
“Kamu juga. Lagi nunggu, ya?” sahut gadis cantik yang dipanggil Sarah tadi. Nola dan Rezky serentak menoleh ke arah Sarah yang berdiri di samping kakak mereka.
Rezky tertawa.
“Kenapa tertawa? Ada yang lucu?” tanya Ardy heran melihat tingkah adiknya yang suka usil itu.
“Pacar Kakak, ya? Cakep juga,” ujar Rezky polos.
Sarah tersenyum dengan wajah bersemu merah. Sementara Ardy memelototi adik bungsunya. “Huss ... anak kecil tahu apa? Jangan usil, deh, ya?” seru Ardy pura-pura galak.
Rezky kembali tertawa. Tidak begitu dengan Nola. Gadis kecil itu hanya tersenyum sambil memperhatikan Sarah.
“Temen sekolah Kakak.“ Ardy menjelaskan begitu melihat sorot mata Nola yang seakan ingin mengetahui perihal gadis itu. “Teman atau teman?” tanya Nola menggoda.
Sarah mendekati kedua adik Ardy tersebut. “Halo ... Adik manis. Ini pasti Nola, ya? Dan yang usil tadi itu ... pasti Rezky, kan?” tanya Sarah memperhatikan wajah imut Nola dan Rezky. Kedua anak itu mengangguk pelan.
“Kakak ini siapa namanya?” tanya Rezky pada Sarah. Gadis cantik itu tersenyum melihat mimik wajah Rezky
yang polos dan lucu.
“Nama Kakak ... Sarah.”
“Kak Sarah pacarnya Kak Ardy?” tanya Rezky lagi.
Sarah tertawa kecil.
“Rezky! Mulai, deh!” seru Ardy menyikapi sifat usil adiknya yang satu ini.
“Pacar itu apa, sih, Dik Eky?” kali ini gantian Sarah yang menggoda Rezky.
Yang ditanya gelagapan sehingga Sarah kembali mengulang tawa. “Bagaimana kalau sambil nungguin jemputan datang, kita makan bakso dulu, yuk.”
Kedua anak itu serentak bersorak. “Tapi Kak Sarah yang bayarin, ya?” ujar Rezky polos. “Tenang saja,” jawab Sarah sambil mengedipkan mata lalu menggandeng tangan Nola dan Rezky menuju kios bakso yang letaknya tidak berapa jauh dari tempat mereka berada. Ardy hanya bisa terdiam, namun turut mengikuti langkah ketiganya.
Rezky memilih tempat duduknya sendiri. “Di sini saja, Kak. Bisa sambil ngelihatin cewek-cewek lewat,” ujar Rezky penuh semangat. “Kecil-kecil sudah genit!” sahut Ardy gemas dengan kelakuan adiknya itu.
Sarah tertawa lepas sampai pengunjung kios bakso itu serentak menoleh ke arah mereka.
“Kamu bahagia banget punya adik-adik seperti mereka, Dy. Tidak seperti aku, hanya seorang anak tunggal di keluargaku,” kata Sarah setelah agak lama mereka terdiam.
“Iya, kadang-kadang senang juga, sih. Tapi kalau lagi nakal-nakalnya, kadang aku suka kesel juga. Apalagi sama Rezky“ jawab Ardy sambil memperhatikan Rezky yang sedang asyik melahap bakso.
“Wajar saja. Mereka, kan, masih kecil.” Sarah turut memandangi kedua anak itu.
“Aku bersyukur banget pada Tuhan, dengan karunia yang telah diberikan-Nya pada kami. Salah satunya, ya,
keluarga yang serba harmonis ini,” kata Ardy mengakhiri perbincangan mereka karena pelayan sudah datang membawa dua mangkok bakso pesanan mereka. Sementara kedua adiknya sudah terlebih dahulu menikmati hidangan.
Di seberang jalan terlihat sebuah mobil Mercedes Benz milik keluarga Tuan Karyadi, berhenti persis di depan pintu gerbang sekolah yang sudah tertutup. Sebentar kemudian, sopirnya keluar dari dalam kendaraan sambil celingukan mencari-cari anak majikan.
__ADS_1
“Kak, itu Mang Sapri!” teriak Rezky.
Ardy dan Nola menoleh keluar.
“Sebentar, ya, Sarah. Aku mau temuin dulu Mang Sapri,” kata Ardy pada Sarah.
“Oke.“
Ardy bergegas menghampiri Mang Sapri yang kebingungan. Saat melihat sosok Ardy, lelaki yang masih kelihatan muda itu menarik napas lega. “Maaf, Den, jalanan macet. Jadi, saya datang terlambat menjemput Aden dan adik-adik,“ kata Mang Sapri terlihat merasa bersalah.
Ardy menepuk bahu Mang Sapri, “Tidak apa-apa, kok, Mang. Kami sedang makan bakso, tuh, di seberang. Sekalian, Mamang ikutan gabung, yuk.”
“Aaahhh ... tak usah, Den. Mamang tunggu di sini saja,” sahut Mang Sapri pura-pura menolak.
Ardy tersenyum, “Tenang, aku yang bayarin, kok.”
“Nah, kalau itu baru Mamang mau,“ sahut Mang Sapri sambil tertawa ngekeh.
Ardy menarik lengan Mang Sapri masuk ke dalam kios. “Mamang pesan saja sendiri, ya. Sekalian sama
juice buahnya, lima,” kata Ardy saat di dalam.
“Mang Sapri lama amat, sih? Eky, kan, jadi kesal!” rengek Rezky sambil cemberut.
“Sudahlah, Dik. Jalanan macet. Lagipula mobilnya tadi dipake sama Papa,” jawab Ardy pada adik bungsunya.
Rezky tidak meneruskan ucapan karena baksonya sudah habis dilahap. “Kamu mau nambah, Dik?” tanya Ardy melihat raut muka Rezky yang masih cemberut. Anak itu menggeleng sambil memegangi perutnya. Sarah tersenyum geli melihat kelucuan anak yang satu itu.
yang terhidang.
Setelah semuanya selesai, Ardy memanggil salah seorang pelayan. “Berapa semuanya, Mas?”
Sejenak pelayan itu menghitung, “Seratus dua puluh ribu rupiah, Dek.”
Ardy mengeluarkan uang dari saku seragam sekolahnya, tapi sempat ditahan Sarah. “Jangan, Dy. Biar aku saja yang bayar. Kan, tadi sudah aku bilang kalau semua aku yang bayarin.”
“Jangan, deh, Sar. Aku masih punya uang, kok.”
Ardy menyerahkan dua lembar uang senilai seratus lima puluh ribu rupiah pada pelayan.
“Sebentar, ya, Dek, saya ambil dulu kembaliannya.”
“Tidak usah, Mas. Ambil saja semuanya “
“O, terima kasih, Dek.”
Kemudian mereka berlima segera tinggalkan tempat jajanan tersebut.
“Kamu ikut kami saja, Sar. Nanti Mang Sapri yang mengantarmu ke rumah,” Ardy menawari Sarah.
__ADS_1
Sarah agak ragu-ragu. “Bagaimana, ya? Aku takut nanti jemputanku datang,“ sahut Sarah bingung.
“Iya, kalau datang. Kalau tidak, Bagaimana? Kamu mau nginep di sini?” Ardy menggoda. Walaupun ragu, akhirnya gadis itu menurut juga. Sebentar kemudian mobil mewah itu sudah meninggalkan pintu gerbang sekolah. Jalan raya tidak pernah sepi dari lalu-lalang berbagai kendaraan. Siang yang panas dengan terik yang memanggang, membuat sebagian pejalan kaki lebih memilih halte-halte bis dan rimbunan pepohonan untuk sekedar berteduh. Namun masih banyak juga yang tak begitu peduli dengan kondisi cuaca segarang itu, seperti para pengemis yang rela menjemur diri sambil meminta-minta di pinggir jalan berharap belas kasih dari pengguna trotoar yang
melewatinya. Sungguh bukan sebuah pemandangan yang aneh lagi yang bisa dilihat di kota besar seperti Jakarta ini. Kebanyakan dari mereka yang memilih profesi menjadi seorang pengemis sebagai mata pencaharian itu adalah para urban yang datang dari jauh bermodalkan jiwa nekat saja. Tanpa dibekali keterampilan terlebih dahulu.
Itulah Jakarta. Tempat impian bagi yang berharap dapat mengeruk kekayaan dari gemerlap dunia ibukota. Namun kadang kenyataan tak seindah impian.
Laju kendaraan berhenti. Lampu merah rambu lalu lintas menyala. Para pedagang asongan berhamburan menghampiri kendaraan sambil menawarkan barang dagangan.
Rezky mulai rewel karena kepanasan. Anak itu sibuk mengipas-kipas buku pelajaran untuk sekedar mendapatkan angin segar. Keringat mengalir deras dari dahi anak itu. “Gedein AC-nya, Mang!” sahut Ardy pada Mang Sapri.
“Ini sudah full, Den.”
Ardy memang merasa hawa di dalam kendaraan sudah dingin. Tapi mengapa adiknya itu tiba-tiba seperti kepanasan? Ardy merasa kasihan lalu sengaja membuka kaca jendela kendaraan. Lumayan, ada banyak udara yang bertiup bercampur dengan hawa panas jalanan beraspal yang panas terpanggang matahari.
Tiba-tiba dari arah jendela mobil yang terbuka, muncul sesosok lelaki berwajah seram dengan pakaian kumal menabar aroma tidak sedap. Sosok itu memperhatikan Rezky dengan sorot mata yang aneh. Ardy hanya melongo kaget dan terkesima dengan kemunculan laki-laki kumal dan bau tersebut.
“Jagalah anak itu! Dia akan dijadikan tumbal iblis jahanam! Jaga dia!” seru laki-laki itu sambil menunjuk-nunjuk pada Rezky.
Anak bungsu itu sepontan menjerit ketakutan. Mang Sapri berusaha menenangkan..
Aneh ....
Sepertinya tak seorang padagang asongan pun dan juga para pengguna kendaraan lainnya yang sedang berhenti di sana, menoleh ke arah laki-laki kumal itu.
“Jaga dia dari iblis menyesatkan itu!” teriak lelaki kumal itu lagi.
Seisi kendaraan merasa heran dan ketakutan. Ardy keluar dari jendela mobil dan mendorong tubuh lelaki itu ke belakang. “Pergi, Jangan ganggu, adikku! Pergi sana! Dasar orang gila!” teriak Ardy keras.
Bertepatan dengan itu, lampu lalu lintas sudah berganti menyala hijau. Mang Sapri segera tancap gas sampai ban kendaraan menjerit keras meninggalkan noda hitam di atas aspal. Mobil mewah itu dengan cepat segera meninggalkan tempat
tersebut.
Lelaki kumal itu berlari ke pinggir jalan dan terus berteriak-teriak.
Ardy menoleh sekilas pada Rezky, kemudian beralih ke belakang pada sosok laki-laki tadi berdiri. Namun sosok itu ternyata sudah tidak berada di tempatnya semula.
Ardy heran. Padahal dia hanya sekilas beralih pandang antara Rezky dan lelaki kumal tadi. Sosok tersebut sudah tidak tampak lagi.
Aneh ....
Ardy segera berpindah mendekati Rezky dan memeluk adiknya itu dengan erat. Tubuh anak itu terasa dingin dengan wajah memucat. Mungkin karena rasa takut yang luar biasa dia rasakan.
“Tenang, ya, Sayang! Ada Kakak di sini!” kata Ardy pelan sambil mempererat pelukannya pada tubuh Rezky. Sarah dan Nola sama-sama merasa ketakutan. Nola merapatkan tubuhnya menempel di sisi Sarah. Sementara Mang Sapri mempercepat laju kendaraan agar lekas tiba di rumah.
Sesampai di depan rumah, Ardy segera memangku tubuh adiknya yang melemah. “Tolong kasih tahu Mama!” seru Ardy panik pada Mang Sapri.
Laki-laki muda itu segera berlari menuju kamar tidur Nyonya Amanda. Daun pintunya dalam keadaan tertutup. Dengan sedikit ragu, Mang Sapri memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar sambil memanggil majikannya.
__ADS_1
“Nyonya! Nya... Nyonya!”sahut Mang Sapri.
BERSAMBUNG 4