Pesona Mantan Bikin Klepek-klepek

Pesona Mantan Bikin Klepek-klepek
Ketahuan jadi penguntit


__ADS_3

"Hey! apa yang kau katakan? aku menerimamu apa adanya, kau adalah seorang pria yang baik. Kau juga sopan ...."


Belum sempat kata-kata Diara usai, sang pria sudah mendaratkan bibir di pipi halus kekasihnya.


"Terima kasih Di, kau selalu menerimaku apa adanya."


Dalam posisi ini, bos Mateo melihat dengan jelas, Mateo sangat mudah mendapatkan jejak keduanya sebab uangnya begitu banyak untuk membayar beberapa orang mencari keberadaan Nicko dan Diara.


"Aku teringat akan masa itu, huft! kenapa harus dengan Nicko, padahal pria lain ada kan?" batin Mateo.


Dia menyesal telah menjadi penguntit, dia akan pulang saja.


Namun, saat kedua orang itu berbalik, Nicko menunjuk ke arah tempat makan yang ada dirinya.


"Mampus, mereka mau kesini," ujar Mateo yang tidak jadi kabur.


Beberapa menit kemudian, dua orang yang saling mencintai, duduk di samping meja Mateo.


Secara kebetulan Diara membicarakan kejelekan Mateo.


"Kau pesan apa sayang?" tanya Nicko.


"Nasi goreng cumi sama es kelapa aja sayang," jawab Diara.


"Oke, aku akan pesan untukmu."


Sang kekasih memanggil seorang pelayan dan memesan makanan dengan menu yang sama.


Diara merasa ada yang aneh dengan pria yang ada di sebelahnya, tapi ia tak menggubris sama sekali.

__ADS_1


Selama menunggu pesanan, Diara membicarakan soal mantan kekasih yang tiba-tiba saja pergi tanpa kabar.


Dia berharap kepada Nicko jika ada hal yang bisa dibicarakan, bicara saja, soalnya hidup dengan ketidakpastian sangat menyiksa.


"Kau pernah mengalaminya?" tanya Nicko.


Sang kekasih memang begitu pandai mengambil hati Diara.


Selama ini, pria itu tak pernah sedikitpun memperlakukan Diara dengan buruk.


Jadi, ibu dan kakak Diara sangat senang dengan Nicko, jika lamaran sang kekasih diterima, so pasti keluarga Diara akan merasa senang.


Hanya saja semua itu masih dalam mimpi.


Diara belum memastikan perasaannya, sebab ada Mateo yang selalu menganggunya.


Sebenarnya tidak terlalu masalah ada Mateo atau gak, intinya adalah satu yang harus di ketahui oleh Diara.


Obrolan begitu menyenangkan, meski membahas hal-hal sensitif.


"Ya ada temanku, dia itu memiliki kekasih dengan wajah yang sempurna dan tampan, tapi aku tidak menyangka jika dia memiliki hal yang buruk. Jarang mencukur bulu ketiak," cetus Diara.


Sang gadis menahan tawanya, dia mengingat saat tahu Mateo membiarkan bulu ketiak sampai lebat, ini membuatnya geli dan langsung memangkasnya dengan cepat.


"Haha, temanmu siapa? aku baru tahu," jawab Nicko.


Sang pria bahkan sampai menetaskan air matanya karena semua ini mirip dengan bosnya.


"Bos? Mateo?"

__ADS_1


"Iya, dia juga seperti itu."


"Oh My God! aku salah bercerita," batin Diara.


Mateo yang mendengar fakta mengenai dirinya dari dua orang yang merupakan karyawannya, merasa malu sekaligus kesal.


Dia beranjak dari tempat duduknya, Diara merasa kenal dengan bau parfum pria yang baru saja pergi.


Diara mengatakan ingin ke toilet sebentar, meskipun sebenarnya ingin mengikuti pria yang baru saja meninggalkan kursinya itu.


.


.


.


Tempat parkir ...


Baru saja Mateo akan membuka pintu, Diara dengan keisengannya memanggil nama Mateo.


"Mateo?"


Mateo yang menyadari jika dia ketahuan, langsung lari dari sana, dengan cepat, pria itu masuk ke dalam mobil dan tancap gas.


Diara yakin jika pria itu adalah Mateo.


"Cih, untuk apa menjadi penguntit? awas saja! besok aku akan membuatmu menyesal. Aku tidak sabar untuk mengerjai kau."


Sang gadis kembali ke tempatnya semula, dia merasa aneh dengan Mateo yang tidak ada kerjaan mengikutinya.

__ADS_1


*****


__ADS_2