pesona istri kontrak

pesona istri kontrak
calon ibu dari anak-anakku!


__ADS_3

"halo teman-temanku yang terlaknat, kalian sedang asik romantis-romantisan berdua ya?" ujar bima yang nyelonong masuk ke dalam apartemen bram, pria itu datang dengan membawa wajah berserinya.


"wah, kalian sedang berkumpul di sini tapi tidak mengajak ku ya." ujar rayan tiba-tiba sudah berdiri di belakang Bima, membuat Bima terlonjak kaget.


"sialan kau! mengagetkanku saja." ketus Bima.


"kalian berkumpul di sini, tapi tidak ada yang menghubungiku." ujar rayan lagi.


"ck, aku juga tidak tahu. aku hanya kebetulan saja ke sini tadi." sahut Bima.


rayan dan Bima langsung berjalan menuju sofa, di mana Bram dan Nathan duduk. Bima berjalan dengan kaki yang sedikit pincang, karena agak nyeri, tetapi wajahnya berseri-seri, ada yang tak biasa dari dirinya.


"Bima, tumben sekali wajahmu bahagia seperti itu, ada apa gerangan?" tanya Bram.


"gila ya kau yan, kau kenapa tidak bilang kalau di rumah sakit ada dokter cantik, hah?" Bima bertanya sembari menggeplak lengan rayan.


"apa?" tanya Rayan cuek.


"dokter Aluna! huh, huh." teriak Bima seperti kesetanan.


sontak saja semua orang yang ada di sana mengelus dada karena kaget, terlebih lagi Nathan. dia yang paling kaget di sana, kenapa? tentu saja karena Bima meneriakkan nama istrinya. istrinya? istri kontrak lebih tepatnya.


"Aluna ya? oh itu aku ingat, setahuku dia dokter baru di UGD. aku juga belum pernah mengobrol secara langsung sama dia, hanya pernah melihat saja. memang cantik juga sih, mana pembawaannya lembut banget. banyak dokter dan perawat laki-laki yang menyukainya." jelas Rayan sembari mengingat banyaknya para petugas laki-laki yang sering menceritakan Aluna.


"memangnya kenapa Bim? kau kerumah sakit tadi, sakit apa?" tanya Nathan penasaran.


"iya, aku tadi sempat oleng gara-gara ada bebek lewat di jalan. makanya banting stir, tapi untung aku tidak mati." sahut Bima.


"dan tidak tahunya aku kerumah sakit yang mengobati dokter cantik, gila! langsung ilang sakitnya, yang ada malah jantungku berdebar-debar, seperti ini." sambung bima dengan memperagakannya dengan jari tangannya.

__ADS_1


Nathan hanya diam mendengar sahabatnya memuji Aluna, ada rasa sedikit tidak rela di hatinya. tapi dia mencoba menepis itu semua.


"memang bisa begitu? sakit terus ketemu cewek cantik langsung sembuh, begitu? dasar kau mata keranjang." ejek Rayan.


"ya bukannya mata keranjang yan, kau kan tahu kalau aku paling susah buat jatuh hati. tapi saat melihat dokter itu, nah tiba-tiba saja jantungku tidak tahu diri. bola mata indahnya, senyum manisnya, tutur kata yang lembut, cantik. dan, dan apa ya? pokonya dia itu sangat sempurna, dan seketika aku langsung berpikir wah inilah calon ibu dari anak-anak ku."


Bima becerita dengan wajah yang berbinar-binar, menandakan pria itu tengah jatuh hati sedalam-dalamnya.


"wah benarkah? apa dia secantik itu? kalau begitu aku juga akan mencoba mendekati dia, siapa tahu peluangku untuk mendapatkan dokter Aluna lebih besar. secara kan aku akan sering bertemu dengan dia." sahut Rayan yang ikut antusias.


"sialan kau yan, kau itu seharusnya membantuku mendapatkan dia. bukan malah menikung temanmu sendiri, durjana kau memang. lagi pula, aku yang bertemu dengan dia lebih dulu." kesal Bima.


"pokoknya kau harus membantuku untuk mendapatkan dokter Aluna, kalau perlu kau angkat-angkat aku di depan dia, biar dia kagum padaku. terus mintain nomor ponsel nya juga, ya ya ya." rengek Bima pada Rayan.


"maksud mu, kau mau di angkat di depan dokter Aluna dengan menggunakan buldoser, begitu? yang ada dia bukannya kagum, malah ilfil melihatmu, haha." ejek Rayan.


"sialan kau yan! aku serius bodoh, karena ini menyangkut masa depanku. pokoknya kau harus membantuku, jangan malah menikung temanmu sendiri." kekeh Bima.


"dia tidak akan suka padamu, kalau kau tidak tebar pesona. Awa saja kau." ancam Bima.


"ck, diam! kalian berdua ini apa-apaan sih, kalian saja belum kenal dengan wanita itu, belum tahu bagaimana kepribadiannya. malah sudah memperebutkan wanita tidak jelas seperti itu, seperti tidak ada wanita lain saja, jangan hanya karena wanita itu persahabatan kita hancur begitu saja." ketus Nathan.


dia sebenarnya kesal, karena dua sahabatnya itu memperebutkan istrinya. ah, iya lupa, istri kontraknya maksudnya. tapi kalau di pikir lagi, kenapa juga dia harus kesal? kan dia tidak punya perasaan pada wanita itu, karena yang ada dalam hatinya hanya Jesica, bukan? iya kan? entahlah, Nathan juga bingung dengan dirinya sendiri.


"kau tenang saja nath, kita berdua akan bersaing secara sehat dan sportif. jika pada akhirnya dokter aluna memilih salah satu di antara kami berdua, ya itu tidak masalah. iya kan, bim?" sahut Rayan.


"ck, tidak ada kita berdua, hanya aku saja. kau ini jangan suka menikung teman sendiri rayan!" kesal Bima.


"untuk apa kau mendekati wanita di sini? bukankah kau juga hanya sebentar di sini, tidak ada gunanya juga kau mendekati wanita itu." ujar Nathan dingin.

__ADS_1


"kalian semua dengar ini ya, jika aku berhasil mendapatkan dokter aluna, maka aku akan langsung menikahinya dan membawanya ke London bersamaku. aku tidak main-main dengan ucapanku." tegas Bima.


Rayan dan Bram hanya melongo mendengar penuturan Bima, mereka tidak menyangka jika Bima akan seserius itu. terlebih Nathan, dia di buat semakin kepanasan saja mendengar ucapan Bima. karena dari gang mereka tahu jika pria itu sudah menginginkan sesuatu, maka akan dia kejar sampai dapat. terlebih ini masalah wanita, dan ini adalah pertama kalinya Bima benar-benar serius dengan tehadap seorang wanita.


ingin sekali nathan berteriak dengan keras di depan wajah Bima, dan mengatakan bahwa aluna adalah istrinya. tapi itu tidak mungkin, karena pikirannya tidak mengijinkannya.


...*****...


pukul sepuluh malam, Aluna berjalan memasuki area apartemen. saat sudah di depan pintu, dia menekan password apartemen yang pernah di beritahukan oleh Jo waktu itu.


badannya terasa pegal, karena pasien hari ini lumayan banyak.


dia melangkahkan kakinya memasuki apartemen, suasana tampak gelap temaram. Aluna tidak berniat menyalakan lampu ruang tengah itu, dia terus melangkahkan kakinya menuju sofa. dia segera menghempaskan tubuhnya di sana, dia benar-benar sangat kelelahan.


"uuh, pegal sekali." keluh Aluna sembari memijat tengkuknya sendiri.


Ting.


tiba-tiba terdengar suara pesan masuk, dari ponselnya.


"ah, semoga ini balasan pesan dari ibu."


dengan segera, Aluna duduk dan mengambil ponselnya yang berada di dalam tas. sore tadi, dia memang mengirim pesan pada ibu mertuanya, dia menanyakan kabar dan perkembangan pengobatan ibu mertuanya itu.


"iya sayang, ibu baik-baik saja di sini. kamu jaga kesehatan di sana ya, jangan terlalu mengkhawatirkan ibu." begitulah isi pesan dari ibu Lita.


"hah, syukurlah kalau ibu baik-baik saja, aku lega mendengarnya." Aluna menghembuskan napas lega.


"seandainya saja aku bisa menemani ibu di sana, pasti... ah sudahlah."

__ADS_1


Aluna menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, dia kemudian memejamkan matanya yang terasa berat, karena lelah dengan pekerjaannya hari ini.


tanpa Aluna sadari, ada sepasang mata yang memperhatikannya. sebenarnya Nathan tahu saat Aluna masuk ke dalam apartemen tadi, tapi pria itu tetap berdiri di tempatnya berada tadi, yaitu di depan pintu kamarnya. memang Nathan tadi sudah akan tidur, tapi saat mendengar suara orang menekan pin apartemen, dia keluar dari kamarnya, karena dia yakin itu adalah Aluna.


__ADS_2