Pesona Mantan Bikin Klepek-klepek

Pesona Mantan Bikin Klepek-klepek
Kebencian ibu Mateo


__ADS_3

Keputusan akhir kakak beradik itu adalah mengorbankan keegoisan mereka demi membahagiakan sang ibu.


Dalam keadaan sulit, mereka tidak memiliki pilihan selain bekerja di tempat Mateo.


Beberapa saat kemudian, sang ibu pulang.


Tumben sekali sang ibu pulang awal, anak-anak akan merahasiakan tentang bengkel yang ditutup.


Namun, sang ibu justru sudah tahu.


"Muka kalian tegang sekali, memangnya ibu seperti hantu?" tanya ibu Diara.


Sang ibu berjalan menuju dapur, dia terlihat mencuci tangannya dan mengambil gelas.


Setelah itu, menuangkan air ke dalamnya.


Rasanya sangat segar saat air mineral itu masuk ke dalam tenggorokannya.


"Segar sekali, kalian tidak ingin minum?"


Kedua anaknya diam saja, lalu sang ibu mendekati Diara dan Rafles yang terlihat bingung dan linglung.


"Ada apa sayang?"


Sang ibu menatap Diara, lalu Rafles.


Keduanya melamun, sama-sama tidak fokus.


"Raf? Di? ibu sedang bertanya, apakah telinga kalian tertinggal di kloset?"


"Bukan cuma telinga, harga diri kami juga tertinggal."


"Apa maksudnya?"


"Kita tidak punya apa-apa lagi."


"Ibu masih punya, anak-anak ibu."


Rafles dan adiknya segera memeluk sang ibu, semua hal sulit ini, kadang bisa dilewati dengan baik karena ibu mereka yang sangat baik.


Ibu Diara sangatlah santai dalam menjalani kehidupan, dia masih cantik. Jadi misalkan mau memiliki suami lagi, masih bisa.


Namun, dia lebih memilih untuk menjadi single mom.


Rasanya memang tidak baik-baik saja, tapi saat itu bersama dua anaknya, saat dunia runtuh, dia bisa bertahan.


"Kita memang butuh pekerjaan, meski aku tidak suka dengan sikap Mateo, bekerja di sana juga tidak ada salahnya."


Sang ibu tiba-tiba saja membahas Mateo, ini agak sensitif.


Diara terlihat ingin kabur, tapi nyatanya tak bisa, sang ibu mencegahnya.


"Hadapi saja Di, aku tidak keberatan. Jadilah seorang karyawan yang patuh, dia hanya akan menjadi bosmu. Bukan kekasihmu, dalam menjalin hubungan, kalian sudah pernah menjalaninya. Aku tidak setuju jika kau kembali padanya."


Sang ibu memberikan kode bahwa dia hanya ingin sang anak bekerja secara profesional dan jangan baperan.


"Haha, mana ada aku balikin sama dia. No, big no."


"Pembahasan mengenai hal ini sudah fix, kau bekerja di perusahaan Mateo, kakakmu akan cari kerja tempat lain, ibu masih di laundry. Ternyata pemilik laundry baik hati, dia menyesal telah berkata kasar kemarin."


"Soal tidak ingin tenaga tua?"


"Iya ibu."

__ADS_1


Dua anak tercinta, memeluk sang ibu.


Mereka berjanji akan memberikan hal terbaik untuk ibundanya.


.


.


.


Di tempat lain, kantor Mateo ...


Ruang kerja Mateo ...


Setelah menjawab panggilan telepon dari kakaknya Diara, sang bos lalu meminta Nicko segera menemuinya.


Nicko yang patuh, selalu melakukan segalanya sesuai dengan apa yang dikatakan oleh bosnya.


Dia berada di dalam ruangan sang bos, terlihat jelas jika keduanya sedang membahas hal yang sangat penting.


Namun, sang bos, masih belum fokus karena teringat akan Diara.


"Nicko, kau bawa Diara kemari, aku ingin berbicara dengannya. Aku tidak terlalu suka menelponnya, aku cemas dia mengira aku mengejar-ngejarnya lagi."


"Ha? apa maksudmu bos?"


"Sory, bukan apa-apa, maaf aku sedang tidak fokus. Kau lakukan saja apa yang aku katakan tadi."


"Oke bos, siap. Aku akan melakukannya demi perusahaan. Mungkin, aku baru saja mengenalnya, tetapi kemampuan Diara dalam bekerja, sepertinya lebih baik dariku."


Sang anak buah yang tidak curiga apapun, dengan senang hati melakukan pekerjaan yang sangat mudah ini.


"Iya, mungkin saja. Makanya aku menyuruhmu. Nanti ada bonus."


"Pasangan yang manis."


Sang bos terlihat mau muntah mendengar perkataan sang anak buah.


Akan tetapi dia tidak boleh memperlihatkannya.


"Oke Nicko, kau lanjutkan pekerjaanmu, semangat!"


"Terima kasih bos, semangat juga!"


Setelah membahas beberapa pekerjaan, akhirnya Nicko kembali ke mejanya, sedangkan sang bos masih sok sibuk.


Dia terlihat masih penasaran dengan jawaban kakak Diara.


"Halo, kau mau tidak kerja di tempatku?" tanya sang bos.


"Kau masih saja galak, untung adikku tak jadi istrimu, bisa pusing tiap hari mendengar omelanmu."


"Haha, tidak kak. Aku hanya bertanya kan, aku tidak marah-marah. Bagaimana? bisa kan? kerja di tempatku?"


"Adikku saja, aku cari di tempat lain."


"Btw, kau masih kerja di bengkel paman?"


"Jangan sebut paman, dia bukan pamanmu. Kau sudah membuatnya kecewa, jadi tidak perlu membahas lagi."


"Eh, kau masih saja salah paham. Oke, anggap saja aku yang salah. Namun, kau juga harus tahu jika aku ingin bengkel itu tetap berkembang, aku akan investasikan uang untuk bengkel itu. Berapa nomor rekeningmu?"


"Tidak perlu repot-repot, bengkel itu sudah menjadi milik orang lain."

__ADS_1


"Ha? apa maksudnya?"


"Kau bukan kekasih Diara, tidak usah kepo. Sudahlah, kau berikan kesempatan kerja itu pada adikku saja. Kau dan Diara bukan sepasang kekasih lagi, jadi ingat posisimu!"


"Iya, oke! aku paham apa yang kau katakan, tenang saja, tidak perlu marah-marah. Kau juga galak kak."


"Itu karena kau galak. Sudahlah, aku mau boker, kau mau ikut?"


"Ih, masih jorok saja kau kak!"


"Haha, bodo amat. oke, bye!"


Panggilan telepon itu berakhir, sang pria tersenyum karena teringat masa lalunya.


Rafles merupakan salah satu orang yang membuatnya betah menjadi bagian dari keluarga Diara, karena ayah dan ibu Diara agak dingin padanya yang dulu hanya seorang bawahan ayahnya.


Meskipun kini sudah menjadi bos, ibu Diara makin benci, ini karena seorang pria kaya hanya akan merendahkan keluarga Diara.


Soalnya, Diara dari keluarga biasa-biasa saja.


"Andai aku dan dia menjadi suami istri, apakah akan menjadi baik? atau justru runyam? ayah dan ibuku memang sudah setuju dengan hubungan kami, hanya saja setelah keputusan itu, mereka menjadi agak jaga jarak. Aku cemas, Diara mendapatkan perlakuan buruk ketika bertemu mereka. Huft! hubungan kami memang rumit, aku tak bisa menahan diri untuk semua ini."


Saat pikirannya jauh ke belakang, menuju masa lalu yang belum selesai bersama Diara.


Ibunya yang ada di luar negeri menelpon.


"Sayang? tumben langsung di jawab?" tanya sang ibu di panggilan telepon.


"Aku sedang senggang, apakah ibu ingin memberiku uang?"


Sang putra yang memang suka bercanda itu, membuat dark jokes. Seakan dia inginkan uang dan uang.


"Haha, kau mirip ayahmu."


"Ya aku memang anak ayah. Ada apa? to the poin saja."


"Besok siang, ibu pulang. Yasmin akan ikut denganku, dia perlu berkenalan denganmu."


"Aku belum ingin menikah."


"Bukan menikah, hanya berkenalan."


"Aku dan dia sudah kenal, tidak perlu kenalan lagi. Oke? sudah ya bu? stop membahas hal yang tidak ada hubungannya dengan perusahaan."


Sang anak, memang merasa tidak nyaman saat berada di dalam perbincangan mengenai masalah ini.


Dia masih cinta dengan Diara.


"Jangan katakan jika gadis itu masih memenuhi isi otakmu!"


"Ibu, namanya Diara, bukan gadis itu."


"Loh, memang benar kok. Mana ada seorang gadis dari kalangan menengah ke bawah berani mencampakkan kau? awalnya ibu sangat respect dengannya. Namun, setelah itu, ibu big no!"


"Pilihanku tidak pernah salah. Aku tidak akan menikah dengan pilihan ibu."


"Oke, kau bisa memutuskan sendiri. Akan tetapi ibu yang mengendalikan semaunya."


Tut ... Tut ... Tut ...


Panggilan telepon tiba-tiba saja berakhir, membuat sang pria menahan emosinya.


Dia memahami ibunya model seperti apa, jadi Mateo harus benar-benar berpikir secara rasional jika ingin kembali pada Diara.

__ADS_1


*****


__ADS_2