PETAKA HARTA TERLARANG

PETAKA HARTA TERLARANG
Episode 19


__ADS_3

Suara Sri berubah berat tak sebagaimana biasa.


“Sri ... kamu?”


PLAK!


Tuan Karyadi melenguh kesakitan.


“Kamu ... ?”


Sri beranjak menaiki tubuh Tuan Karyadi dan menghimpitnya dengan keras sambil tertawa, “Kau pikir siapa aku sekarang ini, Karyadi? Hahaha!”


“Kau?!”


Di tengah rasa heran bercampur bingung, Tuan Karyadi terpaksa melayani kembali hasrat pembantu muda itu untuk kedua kalinya. Namun kali ini tidak seperti permainan sebelumnya. Penuh dengan perlakuan kasar dan


menyakitkan. Hanya sesaat dan tak lama kemudian, laki-laki itu kembali meraung dengan tubuh mengejang kaku.


“Tua bangka tak berguna!” rutuk Sri dengan sorot mata menggidikan beraroma kekecewaan yang mendalam, menatap tajam sosok Tuan Karyadi yang tergolek tak sadarkan diri dan tubuh penuh bilur merah bekas tamparan.


Masih dengan dengus nafas tersengal menahan rasa yang masih belum terpuaskan, Sri turun dari tempat tidur.


“Di mana gerangan anak laki-laki itu?” bola mata Sri bergerak liar mencari-cari sosok yang dia maksud sambil bergegas menuju kamar Ardy. Namun tak ditemukan, karena anak muda itu memang sedang tak berada di


rumah.


Dengan rasa kecewa, Sri berlalu pergi ke kamar belakang. Tepatnya ruang tidur laki-laki lain, Mang Kurdi.


Pintu kamarnya tak dikunci, Sri masuk begitu saja tanpa mengetuk terlebih dahulu.


Mang Kurdi tengah terbaring dengan nyenyak di atas tempat tidur, sehingga tak menyadari kalau perempuan muda yang sempat menggugah selera kelelakiannya itu, datang mendekat.


Perlahan, Sri duduk di samping Mang Kurdi. Disertai seringainya, jemari lentik itu mulai merayap menarik kain sarung yang menutupi separuh bagian bawah tubuh tua Mang Kurdi. Lalu berhenti tepat di satu titik tertentu sambil menarikan ritual tertentu.


“Sri .... “ erang Mang Kurdi begitu membuka mata dan mengenali sosok yang sedang berada di depannya itu, “kamu .... “


Sri tersenyum di antara keremangan cahaya lampu kamar yang pengap.


“Bangunlah!” pinta Sri tak berhenti menggerakan jemarinya di bawah perut Mang Kurdi.


“Apa yang kamu lakukan, Sri?” tanya Mang Kurdi terpatah-patah karena pengaruh biologisnya yang mulai tergerogoti.


“Bukankah kaumenginginkan diriku, Mang?” bisik Sri manja mengundang selera.


Mang Kurdi terpejam dengan detak jantung yang kian cepat, “Malam ini juga?”


“Kapan lagi, Mang?” seringai Sri kembali menyeruak di antara sorot mata nanar menatap pegangan di jemarinya.


“Sebentar ... aku ambil dulu obat ... “ Mang Kurdi bermaksud bangkit dari rebahnya, namun keburu ditahan dengan sigap oleh Sri.


“Tak usah, Mang. Nikmati saja sambil tiduran. Karena aku akan .... “ Sri menyondongkan tubuh mendekatkan wajah ke arah bawah perut Mang Kurdi.


Jerit tertahan segera keluar dari mulut tua laki-laki itu. Mendesis disertai hembusan nafas yang tersendat.


“Sri .... “


Gelinjang pinggulnya mulai bergerak berirama mengikuti ritme yang tak beraturan. Cengkraman kuat kuku tuanya menghujam mencari pegangan di atas alas kasur yang keras dan bau, menahan rasa yang sulit dibayangkan. Lalu ....


“Aaaakkhhh ... “ lengking jerit Mang Kurdi hanya sesaat memecah kesunyian, tertahan di balik bekapan telapak tangan Sri yang lain.

__ADS_1


Mang Kurdi merasa seluruh aliran di tubuhnya mulai bergerak liar dengan cepat. Menyusuri setiap lorong urat-urat nadi, lalu berlari menuju satu titik di mana satu-satunya bagian tubuh laki-laki itu dalam kekuasaan penuh jepitan bibir Sri. Awal kenikmatan yang perlahan berubah menjadi kesakitan yang tiada tara.


Sisa kekuatan tubuh tuanya menghilang seketika berganti dengan rasa kaku, menahan laju untuk berontak.


“Mmmmffhhh ... “ jeritan Mang Kurdi sesaat masih tertahan dan sekejap kemudian sirna.


Mata tua itu terbuka lebar disertai mulut menganga lebar. Terdiam kaku, terbujur dengan jantung yang sudah tak berdetak kembali.


Seluruh permukaan kulitnya mengeriput seperti tak pernah ada aliran darah di tubuh tersebut. Sosok kurus kering Mang Kurdi berubah memucat. Laki-laki itu tewas seketika meregang nyawa.


Sri melepaskan tubuh Mang Kurdi diiringi senyuman puas. Sisa darah segar tergenang membasahi sekitar garis bibirnya yang merah. Lalu perempuan itu tertawa melengking tanpa merasa berdosa seraya beranjak meninggalkan sosok Mang Kurdi begitu saja.


Perempuan muda itu kembali menuju kamar majikan laki-lakinya. Tampak sosok Tuan Karyadi tengah duduk bersila di sisi bawah tempat tidur dengan mata terpejam, sambil merapalkan mantera dengan bahasa yang tak dimengerti.


“Mbah Jerangkong! Aku sudah melaksanakan semua titahmu, kini apalagi yang harus kulakukan?” tanya Tuan Karyadi entah pada siapa, begitu Sri sudah berdiri persis di sampingnya dengan kondisi tubuh tanpa terhalang sehelai benang pun juga.


Mendadak dalam keremangan cahaya kamar, muncul sesosok tubuh besar dan tinggi di hadapan Tuan Karyadi.


Sosok itu berwujud manusia berkepala anjing dengan bulu-bulu lebat menyeramkan di sekujur tubuhnya.


Sosok itu tertawa buas.


“Bagus! Bagus! Kau memang pengikutku yang setia, Karyadi!” ujar sosok menyeramkan itu dengan suara bergema menggidikan.


“Terima kasih, Mbah! Aku akan selalu memberikan apapun yang Mbah minta. Asalkan ... Mbah juga berkenan memberikan kekayaan yang berlimpah padaku,” jawab Tuan Karyadi dengan mata masih terpejam.


Sosok itu kembali tertawa.


“Tentu saja ... dan asal kauketahui saja, aku baru saja membawa anak perempuanmu sebagai imbalan atas harta kekayaan yang telah kuberikan itu. Tapi aku masih menginginkan tumbal lainnya, Karyadi!”


Tuan Karyadi tersentak namun tak berani membuka matanya sebelum ada perintah apapun.


“Itu masih belum cukup, Karyadi!” bentak sosok makhluk menyeramkan itu menggelegar.


Tuan Karyadi tersurut takut, “Maafkan aku, Mbah. Maafkan atas kelancanganku barusan!”


Makhluk itu tertawa.


“Aku masih menginginkan dua korban lagi dari keluargamu!”


Kembali Tuan Karyadi tercekat.


“Mengapa harus secepat itu Mbah meminta korban lagi? Apakah anak perempuanku dan pekerja rumahku barusan tidak cukup, Mbah?” tanya Tuan Karyadi dengan rasa was-was.


“Jangan berani membantah perintahku, Karyadi! Apapun yang kuingin harus kauberikan!” bentak makhluk itu kembali dengan gegelar suaranya memenuhi ruang kamar, “kalau tidak, kausendiri yang akan menjadi tumbalku, Manusia Bodoh!”


Tuan Karyadi ketakutan.


“Ampun, Mbah! Maafkan aku,” suara Tuan Karyadi hampir tak terdengar didera rasa takut yang luar biasa, “baiklah, apa yang selanjutnya Mbah inginkan? Asal jangan aku yang Mbah jadikan tumbal itu, Mbah!”


Tawa itu kembali bergema. Lebih keras dari sebelumnya.


“Aku menginginkan anak lelaki itu, Karyadi!”


Tuan Karyadi mengernyitkan dahinya, “Anak lelaki yang mana, Mbah? Bukankah anak lelakiku sudah Mbah ambil dulu?”


“Bodoh! Anak lelaki yang selama ini tinggal bersamamu!”


“Ardy ... ?”

__ADS_1


“Siapa lagi?”


“Tapi ... dia bukan anakku, Mbah! Dia anak adik perempuanku yang lama telah meninggal dunia.”


“Kalau aku yang meminta, terus kauberhak menawar ... begitukah, Karyadi?”


“Maafkan aku, Mbah! Akan kuberikan siapapun yang Mbah inginkan. Termasuk ... ibu kandungku sendiri dulu, kan, Mbah?”


Makhluk itu tertawa, “Kau masih ingat saja, Karyadi? Hahaha!”


“Tentu saja akan selalu kuingat, Mbah!”


“Lalu ... bagaimana dengan anak laki-laki itu?”


“Ambillah kalau memang Mbah menginginkannya? Tapi ... “ Tuan Karyadi agak sedikit ragu.


“Ada apa? Kau mau menawar kembali?”


“Tidak! Tapi maksudku--“


“Apa?!”


“Mbah suka pada laki-laki juga? Eh ... ”


“Jahanam!” bentak makhluk itu dengan nada besar mengejutkan membuat nyali Tuan Karyadi semakin menciut, “kau pikir yang bercinta denganmu tadi itu aku, hah?! Emangnya eike ini makhluk homreng?! Idih ... gak cucok, deh!”


“Maafkan aku, Mbah! Aku hanya sekedar bertanya." Tuan Karyadi semakin ketakutan.


“Ada anak buahku yang perempuan menyukaimu dan anak laki-laki itu, Karyadi! Sedangkan aku ... hanya pernah ikut menikmati istrimu yang sudah mulai tua tapi masih ranum itu, Karyadi! Hahaha!”


“Setan lu! Ternyata elu doyan bini gue juga!”kata Tuan Karyadi dalam hati.


“Lalu ... satu korban yang Mbah inginkan itu ... siapa lagi, Mbah?” tanya Tuan Karyadi di antara rasa takutnya.


“Korban yang mana, ya?”


“Kan, tadi Mbah menginginkan dua korban lagi. Yang satu itu, kan, si Ardy. Terus ... satunya lagi siapa?” ada rasa kesal juga yang terselip di hati Tuan Karyadi.


“Ternyata penyakit pikun juga diderita makhluk beginian. Sial!”


Makhluk itu tertawa, “Aku menginginkan benih yang telah kautanam di dalam rahim perempuan yang telah kaugauli itu, Karyadi.”


“Perempuan?” Tuan Karyadi berpikir, “perempuan yang mana, ya, Mbah? Banyak sekali perempuan-perempuan yang telah aku gauli selama ini. Ataukah ... istriku sedang mengandung anakku lagi?”


“Bodoh! Yang aku maksud ... perempuan yang yang baru saja kausetubuhi, Karyadi!”


Tuan Karyadi terkejut dan menoleh pada Sri yang masih berdiri mematung di sampingnya dengan tatapan kosong.


“Sri Kemuning?”


“Sri Kemuningkah namanya?”


“Memang namanya seperti itu, Mbah.”


“Nama yang mirip dengan nama warteg.“


“Maksud Mbah?”


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2