
"Kau seharusnya menjadi orang yang sangat bahagia karena bertemu denganku. Kenapa kau sangat murung?" tanya Mateo.
"Cih, senang dari mana, kau tidak terlihat menarik," jawab sang gadis ketus.
"Aku akan mengajakmu pergi ke kedai ice cream yang ada di dekat kebun bunga lili.
Jari telunjuk Mateo terlihat mengarah kepada satu titik yaitu kedai es krim bernama SONAKu.
Kedai ini, sudah ada sejak beberapa lalu sehingga menjadi kenangan paling indah yang ada di bukit Bintang.
"Aku tidak mau ke sana karena kau pernah mengatakan, jika aku pergi ke sana setelah putus denganmu, pasti aku akan kembali denganmu. Padahal, aku malas untuk datang padamu lagi," ujar Diara.
Gadis yang selama ini berusaha untuk mendapatkan jati dirinya kembali justru harus terjerumus ke dalam hubungan yang tak ia .
inginkan dia itu CLBK.
Diara berhak untuk menolak apapun yang dikatakan oleh Mateo, sekalipun pria tersebut ingin kembali, harusnya bersiap-siap dulu daripada terlalu banyak hal menjenuhkan.
.
.
.
Satu jam, keduanya hanya bermain ponsel satu sama lain membuat pembicaraan keduanya makin tidak nyambung.
Diara berkali-kali mendapatkan telepon dari bosnya yang terdahulu, sang bos sangat menyesal karena telah memecat dirinya padahal sang kadis adalah orang yang selama ini menghadap semua pekerjaan juga termasuk pegawai senior.
Bos Diara, begitu terpukul dan menangis dipanggil telepon.
Mateo hanya tersenyum, dia tahu, Diara memang memiliki kinerja yang sangat bagus, sehingga tak mudah baginya untuk pergi dari satu perusahaan.
"Bos, aku sebenarnya, ingin sekali kembali ke tempatmu, tapi orang ini sangat menyebalkan."
"Ha? bos Mateo ada bersamamu?"
"Iya, apa kau ingin berbicara dengannya?"
Tut ... Tut ... Tut ....
Panggilan telepon langsung ditutup oleh bos, ternyata si bos sangat takut akan sosok seorang Mateo.
"Haha, apa dia takut denganku?"
"Iya, kau adalah pria arogan bagi pria lain."
"Wkwkwkk, oh ya?"
"Iya dong, aku mau pulang, antarkan aku."
"Kau naik motor?"
"Iya, aku naik motor, kau naik mobil, aku ingin kakak dan ibuku paham, hubungan macam apa diantara kita."
Diara mulai meminta kejelasan, sebab selama ini merasa di bohongi dengan ketidakpastian yang di berikan oleh Mateo.
Namun, lagi-lagi Mateo harus bersabar saat Nicko menelepon lagi.
Diara membiarkan panggilan telepon dari kekasihnya, ini sangat aneh, mengingat Diara sangat menyayangi Nicko.
"Kenapa tidak kau jawab panggilan telepon itu?" tanya sang pria.
__ADS_1
"Aku sedang tidak ingin bersamanya, kau tahu kan? Nicko sudah mempersiapkan segala urusan pernikahan kami."
"Oh, jadi kau ingin mengakhiri semuanya? hubungan kita?"
"Iya, jadilah pria dewasa!"
Mateo lalu menarik lengan Diara, lalu membawa pergi gadis itu menuju kedai ice cream, SONAku.
.
.
.
Kedai Es SONAKu ...
"Masuk ke dalam," pinta Mateo.
"Hm," jawab Diara.
Sang gadis sebenarnya sangat malas, dia terlalu kehilangan banyak waktu bersama Mateo.
Dia hanya akan menuruti apapun yang dikatakan oleh Mateo, meski sangatlah berat.
Urusannya dengan mantan kekasih, harus segera selesai hari ini juga tanpa terkecuali.
.
.
.
Satu jam ada di sana, keduanya kembali serius membahas tentang hubungan keduanya yang selama ini menggantung.
Mateo ingin berteman dengan Diara, tapi rasanya tak kuasa, jadi hanya cara itu yang bisa digunakan.
"Bagaimana? kau mau kan berteman?"
"Habiskan satu cup ice krimmu, aku sudah menghabiskan tiga cup, kau ini seorang gadis apa pria dewasa? makan es krim saja lama."
"Heh, apa kau tidak ingat saat itu? kau adalah wanita yang menyebalkan makan eskrim sampai belepotan."
Flash back : on
"Sayang, apa aku ingin makan es krim," ucap Diara pada sang kekasih.
"Oke deh, aku beli sekarang," jawab Mateo.
Mateo berlari menuju kedai yang menjual es krim, sang kekasih diminta menutup mata sebelum dia kembali.
Baru juga dua menit, sang kekasih sudah ada di hadapannya dan membawa 2 cup es krim dengan rasa coklat dan strawberry.
"Sayang? buka matamu dan makanlah es krim ini?" ujar Mateo.
Sang kekasih menyadarkan dua cup es krim, lalu Diara mengambil rasa coklat.
Diara meminta sang kekasih untuk duduk di kursi taman yang ada di bukit Bintang.
.
.
__ADS_1
.
Pemandangan di tempat ini, sungguh berbeda, sebab hanya ada dua orang saja. Duduk di kursi taman dengan melihat banyak pohon indah yang ada di bawah, sebab bukit Bintang memang cukup tinggi letaknya.
"Sayang, suatu saat nanti apakah kita akan putus?"
"Hus, jangan mengatakan hal yang tidak-tidak di tempat ini karena ada banyak orang yang menguping."
"Haha, lalu kalau banyak orang yang menguping? orangnya dimana?"
"Di hatimu!"
"Wkwkwk kau sangat tidak masuk akal."
Keduanya saling membagi es krim, tapi es krim milik sang gadis harus tumpah, pas sekali tumpahnya ada di lengan Mateo, sang pria justru memakan es krim itu dan membiarkan es krimnya tetap utuh.
"Ih jorok."
"Tidaklah, aku suka eskrim. Kau juga kan? jadilah satu keadaan dimana kita berdua memang berjodoh?"
"Ih, tapi akan ada es krim milikmu, aku mau itu."
"Kau beli sendiri. Itu semua kesalahanmu karena banyak omong, kalau diam saja pasti aku akan memberikan ini padamu."
Fals back : Off
Sang gadis sangat senang dengan posisi ini, di akan dengan mudah menyudutkan Mateo.
"Aku sudah mengingat segalanya dan tidak ada hal seperti itu."
"Haha, kau lupa."
"Aku tidak lupa, kau yang lupa."
Keduanya masih saja berdebat, secara hati masing-masing tak pernah saling mengalah.
"Kau sudah paham mengenai hubungan ini, waktu aku ulang tahun, aku menepati janjiku. Aku tidak mengatakan hal yang sekiranya membongkar hubungan kita dulu?"
"Hm, aku yakin kau tidak berani mengatakannya karena sudah aku ancam."
"Wkkwkw, kau memang gadis tidak masuk akal!"
"Kau yang tidak masuk akal, kau mabuk dan meresahkan banyak orang, bagaimana bisa mabuk langsung pergi ke sini? kau pasti menipuku?"
"Lalu? jika aku menipumu, apakah Nicko tidak bisa menipumu?"
"Kau tahu apa tentang Nicko?"
"Dia adalah karyawanku, Nicko baik, hanya saja aku merasa bahwa bahwa hidupku terlalu sibuk mengurusi hidup orang. Namun, aku tidak rela dia menduakanmu, aku melihatnya bersama dengan seorang wanita beberapa hari lalu di bar milik Aldo."
Deg!
Jantung sang gadis berdetak begitu cepat, rasanya sangat tidak nyaman.
Dia merasa bahwa apa yang dia lihat tadi benar nyatanya.
"Oh, mungkin bukan dia, kau memang suka meremehkan anak buahmu!"
"Bukan itu maksudku!"
Diara memilih untuk pergi dari tempat itu, sang pria sengaja membiarkan Diara.
__ADS_1
"Aku tidak akan mencegah kau pergi, selama Nicko baik, aku bisa melepaskan kau, jika dia bermain-main di belakangmu, pasti aku akan segera meminta Nicko menjauhi Diara."
******