PETAKA HARTA TERLARANG

PETAKA HARTA TERLARANG
Episode 8


__ADS_3

“Preeettt ... “ kompak David dan Jocky mencibir mual.


Boma tertawa cengengesan sendiri.


Beberapa waktu kemudian, mobil mewah milik keluarga Ardy sudah tiba di pelataran parkir rumah sakit tempat Rezky dirawat. Ketiga anak sekolah dan Mang Sapri segera turun dari dalam kendaraan.


Mereka langsung menuju ruangan perawatan Rezky.


Saat tiba di ruangan yang dimaksud, mereka melihat sosok Rezky terbaring tak berdaya di atas tempat tidur.


Jika melihat fisik Rezky, anak itu sepertinya sehat. Namun ketika memandang raut wajahnya, siapa pun akan berpikir bahwa Rezky sedang dalam keadaan sakit.


“Kak Ardy ... “ panggil Rezky lirih begitu melihat kedatangan kakaknya beserta Nola, Sarah dan Mang Sapri.


“Bagaimana keadaanmu, Dik?” tanya Ardy penuh sayang.


“Eky takut, Kak,” rengek Rezky hendak menangis pilu.


Ardy tersenyum, “Jangan takut adikku sayang! Ada Kakak di sini. Lihat, tuh, ada Kak Sarah, Kak Nola dan juga Mang Sapri ikut menjenguk kamu. Insyaa Allah, kami akan menjagamu, Dik,” ujar Ardy pelan.


Sarah dan Nola mendekati Rezky.


“Nanti, Mama dan Papa juga akan ke sini. Cepet sembuh ya, Dik Eky!” Sarah ikut berbicara.


“Tidak, Eky tidak mau Papa dan Mama datang ke sini!” seru Rezky tiba-tiba seperti ketakutan.


Ardy dan Sarah saling berpandangan heran.


“Kenapa, Sayang?” tanya Sarah lembut sambil membelai rambut Rezky.


“Tidak! Eky tidak mau Papa dan Mama dekat-dekat sama Eky! Eky benci mereka!” seru Rezky kembali.


“Jangan begitu, Dik Eky! Mama dan Papa juga sangat sama Eky. Mereka berdua begitu mengkhawatirkanmu.”


Rezky semakin ketakutan.


“Tidak! Eky tidak mau Papa dan Mama dekat-dekat sama Eky! Eky benci mereka!” seru Rezky kembali.


“Jangan begitu, Dik Eky! Mama dan Papa juga sangat sama Eky. Mereka berdua begitu mengkhawatirkanmu.”


Rezky semakin ketakutan.


“Pokoknya tidak! Mama dan Papa tidak sayang Eky!” Eky menangis pilu, “kalau Mama dan Papa sayang sama Eky, mengapa mereka membiarkan Eky berada di sini?” teriak Rezky semakin keras.


Ardy segera memeluk adik bungsunya itu. Dia memaklumi kalau Rezky masih anak-anak.


Mang Sapri menitikan air mata melihat derita yang dialami oleh anak majikannya. Sementara Nola hanya terdiam membisu.


Rezky balas memeluk kakaknya, Ardy, dengan erat. Seakan tak ingin terlepas dan berpisah.


“Kakak jangan tinggalkan Eky di sini ya? Kakak temani Eku di sini! Eky takut sekali, Kak!” jerit Rezky pilu mempererat pelukannya.


Ardy mengusap kepala Eky penuh sayang. Membiarkan adiknya itu menangis dan menumpahkan semua yang terkandung di dalam hatinya. Mungkin dengan cara itu akan sedikit membantu Rezky tenang kembali.


“Nanti sore Kakak harus kembali pulang ke rumah. Tapi Kakak janji, besok akan datang lagi menjenguk Eky ya?” bisik Ardy pelan.


“Tidak! Kakak harus temani Eky terus!”


Ardy berpindah mengelus lembut punggung adiknya. Air matanya tak kuasa dibendung dan tumpah mengalir dengan deras membasahi pakaian Rezky.


Secara tidak sengaja mata Ardy melirik ke arah luar jendela ruangan. Tanpa sengaja, sudut pandangnya terbentur pada sosok lelaki berkumal yang sedang berdiri di bawah rimbunan pohon.


“Ya Tuhan! Laki-laki itu ... “ gumam Ardy terkejut.

__ADS_1


Sarah, Nola dan Mang Sapri serempak mengikuti arah ke mana Ardy memandang.


“Laki-laki siapa, Dy?” tanya Sarah sambil mencari-cari sosok yang dimaksud Ardy barusan.


Ardy tidak menjawab. Dia segera menghambur keluar setelah melepas paksa pelukan Rezky di tubuhnya.


Rezky berteriak memanggil kakaknya. Namun Ardy tetap berlari keluar ruangan menuju sosok di mana laki-laki kumal tadi berada.


Sarah, Nola dan Mang Sapri memperhatikan tingkah laku Ardy dari balik jendela.


“Sial ... ! Ke mana perginya laki-laki gila tadi? Tadi dia ada di sini!” geram Ardy mencari-cari.


Namun laki-laki yang dimaksud tidak ada di tempatnya.


“Hey ... kalau kamu manusia, tunjukan dirimu dan hadapi aku! Jangan mengganggu adikku!” teriak Ardy seperti sedang kerasukan syetan.


Tidak ada jawaban. Tidak ada siapa-siapa terkecuali anak muda itu sendiri yang ada di sana.


“Ardy ... ada apa dengan dia? Apa yang dia lakukan di sana?” tanya Sarah bingung.


Ditunggu beberapa saat, laki-laki kumal itu tak kunjung menampakan dirinya. Ardy kembali masuk ke ruangan Rezky dengan nafas memburu.


“Ada apa, Den?” tanya Mang Sapri begitu Ardy kembali berada di dalam kamar rawat adiknya.


“Apa kalian tidak lihat, tadi? Laki-laki kumal dan gila itu ada di luar sana!”


“Laki-laki yang mana, Den?”


“Orang gila yang mengganggu Rezky di depan lampu merah itu!”


“Laki-laki kumal dan gila? Tidak ada siapa-siapa di sana ... “ jawab Sarah dan Mang Sapri bersamaan.


“Tidak melihat? Gila! Tadi aku benar-benar melihat dia ada di luar sana! Tepat di bawah pohon itu!” seru Ardy sambil menunjuk ke luar jendela.


“Mungkin kamu berhalusinasi, Dy?” timpal Sarah ragu.


Rezky menangis memanggil kakaknya.


“Jangan takut, Sayang. Ada Kakak di sini,” ujar Ardy sambil kembali memeluk sang adik.


Sarah menggelengkan kepala. Benar-benar aneh, pikir gadis itu.


Dari balik pintu, muncul suster perawat.


“Maaf, Adik-Adik! Saatnya pemeriksaan!” kata perawat itu membuat Ardy dan Rezky melepaskan pelukan.


“Bagaimana keadaan adik saya, Sus?” tanya Ardy pada suster perawat.


“Kondisinya baik-baik saja. Namun sudah seminggu adik kecil ini susah disuruh makan. Terpaksa kami memberikan suntikan vitamin untuk menjaga staminanya. Kami sedang berusaha memeriksa penyebab sakit adik ini. Permisi ya, Dik,“ suster perawat memeriksa kondisi Rezky.


“Sebaiknya Adik-Adik ini membiarkan adik kecil ini istirahat ya,” sambung suster setelah selesai dengan tugasnya.


“Tapi .... “


“Besok Adik-Adik bisa kembali kemari, kok!”


Ardy mengangkat bahu.


Setelah mencium kening Rezky, Ardy bergegas keluar ruangan diikuti oleh Sarah, Nola dan Mang Sapri.


“Kak, jangan tinggalkan Eky!”


Ardy menoleh memandangi Rezky yang mulai terisak. Iba sekali melihat kondisi adiknya yang satu itu dan ingin kembali masuk memeluknya, namun tatapan mata suster perawat itu mengurungkan niatnya untuk kembali menghampiri Rezky.

__ADS_1


Terpaksa mereka berempat segera tinggalkan tempat itu. Dari dalam ruangan, terdengar tangisan Rezky yang menghiba.


Sepeninggal mereka, suster perawat balik memandangi Rezky yang sedang menangis. Pandangan mata suster menyorotkan sinar menggidikan. Seulas senyum tersungging di bibirnya. Senyum yang mengandung sebuah ancaman.


Rezky berhenti menangis dan beringsut menjauh.


Wajah anak itu kembali memucat seperti tak ada darah setetes pun yang mengalir di sana.


Rezky ketakutan.


“Jangan dekati Eky!” pekik Rezky dengan keras.


Suster itu terus mendekati Rezky sambil tersenyum menggidikan. Perlahan jemarinya mengembang dengan ujung kuku yang mengeras, lalu perlahan terangkat ke depan mengarah pada bagian leher Rezky.


Tiba-tiba dia mengayunkan tangannya ke samping, menyapu silang wajah Rezky dari kejauhan. Tidak mengenai sasaran, namun mampu menghasilkan sekelebat hawa dingin yang menerpa dan mengakibatkan Rezky jatuh


tak sadarkan diri.


Suster itu menyeringai memperlihatkan barisan giginya yang bertaring. Hitam dan runcing. Setelah itu, lalu dia tinggalkan sosok Rezky dan berlalu dari ruangan tersebut.


Ardy beserta Sarah, Nola dan Mang Sapri tiba di pelataran parkir rumah sakit.


“Mang, biar saya saja, deh, yang bawa mobilnya,” kata Ardy meminta kunci kendaraan pada Mang Sapri.


Mang Sapri terkejut.


“Jangan, Den! Nanti kalau Tuan tahu, saya bisa dimarahi,” jawab Mang Sapri ragu.


“Biar nanti saya yang akan jelaskan sama Papa,” Ardy memaksa, “sini kuncinya, Mang!”


Dengan berat hati dan ragu, Mang Sapri menyerahkan kunci mobil ke tangan Ardy.


Ardy membuka pintu mobil diikuti Sarah yang duduk di sebelahnya. Semenatara Mang Sapri dan Nola duduk di kursi belakang. Sebentar kemudian, kendaraan itu pun melaju meninggalkan rumah sakit.


Kebetulan, hari sudah mulai merangkak malam. Lampu-lampu jalanan serempak menampakan wujud dengan sinarnya yang terang. Lalu lalang berbagai jenis kendaraan hilir mudik tiada henti. Menyambut malam yang


kian menggulita dan sepi.


Hujan yang turun sejak sore tadi, membuat warga yang biasa duduk nongkrong di sepanjang jalanan, enggan keluar menampakan diri. Mereka lebih betah berkumpul bersama keluarga sambil menikmati berbagai


tayangan televisi.


Saat laju kendaraan berbelok menuju rumah Sarah, tiba-tiba seseorang melintas di depan kendaraan menyeberangi jalanan. Spontanitas, Ardy menginjak pedal rem dalam-dalam. Menimbulkan jerit ban yang


beradu dengan permukaan aspal yang basah dan licin tergenang air hujan. Seisi kendaraan berseru kaget.


Ardy mengelus dadanya dengan bunyi jantung yang berdegup kencang. Aliran darahnya seperti terhenti seketika.


“Ada apa, Dy?” tanya Sarah yang juga merasa kaget dan terengah dengan nafas yang belum teratur.


Ardy memandang ke depan sambil menunjuk jalan.


“Ada apa, sih, Den?” Mang Sapri ikut bertanya penasaran.


Matanya ikut menoleh ke arah yang ditunjuk Ardy.


“Ada orang tertabrak! Di depan sana! Lelaki kumal itu!” seru Ardy terbata-bata.


Mang Sapri segera turun dan memeriksa sekeliling kendaraan. Namun dia tak menemukan apapun di sana. Hanya kegelapan yang ada.


“Tidak ada apa-apa, Den!” teriak Mang Sapri dari luar kendaraan.


Ardy penasaran.

__ADS_1


Dia ikut memeriksa, bahkan sampai jongkok melihat-lihat bagian bawah kendaraan. Hasilnya tetap sama sebagaimana yang diucapkan Mang Sapri tadi.


BERSAMBUNG


__ADS_2