
Diara dan mantan kekasih begitu senang dengan semua yang ada.
Awal yang bagus dari sebuah hubungan.
"Kau harus membayar apa yang sudah kau lakukan," pinta Mateo.
"Dih, memangnya salahku apa?" jawab Diara seperti tidak bersalah.
"Heh, kau sudah mengotori jas milikku dengan ingusmu."
Mateo tersenyum manis, baru kali ini tatapan itu sangat menenangkan.
Diara yang merasa bahwa semua ini sangat aneh, mencoba untuk memahami arti pertemanan ini.
Sang gadis cemas, saat ia setuju akan ajakan pertemanan.
"Jika aku berteman dengannya, bukankah akan membuka lebar kesempatan untuknya menjadi kekasihku? ah, biarkan saja! aku tidak peduli! aku mengenal orang ini sudah lama, sekiranya dia sudah kelewatan, pasti aku akan memberikannya pelajaran," batin sang gadis mencoba untuk menenangkan diri.
Semua yang terjadi di dalam kehidupannya merupakan satu hal yang pasti, jadi tidak perlu terlalu memikirkannya.
Tuhan memahami setiap kesulitan hambanya.
Semua sudah digariskan olehNya.
Hari ini seperti mengulang hari-hari yang lalu.
Entah apa yang terjadi, tetapi sebisa mungkin akan dilalui oleh Diara dengan bahagia.
Diara dan Mateo memutuskan untuk naik jetski bersama.
Meskipun rasanya sangat canggung.
.
.
.
Satu jam berlalu ...
"Kau senang Mateo?" tanya Diara yang kini sedang berada di sebuah restoran.
Tempatnya ada di samping markas jetski. Setelah main dengan sepuasnya, kedua orang itu segera mengisi perut.
"Loh, seharusnya kau tanya pada dirimu sendiri, bukannya aku!" jawab Mateo merasa bahwa perkataan Diara tidak tepat sasaran.
"Aku sudah baik-baik saja, menjadi orang yang menyebalkan adalah hobiku, jadi aku bertanya hal tidak penting padamu."
"Haha, tidak lucu sama sekali."
"Makan saja kepiting saus tiram itu, aku sudah memesannya untukmu, besok kau tidak akan melihatku di kantor," cetus Diara.
__ADS_1
Dia tidak sadar atau pura-pura lupa.
Sewa jetski dan segala makanan, minuman yang tersedia di depan meja, bukannya si gadis yang membayar, tetapi Mateo.
"Iya, membayar dengan ATMku," jawab Mateo.
"Wkwkwk, kau masih saja lucu."
"Kau yang lucu, menjadi orang itu jangan terlalu baik, kau adalah gadis paling polos yang pernah aku temui, jangan seperti ini dengan siapapun, sebab akan menyulitkan kehidupanmu," pinta Mateo.
Dia memahami siapa Diara yang sebenarnya, entah sekarang atau besok, pasti ada saja yang akan menipunya.
Mateo paham, Diara adalah satu-satunya gadis jujur, ditengah serbuan gadis pembohong yang ada di sekitar Mateo.
Bukan tanpa alasan Mateo mengatakan ini, sebab selama kurun waktu putus dari Diara, Mateo mulai membuka hati untuk gadis, tapi nyatanya sang pria justru merasa seperti barang rongsokan.
Mateo mendapatkan tipuan dari segala arah, bahkan hartanya yang banyak itu sudah di ambil setengahnya untuk membiayai kehidupan lima gadis sementaranya.
"Kau tahu, aku sudah dekat dengan berapa gadis saat kita putus dulu?" tanya Mateo di sela momen makan kepiting.
"Berapa? biasanya kau banyak gadis yang mendekat. Kau seorang CEO tampan dan berbakat, tidak mungkin untukmu berada diantara gadis yang tidak berkelas," ledek Diara dengan tatapan mata yang menghina.
"Heh, kau sudah menganggap rendah diriku, mereka lebih baik darimu, setidaknya, gadis selain kau lebih menghargai hubungan."
"Menghargai atau mencuri uang dan ATMmu? aku tahu mereka sangat ingin menjadi kekasihmu, tapi menjadikanmu ATM berjalan."
"Jika seperti itu adanya, bukan masalah besar kan untukmu?"
Diara tidak sadar dengan apa yang ia katakan, sehingga matanya langsung mengarah ke tempat lain, menatap apapun yang bisa mengalihkannya dari pandangan mata Mateo yang sangat teduh.
Hari ini memang Diara telah mengalami sebuah peristiwa sakit hati yang mendalam, tapi berkat Mateo, ia bisa bangkit kembali lalu menemukan satu hal yang belum pernah ia rasakan selama ini.
Sebuah perasaan nyaman.'
DIara tidak memungkiri rasa nyaman yang dia rasakan hanya saat bersama dengan Mateo.
Dia bisa menjadi dirinya sendiri, mau mengupil, berbicara saat mengunyah makanan, atau hal tidak waras lain, Diara bisa melakukannya di depan Mateo tanpa rasa malu.
"Kau menginap di rumahku saja ya? aku ada teman untukmu," pinta Mateo.
"Ogah, kau pikir aku orang seperti apa. Kau tutup saja tawaranmu itu sebab aku memilih untuk bersama dengan kakakku saja. Apalagi ibu tidak suka dengan hubungan kita, sembunyikan semua pertemanan ini jika tidak ingin dianggap barang rongsokan oleh ibuku."
"Haha, aku sudah menjadi barang rongsokan setelah putus darimu, tidak begitu masalah dengan julukan itu. Aku mau main ke rumahmu, meminta maaf kepada ibu dan kakakmu, boleh?"
"Permintaan yang aneh, kau adalah mantan kekasihku, sekarang jadi teman. Kalau kau main ke rumahku, tidak masalah. Jikalau ada masalah, pasti karena aku yang baper mungkin ya."
Mateo dan Diara kembali bertatapan, keduanya merasa ada yang aneh, keakraban ini seperti nyata adanya.
.
.
__ADS_1
.
Beberapa menit kemudian ...
Keduanya telah sepakat tidak baper, apalagi mengungkit masa lalu.
Masalah Diara dengan Nicko membawa berkah bagi seorang Mateo, meskipun sangat sulit baginya untuk tidak menyukai Diara dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Diara dan Mateo sudah beranjak dari restoran, kedua tangan mereka juga sudah bersih dari segala hal mengenai makanan laut, walaupun ada satu insiden saat cuci tangan.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Mateo
"Aku baik, kenapa sih?" jawab Diara merasa aneh.
"Tadi kau di tabrak oleh seorang pria, bahkan kau sampai terjatuh saat cuci tangan di wastafel."
"Oh, itu. Aku sedang tidak enak badan saja."
"Kau banyak melamun, bisakah ceritakan padaku apa masalahmu?"
"Tidak mau, kau akan mengejekku nanti. Sudahlah, lebih baik kau masuk ke dalam mobilmu, aku akan naik motorku. Kita naik kendaraan masing-masing. Semua biaya yang kau keluarkan hari ini, aku pasti menggantinya. Termasuk baju yang aku pakai. Kau sangat pandai memilih."
Tampilan Diara yang tak biasa saat mengenakan baju lebih feminim.
"Kau sangat manis seperti sebelumnya, aku masih ingat semua hal yang kau sukai dan tidak kau sukai."
"Oh, begitu kah?"
"Iya."
Diara berusaha keras untuk tidak baper, sebab mantan kekasih memang seperti itu, suka baperin anak orang.
"Jangan baperin aku, please! gak bisa move on lagi, berabe!" batin sang gadis merasa aneh dengan perasaanya sendiri.
.
.
.
Setelah merasa baper dengan kata-kata Mateo, Diara segera berjalan menuju tempat parkir terlebih dahulu.
Langkah Diara yang terlalu cepat, justru membuatnya terjatuh, Mateo ingin membantu Diara bangkit, tetapi langsung dicegah dengan sempurna.
"Heh, jangan pegang-pegang," ucap Diara yang kini sudah berada setengah jalan menuju tempat parkir.
"Kau terjatuh, kenapa? tempat parkir tidak terlalu jauh dari sini, biarkan aku yang menggendong kau!"
Tanpa basa-basi, Mateo mengangkat tubuh itu dan menggendong tubuh sang mantan ala bridal style.
Sang mantan terus memberontak, tetapi Mateo tidak mau menggubrisnya.
__ADS_1
*****