
"eh, dokter luna sudah masuk lagi toh. kebetulan saya mau pergi kondangan saudara siang ini, saya izin pergi dulu ya dok kita operan tugas. ini saya sudah di tunggu suami saya." ujar dokter Wina salah seorang rekan Aluna di UGD.
"oh, iya dokter Wina tidak apa-apa kok. lagi pula saya sudah di sini, dokter pulang sekarang saja." sahut Aluna.
"iya dok, terima kasih loh. saya pergi dulu ya, soalnya saya buru-buru ini." pamit dokter Wina.
"iya, dok hati-hati." sahut aluna.
Aluna langsung mengambil buku catatan tugas, dan dia melihat nama-nama daftar pasien.
"dok, ada pasien yang baru masuk. pasien mengalami luka kecil karena kecelakaan, apa sudah mau di periksa sekarang?" tanya seorang perawat pendamping aluna bertugas.
"apa lukanya serius?" tanya Aluna.
"sepertinya hanya luka ringan saja dok." sahut suster.
"baik sus, kita periksa sekarang. tolong bawa peralatan untuk mengobati lukanya juga ya." ujar Aluna.
"baik dok."
mereka pun melangkahkan kakinya untuk memeriksa keadaan pasien.
"ini dok, pasiennya bernama tuan Bima." ujar suster saat mereka sudah sampai.
"siang tuan, saya obati dulu lukanya ya." ijin aluna sebelum memeriksa.
Bima yang sejak tadi tidak memperhatikan dokter datang pun, segera menoleh saat mendengar suara lembut Aluna.
deg! jantungnya tiba-tiba berdebar kencang, saat manik matanya bertabrakan dengan bola mata indah milik Aluna. dia bahkan seperti tidak ingin mengalihkan panfangannya walau hanya sedetik saja.
'wow, gila! cantik sekali dokter ini.' gumam Bima dalam hati.
"tuan? bisa saya obati lukanya sekarang?" panggil Aluna lagi.
"e-eh, i-iya dok. bisa kok." sahut bima gugup.
Aluna pun mulai mengobati luka yang ada di pelipis kepala Bima, bima hanya diam terpaku. dia tidak merasakan sakit atau perih, yang dia rasakan saat ini adalah jantungnya yang seperti sedang marathon. dia hanya fokus pada aluna saja, aroma dokter ini begitu lembut, begitulah yang ada di pikirannya.
__ADS_1
"oke tuan Bima, sudah selesai. apa ada keluhan lain lagi?" tanya Aluna saat sudah selesai mengobati.
"ada dok, jantung saya seperti mau meledak." ujar bima polos.
"hah?" Aluna mengernyitkan keningnya bingung, dia kemudian menatap suster yang ada di sebelahnya, mungkin saja suster tahu apa maksud ucapan pasien itu.
suster yang di tatap pun seolah tahu arti tatapan Aluna, kemudian suster itu menggeleng tanda tidak tahu.
"maaf tuan, apa maksud anda, anda memiliki riwayat sakit jantung begitu?" tanya Aluna.
"e-eh, t-tidak kok dok tidak. tidak ada." sahut Bima gugup setengah mati, karena keceplosan.
"ah, baiklah tuan anda sudah bisa pulang. saya akan resepkan obat dan salep untuk luka anda agar cepat kering." ujar Aluna dengan menuliskan resep obat.
"ini tuan, anda bisa menebusnya di apotek rumah sakit." sambung akuna dengan memberikan resep obat.
"maaf dokter, dengan dokter siapa ya?" tanya Bima, yang sudah bisa menguasai kegugupannya.
"Aluna tuan." sahut Aluna.
"terima kasih banyak dokter Aluna." ujar bima.
Aluna dan suster pun berjalan meninggalkan Bima untuk kembali ke ruangan jaga mereka.
sedangkan Bima, masih diam terpaku di brankarnya.
'tepat sekali, dia calon ibu dari anak-anak ku. pantas saja selama ini aku belum menemukannya, ternyata dia bersembunyi di sini.' batin Bima yang tertarik dengan Aluna.
sementara di ruangan jaga UGD, Nina suster tadi tersenyum melihat Aluna. Aluna yang menyadari sedang di tatap pun bertanya.
"ada apa mbak nin? kenapa melihat saya seperti itu? apa ada yang aneh?" tanya Aluna sopan.
"dokter luna sangat beruntung, sudah cantik, baik, pintar dan pantas saja banyak pria yang menyukai anda." ujar Nina.
"memangnya siapa yang suka sama saya?"
"tuan Bima tadi sepertinya menyukai anda dok, di lihat dari tatapannya saat memandang anda sih begitu." sahut Nina.
__ADS_1
"ada-ada saja suster ini, dia tadi kan hanya sedang memperhatikan penjelasan saya tadi. masa begitu saja di simpulkan suka sih sus, lagi pula saya juga tidak mengenal tuan tadi." Aluna berkata sembari menggelengkan kepalanya kecil, kemudian dia membuka buku catatan tugas.
"kalau orang cantik tuh begitu, tidak sadar kalau ada yang naksir." Nina di buat gemas sendiri dengan sikap cuek Aluna.
"eh dengar-dengar tuan bima itu temannya tuan Nathan loh, sama dengan dokter Rayan kepala rumah sakit ini." sahut Mira perawat lainnya.
"wah, kak bima sahabat tuan Nathan ya tadi? sudah lama tidak ke sini, karena setahuku sih dia sudah lama menetap di London." timpal perawat pria.
"semoga saja dia kembali menetap di sini, lumayan bisa buat cuci mata untuk kita-kita ini." sahut Nina.
"dokter Rayan dan tuan Nathan juga tampan. terlebih tuan Nathan, sudah tampan, sukses dan yang paling penting dia adalah anak dari pemilik rumah sakit ini, pasti yang menjadi pasangannya nanti sangat beruntung." heboh Mira.
deg! ada rasa yang sedikit mencubit hatinya, saat mendengar wanita lain memuji suaminya. entahlah Aluna juga tidak tahu.
"tapi sayangnya tuan Nathan memilih si model sombong itu, memang cantik sih, tapi kalau atitude nya jelek ya untuk apa kan." ujar Nina.
"tapi kan kabarnya sekarang mereka sudah putus, ya itu berita yang bagus dong. lagi pula dari yang aku dengar, ibunya tuan Nathan tidak merestui hubungan mereka kan." ujar Mira.
"eh, sudah-sudah kenapa malah menggosipkan hal yang tidak penting. kita lanjutkan tugas masing-masing ya." ujar Aluna saat mendengar cerita mereka sudah merembet kemana-mana.
...*****...
sementara di lain tempat, Nathan sedang duduk sedang duduk santai di apartemen bram. dia tidak ke kantor karena malas, tentu saja alasannya karena dia terlambat tadi pagi, jika sudah seperti itu dia jadi malas.
"nath, bagaimana dengan istrimu?" tanya Bram membuka percakapan.
"bagaimana apanya?" tanya Nathan cuek.
"kau tidak memperhatikannya ya? walau bagaimanapun dia itu istrimu nath, kau harus memberinya nafkah lahir dan batin lengkap." nasehat Bram.
"ck, sialan kau Bram, membuat moodku hancur saja." kesal Nathan.
"nath aku bukan ingin sok menasehati mu ya, hanya saja menurutku kau harus memperlakukannya dengan baik. mungkin kau menganggapnya tidak penting, tapi bagi ibumu dia sangat penting nath. jika kau menyakitinya sama saja kau menyakiti ibumu, kalau bukan berkat dia ibumu juga belum tentu sekarang mau menjalani pengobatan kan?" jelas Bram.
Nathan diam, dia tidak mengeluarkan suara apapun, dia sedang mencerna semua ucapan Bram barusan.
"lagi pula kau kan hanya menikah dengannya selama enam bulan saja, selagi waktu masih berjalan perlakukan dia dengan baik, ya anggap saja sebagai rasa terima kasihmu untuk dia. karena sedikit banyaknya dia juga turut berperan dalam kesehatan ibumu, kau seharusnya bersyukur. karena menurutku dia yang paling di rugikan di sini, menikah selama enam bulan kemudian bercerai dan dia mendapat gelar janda. aku rasa tidak ada wanita yang ingin menjadi janda." sambung Bram lagi.
__ADS_1
ya walaupun Bram sering kali bermain wanita, tapi dia juga punya akal yang baik bagaimana cara memperlakukan wanita. bisa di bilang, dia hanya belum bertemu pawangnya saja, hehe.