PETAKA HARTA TERLARANG

PETAKA HARTA TERLARANG
Episode 10


__ADS_3

"Tenanglah, Dik. Relakan kepergian adikmu itu. Doakan saja demi ketenangan almarhum di alam sana," lanjut salah seorang petugas keamanan berusaha menghibur.


Ardy mulai tenang dan bisa menguasai diri. Sesekali dia menoleh memandangi jasad adiknya yang sudah terbujur kaku.


Perih sekali dirasa, melihat kondisi Rezky seperti itu. Mungkin dia merasa ketakutan sekali, melihat sesuatu yang sangat menyeramkan dan mengerikan.


Salah seorang petugas keamanan menyodorkan segelas air pada Ardy, "Minumlah dulu, Dik. Biar bisa lebih tenang."


Ardy menurut. Regukan demi regukan air yang membasahi tenggorokannya yang kering, sedikit bisa membantu menenangkan pikirannya yang sedang kalut.


Kita lihat bagaimana saat kejadian Rezky dibawa sosok wanita yang menyeramkan tadi.


Tuan Karyadi dan Nyonya Amanda yang sedang bergumul hebat, tiba-tiba memekik keras. Tubuh laki-laki itu menegang dan kaku saat merasakan puncak permainan yang sedang mereka lakukan. Dari arah tulang belakangnya terasa ada yang bergerak mengalir dengan nikmat menuju panggul, lalu berkontraksi sesaat dengan otot-otot di seputar tungkai. Sesaat kemudian dari lubang kelelakiannya membuncah cairan putih dan kental laksana luapan magma dari bongkahan gunung merapi yang meletus.


Nyonya Amanda memekik kuat saat merasakan ada letupan hebat memenuhi rongga kewanitaannya. Panas membara bersamaan dengan tubuh Tuan Karyadi yang terdorong ke belakang sambil memuntahkan sisa saripati bibit manusia dari bagian tubugnya yang sama.


Sisa muntahan tadi memercik mengenai perut Nyonya Amanda, melepuhkan kulit mulusnya disertai kepulan uap panas. Wanita paruh baya itu melengking kesakitan, lalu tergeletak tak sadarkan diri.


Sementara tubuh Tuan Karyadi terhempas ke atas karpet yang terbentang di lantai, menyusul kondisi istrinya, dalam keadaan pingsan dan tubuh yang penuh bekas luka cakaran kuku dan bekas gigitan.


Sri sudah lebih dulu mencapai puncaknya. Nafasnya memburu dan terjatuh dengan lemah.


Setelah sadar, perempuan yang telah lama menjanda itu akhirnya merasa malu sendiri. Dia segera membenahi lilitan kain yang sudah tak beraturan membelit area perutnya. Lalu bergegas meninggalkan tempat itu sebelum ada yang mengetahui apa yang telah diperbuatnya tadi.


Bayangan pergumulan hebat kedua majikannya masih terngiang jelas dalam benak. Mengundang rasa yang sudah sejak lama tak lagi dia nikmati.


Keesokan harinya suasana rumah gempar dengan kondisi Tuan Karyadi dan Nyonya Amanda yang ditemukan masih tergeletak di ruang tengah. Mbok Inah yang pertama kali melihat mereka berdua.


"Ya Tuhan! Tuan ... Nyonya ... ada apa ini?" seru wanita tua itu terkejut dan sepontan memanggil anaknya, "Sri ... kemari! Cepat!"


Sri datang tergopoh-gopoh.


"Panggil Mang Sapri dan Mang Kurdi! Cepat!" ujar Mbok Inah panik.


Sri tidak lekas menuruti perintah ibunya. Dia justru memandangi setiap jengkal tubuh Tuan Karyadi yang tergeletak di atas karpet dalam keadaan telanjang dan penuh dengan bekas luka.


Sri teringat kejadian semalam.


"Sri ... kok malah bengong? Cepetan panggil Mang Sapri dan Mang Kurdi!" teriak Mbok Inah kesal.


Sri tersadar dari lamunannya. Perempuan itu cepat-cepat berlari mencari orang-orang yang dimaksud.


Dua orang laki-laki itu sedang mencuci kendaraan di depan garasi. Mereka berdua heran dengan kedatangan Sri yang tergopoh-gopoh.


"Ada apa, Sri? Pagi-pagi begini kayak lagi dikejar syetan saja?" tanya Mang Kurdi dengan logat khas daerahnya.


Sri menarik nafas sebentar.


“Tuan dan Nyonya ... ada di ruang tamu! Mereka berdua ... “ terbata-bata Sri berbicara.


“Iya, ada apa dengan Tuan dan Nyonya?” tanya Mang Sapri bingung.


“Mereka pingsan di ruang tamu!” jawab Sri akhirnya.


Mang Sapri dan Mang Kurdi terkejut.


“Apa? Pingsan?” tanya keduanya seraya berlarian ke dalam rumah diikuti oleh Sri.


Tiba di tempat, mereka melihat Nyonya Amanda dan Tuan Karyadi tergeletak tak sadarkan diri. Mbok Inah sudah menutupi tubuh keduanya dengan selimut.


“Bawa Tuan dan Nyonya ke kamar!” ujar Mbok Inah pada Mang Kurdi dan Mang Sapri panik.


Kedua pembantu laki-laki itu cepat-cepat menggotong tubuh Tuan Karyadi dan Nyonya Amanda ke dalam kamar. Lalu membaringkan mereka di atas tempat tidur.


Mbok Inah segera menghubungi dokter Santoso. Setelahnya, pembantu tua itu menuju kamar Ardy. Bermaksud membangunkan tuan mudanya namun kamar itu dalam keadaan kosong.

__ADS_1


“Ke mana Den Ardy?” tanya Mbok Inah pada Mang Sapri begitu menemui sopir keluarga majikannya.


“Lho, di kamarnya memang tak ada?” tanya balik Mang Sapri.


“Kalaupun ada, aku tidak akan tanya kamu, Mang!”


Mang Sapri bergegas menuju garasi diikuti Mbok Inah dan Sri, “Mobil Mercedez tak ada di dalam garasi. Mungkin tadi malam Den Ardy keluar dan belum pulang?”


“Aduh, ke mana lagi Den Ardy itu? Padahal tak biasanya Den Ardy keluar malam-malam. Apalagi sampai tak pulang begini ... “ kata Mbon Inah kebingungan.


“Bagaimana dengan Non Nola?” tanya Sri ikut bingung.


Mbok Inah seperti diingatkan. Maka pembantu tua itupun lekas-lekas berlari tertatih-tatih menuju kamar Nola. Gadis itu masih tertidur nyenyak.


Mbok Inah segera membangunkannya.


“Non, bangun! Sudah pagi!” ujar Mbok Inah sambil menepuk-nepuk kaki Nola.


Gadis itu membuka matanya, “Sudah pagi ya, Mbok?”


Mbok Inah menganggukan kepala.


“Tuan dan Nyonya ... “ Mbok Inah ragu untuk memberitahukan keadaan kedua orangtua Nola.


Gadis itu menatap Mbok Inah dengan rasa heran.


“Ada apa dengan Mama dan Papa ... ?” tanya Nola merasa tak enak melihat Mbok Inah seperti berat untuk berbicara.


Setelah agak lama terdiam, akhirnya Mbok Inah berucap juga, “Tuan dan Nyonya ... Mbok temukan dalam keadaan pingsan, Non.”


“Mana! Papa!” seru Nola terkejut sambil turun dari tempat tidurnya.


Di kamar kedua orangtuanya, Nola menangis histeris melihat kondisi mereka.


“Kenapa Mama dan Papa?” tanya Nola pada Sri yang masih berada di dalam kamar.


“Kak Ardy mana?” tanya Nola kembali.


Mbok Inah melirik anaknya, Sri.


“Den Ardy tidak ada di kamarnya, Non. Tadi malam mungkin keluar dan belum pulang sampai saat ini,” jawab Mbok Inah.


“Keluar? Tidak biasanya Kakak keluar malam-malam ... apalagi sampai tidak pulang seperti itu,“ gumam Nola dengan mata berkaca-kaca.


Dari luar terdengar deru suara mobil.


“Mungkin itu Kak Ardy!” ujar Nola menghambur keluar kamar.


Bukan. Itu dokter Santoso. Laki-laki berkacamata keluar dari kendaraannya dan segera masuk ke dalam rumah.


“Selamat pagi, dok!” sapa Mbok Inah.


“Selamat pagi!” jawab dokter Santoso pelan dan langsung menuju kamar tidur Tuan Karyadi dan Nyonya Amanda.


Dokter Santoso mengeluarkan peralatan medisnya. Dia tertegun saat memeriksa kondisi tubuh Tuan Karyadi dan Nyonya Amanda.


Lalu dokter itu menatap satu per satu semua orang yang ada di dalam kamar tersebut. Sorot matanya lama tertuju pada Mbok Inah.


“Mbok tetap di sini. Yang lainnya, silakan keluar dulu dari kamar,” kata dokter Santoso.


Nola mendekati sosok dokter muda itu.


“Aku tidak mau keluar! Mereka orangtuaku. Aku berhak tahu bagaimana keadaan mereka ... “ ujar Nola ketus.


“Maaf, Dik! Kondisi kedua orangtua Adik ini tidak layak untuk dilihat semua orang. Jadi demi kelancaran pemeriksaan, saya harap Adik bisa memahaminya,” jawab dokter Santoso meminta pengertian Nola.

__ADS_1


Gadis itu tidak bisa menjawab. Akhirnya dia pun ikut keluar bersama Sri dan yang lainnya.


“Kunci pintunya, Mbok!” perintah dokter Santoso pada Mbok Inah.


Perempuan tua itu menurut.


Kemudian, laki-laki itu membuka seluruh kain penutup tubuh Tuan Karyadi dan Nyonya Amanda. Mbok Inah merasa agak risih melihat kondisi tubuh kedua majikannya itu dalam keadaan telanjang. Lalu segera berbalik arah membelakangi mereka.


Sedangkan dokter Santoso tampak biasa-biasa saja. Ekspresi wajah dokter muda itu tak menampakan perubahan begitu melihat tubuh telanjang Nyonya Amanda.


Setelah menggunakan sarung tangan plastik, dokter Santoso meneliti luka-luka yang ada di sekujur tubuh kedua pasangan suami istri itu. Tak luput ujung kuku jemari tangan Nyonya Amanda yang penuh dengan darah


mengering.


Lalu beralih ke bagian payudara yang telah kehilangan putingnya. Darah segar masih mengalir dari luka yang menganga. Di samping itu terdapat pula luka bekas gigitan yang sudah membiru di permukaan payudara yang


membusung.


Dokter Santoso merasa sangat heran. Apalagi setelah memeriksa rongga mulut dan gigi Tuan Karyadi yang berwarna merah penuh darah.


Laki-laki muda itu menoleh ke arah Mbok Inah. Wanita tua itu rupanya tidak sedang memperhatikannya. Dia masih berdiri membelakangi.


“Mbok ... “ panggil dokter Santoso.


“Ya, dokter!” Mbok Inah membalikan badannya.


“Apakah semalam Pak Karyadi dan Ibu Amanda mempunyai masalah keluarga? Atau ... terjadi perselisihan, mungkin?”


Mbok Inah berpikir sejenak.


“Rasanya tidak, dok! Selama ini saya perhatikan Tuan dan Nyonya ... baik-baik saja. Mereka selalu terlihat rukun,” Mbok Inah menjelaskan.


Dokter Santoso mengangguk-angguk.


“Begitu ya? Baik, sekarang bisa tolong bantu saya?” tanya dokter Santoso perlahan.


“Bantu apa, dok?”


“Bersihkan kuku jemari Nyonya Amanda,” kata dokter itu sambil memberikan kapas yang telah dibubuhi sedikit alkohol.


Mbok Inah menerimanya dengan tangan gemetar.


Dokter muda itu kembali memeriksa tubuh Nyonya Amanda. Kali ini perhatiannya tertuju pada luka melepuh di kulit perut. Seperti bekas terkena siraman air panas. Di sana terdapat sisa cairan putih dan kental.


Dengan menggunakan pinzet steril dan kapas, dokter Santoso meneliti cairan tersebut.


“Sperma ... “ gumamnya pelan.


Diperiksanya pula alat kelamin Tuan Karyadi, tidak terdapat luka apa-apa. Namun setelah memeriksa alat kelamin Nyonya Amanda, dokter itu tertegun.


Di sana terdapat luka yang mengeluarkan cairan berwarna kehitaman dan mengeluarkan aroma busuk yang menusuk hidung.


Mbok Inah terkesima melihat pemandangan yang sangat tak lazim tersebut.


“Seumur hidup, baru kali pertama aku menemukan hal semacam ini. Sangat aneh ... “ gumam dokter Santoso kembali.


Setelah menutup tubuh kedua suami istri itu, lalu dokter Santoso segera menghubungi rumah sakit, “Tolong kirim segera satu unit ambulance ke rumah jalan Sekardayu nomor empat belas. Status emergensi!”


Terdengar jawaban dari seberang sana. Lalu setelah beberapa saat berbicara, Dokter Santoso menutup pesawat teleponnya.


“Saya harus membawa Pak Karyadi dan Ibu Amanda ke rumah sakit sekarang juga. Luka-lukanya perlu penanganan intensif dari tim medis,” kata dokter Santoso pada Mbok Inah.


“Tapi keluarga majikan saya belum tahu tentang hal ini, dok!” Mbok Inah bingung.


“Ke mana anak sulung majikanmu?” tanya dokter Santoso heran.

__ADS_1


“Itulah dia, dok. Den Ardy semalam tidak ada di rumah. Entahlah, kami semua tidak ada yang tahu,” jawab Mbok Inah setengah bingung.


BERSAMBUNG


__ADS_2