
Malam harinya ...
Rumah Diara, pukul 19.00 ...
Tiga orang penghuni rumah sedang berdoa untuk makan malam, mereka mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Tuhan.
Setelah itu, mereka segera menikmati hidangan yang tersedia.
"Kak, apakah pria itu menghubungimu?" tanya Diara.
"Jangan membahas pria menyebalkan itu. Aku menjadi tidak selera makan," jawab sang kakak.
Dia memperlihatkan ketidaksukaannya dengan Mateo.
"Di, bisakah kau menghentikan pembahasan yang tidak penting? biarkan kakakmu makan."
"Iya ibu, maaf."
Sang adik hanya bisa menjawab itu saja sebab, melawan juga tidak ada gunanya.
Dua puluh menit, cukup bagi ketiganya menghabiskan sepiring nasi dan lauk.
Sang adik mengkode kakaknya agar tetap di meja makan ketika sang ibu masuk ke dalam kamar.
"Kalian berdua, belum ingin tidur?" tanya sang ibu.
"Kamu ingin berdiskusi tentang pekerjaan, ibu tidur dulu saja," jawab Rafles.
"Oh, oke. Kalian berdua jangan sampai begadang," cetus ibu menasehati.
"Iya," jawab keduanya secara bersamaan.
Sang ibu beranjak dari kursinya lalu pergi dari meja makan itu.
Sedangkan kedua anaknya memperhatikan.
"Sudah masuk," bisik Rafles.
"Iya," jawab Diara balas berbisik.
Setelah dipastikan jika sang ibu sudah masuk ke dalam kamar, keduanya terlihat mulai membahas apa yang sebenarnya ingn mereka bahas.
"Kak, ada uang berapa di rumah?" tanya Diara penuh selidik.
"Kalau kata ibu ada sepuluh juta, itu tabungannya. Kalau aku sendiri ada lima belas juta, kenapa?" jawab Rafles yang terlihat bingung dengan apa yang ditanyakan oleh Diara.
"Kita buat usaha saja kak. Aku sebenarnya malas jika harus bekerja dengan Mateo."
"Aku tidak setuju, itu adalah uang kita. Mau makan pakai apa jika usaha kita gagal? cari cara yang lain saja," jelas sang kakak.
Rafles seperti tidak menyetujui apa yang menjadi keputusan adik tercinta.
Namun, dia juga tidak memiliki pilihan lain.
Hingga suara berdering, terdengar nyaring dari balik ponsel sang kakak.
"Astaga, apakah dia seorang peramal? baru di bahas langsung telepon saja," ujar sang kakak.
"Jawab saja, apa susahnya?"
Rafles yang malas menjawab panggilan telefon ini, terlihat hanya diam.
Diara yang gemas, langsung mengambil ponsel sang kakak yang tergeletak di atas meja.
Diara menjawab panggilan telepon itu.
"Halo, ada apa?"
__ADS_1
"Diara?"
"Iya, ini aku. Ada apa?"
"Kakakmu dimana?"
"Kau bicara denganku saja."
"Jangan, kau berikan ponsel kepada kakakmu. Ini penting."
Diara berdiri sambil menutup ponsel sang kakak dengan tangannya, kemudian dia berbincang dengan kakaknya.
"Dia mau bicara denganmu, bagaimana?"
"Berikan."
"Oke."
Sang adik membuka ponsel yang ia tutup lalu diberikan kepada kakaknya.
Rafles mulai berbicara.
"Ya, ini aku. Ada apa?" tanya Rafles.
"Aku tidak memaksamu untuk bekerja di tempatku. Bengkel milik paman sudah aku beli, kau bisa menggunakannya."
"Lelucon apa ini?"
"Aku tidak membuat lelucon. Ini adalah sebuah hal yang pasti aku lakukan karena kau adalah Rafles. Kakak dari Diara."
"Apa yang kau inginkan?"
"Diara."
"Oh, jadi itu. Aku tidak mau menerimanya, mana mungkin aku menggadaikan adikku dengan bengkel?"
"Bukan menggadaikan, aku hanya ingin kau bekerja lagi. Diara, aku merasa dia adalah temanku, aku tidak bisa meninggalkannya sendirian. Aku masih mencintainya."
"Kakak, jangan salah paham, aku memiliki niat yang baik terhadapmu."
"Aku tidak butuh."
Panggilan telepon itu lalu berakhir.
Rafles mematikan ponselnya.
Sang adik merasa bersalah karena tidak bisa berbuat apa-apa.
"Kak, maafkan aku karena tidak bisa menjadi orang yang baik untukmu. Selama ini, aku bisa mencukupi kebutuhan keluarga, tapi karena aku sudah dipecat, bagaimana bisa ikut berkontribusi?"
"Kau tidak perlu mengatakan apapun. Aku adalah anak tertua, aku akan mencari cara."
"Kak, jangan temui Reno. Dia hanya akan membuat hidup kita makin sulit."
"Dia yang bisa bantu."
"Kak, aku akan bekerja. Jangan bilang padanya."
"Kita tidak punya apa-apa lagi, jika ingin menebus, kita harus berurusan dengan mantanmu itu."
Sang kakak memang tidak ada pilihan lain, maju kena mundur juga kena.
Diara mencoba untuk membuka hati dan lebih berpikir luas.
"Kak, aku akan bekerja dengan Mateo, akan ada barter."
"Diara? kau ingin menukar dirimu dengan bengkel itu?"
__ADS_1
"Kak, bengkel itu milik ayah, hanya itu yang menjadi harta kita. Aku tidak suka jika apa yang kita miliki, harus hilang seperti ayah."
"Diara."
Rafles merasa terharu dengan apa yang dikatakan oleh adiknya. Selama ini memang sang adik yang lebih dekat dengan ayah mereka.
Dia berpindah posisi, Rafles mendekati sang adik.
"Terima kasih ya? kau sudah melakukan banyak hal pada keluarga ini, jadi apa yang harus aku lakukan untukmu?"
"Doakan aku agar bisa bekerja dengan baik."
"Diara, kau baik-baik saja?"
"Iya. Kenapa sih? sok perhatian sekali. Aku masih berada dalam kondisi waras dan baik-baik saja."
Di balik kedekatan kakak beradik itu, sang ibu ternyata melihat sebuah kenyataan pahit.
Ya, ibu dari dua anak itu sedang mengintip.
Lebih tepatnya memantau dua orang yang sedang berunding mengenai bagaimana masa depan mereka selanjutnya.
"Ya Tuhan, aku ibunya. Aku yang harusnya memikirkan apa yang harus mereka butuhkan. Namun, aku tidak berdaya. Semoga kedua orang itu, mampu menjadi dua anak yang kuat dan tegar. Aku akan mendoakan mereka, semoga apa yang di cita-citakan tercapai."
Tidak terasa air mata sang ibu mengalir dengan derasnya, beliau tidak kuat menahan rasa sedih lagi.
Dia merasa lelah, dan segera tidur.
Sedangkan kedua anaknya sedang berada dalam perbincangan yang cukup serius.
"Kak, doakan aku ya?" ucap Diara.
"Doakan apa? kau hanya akan bekerja dengan Mateo, dia adalah mantan kekasihmu. Bukan musuh, kecuali kau menganggap Mateo barang rongsokan."
"Haha, bekas ya?"
"Iya, aku akan doakan yang terbaik untukmu. Kau pasti bisa menjadi orang baik dan tidak akan menjadi orang yang buruk."
"Ya iyalah, kalau tidak jadi orang baik ya buruk. Bagaimana sih."
Kedua orang kakak beradik itu, terlihat saling menguatkan.
Mereka tidak mau, hanya karena sebuah perasaan yang tidak terlalu penting ini, sebuah persaudaraan jadi hancur.
"Kak, percaya padaku. Aku akan profesional."
"Iya, bekerjalah dengan baik."
"Siap! kau yang terbaik."
Keduanya memutuskan untuk beranjak dari sana, lalu masuk ke kamar masing-masing.
Kamar Diara ...
"Huft," ucap gadis itu sambil menutup pintu.
Setelahnya, merebahkan tubuh di atas ranjang.
"Apakah aku baik-baik saja? bekerja dengan barang rongsokan?" batin Diara.
Dia berusaha menyakinkan diri, dia hanya Mateo, seorang mantan yang hanya mantan.
Tidak ada yang perlu di takutkan dari seorang Mateo.
"Tuhan, aku ingin tidur," imbuh sang gadis.
Dia berdoa, lalu memejamkan mata.
__ADS_1
Berharap esok akan menjadi lebih baik.
*****