
"Huft, apakah pria itu orang waras? atau setengah waras? dia sangat pandai membuat orang lain dalam tekanan, padahal aku sangat butuh pekerjaan ini. Namun, dia hanya menanyakan tentang hal yang tidak penting. Bahkan aku harus mengikuti semua arahannya, astaga! rasanya sangat membosankan," batin sang gadis.
Dia merasa tidak ada harganya di depan mantan kekasihnya.
Klek!
Suara pintu seperti menahan langkahnya untuk enyah dari tempat itu.
Hingga suara sang mantan terdengar jelas.
"Jangan lupa besok masuk kerja jam 07.30, kau mulai bekerja besok."
"Aku tidak butuh pekerjaan darimu."
"Jangan seperti itu. Ekonomi keluargamu sedang buruk."
"Apa pedulimu!"
Diara memilih untuk segera pergi dari kantor nerak* itu.
Bagaimana bisa terjebak di dalam situasi yang tidak mungkin seperti ini.
Rasanya sungguh tidak enak sama sekali.
Lebih baik segera enyah.
Namun, dia menghadapi situasi hidup yang amat menyusahkan.
"Aku tidak bisa bekerja di sini, tetapi aku membutuhkan uangnya," ucap sang gadis sambil mengacak rambutnya kasar.
Entah mau bagaimana lagi setelah ini.
Rasanya sangat sakit.
"Baby? kau baik-baik saja kan?" tanya seorang pria yang berada di samping sang gadis.
Diara yang mengetahui suara siapa itu, lalu memeluk tubuh sang pemilik suara.
"Aku tidak mau bekerja di sini, bosnya aneh, sombong lagi. Carikan aku pekerjaan yang lain Nicko," ucap sang gadis dengan wajah memohon.
"Sayang, di tempat lain, sangat kecil gajinya. Di tempat ini, kita bisa bersama-sama. Kau paham kan?"
"Iya, tapi kau usahakan tempat yang lain. Ya Nick?"
Diara melepaskan pelukannya lalu segera membuat mimik wajah yang mengenaskan.
"Nick, kalau aku bekerja di sini, pasti aku akan keriput seperti ini," jawab sang kekasih sambil memperlihatkan wajah yang di buat-buat seolah-olah dia sudah tua dan keriput.
"Haha, mana ada. Aku makin ganteng bekerja di sini. Kau lakukan hal yang terbaik. Bos hanya sombong, dia tidak pelit. Ehm, kau di terima kan jadi karyawan di kantor ini?"
"Iya, aku di terima. Namun, aku tidak mau."
"Baby, cobalah berpikir realistis. Kita tidak akan hidup hanya dengan orang-orang yang kita cintai. Akan tetapi dengan banyak orang yang tidak menyukai kita."
Apa yang disampaikan oleh Nicko, membuatnya berpikir, tetapi ia tidak memahaminya dengan baik.
Emosinya berada dalam dadanya, otaknya serasa mendidih.
Dia tidak nyaman sama sekali.
Apalagi kenangan dengan mantan yang justru menjadi bosnya tadi.
Sang gadis tidak mungkin jujur dengan tiba-tiba. Sang kekasih pasti akan membencinya, jika dia berada di sekitar sang mantan, Nicko juga akan kehilangan masa depan yang cemerlang karena kecemburuannya.
Semua sudah Diara pikirkan, hanya saja dia tidak cukup berani untuk bersikap.
"Iya, biarkan aku berpikir untuk sementara waktu, aku pulang dulu ya?"
"Aku akan mengantarmu."
"Ini adalah jam kerja, kau tidak boleh keluar dari kantor."
"Sebenarnya bos tidak terlalu mempermasalahkan semua ini, hanya saja aku merasa bersalah karena tidak kunjung menemui bos di saat dia ingin berdiskusi mengenai pekerjaan."
__ADS_1
"Kau pergilah, aku baik-baik saja."
Sang gadis mencoba untuk memberikan sebuah senyum yang manis, agar terlihat cantik dan lebih meyakinkan jika dia memang tidak masalah pulang sendiri.
"Baiklah, jika ada apa-apa, kau bisa menghubungiku."
"Oke."
Akhirnya keduanya berpisah, tidak ada yang bisa ia lakukan selain ini.
.
.
.
Tempat parkir ...
Sang gadis naik motor dan segera bergegas pergi dari kantor Mateo.
Perasaannya tidak menentu, dia berada dalam kondisi yang sangat buruk.
Saat berada di perjalanan, sang kakak melakukan panggilan telepon terhadapnya.
Dia berhenti di pinggir jalan, lalu menjawab panggilan telepon dari sang kakak.
"Halo? ada apa kak?"
"Bengkel ayah di tutup, ternyata bengkel itu bukan sepenuhnya milik ayah, kita harus mengalah karena orang yang bekerja sama dengan ayah, ingin bagiannya, padahal kita tidak punya apa-apa untuk di bagi dengannya."
"Lalu?"
"Bengkel kita akan menjadi bangunan lain, kita harus ikhlas bengkel di tutup dan dialihfungsikan."
"Kenapa mendadak? astaga, aku baru saja dikeluarkan dari kantor dan aku harus bekerja dengan Mateo? aku tidak mau."
"Jangan bekerja dengannya, aku tidak akan memberikan restu, dia terlalu berani membuat sebuah keputusan. Aku pernah mengenalnya, hanya saja dia keterlaluan terhadapmu. Mengingatnya saja, rasanya malas."
Sang kakak memberikan pendapat negatif karena memang sifat si pria di masa lalu agak menyebalkan, meski tidak secara keseluruhan.
"Belum, kau pulanglah dulu. Baru kita pikirkan lagi. Oh ya, hati-hati di jalan ya?"
"Oke."
Diara menutup panggilan teleponnya lalu segera menghidupkan lagi mesin motornya, baru juga mau ngegas, ponselnya kembali berdering.
"Astaga, siapa lagi," batinnya.
Saat dia tahu siapa yang menghubunginya, raut wajahnya jadi malas.
"Ya Tuhan, orang ini."
Dia segera mematikan ponselnya. Entah mengapa malas sekali saat mengetahui jika Mateo yang menjawab panggilan telepon.
Sang gadis lebih memilih untuk segera pulang ke rumah.
Perlahan tapi pasti, ia segera gas pol dengan motornya.
.
.
.
Rumah Diara ...
Di ruang tamu, Rafles sangat cemas, dia segera mencari bantuan beberapa temannya untuk meminta pekerjaan, kebetulan teman-temannya banyak yang sukses.
Berbeda jauh dengannya yang kini harus mengalami kemunduran secara ekonomi sebab ayahnya meninggal dunia.
Dia harus berada dalam kondisi ini tetapi tidak menyalahkan siapapun.
"Siapa lagi, apakah aku masih punya teman?"
__ADS_1
Rafles yang panik, tidak sengaja menghubungi Mateo, hanya saja dia tidak sadar.
"Bro? kau ada pekerjaan? tolong aku. Berikan pekerjaan untukku," ucapnya.
"Baik, kau minta pekerjaan apa?" tanya sang penelepon.
Rafles belum menyadari tentang kesalahannya, dia hanya fokus dengan tawaran.
"Jadi karyawan kantor juga tidak apa-apa, meski aku tidak suka melakukannya," jawab Rafles yang selama ini hanya ingin berbisnis sendiri, tak mau jadi karyawan perusahaan.
"Bukannya kakak sangat anti bekerja di kantor?"
"Iya, demi keluarga. Beri aku pekerjaan."
"Oke, kau datanglah kemari. Perusahaan milikku akan langsung menerima kakak."
Saat mendengar kata-kata terakhir, dia merasa ada yang aneh.
Rafles menatap layar ponselnya, dia terkejut.
"Astaga!"
Sang pria menutup panggilan telepon itu, dia kesal sekali karena menghubungi Mateo.
"Ya Tuhan, kenapa aku menghubunginya? betapa malunya aku."
Rafles segera menghapus nomor lama Mateo, dia tidak mau salah telepon dia lagi.
Beberapa menit kemudian, suara motor terdengar jelas di depan rumah.
Rafles masih bingung dengan apa yang di lakukan, penyesalan juga sih yang paling banyak.
Kenapa Rafles harus menelpon Mateo.
"Aku pulang kak."
Suara adik tercinta, terdengar jelas.
Orangnya juga sudah masuk ke rumah.
"Ya, aku sedang kesal. Masuklah adik, dengarkan keluh kesahku."
"Iya, sebentar, aku mau ke kamar mandi dulu."
"Adik, aku menelpon Mateo dan minta pekerjaan."
"Apa?"
Sang adik tidak jadi ke kamar mandi, dia begitu terkejut.
"Kenapa kakak bisa melakukannya?"
"Maaf, waktu kakak mencari nomor teman-teman kakak, tidak sengaja kakak memencet nomor ponsel Mateo."
"Ya Tuhan, padahal kita sedang tidak suka dengannya, huft! berikan kami jalan Tuhan."
Sang adik terlihat pasrah.
Rafles memberikan opsi.
"Bagaimana jika kau terima saja tawaran pekerjaan ini?"
"Ha? yang benar saja kak! aku tidak mau. Apakah kau menganggap aku gampangan?"
"Diara, dengarkan kakak! kakak tidak suka dengan semua ini, tapi kita sedang butuh pekerjaan. Kasihan ibu. Aku akan membantumu, aku cari pekerjaan lain. Nanti saat ada tawaran bagus, kau resign."
"Apakah semudah itu kak?"
"Tidak, memang tidak mudah. Cobalah kau berpikir jernih, kita butuh uang, Mateo juga bukan orang jahat. Dia mantan kekasihmu, dulu pernah menemani hari-hari kita juga."
Sang adik berpikir, dia merasa apa yang dikatakan oleh sang kakak ada benarnya.
"Apakah aku harus bekerja dengannya?" tanya Diara dalam hatinya.
__ADS_1
*****