pesona istri kontrak

pesona istri kontrak
tugas aluna


__ADS_3

Aluna kembali menundukkan pandangannya, untuk membaca poin yang tertulis di dalam surat kontrak itu.


Poin pertama: Setelah pernikahan berjalan enam bulan, maka pihak suami akan menceraikan istri.


Poin ke-dua: Di larang mencampuri urusan masing-masing.


Poin ke-tiga: Istri di larang jatuh cinta pada suami.


Poin ke-empat: Tidak akan ada kontak fisik selama ikatan pernikahan.


Aluna menghela nafas pelan setelah membaca isi dari surat tersebut, dia senang pada poin ke lima. Karena di situ jelas sekali, bahwa dirinya tidak harus melayani suaminya itu. Cukup menguntungkan, begitu kiranya yang dia pikirkan.


"Oke, aku rasa tidak buruk. Aku akan menanda tangani surat ini, tapi aku juga akan menambahkan satu poin lagi." Ujar aluna.


"Silahkan." Timpal Nathan.


Aluna kemudian menambahkan poin itu di sana, setelah selesai di kembali memberikan map itu pada Nathan.


"Ini tuan." Ujar Aluna memberikan map.


Nathan membuka map itu, guna melihat poin apa yang di tambah oleh si gadis udik itu. Dia menaikkan sebelah alisnya saat membacanya.


Poin ke-lima: Suami di larang jatuh cinta pada istri.


"Kau yakin dengan poin yang kau tulis ini?" Tanya Nathan dengan pandangan mengejek.


"Kenapa?" Tanya Aluna.


"Ck, percaya diri sekali rupanya kau ini. Tapi tidak masalah, silahkan saja kau menghalu." Nathan tersenyum merendahkan. Kemudian Nathan bangkit, berniat keluar dari kamar.


"Ya, kita lihat saja nanti ke depannya bagaimana. Jika sampai suatu saat itu terjadi, maka anda jangan jangan mengemis cinta pada saya." Timpal Aluna percaya diri, sambil menirukan gaya berbicara Nathan.


Nathan menghentikan langkahnya sejenak, dia sungguh tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh wanita yang baru saja menjadi istrinya itu. Apa tadi katanya? Nathan mengemis cinta padanya? heh, itu tidak mungkin terjadi. Begitulah kira-kira pengartian dari pikiran Nathan.

__ADS_1


"Dan satu lagi tuan, saya memang tidak pantas menjadi pendamping hidup anda. Tapi jika di pikir-pikir lagi, sepertinya andalah yang tidak pantas menjadi pendamping hidup saya. Kenapa?" Tanya Aluna sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Karena anda murah, anda sudah sering celap-celup sana sini. Bukankah itu sangat menjijikan?" Sambung Aluna dengan menaikkan satu alisnya.


"Jadi, maksudmu aku menjijikan? Begitu? Dan kau masih suci, cih dasar munafik." Geram Nathan menahan emosi.


"Kau wanita tidak tahu diri, beraninya kau menghinaku! Jangan sok suci kau, aku sudah paham bagaimana wanita sepertimu yang menjual diri untuk mendapatkan kemewahan. Kau pasti menjadi simpanan om-om, kan? Jika tidak, bagaimana mungkin kau bisa menjadi dokter sedangkan kau hanya orang miskin." Hina Nathan.


"Jika memang itu penilaian anda, ya itu terserah. Saya juga tidak peduli." Sahut Aluna santai.


Dan hal itu semakin membuat Nathan geram.


"Oh iya tuan, saya sarankan untuk anda pergi periksa ke dokter spesialis. Siapa tahu anda tertular penyakit, karena saking seringnya anda celap-celup." Ujar Aluna dengan wajah polosnya.


"Kau! Jaga ucapanmu, atau-"


Ucapan Nathan terhenti saat ponselnya berdering, lelaki itupun pergi ke balkon kamar hotel untuk menjawab panggilan itu. Setelah selesai, dia langsung melangkahkan kakinya masuk kembali.


Setelah kepergian Nathan, Aluna melangkahkan kakinya ke ranjang. Ranjang yang seharusnya menjadi saksi bisu ikatan cinta sepasang pengantin, namun itu semua bukanlah hal yang terjadi pada Aluna. Air mata yang sejak tadi aluna tahan, akhirnya lolos begitu saja. Dia sebenarnya sangat sakit hati akan hinaan Nathan tadi, tapi dia mencoba menutupinya dengan membantah ucapan Nathan, dia tidak ingin terlihat lemah.


...*****...


Pagi ini, Aluna tengah menunggu Nathan di lobby hotel. Seperi yang di ucapkan Nathan tadi malam, bahwa hari ini dirinya akan di boyong ke apartemen milik pria itu. Karena setelah Nathan pergi dari kamar mereka tadi malam, pria itu tidak kembali lagi. Entah kemana perginya suami tidak jelasnya itu, Aluna juga tidak perduli.


Terlihat mobil berwarna hitam, berhenti tepat di mana Aluna tengah duduk di bangku lobby. Keluarlah sesosok pria dari dalam mobil itu.


"Permisi nyonya, saya Jo. Saya di perintahkan tuan untuk menjemput anda, dan mengantarkan anda ke apartemen tuan. Mari nyonya." Ajak Jo ambil membuka pintu mobil untuk Aluna.


"Terima kasih Tuan Jo." Sahut Aluna dengan tersenyum. Dia ingat jika pria yang berbicara dengannya itu, adalah yang kemarin menjadi salah satu saksi di pernikahannya.


Sekitar dua puluh lima menit, mobil yang Aluna tumpangi sudah sampai di kawasan apartemen elit.


Mereka segera keluar dari mobil, kemudian Jo mengantarkan sang nyonya ke apartemen tuannya yang berada di lantai paling atas gedung. Setelah sampai di depan pintu apartemen, Jo menekan password untuk membukanya. Setelah pintu terbuka Jo memberi instruksi agar sang nyonya segera masuk.

__ADS_1


Manik mata Aluna berbinar kagum melihat betapa mewahnya apartemen milik Nathan. Ya, jika di lihat dari seorang Nathan, mungkin ini bukan apa-apa baginya. Karena sudah pasti Nathan sudah terbiasa dengan hal-hal mewah.


"Nyonya, ini kamar anda." Ujar Jo sembari berjalan menunjukkan kamar Aluna.


"Jika yang sebelah sana, itu kamar tuan." Tunjuk Jo pada kamar yang berada agak pojok.


"Nyonya, tuan tidak suka jika barang-barangnya di sentuh oleh orang lain. Jadi anda tidak boleh memasuki kamar tuan tanpa izin." Sambung Jo memberi tahu poin penting untuk Aluna.


Aluna mengangguk tanda mengerti, "Baik tuan Jo."


Lagi pula, aku juga tidak berminat masuk ke kamar si arogan itu. Batin aluna.


"Semua barang-barang anda sudah ada di dalam nyonya."


"Benarkah? Kok aku tidak tahu? Siapa yang membawanya kemari?" Tanya aluna.


"Tuan yang memerintahkan saya untuk memindahkan barang-barang anda nyonya." Imbuh Jo.


"Baiklah, kalau begitu aku akan masuk ke kamarku."


"Maaf nyonya,"


Aluna menolehkan pandangannya ke arah Jo, "Ada apa tuan Jo?"


"Ada pesan dari tuan, yang harus saya sampaikan pada anda nyonya."


"Pesan apa?" Tanya Aluna mengernyitkan keningnya.


"Sebelumnya, tuan memakai jasa pelayan. Tapi karena tuan sudah menikah dengan anda, tuan memecat pelayan itu. Tuan tidak ingin ada yang mengetahui tentang statusnya, jadi tuan berpesan kalau anda yang akan menggantikan tugas pelayan di sini." Ujar Jo sedikit tidak enak hati saat mengatakannya.


"Hah? Jadi, maksudnya aku yang harus mengurus apartemen ini?" Tanya Aluna tidak percaya.


Aluna bukan keberatan, hanya saja dia berpikir. Apa sebegitu menjijikannya dia, atau dia sehina itu, hingga Nathan tidak ingin statusnya di ketahui satu orang pun, bahkan itu pelayan sekalipun. Hal ini sungguh sangat mencubit hati Aluna.

__ADS_1


__ADS_2