Pesona Mantan Bikin Klepek-klepek

Pesona Mantan Bikin Klepek-klepek
Diara dan Mateo


__ADS_3

Dalam keadaan yang was-was, Diara mencoba menelepon nomor ponsel Mateo.


Dia semakin tidak menentu karena sebelumnya, nomor ponsel Mateo tidak pernah mati walau sejenak, mantannya memang orang yang sangat sibuk.


Jadi dia akan membiarkan ponsel miliknya tetap hidup meskipun tidak ia gunakan.


"Apa dia mati?"


Diara berpikir keras, sang gadis hanya merasa perlu menjadi baik dengan memberikan semangat kepada mantan.


Beberapa menit berlalu, Diara telah berada di depan bar dengan gaya yang elegan.


Aldo sudah ada di depan pintu.


"Masuk," pinta Aldo dengan melambaikan tangan ke arah Diara.


"Ya," jawab Diara sambil berjalan menuju Aldo berada.


.


.


.


Di dalam bar ...


Diara dan Aldo duduk di kursi bar, sang teman sangat dramatis menceritakan hal yang sesungguhnya tentang hubungan kekasih itu.


"Kalian belum menjadi teman setelah berpisah, kenapa kau tidak mau memahami mantanmu? dia hampir saja mati, kau bahkan mengatakan jika ini adalah satu hal yang membuat hubungan cinta kalian pudar begitu saja."


"Aku ingin minum, berikan aku satu gelas."


"Aku tidak akan memberikan padamu, kau tahu jika aku pelit, jangan pernah kau merasa menjadi orang yang sok berkuasa terhadap hati Mateo jika sikapmu sangat menyebalkan. Temui Mateo di kamar atas, dia ada di sana. Rawat dia."


"Ogah!"


"Ikuti kataku, aku hanya akan memberikanmu waktu yang singkat, jadi kau tidak perlu merasa sok berkuasa lagi. Berikan kesempatan Mateo untuk memperjelas kenapa kalian putus."


Sang gadis berpikir jika orang yang selama ini menjadi kekasih dan satu tahun sudah tidak ada hubungan, terasa sangat aneh.


Dia tidak mau menjadi gadis jahat, setidaknya mendengarkan Aldo tidak ada masalah.


.


.


.


Di kamar Aldo, bar lantai dua ...


Kini sang gadis sudah berada di depan kamar Aldo, Diara agak malas, tapi kata-kata Aldo sangat menyedihkan.


Jika Mateo mati bagaimana?"


Klek


Pintu terbuka dengan sempurna sehingga membuat Diara melihat situasi yang sebenarnya di dalam kamar itu.

__ADS_1


Mateo, terbaring lemah di atas sebuah sofa yang cukup empuk.


Diara menghampiri mantan kekasih dan mencoba untuk membangunkannya.


Baru juga satu langkah, dia sudah merasa grogi karena selama ini jarang sekali berduaan dengan Mateo, apalagi hari ini sempat bertemu di pantai dan ketahuan olehnya.


Namun, mau bagaimana lagi? Dia tak bisa menjadi orang yang egois, jika Mateo berada dalam kesusahan seharusnya dia memberikan bantuan meskipun ada beberapa hal yang membuatnya ragu.


Diara memantapkan langkahnya dan mendekati Mateo.


Kini itu pulsa gadis telah berada di dekat Mateo, iya segera mengecek kondisi sang pria.


Namun, tak ada apa-apa.


Hingga kedua mata Mateo membelalak dengan sempurna saat ada gadis yang selama ini ia inginkan kehadirannya.


"Diara?"


"Iya, ini aku? kenapa? katanya kau mau mati?"


"Aku masih hidup, aku merasa pusing, kenapa aku begini?"


"Entah, jika kau merasa baik-baik saja, tolong berikan aku izin untuk pulang ke rumah."


Sang gadis membalikkan tubuhnya kemudian di cegah oleh Mateo.


"Kau bisa pergi ketika kita menyelesaikan masalah yang belum pernah usai, Aku ingin kepastian tentang hubungan kita."


"Kepastian apa yang kau inginkan padahal hubungan kita memang sudah usai satu tahun lalu?"


"Aku butuh jawaban darimu atas apa yang aku tanyakan setelah ini!"


"Tidak, perasaanku baik-baik saja, aku tidak pernah menyuruh siapapun untuk datang kemari karena aku tidak mengingat apa yang sebenarnya terjadi."


"Oh."


Diara melangkah menuju pintu keluar untuk meninggalkan Mateo.


"Aku memutuskan untuk kembali mengejarmu, apapun yang terjadi meskipun itu Nicko, aku akan berkompetisi untuk menjadikan kau ratu di dalam hatiku lagi."


"Kau menganggap aku barang saja, kau masih sama seperti dulu!"


Diara teringat tentang pembicaraan bersama Mateo.


Dua sejolo itu dalam kondisi yang tidak baik-baik saja karena mabuk.


Hingga satu kesempatan membuat Diara jatuh dan menabrak seorang pria kekar.


Diara menjadi taruhan saat itu dan membuatnya kesal.


"Kau tidak pernah tahu rasanya jika menjadi taruhan!" teriak Diara.


"Kau masih memikirkan peristiwa saat di bar? Itu semua adalah kesalahanku dan aku akan meminta maaf padamu, selama 2 bulan lamanya kau menjadi orang yang berbeda tetapi aku tetap sabar. Kau adalah seorang gadis yang selama ini menemani hari-hariku, jika kau tiada bagaimana?"


"Taruhan seperti itu bisa membuatmu terluka, hanya ingin kau baik-baik saja tanpa luka di tubuhmu tetapi otakmu tidak bisa diajak kompromi!"


"Kau mengkhawatirkan keadaanku?"

__ADS_1


Mateo merasa senang karena mantan kekasihnya bisa memberikan sebuah keromantisan yang mungkin hanya sederhana saja, kata-kata yang terucap sungguh membuatnya tersenyum tipis meskipun rasanya sangat sakit ketika melihat kenyataan bahwa dirinya telah berpisah dengan Diara.


"Iya, tapi dulu, saat kita berdua masih menjalin hubungan."


Diara, sebenarnya ingin meneteskan air matanya karena teringat banyak hal yang sangat ingin ia lupakan, dia mencoba untuk tidak memberikan waktu kepada mantan kekasih memikirkan apapun yang terbaik untuknya.


Termasuk berkompetisi untuk memperebutkan hatinya.


Sang gadis, sama sekali tidak setuju akan hal ini.


"Aku akan kembali padamu, tidak perlu cemaskan banyak hal, semuanya akan terjadi sesuai dengan kehendak Tuhan."


Mateo, cukup jujur mengatakan apa yang ada di dalam hatinya karena selama ini bukan gayanya memberikan informasi terlebih dahulu mengenai perasaan cintanya yang sesungguhnya."


Cintanya tak seindah yang dibayangkan, hanya saja, Mateo terlalu tergila-gila dengan sosok Diara.


"Kita akan bertemu lagi di kantor, kau jangan pernah mengatakan apapun kepada Nicko tentang hubungan kita, apapun yang terjadi."


"Oke, tapi kau harus mengikuti apa yang aku inginkan!"


Mateo terlalu cerdik untuk berkata-kata.


Dia mencoba untuk mengikat sang kekasihnya dalam satu kesempatan yang nyata.


"Oh, kok banyak bicara ternyata, jika hari itu oleh aku tidak mau."


"Datanglah pada acara ulang tahunku besok, Aku tidak mau kau menjadi orang yang memikirkan masa lalu, dan tidak profesional. Ini merupakan acara kantor yang akan segera dilaksanakan. Kau bisa datang dengan Nicko."


Mateo mencoba untuk memberikan rayuannya sehingga gadis itu mau mengikuti apapun yang dia inginkan, ada beberapa hal, pastinya mengejutkan.


"Aku akan memberikannya satu hal yang indah," batin Mateo.


Gadis itu pergi, Mateo tersenyum.


.


.


.


Baru juga keluar dari kamar itu, sang gadis sangat curiga dengan dirinya sendiri yang


merasa jantungnya tidak baik-baik saja.


"Apa ini? aku berdebar karenanya? tidak, ini tidak benar."


Diara mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri, segera saja Diara turun dari lantai dua bar itu.


.


.


.


Lantai dasar bar ...


Saat menuruni anak tangga, Diara melihat tiba-tiba ada Nicko bersama dengan gadis lain.

__ADS_1


"Apakah itu Nicko?"


*****


__ADS_2