
Sang ibu yang juga muak, berpura-pura pusing agar bos baru sang putri segera pergi dari rumahnya.
Jurus yang meragukan, tetapi sangat jitu.
Mateo sebenarnya cemas, tapi dia mencoba untuk masa bodoh.
Dia tidak bisa menjadi orang baik dalam sekejap. Di mata semua anggota keluarga mantan kekasihnya, sosok Mateo adalah pria yang sangat kejam dan tidak berperasaan.
Bagaimana tidak, Mateo bahkan meninggalkan sang gadis dengan teganya.
Di saat ibu Diara sakit, penyakit yang cukup menyita waktu.
Sang ibu memiliki penyakit vertigo yang sewaktu-waktu bisa kambuh, tapi untung saja setelah mendapatkan terapi, serta pengobatan yang sangat rutin, sang ibu sembuh secara perlahan.
Dokter selalu memberikan saran agar ibu Diara tidak terlalu memikirkan sesuatu dengan penuh perasaan.
Bebaskan saja semuanya, apalagi setelah suaminya meninggal, dia hampir saja ikut mati.
Namun, dua anak membuatnya tegar sampai saat ini.
"Ibu, kau tidak apa-apa?" tanya Nicko.
"Aku baik Nick, ibu hanya ingin beristirahat. Jika tidak ada yang perlu di bahas, kalian bisa pulang. Ibu benar-benar ingin ketenangan, maaf ya?" pinta sang ibu berpura-pura.
Mateo sebenarnya ikut panik, hanya saja perasaannya tidak mengizinkan seorang mantan kekasih terlalu dekat dengan keluarga mantan kekasihnya.
Akhirnya kedua orang tamu pergi dari sana lalu berpamitan dengan Diara dan Rafles.
"Maaf ya, aku sudah merusak hari kalian," ungkap Nicko.
"Bukan kau yang merusak hari kami. Tetapi orang yang ada di sampingmu itu!" jawab Diara keceplosan.
"Haha, kau sangat baik padaku, selalu saja pujian yang kau berikan padaku. Kau sangat pantas mendapatkan penghargaan," cetus sang bos membuat Nicko tersenyum.
Dia sudah paham sang bos memang sangat sarkas, sungguh pandai memainkan kata-kata tidak penting yang selalu menjuru pada sikap yang kasar.
"Bos, sudah. Kau tidak boleh seperti itu, nanti tidak ada yang mau denganmu. Dia kekasihku bos, kau sudah tahu kan dia bagaimana, kapan hari aku menyampaikannya dengan detail agar bos tahu jika seorang Diara adalah pekerja keras dan pantas mendapatkan jabatan yang bagus di kantor."
"Ya ya."
Sang gadis dengan sangat sopan mengusir dua orang tadi, begitu juga Rafles..
Dua orang yang merupakan kakak adik sangat kompak.
Nicko juga paham jika membawa bosnya ke rumah sang kekasih bukan hal yang tepat, hanya saja dia ingin sang kekasih bisa satu pekerjaan dengannya.
Jadi dia mengiyakan saat Mateo ingin bertemu dengan Diara.
.
.
.
Satu jam kemudian ...
Hari ini sangat tidak masuk akal, sebab pada waktu yang sama ada kekasih serta mantan kekasih datang bersamaan.
Hal ini sangat aneh.
Di meja makan pun, dua orang masih saja bergosip.
__ADS_1
Kakak beradik itu.
"Heh, apa masuk akal jika Mateo menjadi bosmu? kau clbk nanti," ujar sang kakak ketus.
"Ih mana ada. Kau adalah orang paling tidak masuk akal yang memberikan argumen aneh sepanjang masa. Aku bukan orang yang baik, tetapi masih waras."
"Haha, kau sudah lihat kan jika ibu saja mual melihat kehadiran mantanmu itu. Kau harus sadar diri, jangan sampai dia kembali lagi ke rumah ini. Oh ya, satu hal yang lebih penting dari semua itu adalah jangan sebut nama Mateo di depan ibu. Catat itu."
"Memangnya kenapa?"
"Masakan ibu yang sangat enak dan super lezat, akan menjadi asin semua."
Sang adik merasa ada yang aneh memang dengan semua makanan yang sudah di buat ibunya.
Sarapan hari ini seperti berenang di lautan, asin semua.
"Haha, aku baru sadar. Tak apalah, aku makan saja. Dari pada nanti aku di suruh makan batu."
"Wkwkwk seperti waktu itu? Batu panas."
"Sialan."
"Haha."
Sang adik segera memakan satu piring nasi dengan ayam, sayur dengan rasa yang luar biasa nikmat.
Sang ibu yang merasa sangat malas hanya ada di kamarnya karena kesal dengan Mateo.
Pria tidak punya hati.
..
Sarapan sudah selesai, hari ini adalah hari dimana sang adik berangkat ke kantor untuk interview, dia masih berada di kantor yang lama, jadi harus benar-benar profesional.
Namun telefon dari bos lama membuatnya terhenyak.
"Kau sudah bekerja di kantor bos Mateo?" tanya bos lamanya.
"Belum, ada apa ya bos?"
"Dia sudah membuat keputusan jadi kau harus mengikutinya. Kau kerja dengannya saja. Bos Mateo juga memberikan banyak modal untukku. Meski kau adalah karyawan yang sangat rajin dan berdedikasi, aku juga butuh uang untuk permodalan. Melepaskanmu pada bos Mateo adalah keputusan yang sangat tepat."
"Kau tega."
"Aku sudah beri pesangon, kau bisa main ke sini kapanpun kau mau. Pergilah ke kantor bosmu yang baru, jadilah karyawan yang baik."
Panggilan telefon itu akhirnya usai, sang gadis harus menerima apa yang harus di terima.
Sang kakak mendekat dan memberikan semangat.
"Antar aku ke sana."
"Kemana?"
"Kantor Mateo."
"Ogah."
"Ih, kakak!"
"Minta saja kekasihmu."
__ADS_1
"Tidak. Dia akan membawa bos kesayangannya dan menyulitkan aku."
"Haha, kau mengapa menjadi bodoh seperti Nicko, kalian lama-lama menjadi bodoh bersamaan. Mateo saja ditakuti."
"Loh, kau tidak takut?"
"Aku tidak takut, hanya muak saja."
"Hentikan semua ini. Cepatlah pergi, pergi temui mantan kekasihmu."
"Kakak!"
Sang kakak kabur saat sang adik ingin mendorong tubuh kakaknya, virus Mateo memang sudah menjalar di keluarga itu.
Anti sangat dengan pria tak punya hati itu.
.
.
.
Langkah sang gadis kini sudah berada di depan rumah, dia juga berada di atas motornya, bersiap untuk go go go ke kantor. Namun panggilan telefon dari nomor tidak dikenal, membuatnya terganggu.
"Siapa sih orang ini," batin gadis itu kesal.
Hingga dia menjawab panggilan telefon itu karena bosan mendengar ponselnya bergetar.
"Siapa kau? mau duel atau bagaimana?"
"Mau duel tapi di ranjang."
Deg!
Suara itu terdengar sangat familiar, lalu tanpa rasa malu, orang yang menelfon memberikan siapa dirinya.
"Aku Mateo, ingin bertanya maksudmu tanya tentang statusku masih single atau menikah."
Sang gadis sebenarnya malas, tapi karena sudah terlanjut.
Dia menjawab saja.
"Oh apakah kau? Ya, maaf salah sambung."
Tut ... tut ... Tut ...
Diara melakukan hal yang paling tepat.
"Hari paling sial, di pecat oleh bos. Dia memang memberi pesangon, tapi memasukkan aku dalam jurang yang menyeramkan."
Dia tidak bisa menahannya lagi, tapi demi uang, Diara akan tetap berjuang.
"Tuhan, berkati aku."
Sang gadis menghidupkan motornya, melaju cukup pelan karena jarak kantor dengan rumahnya cukup dekat, rasanya malas sampai di sana tepat waktu.
Mungkin saja dengan dia terlambat, Mateo segera memecatnya, sebuah hal yang sangat diharapkan oleh Diara.
Sungguh sulit jika hidup masih berada di dalam bayangan mantan.
*****
__ADS_1