
Keadaan Mateo setelah itu menjadi sangat tidak baik-baik saja, perasaannya begitu sedih dan terluka.
Hatinya semakin hancur kala Diara lebih memilih Nicko menjadi kekasih hati daripada dirinya.
"Aku tidak memahami perasaan ini, yang ada hanyalah sebuah ketidakpastian. Rasa yang menjadi titik dimana kau hancur, aku sedang merasakannya," ujar Mateo.
Mateo baru setengah jalan dan memilih untuk mampir di sebuh bar yang biasa sang pria datangi untuk mendapatkan pencerahan.
Di dalam bar ...
"Bos?" teriak sang pemilik bar bernama Aldo, seorang teman yang kini menggeluti usaha bar.
Mateo menatap wajah sang teman dengan senyum yang menawan, bahkan Aldo saja ngeri membayangkannya.
"Aldo, apa kabar?" cetus Mateo.
"Baik, sudah lama tidak main," jawab Aldo.
"Aku sudah tidak memiliki kekasih jadi malas untuk datang, kau paham kan apa yang aku katakan?" ungkap Mateo.
Aldo mengajak Mateo untuk duduk dan menikmati minuman yang sangat enak dari barnya.
Baru juga mau mengambilkan minuman itu, datanglah seorang pria dan gadis dewasa masuk ke dalam bar.
Aldo memicingkan kedua matanya dan mendapati seorang gadis yang sangat suka dengan Mateo, Audrey.
"Mateo harus pergi dari sini, dia bersama dengan pria lain, entah apa yang terjadi jika Audrey bertatap muka dengan Mateo."
Aldo meminta Mateo untuk ikut dengannya ke gudang minuman paling enak di barnya, kata Aldo, baru juga datang dari luar negeri.
Mateo yang tidak tahu apa-apa terlihat mengikuti saja apa yang di katakan oleh sang teman.
Gudang Bar minuman ...
Setelah melewati lorong, keduanya terlihat masuk ke dalam ruangan yang merupakan gudangnya minuman.
Mateo heran dengan tingkah laku Aldo.
"Kenapa kau mengajakku kemari?" ucap Mateo merasa bahwa ada yang di sembunyikan oleh Aldo.
"Aku melihat Audrey di tempat ini, apa kau mau bertemu dengannya?" jawab Aldo dengan perasaan yang sangat bahagia.
"Haha, kau akan menjerumuskan aku ke dalam jurang kenistaan ya, malas aku bertemu dengannya," jawab Mateo kesal.
Dia menjadi orang pertama yang tertawa terbahak-bahak ketika melihat raut wajah temannya.
Audrey memang ancaman, jadi Mateo harus menghindar.
"Iya, aku paham dengan isi otakmu, makanya aku mengajakmu pergi dari sana, oh ya, katakan padaku tentang semua masalahmu. Aku siap menjadi pendengar setia."
"Aku bersama dengan Nicko dan Diara, entah mengapa rasanya sakit melihat kebahagiaan mereka berdua. Apakah tandanya aku harus move on ya?"
"Tidak juga, kau hanya perlu menjadi orang yang tegar menghadapi cobaan ini. Berikan waktu untuk Diara berpikir jika kau sudah berubah, kau masih galak?"
"Ya masihlah, jahil juga masih."
__ADS_1
"Wakakaka, mana bisa menjadi baik di depan mantan kekasih jika masih memiliki sifat lama yang menyebalkan. Kau pantas dapat nasihat dariku."
"Apa nasihatmu?"
"Jadilah diri sendiri, rubah semua sifat buruk yang kau miliki."
"Apa bisa seperti itu?"
"Kan, banyak bicara. Aku akan memberikanmu minuman itu, sebentar, aku ambilkan."
Aldo berjalan ke arah dua rak lemari dengan posisi berada di paling pojok ruangan itu.
Setelah mendapatkan minuman yang dimaksud, Aldo menyerahkannya kepada Mateo.
"Ini, minumlah."
"Ya, tidak kau buka tutupnya?"
"Sudah, minum saja."
Dalam waktu singkat, sang pria merasa segar dengan minuman baru ini.
"Kau yang meraciknya? kenapa berbeda dengan lainnya?"
"Iya, aku yang membuatnya, tapi pabrik terkenal membuatnya sangat premium. Coba saja daripada banyak bicara."
Sang pria yang berada dalam kondisi sakit hati yang mendalam, merasakan sedikit lega.
Di hatinya ada rasa aneh yang nyaman.
Hingga satu botol habis tak tersisa.
Mateo merasa kurang dan meminta lagi.
Satu jam kemudian, Mateo menjadi mabuk. Pria itu melakukan beberapa cara untuk mengungkapkan perasaannya yang terluka sebab di tinggalkan oleh Diara.
Di tinggal bermesraan dengan Nicko.
"Nicko dan aku adalah teman, kami berhubungan layaknya bos dan karyawan. Entah kapan rasa ini menjadi mati. Aku sangat benci karyawan sok rajin seperti Nicko."
Aldo tersenyum mendapati Mateo mulai berkata jujur.
"Kau katakan saja semua yang membuat hatimu sesak."
Mateo seketika menangis, dia tidak menjadi orang yang marah, tapi tersedu.
Awalnya saja garang, tapi pada akhirnya tidak bisa di tebak.
"Kenapa kau menangis?" tanya Aldo.
"Aku masih mencintai Diara, tapi gadis itu sangat benci padaku. Perpisahan kami belum sempurna, kenapa dengan mudahnya pergi? ini tidak adil bagiku. Aku memang jahat dan menyebalkan, tetapi setidaknya berikan aku waktu untuk mendapatkan satu cinta yang mungkin bisa aku jadikan pedoman, jika dia pernah mencintaiku."
"Kau ngelantur. Katakan saja yang jelas, kau adalah pria banyak basa-basi, makanya kekasihmu pergi."
Mateo memukul wajah sang teman, dia menjadi tidak terkendali, beberapa minuman terjatuh dari tempatnya karena tertabrak tubuh Aldo yang dipukul oleh Mateo.
__ADS_1
"Rasakan ini!"
Bug!
Untuk pukulan kedua bisa Aldo hindari. Dia mencoba untuk mengajak Mateo berbicara lagi.
"Aku akan memanggilkan Diara, dia akan paham kondisimu."
"Jangan, apa kau ingin aku menjadi pria tidak masuk akal?"
"Selesaikan masalahmu. Kau perlu tahu jika seorang pria boleh menangis, tapi tidak boleh menyerah. Kejar dia sampai dapat jika kau masih merasa sayang."
Aldo memprovokasi, ini baik bagi sang pria sebab setelah ada kata-kata dukungan, pasti mendapatkan satu kesempatan untuk hidup kembali.
Dua jam berlalu ...
Aldo lelah meladeni si pria dan langsung saja dia merobohkan Mateo, meski selama satu jam ini ada adegan baku hantam di sertai curhat.
"Cih, pria ini sok kuat. Apa bisa seperti ini terus?" ucap Aldo.
Dia segera menghubungi Diara menggunakan ponsel miliknya.
"Di? kau dimana?"
"Aldo? lama tak bersua, ada apa ya? tumben?"
"Mantan kekasihmu datang padaku. Dia mabuk, bawa dia pulang."
"Dih, ogah banget. Mana bisa aku melakukan ini padanya."
"Kau bisa melakukannya. Cepat datang, dia akan mati jika kau terlambat."
"Bodo amat."
Panggilan telepon langsung mati, Aldo merasa jika Diara pasti datang.
Dia yakin sekali.
Rumah Diara ...
Sang gadis baru juga sampai di rumah, tapi bagaimana bisa mendapatkan informasi mengenai Mateo yang hampir mati.
"Dia mau mati, mau hidup, bukan urusanku."
Namun semua perasaan gundah itu tiba-tiba muncul.
Bagaimanapun, Mateo adalah orang yang selama ini ada dalam kehidupannya.
Kalau tidak demi nyawa Mateo, mana bisa dia tidak datang.
"Sialan, aku memang harus menemuinya."
Diara bergegas naik motor sang kakak, sampai lupa berpamitan. Sang ibu yang kebetulan sedang pergi, sang kakak yang tidak ada di rumah, membuat Diara leluasa pergi tanpa memberikan banyak alasan untuk melancarkan niatnya bertemu dengan Mateo.
Di sepanjang perjalanan menuju bar, rasa tak nyaman menyelimuti seluruh hatinya.
__ADS_1
Diara sangat cemas akan keadaan mantan kekasihnya."
*****