PETAKA HARTA TERLARANG

PETAKA HARTA TERLARANG
Episode 17


__ADS_3

“Si Gendut tuh ... bloon!” tuding David pada Boma.


“Kok, jadi gue?” Boma melongo.


“Kan, elo yang paling doyan kemek, Cuy! Masa, sih, kudu gue kasih kode juga? Gak peka lu, ah!”


Boma menggaruk kepalanya.


Ardy segera masuk ke dalam mobil dan meninggalkan ketiga temannya yang hanya bisa melongo bengong mirip sapi ompong.


Hati Ardy benar-benar merasa tak enak. Entah apa yang terjadi.


Mobil dipacu dengan kecepatan tinggi. Seakan tengah berlomba dengan kendaraan yang sedang melaju di jalan raya.


Yang ada dalam pikirannya hanya ingin cepat-cepat tiba di rumah. Dia ingat kejadian beberapa tahun yang lalu saat Rezky tengah terbaring sakit. Perasaan itu pula yang menghinggapinya hingga petaka itu pun datang.


Laju kendaraan perlahan melambat. Di tengah perjalanan, Ardy melihat ada sebuah mobil yang terbalik, kecelakaan.


Anak muda itu segera menghentikan kendaraannya dan keluar untuk melihat. Banyak orang-orang yang berkerumun di sekitar lokasi kejadian.


Ardy merasa mengenali mobil tersebut. Mendadak hatinya dihinggapi perasaan yang sama seperti tadi. Sambil berusaha menyusup di antara kerumunan, dia ingin memastikan bahwa apa yang dilihat itu tidak benar. Paling


tidak, tak ada hubungannya dengan apa yang sedang dipikirkan.


Sesosok tubuh tergeletak di dalam kendaraan yang terbalik itu penuh dengan lumuran darah. Ardy berusaha mendekat untuk memastikan di antara keremangan cahaya lampu jalanan yang remang.


Dia terkejut setelah mengenali sosok tersebut.


“Nola!” teriak Ardy membuat orang-orang yang ada di tempat itu menoleh ke arahnya.


Anak muda itu menghambur mendekat dan berusaha membuka pintu kendaraan yang ringsek.


“Bantu saya buka pintu ini!” teriak Ardy pada orang-orang di sana.


Beberapa orang ikut membantu membuka pintu kendaraan yang sulit sekali dibuka. Akhirnya dengan susah payah, mereka berhasil membuka dengan paksa. Dibantu beberapa tenaga laki-laki, Ardy berhasil mengeluarkan tubuh Nola yang terjepit di antara kursi depan dan kemudi. Tubuh gadis itu penuh darah dengan luka yang sangat mengerikan. Ususnya terburai dari lobang perut yang menganga.


Ardy menjerit-jerit histeris.


“Nola!”


Seperti orang kesurupan, Ardy memeluk tubuh adiknya itu sambil menangis histeris. Tubuh Nola diam tak bergerak.


Perlahan, jeritan Ardy melemah sampai akhirnya terjatuh pingsan. Beberapa orang menahan tubuh Ardy dan membawanya ke tempat yang aman, tak jauh dari lokasi kecelakaan.


Sementara Nola terkapar di aspal dalam keadaan sudah meninggal dunia. Mata gadis itu melotot dan lidah terjulur ke luar. Keadaannya benar-benar mengerikan.


Petugas kepolisian baru tiba di tempat kejadian, diiringi dengan raungan sirine yang memekakan. Mereka langsung mengamankan Tempat Kejadian Perkara dan mengatur laju lalu lintas yang macet total.


Dalam keadaan tak sadarkan diri, Ardy merasa seperti didatangi oleh sesosok laki-laki kumal, mirip orang gila.


“Syukurlah, kamu baik-baik saja, Nak,” ujar sosok itu sambil mendekat.


Ardy tersurut mundur.


“Adikmu telah menjadi korban tumbal atas keserakahan seseorang yang selalu haus akan harta kekayaan, yang diperoleh dari iblis terkutuk. Kejadian ini tidak akan berhenti, sampai semua anggota keluarganya mati,” ujar laki-laki kumal itu dengan sorot mata sayu memancarkan kepedihan yang teramat dalam.


Seakan dia tengah merasakan kesedihan, melihat kebiadaban seorang manusia yang rela mengorbankan keluarganya sendiri, demi memperoleh kekayaan dengan jalan sesat. Dengan cara bersekutu dengan makhluk


iblis.

__ADS_1


“Siapakah Bapak ini sebenarnya? Mengapa selalu mengikutiku?” tanya Ardy setelah rasa kejutnya berkurang.


Laki-laki kumal itu tersenyum.


“Kamu tidak perlu tahu siapa aku sebenarnya, Nak Kelak, akan ada orang yang akan memberitahu, siapa aku dan siapa kamu. Tapi yang perlu aku ingatkan, berhati-hatilah! Mintalah selalu perlindungan pada Yang Maha Kuasa. Perbanyak doa dan dekatkan dirimu pada Tuhan. Itu satu-satunya jalan agar kamu terhindar dari kejahatan makhluk laknat itu.”


Perlahan sosoknya mulai menghilang dari pandangan Ardy.


“Tunggu! Jangan pergi dulu!” teriak Ardy sambil berusaha menghambur dan menahan sosok itu.


Namun begitu tangannya menyentuh tubuh kumalnya, Ardy merasa seperti tengah menangkap asap tipis tak berbekas.


“Siapakah kau sebenarnya, Kakek Tua? Berulang kali kau hadir dan secepat itu pula menghilang ... “


Perlahan kesadaran Ardy mulai kembali. Nafasnya seperti mencium aroma yang tak sedap, busuk.


Saat membuka mata, dilihatnya ada seorang laki-laki yang sedang menempelkan kaos kaki di dekat hidung. Ardy menepis lengan laki-laki itu dan meludah ke tanah. Mual sekali rasanya.


“Nah, sudah sadar sekarang!” ujar salah seorang di antara mereka sambil tertawa.


“Betul, kan, kata saya juga! Kaos kaki si Parman yang baunya mirip got pinggir jalan itu, manjur sekali buat menyadarkan orang pingsan!” timpal yang lainnya diiringi tawa yang menyebalkan.


Ardy memandangi orang-orang yang sedang berkumpul mengelilinginya.


“Dimana Nola?” tanya Ardy pada salah seorang warga.


“Nola siapa, ya. Mas?”


“Adikku yang mengalami kecelakaan mobil itu!” jawab Ardy dengan kondisi tubuh yang masih lemah.


“Oohh ... dibawa polisi ke rumah sakit, Mas!”


“Selamat malam, Mas! Mohon maaf mengganggu.“ seorang laki-laki berpakaian dinas datang menghampiri.


Polisi!


“Iya, selamat malam, Pak!” jawab Ardy.


“Saya mendapat informasi kalau Anda mengenali korban kecelakaan itu. Benarkah?”


Ardy menganggukan kepala, “Dia adikku, Nola. Nama lengkapnya Nola Ananta.”


“Nama Anda?”


“Saya Ardy Wiranata.”


Ardy segera mengeluarkan kartu tanda pengenal dari dalam dompet, lalu menyerahkannya pada polisi tersebut.


“Bisa kami tahu nama kedua orang tua Anda?”


“Bapak Karyadi Karta Sasmitha dan Ibu Amanda Yuanita.”


“Karyadi? Pak Karyadi yang pengusaha terkenal itu?”


Ardy menganggukan kepala.


“Baik, kalau begitu kami minta kesediaan Anda untuk datang ke kantor kami guna membantu memberikan keterangan. Anda bersedia?”


Kembali Ardy menganggukan kepalanya.

__ADS_1


“Jika Anda merasa kurang nyaman, Anda bisa ikut bersama dan kendaraan Anda akan dibawa oleh petugas lain.”


“Tak usah, Pak! Saya masih sanggup membawanya sendiri.”


“Anda yakin?”


“Ya, saya bisa, Pak! Tenang saja.”


“Perlu ditemani salah seorang petugas kami, Mas?”


Ardy berpikir sejenak, “Boleh, kalau tidak merepotkan, Pak!”


Dia khawatir di tengah perjalanan nanti akan menemukan hal-hal aneh seperti yang pernah ditemui dulu.


“Baik, kalau begitu ... silakan Anda ikuti mobil kami sampai ke kantor polisi.”


“Baik, Pak!”


Mobil yang dikendarai Nola diderek. Darah Nola masih menggenangi beberapa bagian badan kendaraan.


Perlahan, mereka meninggalkan lokasi kejadian.Disaksikan beberapa pasang mata milik warga sekitar.


Sementara itu, mari kita kembali pada saat-saat menjelang Nola mengalami kecelakaan naas tersebut.


Nyonya Amanda sedang tidak berada di rumah seperti biasa, sibuk dengan urusannya sendiri. Tidak berbeda jauh dengan kelakuan Tuan Karyadi yang senantiasa mencari hiburan jelang malam. Wanita itu menjadi liar tak beraturan semenjak Rezky, anak bungsunya, dulu meninggal.


Limpahan harta haram yang didapatkan dari jalan tak halal, lambat laun mempengaruhi jiwa dan hatinya. Semakin menjauh dari nilai-nilai agama dan mendekatkan diri pada kemilau nafsu dunia. Tak ada hari tanpa maksiat. Bisikan-bisikan iblis selalu terngiang memenuhi lorong akal sehat, membutakan mata akan arti sebuah dosa.


“Malam ini ada acara gak, Frans?” tanya Nyonya Amanda sambil memainkan gelas berisi minuman keras di samping seorang laki-laki muda yang bergelayut manja.


“Terserah Tante saja, deh. Biasanya, kan, Tante yang sudah mengaturnya,” jawab laki-laki yang bernama Frans itu di antara hingar-bingar lantunan musik yang menggema di dalam ruangan yang temaram, dengan sinar lampu berwarna-warni.


“Aku terlihat tua, ya, Frans?” Nyonya Amanda merengut manja.


Frans tertawa kecil.


“Tante masih cantik, kok. Buktinya, aku suka sama Tante,” goda Frans sambil menuangkan isi botol minuman ke dalam gelas Nyonya Amanda.


“Bohong! Buktinya kamu masih ada main sama si Linda itu, kan?”


“Ah, dia, sih, cuma selingan saja, Tante. Yang terpenting, setiap kali Tante membutuhkan kehadiranku, selalu siap kapan saja. Iya, kan?” Frans mengecup bibir wanita setengah baya itu perlahan.


Nyonya Amanda tak bisa menjawab, karena bibirnya keburu disumpal dengan pagutan membara dari laki-laki bayaran yang selalu menemaninya dikala kesepian.


“Jangan di sini, Frans ... “ ucap lirih Nyonya Amanda saat jemari laki-laki itu mulai menyusup ke dalam belahan dadanya.


“Di mana?”


“Tempat biasa.“


Frans kembali mengecup bibir Nyonya Amanda yang masih terlihat ranum, “Sekarang?”


“Kapan lagi?” bisik Nyonya Amanda diiringi senyuman nakal.


Frans menganggukan kepala.


Keduanya segera beranjak meninggalkan tempat itu sambil bergandengan tangan. Lalu menghilang di antara kegelapan malam bersama kendaraan mewah milik Nyonya Amanda.


Sementara, Tuan Karyadi baru sampai di rumahnya menjelang tengah malam. Dia keluar dari dalam kendaraan yang dikemudikan Mang Sapri.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2