PETAKA HARTA TERLARANG

PETAKA HARTA TERLARANG
Episode 5


__ADS_3

Tidak ada jawaban dari dalam kamar. Beberapa kali diulangi, hasilnya tetap sama. Daun pintu tidak terbuka dan tak ada jawaban dari dalam.


Nola datang tergopoh-gopoh membuka pintu kamar mamanya. Mang Sapri melongok sebentar ke dalam. Tampak Nyonya Amanda tengah terbaring seperti sedang berada dalam keadaan tertidur pulas.


“Mama! Bangun, Ma!” teriak Nola sambil menepuk-tepuk lengan mamanya. Mata Nyonya Amanda perlahan terbuka, menatap hampa langit-langit kamar.


“Ya, Tuhan! Apa yang terjadi padaku?” gumam Nyonya Amanda berusaha memulihkan kesadaran.


“Ma ... “ panggil Nola di sebelahnya. Nyonya Amanda menoleh. “Nola, ada apa, Sayang?” tanya Nyonya Amanda heran melihat anak perempuannya itu menangis.


“Rezky, Ma! Rezky!”


“Ada apa dengan Rezky?”


“Rezky pingsan, Ma!”


“Ya, Tuhan!” Nyonya Amanda terkejut dan langsung bergegas turun dari tempat tidurnya. Baru saja beberapa langkah, tubuh Nyonya Amanda langsung terhuyung dan jatuh ke lantai.


“Ya, Tuhan! Nyonya .... “ seru Mang Sapri menghambur menghampiri majikan perempuannya.


“Mama!” jerit Nola sambil meraung menangisi mamanya.


Nyonya Amanda mencoba bangkit, namun tidak kuasa untuk berdiri. “Tolong, bantu aku berdiri,


Mang!” sahut Nyonya Amanda lirih pada Mang Sapri. Laki-laki muda itu merasa sungkan memegang tubuh majikannya. Namun karena ini permintaan yang harus dilakukan, Mang Sapri tak bisa menolak.


Dengan sekuat tenaga, Mang Sapri membantu Nyonya Amanda berdiri dan berjalan perlahan menuju kamar Rezky, diikuti oleh Nola sambil tetap menangis.


Ada suara-suara ramai dari arah ruang depan, Mbok Inah dan Mang Kurdi yang sedang berada di dapur, segera berlarian menghampiri. Mereka melihat Rezky yang terbaring di tempat tidur dalam keadaan tak sadarkan diri.


“Rezky, anakku, Sayang!”seru Nyonya Amanda lemah.


Ardy menoleh dan terkejut melihat mamanya yang berjalan sempoyongan dipapah Mang Sapri. “Mama kenapa?” tanya Ardy terkejut.


Nyonya Amanda tidak mempedulikan pertanyaan anak sulungnya itu, karena perhatiannya hanya tertuju pada sosok Rezky yang terbaring dengan wajah memucat. Wanita paruh baya itu langsung memeluk tubuh Rezky dan menangis pilu. Dibelainya rambut anak itu dengan penuh kasih sayang. “Cepat, panggilkan dokter!


Telepon Papa agar cepat pulang!” sahut Nyonya Amanda panik.


Ardy segera berlari ke ruang tengah. Tepatnya untuk menelepon dokter keluarganya dan juga Tuan Karyadi, papanya.


Mbok Inah datang membawa air dingin untuk mengompres dahi Rezky. Seluruh badan anak itu terasa dingin.


“Dokter sebentar lagi datang, Ma. Papa juga sudah diberitahu,” ujar Ardy begitu muncul di pintu kamar.


Nyonya Amanda masih menangis.


Tidak berapa lama, dokter keluarga datang dengan kendaraan dinasnya. Dia langsung masuk ke dalam rumah dan memasuki kamar Rezky, diantar Mang Kurdi yang sudah sedari tadi menunggu di depan rumah.


“Nyonya, dokter Santoso sudah datang,” kata Mbok Inah begitu melihat sosok lelaki bertubuh tinggi dan kecil, dokter Santoso.


Dokter Santoso langsung memeriksa kondisi Rezky. Sementara Nyonya Amanda dan semua yang ada di dalam kamar, memperhatikan setiap gerak tangan dokter itu memeriksa bagian-bagian tubuh Rezky yang terbujur kaku. Semua diliputi rasa khawatir yang amat sangat. Terlebih lagi Nyonya Amanda.

__ADS_1


“Bagaimana, Dok?” tanya Nyonya Amanda tidak sabar dengan pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter Santoso.


Begitu lamban, pikir wanita paruh baya itu.


“Sebentar, Nyonya,”jawab dokter berkacamata minus itu pelan.


Dokter Santoso mengambil sejenis cairan yang ada dalam sebuah botol lalu dituangkan pada gulungan kapas. Setelah itu didekatkan ke lubang hidung Rezky. Sebentar kemudian, Rezky mulai bergerak. Lalu tak berapa lama matanya terbuka. Sosok yang pertama kali dilihatnya adalah mamanya. “Ma, Eky takut,“ ujar Rezky lirih.


“Tenang, Sayang. Ada Mama di sini,” jawab Nyonya Amanda sambil memeluk Rezky dengan erat.


“Sebaiknya, putra Nyonya dibiarkan istirahat dulu. Nanti, kalau sudah pulih benar, baru boleh diajak bicara,” dokter Santoso memberi nasehat. “Lalu ... apa yang terjadi dengan anakku, Dok?” tanya Nyonya Amanda masih diliputi rasa cemas. Dokter Santoso menoleh sebentar pada Ardy yang masih berdiri di dekat pintu.


“Sepertinya putra Nyonya mengalami suatu kejadian yang cukup mengejutkan. Sehingga sampai shock berat.”


“Kejadian? Shock karena apa, Dok?”


“Sebaiknya Nyonya bertanya langsung pada putra sulung Nyonya tentang kejadian yang baru saja mereka alami,” jawab dokter Santoso sambil kembali melirik Ardy. Nyonya Amanda menoleh ke arah anak sulungnya.


“Apa yang telah terjadi, Dy?”tanya Nyonya Amanda penasaran.


Ardy menghampiri mamanya. Kemudian dia menceritakan semua kejadian di depan lampu merah tadi. Dibenarkan Sarah dan Mang Sapri. “Orang gila? Apa maksudnya?” Nyonya Amanda semakin bingung dan penasaran.


“Anehnya ... orang gila itu berkata kalau kita harus menjaga Rezky dari iblis. Kan, benar-benar aneh, Ma?” lanjut Ardy.


Raut wajah Nyonya Amanda seketika berubah pucat pasi. Bibirnya bergetar. Seperti ada sesuatu yang dirasakan oleh wanita setengah baya ini. Tapi entahlah, apa yang dirasakan olehnya saat itu. Dokter Santoso membereskan peralatan medisnya. “Saya permisi dulu, Nyonya. Biarkan putra Nyonya beristirahat dulu, ya? Dan ini obat yang bisa membantu membuatnya tenang,” dokter Santoso memberikan secarik resep.


“Terima kasih, Dok.”


Ardy bergegas keluar dari kamar Rezky diikuti Sarah, Nola dan Mbok Inah. Sementara Mang Kurdi sudah lama meninggalkan kamar itu.


“Ya, Tuhan. Petaka itu sudah tiba,“ gumam Nyonya Amanda setengah berbisik. Dipandangi putra bungsunya itu, “Maafkan Mama, Sayang. Mama tidak pernah berharap hal ini akan terjadi padamu.”


Sayang sekali, Rezky tidak mendengar ucapan mamanya barusan. Karena setelah diberi obat penenang, anak itu langsung tertidur pulas.


Ardy dan Sarah duduk termenung di ruang tamu.


“Maafkan aku, Sar. Jadi merepotkan kamu. Aku menyesal, mengapa jendela kaca mobil itu harus dibuka,  Seandainya aku tidak melakukannya, mungkin hal ini tidak akan terjadi pada adikku,“ kata Ardy menyesali diri.


“Sudahlah, Dy. Jangan menyalahkan diri kamu sendiri seperti itu. Kita sebagai umat manusia, tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi, bukan?” ujar Sarah menghibur.


“Betul, tapi yang aku herankan, orang gila itu .... “ Ardy tidak meneruskan ucapannya.


“Mengapa? Ada apa dengan orang gila itu, Dy?”


“Ah, tidak. Itu hanya ucapan omong kosong orang gila saja!”jawab Ardy akhirnya.


Sebenarnya bukan itu yang dia herankan, melainkan saat orang gila itu lenyap begitu saja dari tempatnya berdiri. Bukankah itu sesuatu hal yang tidak mungkin?


“Jangan telalu dipikirkan. Ucapan orang gila di mana pun memang suka di luar nalar manusia normal. Itulah sebabnya, orang menamakannya orang gila. Tidak waras!” gumam Sarah merasa ikut sedih.


Ardy menganggukan kepala.

__ADS_1


Tiba-tiba Mang Sapri muncul dan menghampiri mereka berdua.


“Maaf, Den. Mungkin Non Sarah mau pulang sekarang? Biar saya yang antarkan,“ kata Mang Sapri merasa kurang enak karena telah mengganggu mereka.


“Oh, iya. Aku pulang dulu, deh, Dy! Aku khawatir, nanti Mama mencariku. Kalau ada apa-apa atau kamu butuh bantuan, hubungi aku, ya?” Sarah bangkit dari tempat duduknya.


“Oke, makasih, Sar.”


“Daaahh. “


Ardy membalas lambaian tangan Sarah.


Di depan pekarangan rumah, Sarah berpapasan dengan Tuan Karyadi yang baru saja tiba dari tempat kerjanya.


“Selamat sore, Om!” sapa Sarah. Lelaki perlente itu tersenyum. “Siang.! Temannya Ardy?” tanya Tuan Karyadi sambil memperhatikan wajah dan tubuh Sarah dengan saksama.


“Iya, Om,” jawab Sarah merasa risih dengan tatapan mata Tuan Karyadi tersebut.


Gadis itu cepat-cepat berlalu dan segera masuk ke dalam mobil. Sementara Tuan Karyadi masih juga berdiri di tempatnya sambil memperhatikan gadis cantik itu, sampai mobil yang dikemudikan Mang Sapri menghilang di depan pintu gerbang.


Tuan Karyadi segera masuk ke dalam rumah, lalu langsung menuju kamar Rezky.


“Kenapa Rezky, Ma?” tanya Tuan Karyadi pada istrinya yang masih berada di dalam kamar anak bungsunya.


Nyonya Amanda menoleh dan langsung menghambur memeluk suaminya. Wanita paruh baya itu menangis dipelukan Tuan Karyadi.


“Tenang saja, Ma. Ada apa ini?” tanya Tuan Karyadi sambil berusaha melepaskan pelukan istrinya.


Lalu menghampiri sosok Rezky yang terbaring pulas di bawah pengaruh obat penenang yang diberikan dokter Santoso tadi. Dirabanya dahi serta badan Rezky.


“Kok, panas? Sudah panggil dokter Santoso?” tanya Tuan Karyadi.


Nyonya Amanda ikut meraba dahi dan badan Rezky, “Ya, Tuhan. Barusan tidak apa-apa, kok. Kenapa sekarang jadi panas begini?” Nyonya Amanda panik.


Tiba-tiba Rezky membuka matanya dan langsung menatap tajam papanya, Tuan Karyadi. Sorot mata anak itu seperti ketakutan dan memohon iba pada papanya. Tuan Karyadi membuang pandangannya dari tatapan Rezky. Bibir anak itu bergetar seperti hendak berucap, namun tak sepatahkata pun yang keluar dari mulutnya. Hanya beberapa kali helaan nafas yang memburu seperti tengah kelelahan yang tiada tara.


“Panggilkan si Kurdi, Ma! Suruh dia siapkan mobil. Kita harus bawa Rezky ke rumah sakit, segera!” seru Tuan Karyadi mencoba menenangkan diri dari sinar mata Rezky yang terus menerus memandanginya, tanpa berkedip sekalipun.


Nyonya Amanda Amanda berusaha bangkit dengan susah payah, namun kembali jatuh terduduk di samping tempat tidur Rezky.


“Kamu kenapa, Ma?” tanya Tuan Karyadi begitu melihat kondisi istrinya yang lemah.


“Tak usah pikirkan aku dulu, Pa. Sekarang lebih baik bawa anak kita ke rumah sakit. Biar aku di rumah beristirahat,“ jawab Nyonya Amanda sambil meringis memijiti kepalanya yang tiba-tiba merasa sakit.


Tuan Karyadi segera menghambur keluar kamar mencari sosok Mang Kurdi, namun hanya menemui Ardy yang masih duduk termenung di ruang tengah.


“Ada apa, Pa?” tanya Ardy kaget begitu melihat raut wajah papanya panik.


“Bilang sama Mang Kurdi, siapkan mobil! Kita harus membawa Rezky ke rumah sakit sekarang juga!”


BERSAMBUNG 5

__ADS_1


__ADS_2