Pesona Mantan Bikin Klepek-klepek

Pesona Mantan Bikin Klepek-klepek
Tukang tipu-tipu


__ADS_3

Diara pamitan pulang, dia tak menyangka akan terjebak dalam situasi seperti ini, dia berharap akan mendapatkan hal yang lebih baik dari ini.


"Aldo, kau jaga dia."


"Iya, kau sudah mengatakan itu berulang kali. Aku memiliki telinga dan kau melupakan hal itu?"


"Sialan!"


Aldo tersenyum karena mengetahui bahwa hati Diara, sebenarnya masih untuk Mateo, hanya saja ada halangan dari Nicko.


Langkah Diara sangat mantap, dia berjalan menuju motornya yang di parkir di depan bar.


Perlahan tapi pasti dia telah berada di samping motornya, perlahan menaikinya dan tancap gas.


Aldo lalu masuk lagi ke dalam bar.


Dia yakin, akan ada akhir bahagia untuk Mateo dan Diara.


.


.


.


Sepanjang perjalanan menuju rumah, Diara sangat pusing karena mendapatkan banyak tekanan dari kata-kata yang disampaikan oleh Aldo.


Pria itu, saat pandai membuatnya galau.


"Aku tidak ingin kekasihku dan mantan berperang karena aku."


Diara membayangkan ketika sang kekasih harus baku hantam dengan Mateo, ini sungguh membuatnya tak bisa tidur.


Bisa-bisa Nicko dipecat dari perusahaannya, lalu menjadi gembel di jalanan karenanya.


"Tidak, aku tidak ingin hal itu terjadi, tetapi mantan kekasihku adalah pria yang sangat nekat! Mateo bisa melakukan apapun yang dia inginkan."


Hingga sang gadis, memilih untuk berhenti di pinggir jalan lalu melakukan panggilan terhadap Mateo.


"Heh, pria sialan!"


"Hahaha, apa salahku sehingga kau mengatakan sialan kepadaku?"


"Iya, kau memang sialan dan memberikan banyak tekanan hari ini! nanti malam kau datanglah ke tempat yang biasa kita datangi, aku akan mengatakan sesuatu kepadamu di sana."


"Bukit bintang?"


"Iya."


"Wah, kau ingin melakukan apa di sana? ini berbahaya jika ada seorang gadis dan pemuda dalam satu situasi yang romantis? Aku tidak mau disalahkan jika kau pulang-pulang langsung menangis karena harus putus dengan Nicko."


"Kau adalah pria yang banyak bicara sehingga aku benci padamu!"


"Haha oke, aku akan datang jam 21.00 malam, kau datanglah tepat waktu dan jangan berbohong!


"Iya."


Panggilan telepon itu langsung ditutup oleh sang gadis, kemudian langsung tancap gas menuju rumah dengan motor kesayangannya.

__ADS_1


.


.


.


Jarak bar menuju rumah, bisa dibilang tidak terlalu jauh, tapi jika menggunakan jalan yang lain, agak lama.


Diara, harus memutar otaknya, tiba-tiba jalanan macet, dia mencari alternatif lain.


Sehingga dengan mudahnya mendapatkan jalan tikus.


Sang kakak juga tidak kalah menghebohkan, Rafles perluasan adik dan mengatakan bahwa dia memiliki seorang kekasih baru.


"Hey, kenapa kau tidak menjawab apa yang aku katakan?! meskipun bukan pertanyaan tetapi jawablah!"


"Iya, aku tahu kau sedang bahagia tetapi jangan terlalu banyak tingkah! aku memiliki satu hal yang harus kau tahu, jangan menjadi sok bahagia diatasi penderitaanku!"


"Loh, memangnya kau menderita kenapa?"


"Nicko dan Mateo, kedua orang itu akan bertengkar, Jadi aku minta mantan kekasih untuk bertemu. Aku ingin hubungan kami di masa lalu diketahui oleh Nicko, jika semua itu terjadi pasti akan memberikan efek yang tidak baik bagi hubungan kami!"


Rafles, memiliki pendapat yang berbeda sebab jika tidak mengatakan tentang hubungan keduanya pasti mendapatkan lebih banyak masalah.


Sehingga Rafles menyarankan agar Diara jujur.


Namun, Diara tidak mau melakukannya.


Dia tetap keukeuh dengan apa yang menjadi pegangan hidupnya.


"Hah, bagaimana bisa aku tempat itu sedangkan perasaanku sedang tidak menentu?"


"Ikuti saja apa yang aku katakan karena kau pasti lebih lega setelah itu!"


Sang adik, menutup panggilan teleponnya dan langsung mengikuti apa yang dikatakan oleh sang kakak, setidaknya dia bisa lebih tenang setelah ini.


.


.


.


Bukit bintang, pukul 17.30 ...


Sang gadis benar-benar berada di tempat terlarangnya, sudah 1 tahun lamanya dia tidak datang ke sana karena masih sakit hati dengan apa yang dikatakan oleh Mateo.


Keduanya berpisah dengan tidak baik, ini membuatnya sangat terluka padahal waktu itu dia mencintai sang mantan dengan begitu luar biasanya.


Motor sang gadis telah terparkir sempurna di tempat yang seharusnya, langkahnya perlahan menaiki anak tangga yang menuju bukit Bintang.


Dia melihat banyak orang sedang berada dalam cinta kasih, banyak keluarga yang ada di sana karena hari ini merupakan hari dimana banyak orang sangat senang menghabiskan waktu bersama-sama dengan keluarganya di tempat itu.


"Aku sangat senang berada di sini dulu, tapi sejak putus dengan kekasihku, Aku membenci kebahagiaan ini dan memilih untuk tetap sendiri."


Diara seperti bernostalgia akan kenangannya bersama Mateo.


Dulu, di tempat ini sang mantan kekasih memberikan kenangan yang sangat indah.

__ADS_1


Sebuah buket bunga yang indah dengan ukuran yang besar, di dalam buket itu ada namanya.


Diara menahan air matanya namun seketika terhenyak melihat sosok Mateo yang ada di sana.


"Loh, katanya kau akan datang jam 21.00 malam? kenapa sudah ada di sini?"


"Kau juga, kenapa sudah datang ke sini lebih dulu? aku mendapatkan telepon dari Aldo, kau sedang tidak baik-baik saja, aku naik mobil sportku, aku sempat melihatmu di jalan tetapi kau berbelok ke arah jalan lain."


"Oh, cukup kau mengikutiku!"


"Iya."


Mateo mendekati sang mantan, dia memeluk dengan sangat mesra membuat sang gadis merasa aneh.


"Kau jangan bergerak sama sekali karena momen ini begitu berharga bagiku, selama ini aku ingin memelukmu dan meminta maaf karena semua keegoisan yang aku miliki."


Diara tetap perasaan dan ingin lepas dari pelukan tetapi tidak bisa, sang gadis merasa sesak.


Rasanya tak ingin bersama, tapi saat tahu mantan kekasih menangis tersedu-sedu, dia membiarkan pelukan itu.


.


.


.


Satu jam kemudian, Mateo menangis sambil mengatakan banyak hal membuat Tiara menjadi goyah, dia tidak menyangka jika seorang Mateo bisa mengatakan semua itu kepadanya.


"Kenapa kau tidak mengatakan jika ada hal sepenting ini?"


"Aku tidak bisa mengatakannya karena aku, tidak ingin kau merasa sedih!"


"Kau sakit, kenapa tidak berobat?"


"Aku sudah berobat, tapi kau tahu aku kan? aku adalah orang yang keras kepala."


"Apakah sakitmu parah?"


"Hanya luka ringan."


"Mana bisa ringan, kau mendapatkan tekanan seperti itu!"


"Kau terlalu serius. Aku hanya tak sengaja terbentur, kepalaku sakit. Dokter mengatakan jika aku harus berobat."


"Memangnya kau sakit apa?"


"Jatuh cinta padamu!"


"Sialan! kau bohong lagi?"


"Iya."


Sang gadis mulai kesal, dia menampar pipi Mateo, tapi Mateo dengan gerak cepat menyentuh bibir itu dengan bibirnya, rasanya masih manis.


Tamparan kedua sangat sakit, tapi dia tetap berusaha untuk mendapatkan hati Diara.


*****

__ADS_1


__ADS_2