
Beberapa menit kemudian ...
Ruang kerja Mateo ...
Mateo terlihat sangat senang karena hari ini, dia pasti akan mendapatkan strike.
"Bertemu mantan kekasih? aku sangat senang, bahkan ini adalah waktu yang sangat aku tunggu. Aku tidak akan melakukan semua ini tanpa tujuan. Memecatnya dari kantor terdahulu juga bukan tanpa alasan. Aku akan mendapatkannya lagi dengan caraku."
Dalam perasaan yang sangat gembira ini, tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu.
Dia tidak akan menahan diri lagi.
"Masuk," kata Mateo.
Pintu terbuka, di sana nampak seorang yang sangat Mateo inginkan.
"Nona Diara," ucap Mateo.
Dia segera mempersilakan sang mantan kekasih duduk di hadapannya.
Diara malas, dia mencoba untuk tetap biasa saja.
"Apa yang ingin kau tanyakan? apakah seorang bos angkuh sepertimu juga merangkap sebagai HRD?" ungkap Diara.
Wajahnya sudah terlihat sangat malas, dia membuang muka.
Mateo yang sangat senang dengan semua ini, begitu girangnya, seakan menambah semangat untuk dirinya mengerjai Diara.
"Iyalah, memangnya aku di sini sebagai apa jika tidak sebagai HRD. Kau jawab saja apa yang aku tanyakan."
Mateo mulai melakukan aksinya.
__ADS_1
"Hm," jawab Diara malas.
"Kau sudah menikah?" tanya sang mantan.
Sebuah pertanyaan yang membuat Diara malas menjawab.
"Kau sudah menikah?" tanya Mateo sekali lagi.
"Apakah aku perlu aku jawab?"
Sang gadis malas sekali, dia ingin beranjak dari tempat duduk lalu dicegah Mateo.
"Mau pergi kemana lagi? lima tahun yang lalu, kita berpisah dengan cara tidak baik-baik. Apakah dalam pekerjaan juga sama? aku tahu kau butuh uang, tinggal jawab lima pertanyaan yang aku sampaikan. Nicko adalah karyawan terbaikku, kau harus tahu jika dia akan kecewa saat tahu mau tidak memanfaatkan kesempatan dengan baik," ujar Mateo.
Sang gadis nyatanya lebih memahami apa sebenarnya yang ada di dalam hati sang gadis.
Jadi dia akan tetap menguasai keadaan.
"Haha bohong masalah apa? tinggal jawab saja."
"Mungkin aku akan segera menikah. Kau puas?"
"Tidak, biasa saja. Pertanyaan kedua, kenapa harus Nicko yang menjadi kekasihmu?"
"Tuan Mateo, apakah itu penting?"
"Ya. jawab saja."
"Dia baik dan memahami perasaanku."
"Oh, oke. Pertanyaan ke 3,4,5, untuk besok saja, kau datang lagi besok. Aku takut kau tak akan bisa menjawabnya."
__ADS_1
Diara semakin dongkol dengan pria model seperti ini, tapi nyatanya justru melakukan banyak kebohongan.
"Maaf, aku tak mau bekerja di sini."
Diara benar-benar ingin pergi, dia merasa jika mantan kekasihnya hanya senang mengerjainya saja, tidak begitu serius memintanya bergabung dalam perusahaan
"Haha, jangan cepat putus asa, kau bisa menjadi karyawanku yang sangat rajin. Aku akan menambah gajimu menjadi 2x lipat."
Apa yang dikatakan oleh Mateo merupakan angin segar, tapi dia lebih memilih untuk pulang.
Namun, sang mantan masih ingin Diara berada di sana, jadi kembali mengeluarkan jurusnya.
"Kau bisa membantu ibu dan kakakmu, loh katanya lagi butuh?"
Mateo terus memprovokasi hingga Diara semakin terlalu malas.
"Aku pulang."
Diara nekat, sebenarnya dia memang butuh pekerjaan, tapi harga diri baginya lebih penting dari segalanya.
Mateo lebih memahami Diara.
Sang gadis tak mungkin melepaskan kesempatan ini.
Dia membiarkan Diara pergi dari ruangannya.
Bruak!
Suara pintu dibanting terdengar sangat nyaring, membuat Mateo makin semangat mengerjai Diara.
"Haha, sasaran empuk ini mah, Diara! jangan sebut aku Mateo jika tidak bisa mengikatmu menjadi karyawan abadiku!"
__ADS_1
*****