
Pagi hari, pukul 06.30.
Setelah sarapan, Diara langsung on the way ke kantor Mateo.
Dia sudah menyusun sebuah rencana untuk tetap baik-baik saja ketika berhadapan dengan Mateo untuk 24 jam hari ini.
"Dia hanya mantan, kan ada Nicko," batin Diara mencoba untuk menenangkan diri.
Di kala gempuran sang mantan yang tiba-tiba saja menghubunginya lewat panggilan telepon serta pesan singkat.
"Astaga, baru juga berdoa, sudah usil saja."
Sepanjang perjalanan menuju kantor Mateo, Diara terlihat masa bodoh dengan panggilan atau pesan suara yang masuk ke dalam ponselnya, entah itu dari bos Mateo, atau dari kekasihnya.
Dia hanya ingin bekerja di tempat Mateo dengan tenang dan tanpa gangguan, intimidasi bahkan tekanan yang berlebihan dari seorang Mateo.
Sang gadis berusaha menjaga diri.
Hingga motornya terpaksa berhenti di depan kantor milik Mateo.
"Aku sudah ada di depan gerbang n*raka. Kalau tidak masuk, aku akan menjadi pengecut," batin sang gadis.
Tanpa berpikir panjang, dia segera memarkirkan motornya.
Tak di sangka, Mateo juga berada di sana.
Dia menyapa dengan bahagia.
"Wajahmu kenapa?"
"Oh, tidak ada apa-apa. Kenapa bos Mateo ada di sini?"
__ADS_1
"Aku menunggumu."
"Kita adalah bos dan anak buah, bukan pasangan kekasih lagi. Tolong jaga sikap."
"Haha, kau masih berharap kita bersama? oke. Mari jadi pasangan kekasih lagi."
Sang gadis merasa arah pembicaraan sudah tidak benar, sehingga dia segera balik badan.
Niatnya agar bisa lepas dari Mateo, tapi tidak demikian adanya.
Sang bos tetap menahannya, bahkan mengancam ingin mengendong tubuh sang gadis jika masih banyak tingkah.
"Ikut denganku, kau harus berjalan di belakangku."
"Bos, apa maksudmu?"
"Aku akan mengatakan pada kekasihmu jika kita pernah berhubungan lama. Kau paham?"
Si pria ternyata lebih cerdik, dia menggunakan masa lalu sebagai alat.
Dia hanya menuruti perkataan seorang Mateo yang pemaksa.
Dalam kesempatan yang sama, Nicko datang. Dia naik sebuah motor, sepertinya dia baru saja beli.
Nicko terkejut mendapati bos dan kekasihnya.
Namun, dia tidak merasa curiga.
Sang pria justru merasa senang karena bisa mendapatkan kesempatan untuk kembali merebut hati sang mantan.
"Bos dan pacarku, paling mereka ada janji bertemu," batin Nicko sambil menjawab panggilan telepon dari seorang pria yang menjadi koleganya.
__ADS_1
Sedangkan sang kekasih merasa di abaikan.
"Nicko adalah pria polos, dia juga tak akan curiga. Mudah bagiku mendapatkanmu lagi."
"Hah, apa kau bilang? aku akan mengatakan pada Nicko jika kau selalu menggangguku."
"Mana bisa, dia lebih mempercayai aku, daripada kau."
Sang gadis memilih untuk mengalah, daripada banyak bicara selalu mendapatkan masalah.
.
.
.
Ruangan Mateo ...
Setelah lelah berjalan, hingga naik lift, kini sampailah di ruangan Mateo.
Sebenarnya dia malas, kenapa bisa kembali ke mari, hal yang sangat di sayangkan olehnya.
"Hiks, apakah aku bisa bertahan?" batin sang gadis sedih.
Mateo sangat paham dengan apa yang ada di dalam hati sang gadis.
Jadi dengan mudah baginya melakukan banyak hal.
"Kau adalah karyawanku sekarang, apapun yang aku katakan adalah perintah. Kau paham? ulangi lagi kata-kataku!"
Gadis itu merasa kesal, tapi jika tidak segera di lakukan, pasti akan ada masalah baru.
__ADS_1
Beberapa detik kemudian, sang keras kepala untuk pertama kalinya mengiyakan perintah bosnya.
*****