
"Haha, kau adalah orang sangat tidak masuk akal," ujar Nicko.
"Memang dia orang yang seperti itu," jawab Diara.
"Kau mengetahui bos seperti itu, maksudnya bagaimana?" ujar Nicko dengan perasaan yang sangat penasaran.
Bagaimana tidak, jika seorang Nicko yang sudah lama berkenalan dengan Mateo, belum juga memahami seperti apa sang bos, tapi Diara baru mengenal, ini aneh baginya.
"Seperti itu, maksudnya apa?"
"Oh, maaf. Aku merasa kau tahu dia, jadi aku mengatakan seperti itu saja. Kau paham kan dengan apa yang aku katakan?"
"Aku kadang tidak memahami apa yang bos Mateo lakukan."
"Aku juga tidak paham, ah malas untuk mengingat dia. Bos yang selama ini kau kenal, kadang berkepribadian ganda. Saat bersamaku, begitu pandai untuk mengerjaiku, tetapi saat ada dirimu dia berubah menjadi sok manis."
"Iya kah? apa bos kita memiliki kelainan?"
"Maksudnya?"
"Dia memiliki kecenderungan kepada seorang pria?"
"Ih, mungkin saja aku juga tidak tahu. Hm, kenapa kita terlalu banyak mengatakan hal buruk tentang bos?"
"Kau yang memulainya, apakah tidak sadar?"
"Hehe iya, btw mau kemana?"
"Aku ingin mengajakmu makan, kau suka kan makan daging?"
__ADS_1
"Iya sayang, aku suka sekali. Kedai daging Om Mark kan?"
"Iya, disana kita pertama bertemu, kau seperti orang yang tidak waras saat ini. Meminum banyak alkohol, lalu menamparku."
"Maaf ya? aku tidak sengaja."
"Iya, kau tenang saja. Setelah itu, aku menjadi cinta padamu. Apakah kau paham rasanya menjadi aku yang tak pernah dianggap?"
Nicko hanya bercanda sebenarnya.
Namun, sejatinya, apa yang dia sampaikan memang benar adanya.
Sang pria berada dalam posisi yang tidak menyenangkan, semuanya serba repot tak terkendali.
"Haha, kau menjadi wanita paling takut aku tinggalkan, aku suka. Itu pertanda kau sangat sayang padaku," imbuh Nicko penuh percaya diri.
Padahal selama ini, pria itu sungguh tak berdaya, menjadi kehidupan keduanya dalam dilema yang tak biasa.
Sang gadis waktu itu masih menangis tersedu karena Mateo pergi meninggalkannya tanpa sepatah katapun, marah-marah tidak jelas dan pergi.
Ini adalah awal yang menyakitkan baginya.
Pantai ujung kota ...
Mobil Nicko berhenti di tempat parkir, di tempat itu terdengar suara pantai.
"Nick, kita dimana? pantai ya?"
"Sudah tahu, bertanya! huh, bikin gemes."
__ADS_1
Nicko mengacak rambut Diara pelan.
Diara yang paham akan kasih sayang Nicko senang-senang saja dengan semua ini, jadi tak membuatnya merasa aneh dengan semua perhatian kecil nan manis dari Nicko.
Beberapa menit berlalu, mobil Mateo juga sudah ada di tempat parkir, tapi mobilnya berada di jarak beberapa meter dari mobil Nicko.
Dia tidak mau ketahuan, jadi berusaha untuk menghindar.
"Sialan! apakah ini hal yang bagus? aku menjadi mata-mata untuk mantan kekasihku? memang aku tidak waras."
Mateo mengenakan kacamata hitam, agar tidak ketahuan oleh pasangan itu.
Perlahan tubuh itu, keluar dari mobil.
Mencoba mencari pasangan kekasih yang sedang di mabuk asmara itu.
Pantai pasir putih ...
Nicko dan Diara sedang duduk di atas pasir putih.
Keduanya terlihat sebuah perbincangan yang asik.
"Di, aku ingin segera melamarmu, apakah kau mau menikah denganku?"
"Ha? yang benar saja, katanya kau berada di dalam satu kesulitan, kenapa tiba-tiba ingin menikah?"
"Aku takut kehilanganmu," ucap Nicko sambil menatap mata Diara.
Dia merasa jika gadisnya pasti akan memilih pria lain karena Nicko adalah pria yang membosankan, itu yang dirasakan oleh pria rajin bekerja itu.
__ADS_1
*****