikan otak anda agar tidak kotor." berang Aluna lagi, seraya melangkahkan kakinya memasuki kamar mandi milik Nathan.
"eh? begitu ya?" Nathan merasa bodoh sendiri dengan pikirannya yang tidak bisa di ajak kompromi, gara-gara tidak sengaja memegang b*kong aluna tadi, dia menyugar rambutnya guna menetralkan pikiran kotor yang bersarang di kepalanya.
Aluna keluar dari kamar mandi, setelah selesai menyiapkan air. wajahnya masih saja masam, dia bahkan enggan menatap manik mata nathan.
"airnya sudah siap, mandi sana. saya mau masak dulu." ujar Aluna melengos begitu saja meninggalkan Nathan.
dapat Nathan dengar, langkah kaki Aluna yang di hentak-hentakkan di lantai, "apa dia benar-benar marah?" Nathan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"bagaimana kalau dia benar-benar marah? bagaimana cara aku membujuknya ya?" gumam Nathan.
"tapi kalau di lihat-lihat, kenapa dia begitu menggemaskan sih? dia marah tapi kenapa malah terlihat begitu imut? bibirnya yang manyun, wajahnya yang merah, matanya yang bulat saat marah. argh, gila dia membuatku gila."
Nathan kembali membayangkan kejadian saat Aluna terjatuh tadi, wajahnya memerah saat mengingat bahwa dia tadi tanpa sengaja menyentuh bagian aset Aluna. yah walaupun itu hanya bagian belakang saja, tapi sudah cukup membuatnya panas dingin.
"aargh sial, ada apa dengan ku?"
__ADS_1
Nathan menggeram kesal saat membayangkan wajah menggemaskan Aluna, malah membuat adik kecilnya menegang begitu saja.
Nathan segera bergegas memasuki kamar mandi, dia haru segera mendinginkan pikirannya jika tidak mau tersiksa. walau bagaimana pun kan, dia adalah pria normal. tentu kejadian kecil tadi mampu membuat gejolak di dalam dirinya.